Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/k5444188/public_html/plugins/content/jplayer/jplayer.php on line 32

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

PERTOBATAN SANTO PAULUS ADALAH SUATU RAHMAT DARI ALLAH

Pertobatan adalah karya Roh Kudus. Pertobatan adalah suatu rahmat dari Allah. Tanpa rahmat dan tanpa kuasa Roh Kudus, tak mungkin seseorang dapat mengalami pertobatan. Santo Paulus dari dirinya sendiri tidak mungkin dapat mengalami pertobatan. Pertobatan dalam diri Santo Paulus adalah inisiatif dari Allah. Ketika Paulus sedang giat-giatnya menganiaya jemaat Allah, menganiaya pengikut Yesus Kristus, di tengah jalan menuju ke Damsyik, dia ditangkap oleh Yesus. Pertobatan Paulus adalah suatu anugerah dari Allah, pertobatan Paulus bukan karena jasa-jasanya sendiri, bahkan tanpa jasanya sama sekali, seperti dikatakan sendiri oleh Paulus, Yesus mengasihi kita, bahkan ketika kita masih berdosa. Dalam suratnya kepada Jemaat di Roma, (Rm 5:6, 8) ia berkata “Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. Dan lagi Paulus berkata “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa” . Jadi ketika Paulus masih berdosa, Yesus datang untuk mempertobatkan dirinya.

 

PENGALAMAN MISTIK SANTO PAULUS DAN KUASA PENCURAHAN ROH KUDUS YANG MENGUBAH DIRINYA

Pengalaman perjumpaan dengan Yesus di jalan menuju Damsyik telah membutakan Paulus sehingga dia tidak dapat melihat untuk beberapa saat. Hal itu menggambarkan keadaan batinnya, seperti suatu ruangan yang gelap disinari oleh cahaya yang sangat terang dan menyilaukan, dalam sekejap ruangan itu menjadi sangat terang. Jiwanya yang berdosa dalam sekejap dibersihkan oleh daya ilahi yang menyergapnya. Kebutaan Paulus menggambarkan keadaan batinnya, ketika matanya melihat cahaya yang sangat terang dan menyilaukan matanya, maka matanya menjadi buta. Sinar yang bercahaya itu bersumber dari Yesus, sangat terang dan menyilaukan. Tubuhnya yang lemah, tak kuasa menahan dahsyatnya pancaran kasih Allah, sehingga Paulus jatuh dari kudanya, ia rebah ke tanah, Paulus mengalami pengalaman sentuhan Allah yang menakjubkan, Allah merendahkan dirinya sampai ke tanah, dia mengalami ketidakberdayaannya sesaat, waktu Allah menangkapnya, matanya menjadi buta, dan tak mampu berjalan sendiri, sehingga harus dituntun oleh temannya.

Paulus mengalami pencurahan Roh Kudus oleh penumpangan tangan Ananias. Paulus dipenuhi Roh Kudus, dan selaput dari matanya gugur, sehingga dia dapat melihat kembali. Paulus dipulihkan oleh Yesus, perjumpaan dengan Yesus dan oleh pencurahan Roh Kudus yang diterimanya, Paulus diubah seratus delapan puluh derajat, hidupnya diubah oleh Yesus dengan drastis, dari penganiaya jemaat menjadi saksi Yesus Kristus dan pewarta Injil yang handal.

Dalam hidupnya, Paulus memiliki relasi yang sangat mesra dengan Yesus, setelah dia sendiri mengalami pengalaman kasih Allah melalui doa-doanya, ia menuliskan surat kepada jemaat yang digembalakannya, dan ia menasihati melalui surat-suratnya, agar mereka selalu berdoa, bersukacita selalu di dalam Tuhan, dan mengucap syukur dalam segala keadaan. (1 Tes 5 : 16-18). 

Santo Paulus selalu hidup dihadirat Allah, dan melakukan segalanya demi kemuliaan Allah, seperti dikatakan dalam suratnya kepada jemaat di Kolose, “Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita”. (Kol 3:17).

Karena relasinya yang mendalam dengan Allah maka dia mengalami pengalaman mistik yang mendalam, mengalami prarasa kemanisan kemuliaan surgawi,  “Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau -- entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya -- orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga. Aku juga tahu tentang orang itu, -- entah di dalam tubuh entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya -- ia tiba-tiba diangkat ke Firdaus dan ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan manusia. (2 Kor 12 : 2-4).  

Pengalaman mistik itu sangat mendalam melampaui pikiran manusia, melampaui segala-galanya. Sehingga Paulus berkata  1 Kor 2:9 Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." Sentuhan kasih Allah yang sangat indah dialami oleh Paulus, hal itu tak dapat dilukiskan dengan kata-kata, sehingga Paulus mengatakan bahwa pengalaman kasih Allah itu mengatasi keindahan yang dapat didengar oleh telinga, mengatasi segala sesuatu yang dapat dilihat oleh mata, dan tak dapat diungkapkan oleh hati manusia. Semua itu disediakan oleh Allah bagi mereka semua yang mengasihi Dia, dan bagi mereka yang bergaul secara mesra dengan Dia.

 

SANTO PAULUS PEWARTA INJIL YANG HANDAL

Santo Paulus bergaul mesra dengan Yesus, sehingga Pribadi Yesus sangat hidup dalam dirinya. Pengalaman kasih Allah mendorongnya untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia. Paulus memelihara jemaat-jemaat yang digembalakannya dengan pengajaran dan dengan surat-suratnya. Paulus memberitakan Injil berdasarkan kekuatan Roh Kudus. Paulus mengatakan dalam 1 Kor 2:4-5 “Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah. Oleh pemberitaan Paulus banyak orang percaya kepada Kristus dan mengalami keselamatan dariNya.

Karena pergaulannya yang mesra dengan Kristus, segala pikiran dan perkataannya dijiwai oleh Roh Allah dan perkataan Kristus berdiam dalam diri Paulus, dengan perkataan Kristus itu dia mengajar dan menasihati umat yang digembalakannya. Paulus juga mengajak umatnya untuk memuji dan menyembah Tuhan, saling mengajar dan menasihati dalam Kristus, dia juga mengajak umat untuk memuji Tuhan dengan mazmur, pujian dan juga nyanyian syukur. Seperti dikatakan dalam suratnya Kol 3:16 “Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.

 

KARYA ROH KUDUS DALAM DIRI SANTO PAULUS

Di Efesus Paulus mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang luarbiasa dalam kuasa Roh Kudus, bahkan orang membawa saputangan atau kain yang pernah dipakai oleh Paulus dan meletakkannya atas orang sakit, maka lenyaplah penyakit mereka dan roh-roh jahatpun keluar (Kis 19 ; 11-12).

Pewartaan Paulus dilakukan dalam kuasa Roh Kudus, Tuhan memberikan karisma-karisma Roh Kudus kepadanya untuk mewartakan InjilNya kepada jemaat yang dilayaninya. Paulus juga berbicara tentang karisma-karisma Roh Kudus kepada jemaat di Korintus yang dilayaninya, dalam 1 Kor 12 : 1-11 ia berbicara tentang bermacam-macam karunia, namun satu Roh. Paulus mendorong agar jemaat  yang dilayaninya mempergunakan karisma-karisma itu untuk membangun jemaat dan untuk kepentingan bersama. Seperti karunia bahasa roh, sabda pengetahuan, nubuat, karunia iman, karunia penyembuhan, mujizat, membeda-bedakan roh, dan lain-lain.

 

NASIHAT SANTO PAULUS UNTUK SALING MENGASIHI KEPADA JEMAAT YANG DIGEMBALAKANNYA

Dalam kuasa Roh Kudus Santo Paulus mengajar dengan penuh kuasa dan juga menasihati jemaatnya agar bersatu dalam Kristus, seperti tubuh Kristus terdiri dari banyak anggota, tetapi disatukan dalam Kristus. Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya.  Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: "Aku tidak membutuhkan engkau." Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: "Aku tidak membutuhkan engkau." Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus. supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. (1 Kor 12 :12-27).

Dalam penggembalaan kepada jemaat, Santo Paulus berbicara tentang karisma-karisma Roh Kudus, dan juga pentingnya saling menghormati dan menghargai sesama dalam pelayanan, karena mereka semua disatukan oleh Kristus menjadi satu tubuh, yaitu Tubuh Kristus. Paulus mengatakan bahwa yang anggota yang nampaknya paling lemah, ternyata itulah yang paling dibutuhkan, sebab Paulus sendiri telah mengalami bahwa dalam kelemahanlah kuasa Allah semakin nyata, (2 Kor 12 : 9-10). Bahwa harta surgawi yang tak ternilai itu tersimpan dalam bejana tanah liat yang mudah pecah (2 Kor 4 : 7).

Paulus tahu dan mengalami sendiri dalam pergulatannya mengatasi kelemahannya, bahwa rahmat Allah bekerja dalam dirinya, Paulus dipakai Allah secara luar biasa dalam karya penyelamatan Allah, sekaligus dia mengalami ketidakberdayaannya mengatasi kelemahannya, sehingga Tuhan membiarkan duri dalam daging itu tetap bercokol dalam dirinya, sehingga walau Paulus sudah tiga kali berseru kepada Allah supaya Allah mengambil duri dalam dagingnya itu, namun Tuhan berkata, cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab dalam kelemahanlah kuasa Allah menjadi nyata. Sebab itu Paulus lebih suka mengalami kelemahannya, dalam kesukaran, dalam penganiayaan, sebab jika dia lemah, maka dia kuat di dalam Tuhan.

Paulus sadar bahwa Tuhan menjaga dia agar tidak jatuh dalam kesombongan, dengan membiarkan Paulus mengalami duri dalam dagingnya, supaya Paulus sadar, bahwa tanpa rahmat Allah, dirinya adalah orang yang paling berdosa di seluruh dunia, dan tanpa rahmat Allah dirinya tak berdaya.

Paulus sadar mengapa dia berkata, bahwa anggota yang paling lemah itulah yang paling dibutuhkan, sebab Paulus sendiri telah mengalaminya, sehingga Paulus berbicara bertolak dari pengalamannya sendiri, sebab bila seseorang lemah, dia akan mengandalkan Tuhan, dan kuasa Tuhan yang tak terbatas akan dinyatakan lewat ketergantungannya yang mutlak kepada Tuhan.       

Paulus menyadari bahwa masa lalunya tidak baik, sebagai penganiaya jemaat. Paulus tahu apa artinya tidak elok, apa artinya ditolak, apa artinya mengalami dihina dan tak dipercaya. Sehingga Paulus menghimbau berdasarkan pengalamannya sendiri, bahwa setiap manusia itu membutuhkan cintakasih, sehingga kepada yang kelihatan tidak elok dan kelihatan tidak terhormat menurut pemandangan orang banyak,  Paulus menasihati supaya mereka ini diberi perhatian dan diberi penghormatan khusus. Paulus menghimbau supaya mereka saling mengasihi supaya tidak terjadi perpecahan, dan saling menanggung beban, saling berbagi rasa, ikut menderita dengan yang menderita, dan turut bersukacita dengan yang bersukacita.

 

TANPA CINTAKASIH SEMUANYA SIA-SIA

Paulus melihat bahwa tanpa cintakasih semuanya sia-sia. Hal itu dikatakan dalam suratnya kepada jemaat di Korintus pasal 13, Paulus mengatakan “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu”.

Paulus menyadari bahwa cintakasih tidak mudah dilaksanakan dalam hidup bersama, maka Paulus berkata “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk! Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis! Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan! (Rm 12 :9-21).

 

ROH KUDUS MENGUATKAN SANTO PAULUS DALAM PERGUMULANNYA MENGATASI KELEMAHANNYA

Paulus dikuatkan oleh Roh Kudus, dia merasakan pergulatan dalam batinnya, namun dia tidak putus asa, sebaliknya semakin mengandalkan Tuhan. Dan percaya akan kasihNya yang tak terbatas baginya. Dia berkata sebab apa buruk yang tidak diinginkannya, itulah yang dilakukannya, dan  apa yang baik yang diinginkannya, tidak dilakukannya. Paulus merasakan dirinya sebagai manusia celaka, namun syukur kepada Allah, bahwa Yesus telah mati untuk menebus dosa-dosanya. Dalam Yesus ada pengampunan, dalam Yesus ada keselamatan.

Paulus berkata demikian dalam suratnya : “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku. Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.

Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku. Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa. (Rm 7 : 15-26)

Paulus mengalami dalam dirinya suatu kecenderungan untuk berbuat dosa, hal itu dinamakan concupicensia, dalam diri setiap manusia ada hal tersebut, sebab setiap manusia mewarisi dosa asal, walaupun sudah dibaptis, namun kecenderungan akan yang jahat itu masih tetap ada dalam diri manusia. Sehingga manusia harus berjuang seumur hidupnya mengatasi godaan, cobaan, dan kecenderungan akan dosa. Syukur kepada Allah, dalam diri Yesus selalu ada pengampunan, kerahimanNya begitu besar, cintakasih Allah jauh lebih besar daripada dosa-dosa kita.

Dalam pergumulan mengatasi kelemahannya Santo Paulus mengalami kerahiman Allah dan mengalami kesabaranNya yang tanpa batas, dia mengatakan dalam Tim 1 : 15-17 “Perkataan ini benar dan patut diterima sepenuhnya: "Kristus Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa," dan di antara mereka akulah yang paling berdosa. Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal. Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin”.

 

PENDERITAAN SANTO PAULUS DALAM MEWARTAKAN INJIL

Sebagai rasul dan pewarta Injil Paulus sudah biasa menderita, satu hal yang diinginkan Paulus adalah mengenal Yesus dan mengalami persekutuan dalam penderitaannya bersama Kristus. Sehingga dia semakin serupa dengan Dia, dibentuk menjadi indah oleh Yesus lewat penderitaannya. Paulus tetap sabar, bertekun dalam penderitaan dan setia menjadi pengikut Kristus. Paulus mengurbankan hidupnya bagi jemaat yang dilayaninya dan bagi keselamatan semua orang yang dilayaninya. Agar semakin banyak orang yang mencintai Yesus dan mengenal Dia. Paulus tidak memperhitungkan atau memperdulikan hidupnya sendiri, seluruh hidupnya sudah dipersembahkan kepada Yesus dan untuk mewartakan InjilNya. Dan demi Injil dan demi Yesus dia rela menderita dan mengalami berbagai macam salib dan penderitaan.

Paulus mengatakan dalam (2 Kor 4:8-10) Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Paulus mengatakan : “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita”. (Rm 8 : 18).

Paulus percaya Yesuslah yang telah memanggil dan memilihnya. Bila Yesus memanggil dan memilih dia, maka Dia juga akan memberi rahmat untuk tetap kuat dan tetap setia sampai akhir hayatnya. Keyakinan Paulus akan cintakasih Kristus begitu kuat, sehingga Paulus yakin, bahwa Yesus akan menjadi Pembelanya, Yesus yang akan menolong dan melindunginya sehingga dia dapat tetap setia dan tabah dalam menghadapi penderitaan demi nama Yesus.  

Paulus berkata dalam suratnya : “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: "Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan." Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Rm 8 : 35-39).

Paulus membiarkan diri dibimbing oleh Roh Kudus, Paulus membiarkan Yesus meraja dalam dirinya, kendati dia merasa dalam dirinya sebagai manusia, tidak ada kebaikan. Segala yang baik yang yang ada pada dirinya adalah anugerah dari Allah. Paulus dengan rela dan cinta menanggung pergulatan batinnya menghadapi kelemahannya, dan juga menanggung segala penderitaan demi cintanya kepada Yesus. Sehingga dalam hidupnya Yesus selalu dimuliakan dalam dirinya yang lemah dan rapuh. Paulus berkata “aku hidup namun bukan aku lagi yang hidup, melainkan Yesus yang hidup dalam diriku (Gal 2:20).  

 

SANTO PAULUS MENJADI KUDUS DAN MENJADI PUJIAN KEMULIAAN BAGI ALLAH

Paulus telah diubah oleh Yesus menjadi rasul yang sangat mengasihi Tuhan Yesus. Baginya hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan karena bertemu dengan Kristus. Segalanya dianggapnya sampah, karena pengenalan akan Kristus jauh lebih bernilai dari segala-galanya. Paulus melupakan apa yang di belakang, dan mengarahkan diri ke depan, yaitu mengejar mahkota kehidupan abadi. Dia seperti atlit yang melakukan banyak latihan untuk merebut kemenangan dalam pertandingan, dengan menguasai tubuhnya, dan melatih dirinya dengan kebajikan-kebajikan, iman, harapan dan cintakasih untuk mencapai persatuan yang mesra dengan Allah. Dengan giat ia mewartakan Injil kepada semua orang dan mencintai salib serta penderitaan demi cinta kepada Yesus, agar dia dapat mencapai kemuliaan bersama Kristus, dan agar kelak dibangkitkan pada akhir zaman. 

Dalam suratnya ia mengatakan bahwa sejak sebelum dunia dijadikan, Tuhan telah memanggil dirinya untuk menjadi kudus dan tak bercacat di hadapanNya. Dia telah mengaruniakan kepadanya berkat jasmani dan rohani bagi dirinya, supaya oleh berkat-berkatNya yang dia terima semakin dapat bersyukur kepadaNya, memuji dan menyembahNya. Sebab Dia menyediakan segala yang dia perlukan baik kebutuhan jasmani maupun rohani. Dalam Kristus dia juga memperoleh pengampunan dosa, dia disucikan oleh darahNya yang telah tertumpah di kayu salib. Dengan mengikuti jejak Kristus, memanggul salib, dan hidup seturut kehendakNya, yaitu hidup menurut FirmanNya, maka dia akan mencapai persatuan dengan Kristus yang telah memanggilnya sejak semula kepada kekudusan. Paulus dikasihiNya dan mengambil bagian dalam hidup ilahiNya, sebagai anak-anak Allah, dan menjadi ahli waris kerajaan surga. Dalam dunia ini, dalam segala kegiatan hidupnya, dalam situasi apapun yang dia alami, jatuh atau bangun, untung dan malang, suka ataupun duka, hidupnya dipersembahkan kepada Kristus dan agar dia dapat menjadi puji-pujian bagi kemuliaanNya.

Dikatakan Santo Paulus dalam suratnya : Ef 1:3-12 “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi. Aku katakan "di dalam Kristus", karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan  kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting