User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index

 

Ahli Sulap dan Akrobat

Sejak itu Yohanes senantiasa berusaha berbuat baik kepada teman-temannya. Saat suatu rombongan sirkus datang ke kotanya, Yohanes pun segera pergi untuk melihat pertunjukan mereka. Rombongan sirkus itu menampilkan badut, sulap, permainan-permainan, dan akrobat. Yohanes memperhatikan dengan sungguh-sungguh dan mempelajari semua atraksi yang ditampilkan.

Sepulangnya dari pertunjukan sirkus, Yohanes mulai meniru atraksi-atraksi yang ditampilkan. Walaupun awalnya ia gagal, tergelincir, jatuh, dan badannya memar, tetapi tekadnya kuat. Ia pantang menyerah, sebab pikirnya, "Jika mereka dapat melakukannya, mengapa aku tidak?" Yohanes terus berlatih hingga suatu hari Minggu sore, ia mempertunjukkan kebolehannya di hadapan anak-anak tetangga. Ia memperagakan keseimbangan tubuh dengan wajan dan panci di ujung hidungnya. Kemudian ia melompat ke atas tali yang direntangkan di antara dua pohon dan berjalan di atasnya diiringi tepuk tangan penonton. Sebelum pertunjukan yang hebat itu diakhiri, Yohanes mengulang khotbah yang ia dengar dalam Misa pagi kepada teman-temannya itu, dan mengajak mereka semua berdoa.

Kabar mengenai pertunjukan yang diselenggarakan Yohanes tersiar hingga ke desa-desa tetangga. Karena pada masa itu jarang sekali ada pertunjukan semacam itu, maka segera saja anak-anak dari berbagai tempat datang untuk menyaksikan pertunjukannya. Jumlahnya hingga seratus anak lebih.

Sebelum memulai pertunjukannya, Yohanes mengajak anak-anak itu untuk berdoa rosario terlebih dahulu. Walaupun anak-anak itu mengeluh, tetapi mereka menurut. Setelah ia mengajak anak-anak menyanyikan satu kidung bagi Bunda Maria, Yohanes berdiri di atas kursi dan mulai menjelaskan isi Kitab Suci seperti yang didengarnya pada Misa pagi. Jika seorang anak menolak untuk mendengarkan khotbahnya atau menolak berdoa, Yohanes akan berkata: “Baiklah. Aku tidak akan mengadakan pertunjukan hari ini. Jika kalian tidak berdoa, bisa saja aku terjatuh dan leherku patah.”

Permainan dan Sabda Tuhan mulai mengubah perilaku teman-temannya. Yohanes kecil mulai menyadari bahwa agar dapat berbuat baik untuk sedemikian banyak anak, ia perlu belajar dan menjadi seorang imam. Imam Castelnuovo melihat perkembangan iman Yohanes yang luar biasa, hingga ia mengizinkan Yohanes menerima komuni dua tahun lebih awal dari usia yang ditentukan Gereja.

 

Pergi dari Rumah

Suatu ketika seorang misionaris, Don Calosso ('Don' dalam bahasa Italia berarti Romo), datang ke desa Buttigliera untuk memberikan pelajaran agama. Yohanes memutuskan untuk mengikuti semua pelajaran agama yang diberikan olehnya, baik pagi maupun sore. Itu berarti ia harus berjalan kaki sejauh 10 mil (16 kilometer) sehari. Kakak tirinya, Antonio, menentang keras keinginan Yohanes untuk belajar. Menurutnya sudah tiba waktunya bagi Yohanes untuk bekerja. Oleh karena itu, diambillah keputusan: pagi hari Yohanes belajar di pastoran dengan Don Calosso, sesudahnya ia harus bekerja di sawah. Yohanes belajar dengan tekun. Ia membawa bukunya ke sawah dan belajar hingga larut malam. Hal itu sangat menjengkelkan Antonio. Ia membuang semua buku Yohanes dan mencambuki adik tirinya itu dengan ikat pinggangnya.

Demi keselamatan Yohanes, Margarita membuat suatu keputusan yang amat menyedihkan hatinya sendiri: ia menyuruh Yohanes pergi dari rumah. Saat itu Yohanes baru berumur 12 tahun. Yohanes kemudian bekerja sebagai penggembala sapi di pertanian milik Tuan Luigi. Yohanes bekerja dengan rajin, dan setiap hari Minggu ia pergi ke gereja. Di tempat itu Yohanes kembali meneruskan usahanya untuk mengumpulkan anak-anak dan mengajak mereka bermain dan berdoa.

 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting