User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index

 

III. Sikap Gereja

1. Dulu Allah berbicara melalui para Nabi, tetapi sekarang Allah banyak berbicara melalui Bunda Maria. Oleh karena itu, Gereja mengajarkan bahwa kita juga perlu meminta pertolongan pada Bunda Maria.

Untuk itu ada beberapa doa resmi Gereja berkaitan dengan Bunda Maria.

1)Doa “Salam Maria”

° Salam Maria penuh rahmat, Tuhan sertamu

° Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu Yesus

° Santa Maria, Bunda Allah,

° Doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati

-merupakan salam Malaikat kepada Maria

-ungkapan Elisabeth sewaktu mendengar menyambut kedatangan Maria

-Kesimpulan Gereja berdasarkan Injil akan identitas Maria

-Setelah mengakui siapakah sebenarnya Maria maka Gereja mengungkapkan doa-doanya.

2)Doa “Litani Kepada Bunda Maria”

Dalam doa ini terlihat bahwa kita menghormati Bunda Maria dan menyembah Allah. Hal ini terlihat dalam kata-kata dari doa-doa dalam litani itu. Kalau doa itu ditujukan kepada Allah maka rumusan permohonannya adalah “kasihanilah kami”, tetapi kalau doa-doa dalam litani itu ditujukan kepada Bunda Maria maka rumusan permohonannya adalah “doakanlah kami”. Jadi ada perbedaan dalam hal ini. Maria tetap dalam posisinya, bukan untuk menggantikan Allah.

3)Doa “Rosario”

Doa Rosario adalah rangkaian dari doa-doa Gereja: Credo atau “Aku Percaya” yang merupakan ungkapan iman Gereja. Bapa Kami adalah doa yang diajarkan oleh Yesus sendiri dalam Kitab Suci. Kemuliaan juga merupakan doa yang berasal dari Kitab Suci. Salam Maria adalah ungkapan devosi Gereja kepada Bunda Maria .

Jadi Doa Rosario merupakan sarana yang paling efektif untuk mengingatkan kita pada doa-doa Gereja. Walaupun demikian doa ini merupakan devosi yang bersifat pribadi sehingga Gereja tidak pernah mewajibkan setiap orang untuk berdoa rosario, walaupun beberapa Paus menganjurkan banyak orang untuk berdoa rosario. Inilah dasar devosi kita kepada Bunda Maria.

2. Pelbagai penampakan Bunda Maria

Pada jaman kita, ada satu fenomen nyata tentang Bunda Maria yang memiliki pengaruh cukup besar dalam kehidupan umat Kristiani yaitu penampakan Bunda Maria. Tidak mustahil bahwa Bunda Maria menampakan dirinya, seperti misalnya yang terjadi di Lourdes (Perancis), Guadalupe (Meksiko) dan Fatima (Portugal). Bagaimanakah sikap Gereja dan sikap kita dalam menanggapi hal ini?

Dibutuhkan suatu “discernment” untuk membedakan mana penampakan yang sungguh berasal dari Allah dan mana penampakan yang tidak berasal dari Allah. Proses discernment ini dapat dilakukan dengan mempelajari beberapa hal yang berkaitan dengan penampakan itu yaitu kesaksian-kesaksian umat, tulisan-tulisan yang berkaitan dengan penampakan itu, pola-pola penampakan, dan buah-buahnya. Buah yang utama dari suatu penampakan yang benar adalah semakin mendekatkan diri manusia kepada Allah.

Untuk lebih mengerti akan hal ini, kita dapat membandingkan antara penampakan Bunda Maria di Lourdes melalui St. Bernadette dan penampakan “bunda maria” di satu keuskupan di Indonesia melalui seorang bapak.

° St. Bernadette tidak mendapat keuntungan apapun juga melalui penampakan itu. Dia justru hanya menerima penderitaan terus menerus, dia hanya menyampaikan pesan Bunda Maria, tidak ada sama sekali unsur pembelaan diri sendiri.

° Sedangkan pada bapak itu, terlihat sekali unsur pembelaan dirinya sendiri dan usaha untuk mengumpulkan keuntungan material dengan menipu banyak orang.

Ada tiga kemungkinan sumber bagi suatu penampakan yaitu dari si jahat, dari diri sendiri atau dari Allah. Sumber yang terakhir inilah yang merupakan penampakan otentik.

Dalam hal penampakan Bunda Maria di Lourdes, Gereja mengakuinya sebagai penampakan yang otentik berasal dari Allah. Akan tetapi tidak ada suatu keharusan bagi kita untuk percaya pada hal ini. Ketidakpercayaan bukanlah merupakan dosa berat, yang terpenting adalah bahwa kita percaya kepada Bunda Maria sebagai Bunda Allah.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting