User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

Article Index

1.3. Mengasihi Sang Pewahyu

Iman sekunder terarah kepada apa yang diwahyukan kepada kita, kepada kebenaran-kebenaran yang dinyatakan Tuhan kepada kita. Kita percaya semuanya itu karena kita pertama-tama percaya kepada Yesus. Seimbang dengan keterpautan pada Yesus, berkembanglah pula iman sekunder itu. Jadi semakin mendalam dan semakin berkembang hubungan kita dengan Yesus, semakin mendalam dan semakin berkembang pula iman sekunder kita. Jadi iman sekunder merupakan konsekuensi dan sekaligus juga bukti dari iman primer itu. Iman sekunder bersumber dan mengalir dari iman primer, sekaligus merupakan bukti keaslian iman primer kita. Sebab bila iman kita kepada Yesus itu sungguh otentik, maka dengan sendirinya akan mengalir dan menyatakan diri dalam iman yang sekunder. Namun biarpun demikian iman primer tetap adalah yang pertama, walaupun tidak bisa dipisahkan dari yang lain itu.

Sebagaimana kasih kepada Allah merupakan yang pertama dan terutama, walaupun kasih kepada sesama merupakan bukti keotentikannya, demikian pula hubungan iman primer terhadap iman sekunder.

Sejauh kita percaya kepada Kristus, kita juga percaya kepada segala ajaran-Nya, karena kedua hal ini tidak terpisahkan. Iman sekunder menunjukkan kadar iman primer, maka iman primer itu perlu diuji. Namun bila kita melihat, bahwa belum banyak isi iman kita, janganlah  putus asa. Ini merupakan suatu  dorongan  untuk berkembang.

Dalam Yoh 5:39 Tuhan Yesus mengatakan, bahwa walaupun ahli-ahli Kitab Suci menyelidiki Alkitab, namun mereka tidak sampai kepada Yesus. Suatu kenyataan yang tragis sekali! Lebih tragis lagi, itu bukan hanya realitas masa lampau, tetapi terjadi dewasa ini juga. Ada ahli kitab suci yang tidak pernah mengenal Yesus yang hidup, ada “teolog” yang tidak ber-Tuhan dan ada ahli moral yang tidak bermoral. Mengapa? Mereka menekankan iman sekunder, bukan iman primer, sehingga yang primer menjadi kabur. Kalau mereka mengenal Allah benar-benar, mereka juga akan mengenal apa yang datang dari Allah. "Siapa yang dari Allah, mendengarkan sabda Allah" (Yoh. 8:47). Kalau kita menerima Sang Pewahyu, kita juga akan menerima apa  yang diwahyukan-Nya. Kalau kita mengenal Dia yang memberikan wahyu, kita juga akan mengenal apa yang diwahyukan-Nya. Karena itu seringkali terjadi, bahwa orang yang sederhana lebih mudah mengenali karya-karya Allah, sedangkan orang-orang yang pandai malahan sering tersesat, tidak tahu lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Suatu contoh yang indah kita jumpai dalam Yoh. 6, di mana Yesus berbicara tentang Ekaristi. Waktu itu Yesus menyatakan, bahwa barangsiapa tidak makan daging-Nya dan minum darah-Nya, tidak akan mendapat hidup. Karena hal itu terasa tidak masuk akal, maka orang banyak meninggalkan Dia. Namun Yesus tidak mundur dan tidak mengurangi tuntutan-Nya. Ia malahan menantang kedua belas rasul, apakah mereka juga mau meninggalkan Dia. Mereka tetap setia kepada Nya, walaupun mereka juga tidak mengerti, karena mereka mempunyai hubungan pribadi yang mesra dengan Dia dan mereka mengasihi Dia.

Melalui iman ini orang percaya karena kesaksian orang lain dan ini tentu saja mengandaikan suatu hubungan pribadi. Semakin orang berpaut pada seseorang, semakin dia juga berpaut pada ajarannya. Demikian juga sebaliknya. Hal ini jelas misalnya dalam Yoh. 5:24: "Siapa yang percaya pada sabda-Ku (iman sekunder), dia juga akan percaya kepada Dia yang mengutus Aku (iman primer)".

Jadi dalam seluruh hidup kita yang menentukan sesungguhnya ialah iman ini tadi, primer dan sekunder, dengan segala nuansanya. Segala yang lain diarahkan kepada perkembangan iman ini, demikian juga halnya dengan pelbagai macam bentuk devosi.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting