User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

Article Index

II. DEVOSI DAN PENGHAYATAN IMAN KRISTEN

2.1. Tempat devosi dalam penghayatan iman

Iman kristen merupakan suatu kekayaan yang besar sekali, sehingga  tidak  pernah dapat dikuras habis dalam segala aspeknya. Masing-masing dapat menghayati suatu aspek dari iman itu tanpa dapat menguras segala kekayaannya. Karenanya iman yang sama dapat diungkapkan dengan pelbagai macam cara dan orang masih tetap belum menghabiskan kekayaannya. Demikian pula dalam kehidupan pribadinya, orang kristen membutuhkan ungkapan yang berbeda-beda bagi imannya dan tiap pribadi, sesuai dengan watak dan pembawaan serta kecenderungannya pribadi, mempunyai ungkapannya sendiri. Dari situlah lahir apa yang disebut devosi-devosi.

Devosi adalah dedikasi pribadi seorang kristen kepada seorang kudus atau kepada salah satu aspek dari kehidupan Kristus, yang merupakan suatu sumber inspirasi khusus bagi orang tersebut. Bagi orang tadi, orang kudus tertentu, atau Bunda Maria, atau aspek tertentu kehidupan Kristus, mempunyai daya tarik khusus baginya dan memberikan semangat khusus pula kepadanya. Ia merasa tertolong dan diteguhkan dalam perjalanan hidupnya. Sikap inilah yang akhirnya menimbulkan  praktek-praktek religius tertentu yang menekankan peranan seorang kudus atau misteri illahi tertentu dalam hidupnya.

Berdoa dan merenungkan misteri tertentu dapat memberikan inspirasi kepada orang-orang tertentu untuk lebih mendekat kepada Allah, serta menjadikan dia lebih berpaut kepada-Nya. Karena keterbatasannya, orang tidak dapat menghayati seluruh aspek misteri Allah yang begitu kaya itu. Suatu aspek tertentu cukup membuatnya untuk semakin membaktikan dirinya kepada  Allah. Perhatian kepada suatu aspek misteri Allah tentu saja tidak dapat menjadi alasan untuk mengabaikan aspek-aspek lainnya. Sebab jika demikian halnya, itu akan menjadikan hidupnya berat sebelah dan devosi itu menjadi tidak sehat. Maka harus seimbang.

Sebagaimana dalam suatu keluarga ada hubungan khusus antara anggota keluarga itu, demikian pula dalam keluarga Allah. Disitu seringkali terjadi dan berkembang suatu hubungan khusus antara anggota-anggota Gereja, baik antara anggota yang masih hidup maupun dengan anggota yang sudah meninggal, yaitu para kudus. Orang kristen tertentu dapat merasa tertarik kepada salah seorang kudus tertentu, yang hidup atau semangatnya menjadi inspirasi baginya. Kadang-kadang suatu kelompok tertentu, seperti para religius atau kelompok kerasulan tertentu, mempunyai seorang kudus tertentu sebagai pelindungnya, karena mereka berkarya sesuai dengan semangatnya ataupun mohon perlindungannya yang khusus.

Kalau devosi-devosi ini kita hubungkan dengan iman seperti yang sudah kita lihat, maka jelaslah, bahwa devosi-devosi ini kalau benar-benar otentik, harus membantu dan memperkembangkan iman yang sejati, yang terarah kepada Allah sendiri. Maka itu devosi ini perlu dinilai dalam hubungannya dengan iman: sejauh mana hal itu membantu pertumbuhan iman, sejauh mana devosi tadi memperkembangkan hubungan yang pribadi dengan Allah dalam iman, harapan dan cintakasih.

2.2. Persoalan devosi Maria

Di antara devosi-devosi yang berkembang dewasa ini di antara umat katolik Indonesia khususnya, kita jumpai devosi kepada Bunda Maria dalam segala bentuknya. Untuk mengungkapkan devosi itu kita jumpai pelbagai macam bentuk. Didirikannya gua-gua Maria hampir di mana-mana menunjukkan minat umat terhadap devosi ini. Demikian pula  pelbagai  macam  bentuk novena  kepada  Bunda  Maria mengungkapkan sikap ini. Karena itu perlulah sebentar melihat hubungan yang ada antara devosi-devosi ini dengan penghayatan iman Kristen, karena dalam hal ini dapat terlihat jelas hubungan antara devosi dan iman.

Dalam Lumen Gentium, Konstitusi tentang Gereja, Konsili Vatikan II telah memberikan uraian yang panjang dan yang secara teologis, merupakan suatu uraian yang paling menyeluruh dan lengkap yang pernah dihasilkan oleh suatu Konsili Ekumenis. Namun biarpun demikian tidak lama sesudah itu devosi kepada Bunda Maria menurun secara menyolok sekali dalam Gereja Katolik, khususnya di Eropah dan Amerika Utara. Pimpinan hirarki merasakan  pula kemerosotan ini dan karenanya mereka merasa berwajib untuk memberikan petunjuk-petunjuk. Usaha-usaha semacam ini mendapat ungkapannya yang paling berarti dalam ensiklik: "Marialis cultus" yang dikeluarkan Paus Paulus VI dalam tahun 1974. Dokumen ini rupanya tidak mendapatkan tanggapan yang berarti dalam Gereja. Namun akhir-akhir ini devosi kepada Bunda Maria mulai berkembang lagi. Demikian pula di Indonesia.

Berhubung dengan devosi Bunda Maria ini kiranya perlu dibedakan antara situasi negara-negara Eropa dan Amerika Utara pada umumnya dengan yang kita jumpai di Indonesia. Karena perbedaan ini kiranya perlu pula kita bahas secara terpisah.

Di Eropa dan Amerika kita jumpai minat yang menurun untuk devosi ini, biarpun akhir-akhir ini ada minat baru lagi untuk devosi tersebut, antara lain karena penampakan Bunda Maria di Medugorje. Seperti dalam bidang-bidang lain juga dalam hal devosi kepada Bunda Maria kita jumpai suatu polarisasi yang tidak sehat. Dari satu pihak kita jumpai adanya kelompok tertentu yang menghendaki kembalinya bentuk-bentuk devosi seperti masa lampau. Dari pihak lain kita jumpai orang-orang yang sesungguhnya berminat sedikit sekali terhadap devosi ini, biarpun banyak yang tidak berani mengatakannya secara terang-terangan. Yang menjadi soal di sini bukanlah bagaimana mengembalikan devosi-devosi masa lampau, melainkan di mana tempatnya yang tepat dalam penghayatan iman kristen kita. Yang menjadi pokok persoalan ialah  bagaimana seharusnya sikap kita terhadap Bunda Allah dan apa hubungannya dengan iman kristen kita yang berpusat pada Allah. Untuk lebih  mengerti persoalan ini kiranya perlu kita lihat sebentar mengapa devosi-devosi kepada Bunda Maria menurun. Apa sebabnya, bahwa praktek-praktek devosi yang dahulu begitu berarti bagi generasi-generasi yang lampau dan yang memberikan suatu ciri khas katolik, kini kurang berarti bagi generasi yang ada sekarang ini.

Di Indonesia persoalannya sedikit berbeda, biarpun ada kesamaannya pula. Sejauh yang dapat diamati devosi kepada Bunda Maria memang menurun, sebab tidak kita jumpai praktek-praktek seperti dahulu lagi. Dari pihak lain minat umat masih besar sekali dan bahkan menunjukkan adanya devosi yang berlebih-lebihan dan kadang-kadang bahkan mendekati tahyul, sehingga mengaburkan arti iman yang sejati. Dalam devosi yang berlebihan ini kadang-kadang kita mendapat kesan, bahwa Bunda Maria menggantikan tempat Allah dan menjadi semacam dewi. Bunda Maria begitu memenuhi seluruh kehidupan dan kesadaran orang, sehingga seolah-olah tidak ada tempat lagi bagi Tuhan sendiri. Dalam hal ini devosi kepada Bunda Maria tidak menghantar orang kepada Allah, namun menggantikan Allah. Rupanya sikap ini disebabkan karena kurangnya pembinaan iman yang benar, karena kaburnya pengertian iman yang sejati. Juga karena liturgi seringkali amat kering.

Dari pihak lain kita jumpai pula orang-orang yang membuang sama sekali devosi Maria ini ataupun menjadi segan, sekurang-kurangnya tidak tahu lagi di mana tempatnya dalam penghayatan iman kristen kita, karena pengaruh ekumenisme tidak sehat. Dengan demikian juga dalam hal ini kita jumpai polarisasi yang tidak sehat. Untuk lebih mengerti situasi ini, baiklah kiranya kita lihat persoalan ini secara lebih mendalam.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting