1.2. Iman: memasuki hubungan pribadi dengan Allah
Dalam Kitab Suci iman pada umumnya dilihat sebagai iman yang menyelamatkan. Melalui iman ini kita menerima hidup Allah sendiri, yang bukan lain daripada hidup kekal. Ini merupakan sikap dasar kita, di mana kita dengan hati, dengan kehendak, dengan pusat ada kita, berkata "ya" kepada Allah dan bukannya berkata "tidak".Dalam arti ini percaya atau mengimani berarti menerima, yaitu menerima Allah sendiri.
Iman ini mempunyai hubungan yang erat sekali dengan pembaptisan: "Siapa yang percaya dan dibaptis akan selamat. Siapa yang tidak percaya akan dihukum." (Mrk. 16:16). Iman ini merupakan permulaan keselamatan. Dalam Kisah dikatakan, bahwa 3000 orang percaya dan dibaptis (Kis. 2:41). Memang, dalam Kitab Suci pembaptisan selalu dihubungkan dengan iman, mis. Kis. 8:36-37.
Santo Thomas Aquino menyatakan, bahwa pembaptisan seorang bayi memang sah, namun tidak berbuah. Karena itu kemudian hari harus dilengkapi dengan faal iman pribadi kepada Yesus sebagai Penyelamatnya. Penerimaan Yesus secara pribadi ini melengkapi pembaptisan. Maka pembaptisan harus dilengkapi dengan penerimaan Yesus Kristus sebagai Penyelamat kita pribadi: Ia telah wafat bagiku. Dengan demikian orang mengalami, bahwa ia dilahirkan kembali, seperti yang antara lain diungkapkan Santo Paulus:"Tuhan telah mencintai aku dan menyerahkan diri-Nya bagiku" (Gal. 2:20).
Bagi kehidupan kristen yang efektif tidak cukup hanya mengakui, bahwa Yesus adalah Penyelamat umat manusia, tetapi Ia harus menjadi Penyelamatku, artinya benar-benar kualami sebagai Penyelamat yang menyelamatkan aku pribadi, tidak hanya orang lain saja. Saya harus mengalami, bahwa Ia telah wafat bagiku.
Ini merupakan permulaan keselamatan yang sayang sekali oleh banyak orang kristen dewasa ini tidak pernah dipenuhi, mungkin termasuk para imam dan religiusnya? Oleh sebab itu banyak orang kristen yang tidak pernah dilahirkan kembali secara eksistensial. Karena itu mereka tidak pernah menjadi orang kristen yang sejati.
Dalam Evangelii Nuntiandi Paus Paulus VI menyatakan, bahwa banyak orang kristen yang disakramentalisir, namun belun pernah mengalami evangelisasi. Kalau mereka mengalami evangelisasi, mereka akan menerima Yesus Kristus sebagai Penyelamat mereka yang pribadi.
Kita harus kembali kepada pesan pokok Injil: pertemuan pribadi dengan Yesus Kristus. Kita tidak hanya harus tahu tentang Yesus, tetapi harus mengenal Yesus. Kita bisa mengetahui tentang Yesus dengan membaca Kitab Suci, dengan membaca buku-buku, dengan belajar teologi. Namun semuanya itu baru merupakan suatu pengetahuan intelektual belaka, bukan pengenalan pribadi akan Yesus Kristus. Yang menyelamatkan bukan teologi dan pengetahuan intelektual belaka, melainkan pengenalan yang hidup akan Yesus Kristus. Yang menyucikan bukan pengetahuan intelektual tentang Yesus, walaupun pengetahuan ini juga berguna, namun yang menyucikan ialah mengenal Yesus secara pribadi. Yang menentukan ialah bila kita memasuki hubungan pribadi dengan Yesus, mengalami kepribadian-Nya, kehadiran-Nya, kemesraan-Nya. Semuanya ini datang dari iman dan diperkembangkan dalam iman.
Iman ini bersifat personal atau pribadi, terarah kepada suatu pribadi, pribadi Allah sendiri. Kebajikan iman pertama-tama diarahkan kepada pribadi Allah. Beriman berarti percaya kepada Allah dalam konteks hubungan pribadi. Iman bukan sesuatu yang impersonal, yang samar-samar, yang abstrak, melainkan sesuatu yang amat konkrit, yaitu percaya kepada suatu pribadi, kepada seseorang, kepada Yesus Kristus yang hidup sekarang ini dan yang memperhatikan saya. Seperti yang dikatakan Santo Paulus: "Aku tahu siapa yang kupercayai, aku percaya kepada Putera Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan hidup-Nya bagiku" (2 Tim. 1:12; Gal. 2:20) Iman ini harus sungguh-sungguh personal. bukan hanya Tuhan kita secara umum, tetapi Dia harus sungguh-sungguh secara konkrit menjadi Tuhanku, yang adanya sungguh-sungguh mempengaruhi hidupku secara mendalam, sehingga benar-benar aku tidak bisa hidup tanpa Dia. Sayang sekali bahwa bagi banyak orang kristen ada atau tidaknya Yesus itu tidak membawa pengaruh apa-apa. Apakah Yesus itu sungguh-sungguh bangkit atau tidak, Dia itu sungguh-sungguh Allah atau bukan, tidak banyak beda baginya. Bila iman kita benar dan hidup, Yesus itu Allah atau bukan, bangkit atau tidak, pasti membuat perbedaan yang amat besar bagi kita.
Sifat personal atau pribadi dari iman ini seringkali dilupakan dalam pewartaan dan pelajaran agama. Terlalu lama orang menekankan aspek sekunder dari iman, sehingga imannya menjadi steril, tidak menghasilkan buah-buah yang nyata. Supaya kita mempunyai pengertian yang lebih jelas, kiranya perlu disadari, bahwa kebajikan iman dapat dibedakan dalam dua kategori yang berbeda dan yang saling melengkapi, namun tidak sama, yaitu:
- iman primer: terarah kepada suatu pribadi, ialah pribadi Allah sendiri sebagai Sang Pewahyu.
- iman sekunder: apa yang diwahyukan Allah, yaitu ajaran, dan lain lain.
Bertahun-tahun lamanya orang melupakan aspek personal ini dan karena itu juga sering menjadi kabur, sehingga akhirnya orang begitu menekankan karya, karya dan sekali lagi karya, sedemikian rupa, sehingga arti doa menjadi lemah dan kabur.
Memang secara teoretis kita percaya kepada Kristus, tetapi dalam pelaksanaan selalu iman sekunder yang mendapat perhatian, sedemikian rupa sehingga merugikan iman yang primer. Maka perlu kembali lagi pada penekanan iman yang primer: pertama-tama percaya kepada Yesus Kristus, percaya kepada Allah yang tampak dalam diri Yesus Kristus: “siapa yang melihat Aku, melihat Bapa" (Yoh. 14:9).
Kurangnya perhatian akan hal ini serta mengeringnya iman menjadi sesuatu yang intelektualistis belaka, antara lain juga menjadi sebab lahirnya devosi-devosi yang tidak sehat, karena memang umat membutuhkan sesuatu yang lebih hangat, yang lebih mesra. Maka itu iman primer harus diutamakan, yang lain jangan diabaikan.




