2.4. Devosi Maria dan Ekumenisme
Dalam devosi popular tentang Maria hingga hari ini, kita jumpai suatu kecenderungan untuk menggantikan tempat Kristus dengan Maria, tentu saja tidak dalam teori, namun dalam penekanan praktek devosional. Demikian pula dalam devosi Maria pra-konsili kita jumpai kecenderungan untuk memberikan peranan yang semakin hari semakin besar kepada Maria, peranan yang dalam pengertian tradisi Gereja Katolik yang otentik, sebenarnya merupakan peranan Roh Kudus. Kardinal Suenens yang juga mempunyai kebaktian yang besar kepada Bunda Maria, mengemukakan pula persoalan ini:
Lebih dari satu orang kristen (yang bukan katolik) merasa diri kurang enak bila berhadapan dengan ungkapan-ungkapan yang sering kita (umat katolik) pakai untuk Maria. Banyak dari bahasa ini, menurut pandangan mereka, menderita kekeliruan umum, yaitu menggantikan Roh Kudus dengan Maria. Bagi mereka tampaknya kita memberikan kepada Maria apa yang sesungguhnya menjadi peranan dasar dan khas dari Roh Kudus. Khususnya ungkapan-ungkapan tertentu sangat mengejutkan mereka, seperti misalnya: Kepada Yesus melalui Maria; Maria membentuk Kristus dalam diri kita; Maria adalah penghubung antara kita dengan Kristus; Maria berperan dalam karya penebusan. Berhadapan dengan rumusan seperti itu saudara kita yang protestan menyanggah, bahwa justeru Roh Kuduslah yang harus membawa kita kepada Yesus, membentuk Yesus dalam diri kita, mempersatukan kita dengan Yesus dan untuk bekerja sama secara unik dalam karya penyelamatan. Rasa tidak enak mereka ini harus membantu kita untuk menyadari adanya hirarki kebenaran dalam Wahyu dan mereservir bagi Roh Kudus peranan primer-Nya. Sesudah itu barulah kita dapat mengenakan ungkapan-ungkapan tersebut kepada Maria secara benar, tetapi secara sekunder, yang berasal dari dan selalu dalam ketergantungan pada Roh Kudus(Kard. Suenens, A New Pentecost?, Seabury Press, 1975, p. 198).
Catatan kardinal Suenens ini menunjukkan, bahwa devosi kepada Bunda Maria dalam ungkapannya yang tradisional, bukan hanya tidak sesuai dengan liturgi Gereja, tetapi juga tidak mempunyai dasar biblis yang sehat. Bahkan dalam banyak kasus, sekali lagi bukan secara teoretis, tetapi dalam penghayatan praktis, devosi Maria tidak jarang menjadi suatu idolatri, penyembahan berhala, sehingga bukannya tanpa alasan bila saudara-saudara kita protestan sering menuduh kita orang-orang katolik menyembah Maria, menyembah berhala. Berhala ialah apa atau sesuatu yang menggantikan tempat Tuhan. Maka bila Maria menggantikan tempat Tuhan, ia menjadi berhala. Seperti yang diungkapkan Paus Paulus VI, dewasa ini dibutuhkan suatu dasar biblis untuk kesalehan kristiani pada unumnya. Devosi kepada Bunda Maria juga tidak bisa dikecualikan dari arah dasar dan umum ini (Marialis Cultus30).
Kelalaian untuk memberikan dasar biblis yang perlu ini, menyukarkan saudara-saudara kita protestan untuk berbagi dengan kita dalam devosi ini, atau sekurang-kurangnya untuk mengerti devosi Maria kita. Memang benar, bahwa sebelum Konsili orang tidak terlalu ambil pusing soal ini dan tidak pernah memikirkan, bagaimana caranya agar supaya saudara-saudara kita yang protestan bisa mengertinya. Namun dalam Gereja pasca Konsili ini, dalam suatu iklim ekumenis yang menandai kehidupan seluruh Gereja, kiranya perlu pula menyehatkan kehidupan devosional kita, khususnya devosi kepada Bunda Maria. Yang mengganggu orang-orang kristen lainnya umumnya bukan devosinya sendiri kepada Bunda Maria, namun tidak adanya keseimbangan dalam devosi tersebut serta tidak adanya dasar biblis. Sebab ternyata bahwa saudara-saudara protestan yang terbuka juga mempunyai suatu devosi kepada Bunda Maria, seperti yang misalnya kita jumpai dalam komunitas Roger Schutz di Taize, Perancis, atau komunitas Basilea Schlink di Jerman. Demikian pula Vinson Synan, seorang tokoh Gereja Pentekosta Amerika, berhubung dengan penghormatan kepada Bunda Maria, mengatakan, bahwa mereka khususnya belum melaksanakan sabda Tuhan, khususnya seperti yang tertulis dalam Luk. 1:48.
Bahkan sebelum Konsili sudah ada kritik tentang bentuk devosi Maria dalam Gereja Katolik. Kritik-kritik semacam itu biasanya berasal dari orang-orang yang dianggap liberal dan tidak jarang mereka secara berat sebelah dipengaruhi oleh orang-orang protestan, seperti yang juga kita jumpai hingga hari ini. Dapat dimengerti, bahwa karenanya mereka tidak ditanggapi secara serius. Akan tetapi, ada juga kritik-kritik yang datang dari orang-orang katolik yang memiliki cinta yang mendalam kepada Maria dan Gereja dan yang kesetiaannya terhadapnya tidak dapat diragukan. Mereka ini memiliki pengertian yang mendalam tentang semangat Gereja yang sejati serta kebutuhannya yang mendesak. Contoh klasik dalam hal ini ialah kasus J.A. Jungmann SJ, yang memberikan suatu kritik yang sehat dan seimbang dalam sebuah buku tentang "Kabar Gembira dan Pewartaan kita" yang diterbitkan dalam tahun 1936. Himbauannya untuk memperbaiki kehidupan devosional Gereja mendapatkan tantangan yang hebat dari orang-orang yang sudah terlanjur tumbuh dalam bentuk-bentuk devosi tersebut, termasuk banyak imam dan uskup. Akibatnya buku Jungmann tersebut harus ditarik dari peredaran.
Karena kritik-kritik membangun seperti yang dilontarkan oleh Jungmann itu tidak dihiraukan, Konsili menjumpai suatu situasi di mana devosi kepada Bunda Maria sedang mengalami krisis. Dari satu pihak dewasa ini banyak orang yang menyadari keterbatasan nilai devosi tersebut, serta kesukarannya untuk menyerasikan bentuk-bentuk devosi tradisional dengan tuntutan Konsili untuk pembaharuan. Namun sayang sekali, bahwa dari pihak lain mereka tidak menyadari pula nilai-nilai besar suatu devosi Maria yang otentik. Di pihak lain banyak pula yang tidak pernah mengerti serta menerima semangat pembaharuan Konsili. Bagi mereka itu pembaharuan Konsili hanya merupakan perubahan tata cara belaka dan tidak pernah mempunyai dampak religius yang mendalam. Mereka menangisi merosotnya devosi Maria dan yang dipikirkannya hanya kembali kepada bentuknya yang semula, tanpa perubahan semangat ataupun ungkapan lahiriahnya. Kedua-duanya sama kelirunya.
Kembali begitu saja kepada masa lampau tidaklah dapat dibenarkan. Pengembalian ke masa lampau berarti membuat fotocopy dari masa lampau dan bukan sesuatu yang asli, berarti mengabadikan yang usang, jatuh ke dalam museumisme, yaitu menghidupkan kembali hal yang seharusnya masuk museum. Sikap ini tidak mengerti keterbatasan masa lampau dan tidak terbuka untuk pengertian baru, untuk situasi dan kebutuhan baru. Maka tepatlah bahwa Paus Paulus begitu menekankan perlunya suatu pembaharuan, bukan hanya kembali ke masa lampau. Sri Paus menyatakan, bahwa ibadat umat beriman serta penghormatan mereka kepada Bunda Maria dalam sejarah telah mengambil bentuk beraneka ragam sesuai dengan situasi jaman dan tempat, sesuai pula dengan kepekaan yang berbeda-beda dari para bangsa dan kebudayaan. Karena itu bentuk-bentuk devosi tersebut terikat oleh keadaan jaman dan kebudayaan tertentu, sehingga perlu diperbaharui. Dengan demikian unsur-unsur yang sampingan dapat diganti, untuk memberikan penekanan kepada unsur-unsur yang pokok dan hakiki, yang selalu baru, serta mengintegrasikan data-data doktrinal yang diperoleh dari refleksi teologis dan dari ajaran Magisterium (Marialis Cultus 24).




