User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index

2. Diciptakan menurut Gambar dan Kesamaan Allah 

Mungkin kita bertanya: Mengapakah Allah mengasihi kita? Jawaban yang terutama ialah karena Ia adalah kasih. Karena Ia adalah kasih, maka segala sesuatu yang dilakukan-Nya bersumber pada kasih dan dengan kasih. Karena Allah adalah kasih semata-mata, dalam Allah tidak ada kebencian, dan karena itu tak mungkin Ia dapat membenci kita. Namun kitalah yang dapat membenci Allah, bila kita menutup diri serta terus menolak kasih-Nya. 

Karena Allah adalah kasih, Ia mau membagikan kebahagiaan-Nya dengan kita. Maka Ia menciptakan kita menurut gambar dan kesamaan-Nya. Di antara segala ciptaan, manusialah yang paling berharga bagi Allah. Hal itu nyata dalam kisah penciptaan sendiri. Ketika Allah menciptakan dunia ini dan alam semesta, semuanya diciptakan dengan kuasa sabda-Nya: Allah bersabda, maka semuanya terjadi. "Jadilah terang, maka terang pun jadilah." Demikian satu per satu diciptakan alam semesta ini. Tetapi penciptaan manusia lain. Ketika sampai pada giliran mau menciptakan manusia, Allah seolah-olah berhenti sebentar dan berunding: "Berfirmanlah Allah: Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita" (Kej 1:26). Dalam cerita penciptaan, tiap kali Allah berhenti sebentar untuk mengamati karya-Nya dan tiap kali dikatakan: Allah melihat bahwa semuanya itu baik (bdk. Kej 1:10.12.18.25). Tetapi setelah menyelesaikan penciptaan manusia, "Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik" (Kej 1:31). 

Allah telah menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Allah sendiri, supaya manusia sebagai makhluk yang berbudi dapat mengambil bagian dalam hidup Allah sendiri. Ia tidak menjadikan manusia seperti binatang-binatang lainnya, melainkan manusia diberinya kemampuan untuk "mengambil bagian dalam kodrat Allah sendiri" (2Ptr 1:4), sehingga mampu menjadi anak Allah. Sesungguhnya itu merupakan rahmat Allah yang luar biasa dan bukti kasihNya yang besar sekali. "Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang, kita adalah anak-anak Allah" (1Yoh 3:1). Kita menjadi anak Allah karena percaya kepada Yesus Kristus yang telah diutus-Nya ke dunia: "Tetapi semua orang yang menerimaNya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya" (Yoh 1:12). 

Kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Secara konkrit itu berarti serupa dengan Yesus Kristus, karena Kristus adalah gambar sempurna dari Bapa. "Siapa yang melihat Aku, melihat Bapa" (Yoh 14:9). Karena itu kita harus terus tumbuh menjadi serupa dengan Yesus sendiri. Kita harus bersatu dengan Kristus sedemikian rupa, sehingga Ia menguasai hidup kita. Semakin kita bersatu dengan Yesus, semakin hiduplah Yesus dalam diri kita, sehingga akhirnya bukan lagi "aku yang hidup, melainkan Yesuslah yang hidup dalam diriku" (Gal 2:20). 

Persatuan kita dengan Yesus memungkinkan Dia mengalirkan daya hidup ilahi-Nya ke dalam diri kita, sebagaimana ranting anggur yang tinggal pada pokok batang, menerima hidup dari batang tersebut. Sebaliknya kalau ranting itu terlepas dari pokok batang, dengan segera dia akan mengering dan mati. Jangankan menghasilkan buah, hidup saja tidak dapat: "Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamu ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa" (Yoh 15:4-5). 

Kalau kita begitu tergantung pada Yesus dan bahwa kita hanya dapat berbuah kalau tetap bersatu dengan Dia, sesungguhnya sikap yang paling dasar bagi kita ialah selalu menyatu dengan Dia, tinggal selalu dalam kesatuan dengan Dia. Sebaliknya bila kita selalu bersatu dengan Dia, kita akan menjadi subur, subur bagi diri sendiri, subur bagi orang lain, dan subur bagi seluruh Gereja dan bahkan umat manusia. Tidak ada orang yang lebih subur secara rohaniah daripada orang yang bersatu dengan Kristus. Semakin dalam persatuan kita dengan Yesus, semakin suburlah kita bagi Gereja dan umat manusia. Itulah sebabnya mengapa seorang seperti Santo Yohanes Salib menekankan perlunya persatuan dengan Tuhan, persatuan yang mengubah segala-galanya, persatuan yang menjadikan hidupnya mahasubur secara rohani. 

Menurut Santo Yohanes dari Salib, dalam tingkat persatuan yang mendalam sekali, yang disebut dengan istilah persatuan transforman, di mana orang diubah sedemikian rupa oleh Allah, sehingga ia menjadi seluruhnya ilahi, satu faal cinta kasih yang diperbuat orang dalam tingkat transformasi ini masih lebih berharga daripada semua perbuatan yang dibuat orang seumur hidup tanpa mencapai tingkatan itu. Sebab pada tingkatan persatuan itu seluruh aktivitasnya adalah aktivitas Roh Kudus sendiri. Karena itu pula, satu orang dalam tingkatan cintakasih ini lebih berharga bagi Allah, bagi Gereja, dan bagi keselamatan umat manusia, daripada beribu-ribu orang lain yang tidak mencapai tingkatan ini (Yohanes Salib: Nyala Cinta I,2).

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting