Pelaksana Sabda
Antonius begitu rindu untuk menjadi milik Tuhan seluruhnya, sehingga ia mencari bimbingan rohani dan terus-menerus berdaya upaya untuk maju dalam kehidupan rohani. Ia mau menyempurnakan diri dengan meneladan hal-hal yang baik dengan cara memperhatikan kebajikan-kebajikan para guru ataupun sesamanya yang menonjol tanpa memperdulikan kelemahan atau keburukan mereka.
“Ia menyelidiki dengan seksama bagaimana orang lain melebihinya dalam usaha-usaha keras dan askese. Pada satu orang ia melihat secara khusus keramahannya, pada yang lain ia melihat ketekunannya dalam hal doa, yang lain dilihatnya selalu bersabar, tahan diri, dan yang lain lagi mengesankan karena cinta kasih terhadap sesama manusia, yang lain dilihatnya rajin membaca. Antonius mengagumi orang yang satu karena ketekunannya dan yang lain karena perasaannya atau tapanya tidur di lantai yang keras. Di sini ia melihat sifat lemah lembut, di sana kesabaran yang besar. Namun ia melihat pada mereka semua hal yang sama yaitu,
penyembahan terhadap Kristus dan cinta persaudaraan antarmereka.”
Kesunyian dan Godaan
Selanjutnya ia mengikuti petunjuk seorang tua pembimbingnya untuk pergi hidup menyepi di Padang Gurun Thebais. Memang pada waktu itu banyak orang beranggapan bahwa kesunyian padang gurun adalah tempat yang baik untuk mencari dan bertemu dengan Tuhan. Di tempat yang baru ini, sepanjang hari Antonius bekerja keras, berdoa, bertapa dan bermati-raga, serta membaca Kitab Suci. Ia melakukan pekerjaan tangan atau pekerjaan kasar lainnya bukan hanya untuk mencukupi kebutuhannya sendiri, melainkan juga untuk orang-orang miskin maupun orang-orang yang tersesat sampai ke tempatnya. Makanannya hanya roti dan garam sedikit dan minumannya hanya air biasa. Ia baru makan setelah matahari terbenam, kadang-kadang hanya satu kali dalam 3-4 hari. Tidumya pun sangat sedikit dan waktunya lebih banyak dipergunakan untuk berdoa dan merenungkan Sabda Tuhan.
Seperti Kristus di padang gurun, demikian pula Antonius hidup dalam kesunyian padang gurun yang penuh tantangan dan pencobaan baik jasmani maupun rohani. Meskipun tapanya sangat keras dan berat, Antonius tidak lepas dan godaan-godaan setan yang sangat licik dan penuh tipu daya. Memang seperti setan tidak pemah membiarkan orang yang rindu mencari Tuhan dan orang yang mau menyerahkan hidupnya hanya untuk Tuhan, demikianlah Antonius juga tidak dibiarkan hidup dengan tenang, sehingga ia terus-menerus dicobai oleh setan, baik dalam bentuk pikiran maupun perasaan, maupun dalam bentuk serangan fisik yang menakutkan. Bahkan pemah suatu saat ia dijatuhkan sehingga ia tidak sadarkan diri dan hampir mati. Ketika sadar, ia pun mengeluh kepada Tuhan, “Dimanakah Engkau, Tuhan?” Maka, Tuhan menjawab, “Antonius, Aku di sini sepanjang waktu berdiri di dekatmu dan mengawasi perjuanganmu, dan karena engkau bertahan dengan gagah berani melawan musuh, Aku selalu membelamu. Dan Aku akan membuat namamu termasyhur ke seluruh dunia.” Akhirnya dengan ketekunan, kesetiaan dan kepercayaannya kepada Tuhan serta rahmat Allah yang menyertainya, Antonius dapat mengatasi dan mengalahkan segala cobaan dan godaan dari iblis.
Karya Pelayanan
Antonius hidup berpindah-pindah tempat. Tahun 272, ia tinggal di tempat sunyi di dekat desanya yang bernama Koman. Tahun 285, ia kelihatan bergerak di beberapa tempat sekitar puing-puing Benteng Pispir (kini Der El Memum), dekat Sungai Nil. Setelah hidup bertapa 20 tahun, perlahan-lahan mulailah banyak orang yang mulai tertarik untuk mengikuti teladan hidup Antonius dan menjadi muridnya. Para murid itu hidup dalam gua-gua dan gubuk-gubuk sederhana. Karena desakan dan permintaan para muridnya, pada tahun 305, Antonius turun dan pertapaannya dan mendirikan biara yang berbentuk sel-sel terpisah di sebelah utara Memphis. Begitulah janji Tuhan digenapi, sehingga Antonius dikenal sebagai bapa para rahib, karena dialah yang pertama-tama menyusun pedoman hidup para rahib.
Antonius, sang pencari Tuhan, yang selalu merindukan keheningan dan kesunyian, kini selalu dicari banyak orang dan berbagai golongan yang memohon nasehat darinya. Raja Konstantinus Agung pun pernah menulis surat kepadanya untuk memohon doa dan restu darinya. Hal ini sungguh mengagumkan para murid Antonius. Tetapi sebaliknya Antonius berkata, “Janganlah terlalu heran kalau raja menulis surat kepada orang seperti kita, tetapi heranlah bahwa Tuhan menulis surat kepada kita dan Ia berbicara kepada kita melalui Putera-Nya.” Demikian suci dan bijaksana Antonius, yang sejak mudanya tidak mau sekolah, sekarang justru menjadi semacam sekolah bagi banyak orang yang mau meneladani hidupnya. Ia sering pula mengajar para muridnya dan sesekali turun gunung untuk meneguhkan iman dan kepercavaan orang-orang beriman, bahkan ia sempat pergi ke Alexandria, khususnya pada masa penganiayaan orang-orang Kristen oleh Kaisar Roma yang bengis, Maximianus, untuk menguatkan mereka.
Pernah suatu ketika, Antonius menerima pewahyuan tentang akan adanya kekacauan yang ternyata terbukti kemudian dengan munculnya bidaah Arianisme. Ia sangat menentang bidaah tersebut yang tidak mengakui ke-Allahan Kristus. Ia melawan ajaran sesat tersebut baik dengan cara memberi kesaksian tentang Yesus, Allah yang menjadi manusia kepada setiap orang maupun dengan menasehati dan menyemangati Santo Atanasius, yang menjadi sahabatnya untuk memerangi bidaah ini. Pada akhirnya memang bidaah ini dikutuk oleh Konsili Nisea (tahun 325). Antonius juga berani dan tidak segan-segan turun gunung untuk menghukum para bidaah itu.
Akhir Hidup
Ketika Antonius merasa bahwa saat ajalnya sudah dekat, ia pun mengundurkan diri ke pegunungan. Ia berkata kepada muridnya, “Saya pergi, menurut kata Kitab, di jalan nenek moyang (bdk. Yos. 23:14), karena saya melihat Tuhan memanggil saya.” Ia juga berpesan agar kuburnya jangan sampai diketahui oleh orang banyak. Antonius mencapai umur seratus lima tahun dan wafat pada tahun 356. Janji Allah pun digenapi. Meskipun tidak diketahui di mana ia dimakamkan, Antonius menjadi sangat masyhur dalam sejarah Gereja kita dan namanya harum semerbak sebagai orang kudus yang hidup menurut Sabda Tuhan. Semoga Santo Antonius selalu mendoakan kita untuk dapat meneladan ketabahan dan kesetiaannya kepada Tuhan dalam menghadapi segala godaan dan cobaan dan si jahat yang menyerang kita.
- << Prev
- Next



