User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index

5. Roh Kudus menyatakan kehendak Allah atas diri Paulus dan memberikan kepadanya kekuatan untuk melaksanakannya.

Oleh Roh Kudus, Paulus semakin serupa dengan Yesus dan apa yang dialami oleh Yesus harus dialami pula oleh Paulus. Sebab tidak ada hamba yang lebih besar dan tuannya (bdk. Yoh 13:16;15:20; Mat.10:24). Berkali-kali Roh Kudus menyatakan kehendak Allah kepada Paulus bahwa bahaya maut sudah menunggunya di Yerusalem ketika ia masih dalam perjalanannya yang ketiga. Ketika Paulus sampai di Kota Efesus, Paulus mendapat bisikan Roh Kudus bahwa ia tidak akan kembali lagi ke kota ini. Penjara dan sengsara sudah di depan mata. Paulus menjadi sangat sedih, tetapi ia tetap melanjutkan perjalanannya karena ia tahu bahwa inilah kehendak Bapa bagi dirinya. (Red - Kisah mengharukan ini dapat dibaca dalam Kis 20:17-38).

Setelah melewati beberapa kota, sampailah ia bersama pendamping-pendampingnya di Kota Tirus. Sekali lagi Roh membisikkan kesengsaraan yang sudah menantinya. Saudara-saudaranya mendesaknya untuk tidak meneruskan perjalanannya, namun Paulus sebaliknya semakin yakin bahwa inilah kehendak Bapa baginya. Ia bersikeras untuk berangkat.
Lalu sampailah mereka di Kota Ptolemais. Di sanalah sebagaimana Yesus menubuatkan kesengsaraan dan wafat-Nya sebanyak tiga kali, demikian pula Paulus mengetahui sebelumnya akan kesulitan yang akan dihadapinya. Untuk ketiga kalinya Paulus mendapat peringatan dan Roh Kudus. Kali ini datang dan seorang nabi bernama Agabus (lh. Kis  21:10-11). Paulus bukannya menjadi takut, malahan ia semakin berani dan dengan penuh iman ia berkata, “… aku ini rela bukan saja untuk diikat, tetapi untuk mati di Yerusalem oleh karena nama Tuhan Yesus” (Kis 21 :13).

Ada perbedaan yang menyolok antara sikap Paulus ini dengan sikap Petrus yang menyangkal Gurunya sampai tiga kali. Dari kedua sikap ini, kita bisa menarik kesimpulan bahwa tidaklah mungkin bagi seorang manusia untuk menerima segala penderitaan karena nama Tuhan tanpa kekuatan lain di luar dirinya. Ada suatu kekuatan maha dahsyat yang memberikan kesanggupan kepadanya untuk menderita bahkan bila sampai harus mati demi imannya. Kekuatan itu adalah Roh Allah sendiri (bdk. Kis 1:8). Paulus meneruskan perjalanannya memasuki Kota Yerusalem. Di dalam kota inilah Paulus sungguh-sungguh akhirnya ditangkap, dipukul, dipenjarakan, disiksa, dan diadili. Lalu karena adanya ancaman pembunuhan terhadapnya dan orang-orang Yahudi, para prajurit Romawi di Yerusalem terpaksa memindahkannya ke Kaisarea.

Dari Kaisarea, Paulus naik banding kepada Kaisar di Roma sebagai salah satu hak warganegara Romawi. Dan sini terbukalah jalan bagi Paulus —seperti yang telah dicita-citakannya sejak lama— untuk mewartakan Injil Kristus sekaligus menguatkan para murid Kristus di ‘ujung dunia’, Kota Roma. Setelah berbagai musibah dalam perjalanan (lh. Kis 27-28), sampailah Paulus di Roma. Sambil menunggu pengadilan Kaisar, ia dikenakan tahanan rumah. Sebagai tahanan, ia masih tetap boleh menerima tamu dan mengirim surat secara bebas. Secara leluasa ia bisa mengajar saudara-saudara di Roma dan menulis surat kepada jemaat-jemaat di kota-kota lain.

Surat-surat yang ditulisnya di sini antara lain: surat kepada jemaat di Filipi, surat kepada jemaat di Kolose, dan surat kepada Filemon. Setelah menjalani tahanan selama dua tahun, sesuai dengan hukum Romawi, Paulus harus dibebaskan karena belum sempat diadili. Paulus mempergunakan kesempatan ini untuk pergi ke Spanyol. Namun tidak lama di sana, ia kembali ke Roma. Pada waktu itu, terjadilah pengejaran yang gencar terhadap orang-orang Kristen atas instruksi Kaisar Nero. Sekali lagi Paulus ditangkap..., dan kali inl Tuhan berkenan mengenakan mahkota kemartiran kepadanya.

Menurut tradisi, Santo Paulus wafat sekitar tahun 68 Masehi. Pada waktu yang hampir bersamaan, Santo Petrus juga wafat sebagai martir di Kota Roma. Santo Paulus dipenggal di suatu tempat yang bernama Via Ostiense, sedangkan Santo Petrus dibunuh di Sirkuit Nero dengan cara disalibkan dengan kepala di bawah. Mereka berdua dihormati sebagai rasul dan martir. Pesta mereka juga dirayakan bersamaan oleh Gereja setiap tahun, yaitu pada tanggal 29 Juni.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting