3. Diciptakan untuk yang Tidak Terbatas
Sebelum menemukan Tuhan, Santo Agustinus telah berusaha menemukan Tuhan di tempat-tempat lain, di luar dirinya dalam kenikmatan-kenikmatan, dalam kebahagiaan dunia ini, dalam pelbagai macam ilmu dan filsafat, tetapi ia tidak menemukannya. Akhirnya Santo Agustinus menyadari bahwa ia salah mencari Allah di luar dirinya, padahal Allah bersemayam dalam lubuk hatinya yang terdalam. Memang, kita diciptakan untuk Allah, sehingga tidak ada apa-apapun yang dapat memuaskan hati kita kecuali Allah sendiri. Hati kita telah diciptakan sedemikan besarnya, sehingga bahkan seluruh alam semesta ini tidak akan dapat memenuhinya. Sean-dainya pun kita memiliki seluruh dunia, semuanya itu tidak dapat mengisi hati kita, dan hati kita akan tetap kosong saja, tidak dapat terpenuhi. Kita telah diciptakan untuk yang tidak terbatas, sehingga hanya yang tidak terbatas saja yang dapat mengisi hati kita dengan sungguh-sungguh. Inilah yang dialami Santo Agustinus, sehingga ia mengungkapkannya dalam kalimat yang kemudian menjadi terkenal: "Engkau menciptakan kami untukMu, ya Tuhan, dan gelisahlah hati kami sebelum beristirahat di dalam Engkau."
Kita diciptakan untuk yang baka, untuk Allah sendiri, sehingga pengenalan akan Allah saja yang akan dapat memuaskan hati kita. Santo Paulus setelah sebelumnya mengejar kemuliaan duniawi ini, setelah mengenal Kristus menganggap segala sesuatu sebagai kerugian, ya bahkan semuanya yang sebelum itu amat dihargainya, kini dipandangnya sebagai sampah belaka: "Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus…Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya" (Flp 3:7-8.10).
Sesungguhnya segala sesuatu di dunia ini akan lenyap. Kita sendiri mengalami, betapa goyahnya hidup manusia di dunia ini. Kemarin ia diagung-agungkan dan disanjung orang, tetapi hari ini ia dihujat dan hidupnya pun tidak aman lagi. Kemarin ia adalah orang yang paling dihormati, tetapi hari ini bisa menjadi buron. Seperti yang dikatakan Santo Yohanes, dunia ini dengan segala keinginannya akan lenyap, sebaliknya orang yang mengasihi Allah akan tetap selama-lamanya, karena itu dia menghimbau kita, agar jangan mencintai dunia ini: "Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan segala keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya" (1Yoh 2:15-17).



