III. MENUJU PRAKTEK DEVOSI YANG SEHAT DAN SEIMBANG
3.1. Devosi yang Berarah Biblis dan Liturgis
Sekarang perlu kita tanyakan, dalam arti manakah kemerosotan devosi Maria itu merupakan kerugian bagi komunitas gerejani kita dewasa ini ? Apakah pertama-tama karena orang katolik dewasa ini berdoa lebih sedikit kepada Bunda Maria? Tentu saja kita ingin, agar supaya orang-orang katolik memberikan tempat yang lebih banyak kepada Bunda Maria dalam doa mereka. Akan tetapi sesungguhnya bukan itu yang menjadi soal, maka kita harus masuk lebih dalam lagi. Mungkin sekali bahwa tempat Maria dalam hidup mereka hanya merupakan suatu warisan tradisional belaka, sedangkan sesungguhnya Maria tidak pernah berarti banyak bagi mereka. Mereka belajar tentang hal itu di sekolah dan dalam keluarga dan mereka hanya turut pengaruh lingkungan saja. Maka ketika yang lain-lain berhenti berdevosi kepada Bunda Maria antara lain karena pengaruh orang non-katolik, mereka juga turut berhenti. Mereka tidak merasa kehilangan sesuatu yang berharga. Karena devosi mereka itu dangkal saja, sesungguhnya tidak banyak nilainya.
Orang-orang kristen semacam ini biasanya tidak mempunyai keyakinan pribadi dan dalam hidupnya juga tidak punya hubungan yang sungguh-sungguh pribadi dengan Allah. Mereka itu dapat ditolong dengan benar-benar memperdalam dan menjadikan personal hidup kristiani mereka. Mereka itu menbutuhkan sesuatu lain, bukan hanya suatu devosi tertentu, tetapi lebih daripada itu.
Ada orang-orang katolik lainnya yang dalam waktu pra-konsili memiliki suatu devosi yang kaya dan hangat kepada Bunda Maria. Apa yang dipelajarinya di dalam keluarga dan di sekolah telah dijadikannya milik pribadi mereka. Karena keyakinan pribadi, mereka mengikuti acara-acara yang diselenggarakan di paroki mereka dan mengambil manfaat daripadanya. Tanpa banyak persoalan mereka mengikuti pola umun dalam devosi mereka. Sesudah Konsili, seringkali karena perjumpaan-perjumpaan dengan umat bukan katolik, untuk pertama kalinya mereka menyadari adanya persoalan yang terkandung dalam bentuk devosi tradisional. Mereka juga menyadari ketegangan yang ada antara praktek devosi masa lampau dan apa yang dikehendaki Konsili dalam pembaharuan ibadat kristiani.
Sayang sekali, bahwa pada umumnya tidak seorang pun yang menunjukkan kepada mereka, bagaimana mereka dapat secara kreatif mengintegrasikan unsur-unsur hakiki devosi itu dengan tuntutan pembaharuan yang diminta Konsili. Tak ada orang yang membantu mereka mengintegrasikan unsur-unsur liturgis dan biblis yang menandai pendekatan Konsili Vatikan II. Secara naluriah mereka merasa, bahwa penjajaran begitu saja tidak dapat memecahkan persoalan yang ada. Kita memang harus waspada, supaya tidak menjadikannya suatu gado-gado dalam suatu perayaan tertentu. Tetapi soalnya lebih mendalam lagi, yaitu bagaimana mengintegrasikan suatu hidup doa yang berwarna liturgis dan biblis dalam perayaan resmi Gereja, serta suatu hidup devosional yang tidak sesuai dengan pendekatan liturgis dan biblis? Sebab bukankah Konsili menghimbau, agar supaya semua devosi, pada segala waktu, disesuaikan dengan semangat liturgis? (Konstitusi Liturgi 13).
Orang-orang semacam ini biasanya mempunyai itikad yang baik sekali dan terbuka untuk semua nasehat yang positif. Tak ada jalan lain daripada menunjukkan, bahwa liturgi dan Kitab Suci memupuk hubungan pribadi yang otentik dengan Bunda Maria, serta mengandung banyak bahan untuk menghangatkan devosi kepada Bunda Maria. Supaya devosi ini sungguh-sungguh menjadi sehat dan otentik, dibutuhkan dasar yang kuat dari sabda Allah sendiri dan harus diwarnai olehnya.
Kita juga harus menyadari, bahwa Kitab Suci dan liturgi tidak hanya memberikan penghargaan yang tinggi kepada Bunda Maria, tetapi juga memupuk suatu hubungan yang pribadi dan hangat dengan dia. Juga perlu dicatat, bahwa doa yang pribadi dengan tepat memilih ungkapan yang informal dan lebih personal daripada dalam liturgi resmi. Devosi kita kepada Bunda Maria harus bersifat liturgis dan biblis dalam arah dasarnya, namun tidak berarti bahwa kita harus mengoper begitu saja bahasa Kitab Suci dan liturgi dan tidak boleh memberikan ungkapan yang lebih pribadi.
Kemudian kita juga harus memberikan tempat yang selayaknya kepada Bunda Maria dalam doa-doa pribadi kita, sebagaimana layaknya seorang anak dan dengan hati yang gembira dan penuh syukur. Ini tidak berarti, bahwa kita harus kembali kepada jumlah volume devosi Maria seperti dahulu lagi. Kita harus selalu ingat, bahwa volume yang diberikan untuk devosi Maria harus bersandar pula pada liturgi dan Kitab Suci. Konsili juga mengingatkan kita agar supaya menjauhkan kepicikan pandangan dalam hubungan dengan devosi Maria. Volume suatu devosi yang mesra, hangat dan spontan tidak dapat diukur secara matematis. Yang perlu dijaga dalam hal ini ialah agar supaya devosi itu tidak tumbuh liar, sehingga devosi itu bukannya menghantar orang kepada Allah, tetapi malahan menjauhkan orang daripada-Nya, atau sekurang-kurangnya mengaburkan kedudukan Allah sendiri.




