User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index

Panggilan

Rita bertambah besar dan ia merupakan kesukaan bagi kedua orang-tuanya yang lanjut usia. Ia sering membantu ayahnya mempersiapkan kayu bakar dan mengambil air di mata air. Sebuah sudut kedil di dalam rumah dijadikan Rita sebagai termpat berdoa kepada Perawan Maria. Ia juga sangat mencintai St. Yohanes Pembaptis. Ia baik hati dan penuh perhatian terhadap sesama. Di dalam hatinya ia ingin menjadi seorang biarawati atau suster.

Karena sudah tua, orang-tuanya berusaha mencarikan suami bagi putri mereka. Suatu hari seorang pemuda bernama Paolo de Fernando datang ke rumah mereka. Di desa ia dikenal sebagai seorang yang suka berperang, dan ia ikut serta dalam perjuangan di daerahnya. Ia pemuda yang pemberani, namun cenderung brutal; ia juga Seorang pemabuk anggur. Ia sedang mempersiapkan pernikahannya, kata ayah Rita. “Gadis malang,” jerit hati Rita. Hal perkawinan tidak terlintas dalam pikirannya karena ia ingin memberikan hidupnya kepada Tuhan, dan ia sedang menunggu saat yang tepat untuk mengutarakan niatnya itu kepada kedua orangtuanya. Tetapi ayahnya memberitahukannya bahwa Paolo meminangnya. Ia protes, ia menangis, dan memohon. Ia tidak dapat menikah karena ia telah berjanji kepada Allah. Namun tak ada gunanya, sang ayah ingin menikahkannya agar Rita mempunyai seorang pelindung. Rita diharapkan untuk tetap tinggal dekat mereka, sehingga dapat merawat mereka di hari tuanya. Lagi pula Paolo seorang yang kasar, ia akan mempermalukan mereka jika ia menolak. Rita menangis, tetapi ia patuh. Ia bertanya-tanya apakah pengorbanan yang besar ini merupakan panggilan Tuhan untuk bersatu dengan salib-Nya.

Perkawinan dan perubahan

Perkawinan pun berlangsung, namun Paolo masih meneruskan kebiasaan lamanya: berperang, berkelahi dan pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. Paolo seorang pemarah, dan beberapa kali ia memukuli Rita yang tak pernah mengeluh. Rita selalu menjawab pertanyaan kedua orang-tuanya, yang melihat penderitaan putrinya kanena tangannya yang memar itu, dengan mengatakan bahwa hal itu disebabkan oleh rasa lelah. Ia ingin suaminya berubah; ia tak hentihentinya mernohon pertobatan suaminya dengan bertekun dalam doa dan puasa.

Tak lama kemudian Rita pun mengandung, dan tampaknya Paolo semakin jarang marah. Ia terus berdoa... dan kejutan Rita melahirkan anak kembar, yang kemudian diberi nama: Santiago Antonio dan Paolo Mario. Gembira memperoleh dua orang putra, Paolo menjadi tenang. Akhimya kehidupan berkeluarga yang bahagia diperoleh Rita. Putra-putranya tumbuh besar, namun mereka adalah anak-anak yang tidak tenang dan sering berkelahi. Rita melihat bahwa mereka mempunyai sifat pemberontak.

Suatu malam di musim dingin mereka sedang menunggu Paolo untuk makan malam. Paolo terlambat pulang. Malam semakin larut; rasa cemas mulai timbul. Tengah malam seorang tetangga datang dalam keadaan shock dengan membawa berita bahwa Paolo diserang dan dianiaya orang dekat air terjun. Segera Rita, sang tetangga, dan si kembar bergegas ke tempat kejadian melalui jalan setapak. Sang tetangga bercerita kepada Rita, “Ia mengampuni penyerangnya, ia berdoa bagimu, bagi kedua putranya, dan ia juga telah menyerahkan nyawanya kepada Allah.” Akhirnya mayat sang suami ditemukan. Rita sungguh galau melihat jasad suaminya yang rusak, tetapi ia bersyukur bahwa suaminya mati sebagai orang Kristen.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting