User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index

Harga sebuah pengampunan

Kehidupan kembali berjalan, si kembar mendampingi ibu mereka. Mereka mengerjakan pekerjaan sehari-hari, tetapi mereka juga terus menerus menegaskan, “Kita harus mendapatkan mereka yang telah membunuh ayah.” Bagi mereka tiada kata lain selain balas dendam. Meskipun Rita berusaha menasihati mereka untuk mengampuni, namun tidak ada gunanya. Karena ingin menyelamatkan jiwa kedua putra-kembarnya, Rita berdoa, “Tuhan, lebih baik bawalah mereka bersama-Mu daripada membiarkan mereka menjadi pembunuh.”

Beberapa bulan berlalu. Suatu malam Santiago demam, ia terbaring lemah; Rita merawatnya. Tetapi kesehatannya menurun drastis, dan ia sangat menderita. Beberapa saat kemudian saudaranya menunjukkan gejala yang sama. Sang ibu merawat mereka siang dan malam, ia berdoa tanpa henti, mengusahakan kesembuhan mereka. Namun seakan-akan tak ada gunanya, satu persatu mereka meninggal setelah menerima Sakramen Perminyakan dan mengampuni pembunuh ayahnya.

Panggilan pertama

Kemudian Rita kembali menjadi seorang diri; hancur namun teguh percaya pada kebaikan Allah. Ia ingin menjalani panggilan awalnya menjadi seorang biarawati. Segera Rita mendatangi biara Santa Maria Magdalena di Cascia, desa kecil dekat desanya. Kepala biara menerimanya. Ia mengenal Rita karena semua orang membicarakan cobaan-cobaan yang diterimanya, perubahan suaminya, dan kesalehan hidupnya. Wanita muda ini rindu menjadi seorang novis. Rita harus menunggu berjam-jam sambil berdoa... Namun tak dapat ditawar lagi, jawabannya ialah bahwa ia tidak akan pemah diterima dalam komunitas. Komunitas ini hanya diperuntukkan bagi gadis-gadis muda. Dengan sangat sedih Rita pulang ke rumah.

Beberapa waktu kemudian ia mengulangi permohonannya. Penolakan yang sama diterimanya, “Kami tidak menerima janda.” Walaupun kepala biara menyarankannya untuk mencoba ke biara lain, namun semangat yang menyala-nyala tetap mendorongnya untuk masuk ke biara Cascia. Untuk ketiga kalinya ia kembali memohon, dan kepala biara menjawab bahwa ia tidak mau menerima dirinya lagi. Rita berdoa tanpa henti, mohon kepada Tuhan untuk meneranginya. Suatu malam ketika ia sedang berdoa, ia mendengar panggilan dari luar, “Rita, Rita!” Bergegas ia membuka pintu, dan di ambang pintu ternyata tampak seorang pria berpakaian aneh, pakaian dan kulit binatang, berambut panjang, dan memberi isyarat untuk mengikutinya. Pria yang agak aneh itu tidak lain adalah St. Yohanes Pembaptis. Rita begitu terpesona, namun ia percaya dan mengikutinya. Akhimya mereka pun tiba di dekat bukit karang Rocca Porena, dan tanah di bawah kaki mereka terbuka; mereka sekarang berada di tepi jurang yang dalam. Lalu tampaklah Rita bersama tiga orang penunjuk jalan, menyusuri jalan setapak di gunung. Penunjuk jalan itu adalah: St. Yohanes Pembaptis, St. Agustinus, dan St. Nicolas dari Tolentino. Rita tersadar beberapa saat ke mudian dan menemukan dirinya berada seorang diri di dalam biara Santa Maria Magdalena, yang seluruh pintunya dalam keadaan terkunci. Para biarawati terheran-heran menemukannya dalam ruang paduan suara, sedang meluap-luap memuji Allah. Setelah memeriksa pintu-pintu, kepala biara tunduk pada kehendak ilahi dan rela menerima Rita sebagai novis.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting