User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index

3. Roh Kudus memeteraikan Jabatan Paulus sebagai Rasul

Apakah Paulus seorang rasul Kristus? Kalau benar demikian, apakah hal itu penting?
Menarik kalau kita baca argumen Paulus berikut ini: “Segala sesuatu membuktikan, bahwa aku adalah seorang rasul, telah dilakukan di tengah-tengah kamu dengan segala kesabaran oleh tanda-tanda, mujizat-mujizat, dan kuasa-kuasa” (2 Kor 12:12, lh. 1 Kor 9:1-3). Nada tulisan Paulus ini dapat disamakan dengan nada dalam ucapan Yesus, “Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu tahu bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa” (Yoh 10:38).
Jika Paulus sampai begitu ngotot menyatakan dirinya sebagai rasul, bisa disimpulkan bahwa masalah ini memang penting sekali. Mengapa, sekali lagi mengapa? Jawabannya adalah karena firman Tuhan harus digenapi, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku” (Mat 28:19).

Yesus telah naik ke surga, namun karya keselamatan Allah masih harus digenapi. Di antara para murid-Nya terdapat beberapa orang yang ditunjuk Yesus secara khusus sebagai rasul. Rasul-rasul inilah yang akan menjadi dasar dan Gereja Kristus. Dengan otoritas dan kuasa yang diberikan Kristus oleh Rob Kudus, mereka menentukan sekaligus meletakkan pondasi bagi generasi-generasi selanjutnya.

Wahyu-wahyu yang mereka terima disebut dengan istilah wahyu-wahyu umum. Wahyu-wahyu ini bersifat mengikat setiap anggota Gereja. Wahyu-wahyu ini berhenti setelah rasul yang terakhir meninggal dunia. (Red - Perlu diperhatikan bahwa wahyu-wahyu umum tidak terbatas pada apa yang tertulis dalam Kitab Suci Perjanjian Baru saja, melainkan termasuk pula ajaran-ajaran lisan para rasul yang diwariskan turun-temurun dan yang kita kenal sebagai Ajaran Gereja yang resmi).

Inilah sebabnya mengapa jabatan rasul begitu penting. Bila Paulus bukan rasul, semua ajarannya menjadi bersifat tidak mengikat setiap anggota Gereja. Istilahnya, boleh percaya, boleh tidak. Semua ajarannya akan bersifat pribadi dan tidak mengikat kita, kalau ia bukan rasul. Namun Paulus adalah rasul. Roh Kudus sendirilah yang telah memeteraikan dia, “Pergilah, sebab orang ini (Paulus) adalah alat pilihan bagi-Ku untuk mewartakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel” (Kis.9:15). Secara khusus Ia menentukan Paulus sebagai rasul bangsa-bangsa lain, “Khususkanlah Barnabas dan Saulus (Paulus) bagiKu untuk tugas yang telah Kutentukan bagi mereka” (Kis. 13:2).

Saat itu Roh Kudus mengutus Barnabas dan Saulus untuk memulai perjalanan mereka, mewartakan Injil Kristus kepada bangsa-bangsa lain. Satu lagi bukti yang sangat kuat, yang menyatakan Paulus sebagai rasul, khususnya rasul bagi bangsa-bangsa lain, adalah peneguhan dan tiga rasul Kristus yang paling terkemuka: “Dan setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas (Petrus), dan Yohanes, yang dipandang sebagai sokoguru jemaat, berjabat tangan dengan aku (Paulus) dan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat (non-Yahudi) dan mereka kepada orang-orang yang bersunat (Yahudi)” (Gal.2:9). Dengan demikian, Kabar Gembira sampai kepada seluruh bangsa. Karya-karya Paulus adalah pemenuhan dan janji Allah.

4. Roh Kudus menguduskan dan menyempurnakan Paulus

Bila kita membaca kembali riwayat hidup Paulus, latar belakang keluarga dan pendidikannya, kewarganegaraannya, kita mungkin harus mengakui bahwa memang orang inilah yang paling cocok dan pantas untuk melakukan karya besar pewartaan Kabar Gembira kepada bangsa-bangsa. Namun dengan segala kelebihan, bakat, ketrampilan, pengetahuan, dan keistimewaan-keistimewaannya yang lain, ia malahan menyatakan, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus” (Flp 3:7).

Apakah dengan demikian Paulus menampik segala bakat dan talenta yang dimilikinya? Saya kira tidak, sebab kenyataannya Paulus telah membuktikan bahwa ia bekerja keras dengan menggunakan segala potensi, kemampuan, dan kekuatan yang ada padanya untuk melayani Allah dan umat-Nya. Tidak ada yang bisa meragukan hal ini. Namun satu hal yang patut diperhatikan dan Santo kita ini adalah sikap kelepasannya. Ia sadar bahwa semua itu tidak ada artinya dibandingkan dengan pengenalannya akan Kristus (bdk. Flp 3:8).

Pengenalan akan Kristus itulah yang memampukannya bertahan dalam segala penderitaannya. Pengenalan ini jugalah yang membuatnya tidak berputus asa dalam segala kelemahannya, bahkan sebaliknya berbangga atasnya. Sebab jika ia lemah, maka ia kuat di dalam Kristus yang menguatkannya (bdk. 2 Kor 11:30; 12:9-10). Dan sekali lagi, pengenalan akan Kristus ini merupakan karya Roh Kudus dalam jiwa (lh. nomor 1).

Roh Kudus menguduskan dan menyempurnakan Paulus. Ia mengubah Paulus sedikit demi sedikit makin serupa dengan Kristus. Dan pihak Paulus, ia sangat terbuka akan bimbingan Roh Kudus. Dengan penyerahan diri yang heroik, Paulus membiarkan Allah bekerja secara penuh dalam dirinya. Ia, yang sadar akan kelemahannya, membiarkan Roh Allah dengan leluasa berkarya dan menyempurnakan dirinya. Khususnya, dengan tidak terikat kepada diri sendiri dan segala bakatnya, ia terhindar dan bahaya dosa terbesar, yaitu dosa kesombongan.

Ia bekerja segiat-giatnya semata-mata karena percaya akan kehadiran Allah di dalam dirinya. Terpenuhilah sabda Tuhan dalam dirinya, “Yang mempunyai akan diberi, sehingga ia berkelimpahan” (Mat 25:29a). Begitu terbukanya Paulus kepada Roh Kudus sehingga ia disempurnakan dalam kelemahan-kelemahannya. Bila kita membaca 1 Kor 13, mau tidak mau kita akan menjadi kagum akan keindahan kata-katanya. Atau dapatkah kita membaca bagian suratnya yang lain, Rm 8, tanpa terpesona akan kejeniusannya dalam menjelaskan ajaran iman yang begitu rumit? Atau siapa yang dapat membaca suratnya yang kedua kepada jemaat di Korintus bab sepuluh sampai bab duabelas tanpa mengakui kepiawaiannya mengungkapkan isi hati melalui tulisan?

Sedikit yang mengetahui bahwa sebenamya itu semua ditulisnya dalam keterbatasannya akan kosa kata Bahasa Yunani. Ya, Paulus bukan seorang sastrawan. Ia hanyalah seorang pembuat kemah dengan penguasaan Bahasa Yunani yang pasaran. Perbendaharaan kata yang dimilikinya sangatlah minim. Namun bahkan seorang terpelajar seperti Norden pun tanpa ragu-ragu menyetarakannya dengan Plato dalam kehebatannya memakai gaya bahasa. Kekurangannya dalam perbendaharaan kata-kata telah disempumakan oleh Roh Kudus sehingga apa yang tidak dapat dijelaskan oleh teolog-teolog maupun filsuf-filsuf yang paling ulung sekalipun dapat dituangkan Paulus dengan begitu indahnya dalam surat-suratnya.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting