Ziarah
Tahun 1450 Paus Nicolas II mengumumkan Tahun Suci dan menganjurkan ziarah ke Roma. Komunitas memutuskan untuk mengirim utusan; Rita ingin ikut dalam kelompok tersebut. Kepala biara mengijinkannya dengan syarat luka di dahinya sembuh. Beberapa hari sebelum berangkat lukanya hilang.
Perjalanan itu menyakitkan dan berat, sebab Rita sudah semakin tua. Saat itu ia berusia 60 tahun dan tubuhnya menjadi begitu lemah akibat banyak penyangkalan diri. Tidur pun sekadarnya, cuaca buruk dan banyak terjadi pertemuan-pertemuan yang tidak diharapkannya. Ia menyemangati para biarawati untuk menyerahkan seluruh keadaan kepada kehendak ilahi. Akhirnya kelompok kecil itu tiba di kota suci dalam keadaan lelah sekaligus penuh sukacita. Dengan penuh keriangan dan semangat yang berkobar, ia tinggal di Roma di tengah-tengah para peziarah.
Sekembalinya ke biara, luka di dahinya timbul kembali. Walaupun ia telah menarik diri, namun tetap saja nama Rita tersebar ke seluruh daerah; ini menarik orang-orang datang ke biara, untuk sekedar melihatnya, untuk menceritakan kepedihannya, untuk mohon bantuan doanya. Rita tetap tidak menampakkan diri, namun ia berdoa bagi mereka semua. Salah seorang yang memperoleh kesembuhan adalah seorang remaja yang terbaring sejak ia berusia 2 tahun. Rita terus bertekun berdoa bagi orang lain sampai akhir hayatnya.
Hadiah terakhir
Suatu hari sepupunya yang sudah tua mengunjunginya. Rita memintanya untuk membawakan sekuntum mawar dan pohon mawar yang tumbuh di halaman rumah yang ditinggalkannya. Saat itu musim dingin dan salju ada di mana-mana, sehingga orang-orang mengira ia mengigau karena sudah mendekati ajal. Sepupunya lalu kembali ke desa. Dan sungguh ajaib sekuntum mawar merekah di tengah-tengah salju di kebun pada rumah Rita. Tanpa menunggu lagi ia membawa bunga mawar itu ke biara. Beberapa han kemudian Rita minta dibawakan buah ara dan pohon ara di rumahnya. Sepupunya melaksanakan keinginannya dan membawakan buah-buah ara yang ranum! Tanda-tanda ajaib tersebut merupakan hadiah dari Tuhan bagi Rita yang tinggal menunggu ajal.



