User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

Article Index

3.2. Per Jesum ad Mariam

Akhirnya kita jumpai pula sekelompok orang, makin hari makin banyak, yang hidup dalam masa pasca Konsili. Mereka tidak dipengaruhi devosi masa lampau dan  mereka ini sesungguhnya belum pernah memasuki suatu hubungan yang pribadi dengan Maria. Pendekatan yang ada tidak pernah menyapa mereka, dan tidak ada orang yang menunjukkan kepada mereka suatu pendekatan yang memadai yang sesuai dengan situasi mereka. Yang dimaksud di sini bukan hanya mereka yang tumbuh dalam masa pasca Konsili, tetapi juga mereka yang kemudian bertobat setelah dewasa dan yang sungguh berpaling kepada Kristus dan menerima Dia sebagai Tuhan dalam hidupnya. Sejauh mereka menemukan jalan kepada Kristus serta mengalami Dia sebagai yang hidup, Bunda Maria tidak mempunyai tempat yang khusus dalam perjalanan hidup mereka itu. Kelompok ini semakin hari semakin besar jumlahnya dan dengan demikian pula devosi kepada Bunda Maria juga akan menurun. Apa yang dapat kita perbuat untuk membawa orang-orang ini, agar supaya menghargai Bunda Maria sebagaimana mestinya? Barangkali dalam hal ini kita dapat belajar dari komunitas kristen awali.

Hanya sedikit saja dari antara orang kristen awali yang mengenal Bunda Maria secara pribadi, misalnya mereka-mereka yang bertobat pada hari Pentekosta. Perhatian mereka terhadap Bunda Maria merupakan akibat dari pengalaman pentekostal  mereka. Demikian pula orang-orang kristen lainnya yang bertobat kepada Kristus sesudah mereka itu. Dalam hidup mereka kita jumpai proses berikut: Roh Kudus pertama-tarna membawa mereka kepada penyerahan diri yang total kepada Yesus Kristus, Tuhan yang mulia, dan menjadikan Dia Tuhan dalam hidup mereka. Hanya fakta, bahwa Maria adalah Bunda Tuhan Yesus, menjadikan dia amat penting bagi mereka, biarpun mereka tidak pernah mengenal dia secara pribadi. Hal ini tercermin pula dalam pembentukan Injil. Dalam Injil Markus, yang merupakan Injil tertua, Maria praktis tidak pernah disebut, hanya satu kali saja dan itu pun dalam konteks yang tidak menguntungkan. Namun kemudian dalam Injil yang lainnya, dalam Lukas dan Matius dan kemudian dalam Injil Yohanes, Maria mulai tampil dalam peranannya yang mengagumkan. Di situlah mulai disadari tempat Maria yang unik dalam rencana keselamatan Allah, tanpa mengaburkan tempat dan peranan Kristus sendiri. Di situlah Maria tampil dengan jelas sebagai Bunda Yesus, Bunda Allah.

Orang-orang kristen awali yang beruntung dapat mengenal Bunda Maria secara pribadi, pastilah senang dengan  rahmat istimewa ini. Namun dalam hal inipun sikap mereka terhadap Maria ditentukan oleh sikap mereka terhadap Yesus yang sekarang ini mempunyai arti yang sedemikian besarnya bagi mereka. Mereka semua yang bertemu secara pribadi dengan Bunda Maria selalu menarik keuntungan dari percakapan mereka dengan dia. Dalam hal semacam itu Maria selalu menghantar mereka lebih dekat pada Yesus.

Dalam kehidupan orang-orang kristen awali kita jumpai suatu prinsip hidup rohani yang dapat dirumuskan sebagai berikut: "Melalui Yesus kepada Maria", per Jesum ad Mariam. Padahal dahulu sering kita junpai ungkapan: per Mariam ad Jesum, melalui Maria kepada Yesus, serta lupa, bahwa ungkapan yang pertama juga sama benarnya dan bahkan, bila dimengerti secara tepat, sesungguhnya lebih dasariah lagi. Kedua rumusan yang tampakya bertentangan ini sesungguhnya mempunyai nilainya sendiri-sendiri. Yang satu tidak mengecualikan yang lain, namun sebaliknya yang satu melengkapi yang lain.

Kiranya baik pula melihat kepada Santo Yohanes Penginjil, murid dan sahabat Tuhan Yesus, yang mengenal Dia secara begitu mesra dan mendalam. Bunda Maria tidak membawa dia kepada Yesus, tetapi Yesuslah yang membawa dia kepada Maria dan bahkan menyerahkan dia kepadanya sebagai seorang putera. Memang benar, bahwa hidupnya yang selanjutnya bersama dengan Maria, membawa dia semakin dekat pada Yesus. Tentu saja pendekatan model Yohanes ini bukan satu-satunya cara pendekatan yang mungkin. Dalam diri Santo Yusuf kita jumpai model pendekatan yang berlawanan. Jelaslah bahwa Santo Yusuf lebih dahulu mengenal Maria, karena dia adalah suaminya. Tanpa persahabatannya yang mendalam dengan Maria, pastilah dia tidak akan mengenal Yesus secara begitu mendalam dan menjadi bapak asuh-Nya. Tak seorang pun dapat berkata, bahwa pendekatan Santo Yusuf itu keliru. Dalam kasusnya memang itu yang paling baik. Santo Yusuf ternyata bukan merupakan kekecualian, sebab banyak orang kristen yang lewat suatu devosi yang kuat kepada Bunda Maria, telah menemukan Kristus dalam hidupnya. Namun kita juga harus realistis, bahwa cara pendekatan Yohanes de facto adalah cara pendekatan para rasul dan orang-orang kristen awali, demikian pula yang dialami banyak orang pada jaman kita ini.

Dari segi pendekatan pastoral penting sekali, bahwa kita harus mulai dari tempat di mana kita menemukan mereka. Bagaimanapun juga kita harus menyadarkan mereka, bahwa devosi kepada Bunda Maria bukanlah tujuan yang harus dicapai. Itu hanya merupakan suatu sarana untuk sampai kepada suatu persatuan yang lebih mesra dengan Allah, sebagaimana Dia telah menyatakan diri kepada kita lewat Putera dalam Roh Kudus. Bila tempat Allah dikaburkan dalam devosi Maria, hal itu dengan jelas menandakan, bahwa devosi tadi kurang sehat, kurang dewasa. Yang kiranya perlu diperhatikan bukanlah kuantitas devosi itu sendiri, melainkan kualitasnya, yang bersumber dari suatu inspirasi yang mendalarn yang berasal dari pengertian dasariah iman kristiani kita, suatu inspirasi yang berasal dari suatu pengintegrasian sempurna suatu hidup doa yang berpusat pada Allah, yang berasal dari kedalaman cinta pribadinya serta kepercayaan dan keterlibatannya.

Dalam hubungan dengan orang-orang yang telah menemukan Kristus, jalan yang terbaik dan paling efektif untuk sampai kepada devosi Maria yang pribadi, ialah identifikasi kita dengan Yesus, yang adalah Tuhan, Penyelamat dan saudara illahi kita. Melalui Marialah Allah pada kepenuhan masa telah memperkenankan Putera-Nya menjadi salah seorang di antara kita, saudara dan saudari-Nya. Terhadap pernyataan cintakasih Allah yang melampaui pengertian kita ini, sesungguhnya tepat sekali bila kita menjawabnya dengan mengidentifikasikan diri dengan Yesus dalam pendekatan kita terhadap Maria. Bersama Kristus kita mendekati Allah sebagai Bapa kita (Ef. 2:18), tetapi dalam pendekatan kita kepada Maria pun kita mengidentifikasi diri dengan Kristus. Kristus memperkenankan kita menyebutnya Bunda kita dan menyerahkan kita ke dalam pemeliharaannya. Tema kebundaan, tentu saja kebundaan yang dilihat dalam terang misteri Kristus, yaitu: Maria Bunda Kristus dan Bunda kita dalam Kristus, harus menjadi tema pokok dalam setiap devosi Maria yang sejati.

Tema kebundaan ini memang sudah selalu menjadi tema pokok dalam devosi Maria dalam Gereja Katolik. Namun dengan berbicara tentang Maria sebagai Bunda kita, devosi popular seringkali menyimpang dan mengabaikan beberapa butir yang penting, dan karenanya menimbulkan penyimpangan yang tidak sehat.

Dalam kehidupan kita sebagai manusia serta perkembangannya dalam arti tertentu, kita lebih banyak berhutang kepada ibu daripada kepada ayah. Anak laki-laki sering merasa dirinya lebih dekat kepada ibu daripada kepada ayah. Akan tetapi dalam hidup kita dengan Allah, Maria sama sekali tidak dapat memberikan kepada kita hidupnya sendiri. Dia hanya alat belaka untuk menyalurkan hidup Allah kepada kita. Dalam kehidupan manusiawi kita, ayah dan ibu saling melengkapi dan kita membutuhkan keduanya. Tetapi dalam arti yang sebenar-benarnya Allah adalah sekaligus ayah dan ibu kita. Ia memiliki segala sifat seorang ibu yang penuh kasih secara sempurna. Apakah kita sadar bahwa Allah tidak sejajar dengan Bunda Maria? Segala cinta mesra Santa Perawan Maria hanyalah merupakan pantulan terbatas dari cinta-Nya yang tidak terbatas. Dalam keluarga ibu insani melengkapi bapa insani, seringkali jauh mengatasi dia sebagai pribadi dan pendidik dan karenanya pantas mendapatkan cinta lebih besar daripada ayah. Tetapi apakah kita sadar, bahwa hal ini tidak berlaku dalam hubungan kita dengan Allah dan dengan Bunda Maria?

Devosi kepada Bunda Maria harus sungguh-sungguh memperhatikan peringatan Konsili, agar supaya kita waspada benar-benar terhadap salah tafsiran dalam devosi kita kepada Bunda Maria (Konstitusi tentang Gereja67). Kita harus berusaha sungguh-sungguh, agar supaya kekayaan besar dari devosi Maria yang otentik, dapat dimengerti dan diterima secara penuh oleh saudara-saudara kristen kita yang bukan katolik. Juga Paus Paulus minta, agar supaya pembaharuan devosi Maria ini bersifat ekumenis (Marialis Cultus  33). Karena itu, dalam hubungan ini sebaiknya kita menghindarkan istilah-istilah yang dengan mudah dapat menimbulkan salah tafsir dari pihak saudara-saudara non-katolik, seperti umpamanya ungkapan "Maria mediatrix", Maria perantara segala rahmat, atau co-redemptrix.

Dokumen-dokumen Konsili serta pasca Konsili, di samping tema pokok tentang kebundaan, dan dalam hubungan dengan tema tersebut, membahas tentang tempat Maria yang khusus dalam Gereja sebagai bunda dan model Gereja. Bila kita menyebutnya "Bunda Gereja", yang dimaksud terutama ialah peranannya dalam  Gereja. Maria tidak melahirkan ataupun membentuk Gereja. Tetapi karena Kristus Puteranya, ia dihubungkan secara mendalam dengan peristiwa kelahiran Gereja dan dalam diri Yohanes, murid dan sahabat-Nya, Kristus mempercayakan mempelai-Nya, yaitu Gereja, ke dalam pemeliharaannya sebagai ibu.

Devosi Maria berasal dari pengertian kita yang tepat tentang tempat Maria yang unik dalam rencana keselamatan Allah, tetapi akhirnya berarti memberikan tempat yang seharusnya dalam hidup doa kita. Dalam hal ini sekali lagi, kita harus bercermin pada praktek liturgis dan bersandar pada data-data biblis. Sekali lagi devosi Maria harus sungguh-sungguh menghantar orang pada Allah dan bukan malahan mengaburkan tempa-Nya. Bila ini benar untuk devosi Maria, hal ini benar pula untuk segala bentuk devosi kepada para kudus.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting