User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index

Agnes Dihukum Mati

Setelah kejadian itu, Agnes diserahkan kembali ke pengadilan. Di sana ia diperintahkan untuk menyembah berhala-berhala bangsa Romawi. Namun dengan ketegaran dan kekuatan yang berasal dari Tuhan, ia menolak dengan tegas dengan memancarkan kesucian yang mengagumkan orang-orang yang menyaksikannya. Sesuai dengan hukum waktu itu, Agnes pun dijatuhi hukuman mati.

Harinya telah tiba. Di tengah lapangan telah tersedia onggokan kayu tempat Agnes akan dibakar hidup-hidup. Orang berduyun-dyun menuju ke tempat itu untuk menyaksikan semuanya. Masuklah Agnes dan berdirilah ia di atas onggokan kayu itu dengan tangan terkatup. Matanya melayang ke langit dan mulutnya tidak pernah berhenti untuk memuji Tuhan.

Api mulai dinyalakan dan semakin lama semakin besar. Panas api terasa sampai ke tempat penonton berdiri. Namun sesuatu yang ajaib terjadi. Seolah-olah muncul hembusan angin kuat yang mengakibatkan nyala api berubah arah membakar orang-orang di sekeliling tempat pembakaran namun sama sekali tidak menyentuh Agnes. Hal ini berlangsung terus sehingga akhirnya api terpaksa dipadamkan. Agnes lalu dimasukkan ke dalam penjara kembali.

Sekali lagi Agnes dihadapkan ke pengadilan dan sekali lagi ia disuruh untuk menyangkal kepercayaannya. Namun ia hanya tersenyum dan berkata, “Tidak ada gunanya bagi tuan untuk terus mendesakku. Hatiku sudah tetap, kepada Tuhanlah aku berbakti dan menyerahkan seluruh hidupku.” Sesudah berkata demikian, ia menengadah ke langit dan berdoa, “Raja segala abad, bukakanlah pintu surga bagiku.”

Habislah kesabaran hakim itu. Lalu ia memberi perintah kepada algojo untuk memenggal Agnes saat itu juga.

Dengan muka bersinar dan tangan menyilang di dada berlututlah Agnes untuk menyerahkan hidupnya itu kepada Tuhan. Badan yang ramping dan berbaju putih itu seolah-olah sudah menyerupai makhluk surgawi.

Dengan tangan gemetar sang algojo mengangkat pedangnya. Namun ia segera ditegur pembesar kota, “Patutkah seorang algojo ditundukkan oleh iba hati?” Terkejut oleh teguran itu, segera ia mengayunkan pedang dan gugurlah bunga yang memancarkan keharuman surgawi dan jatuh ke tanah. Namun kemuliaan surgawi itu sendiri telah menantikannya. Roh Agnes terbang melayang menuju Kekasihnya yang telah membuka tangan untuk menyambutnya. Santa Agnes wafat pada usia 13 tahun.

Pesta Santa Agnes dirayakan pada tanggal 21 Januari dan 28 Januari. Menurut cerita, pada tanggal 28 Januari Santa Agnes menampakkan dirinya kepada orangtuanya di makamnya.

Jenazahnya dimakankan di Jalan Nomentana, Roma. Karena keberanian, kepolosan dan kemurniannya, Agnes dijadikan teladan dan pelindung kaum muda, khususnya para pemudi. Untuk menghormatinya didirikanlah sebuah gereja di atas makamnya.

Seperti digambarkan di depan, Santa Agnes seringkali digambarkan dengan seekor anak domba, yang mau menunjukkan kemurniannya yang menyerupaiu kemurnian anak domba yang baru lahir, dan juga kemurnian cintanya kepada Yesus Kristus, Anak Domba Allah, Penebus dosa manusia.

Semoga karena doanya kita senantiasa mau mencintai Yesus dengan segenap hati kita.

O, Santa Agnes, ajarilah kami untuk lebih mencintai Yesus, Sang Kekasih Abadi.

Ajarilah kami untuk mengenal lebih dalam akan cinta Sang Ilah sendiri.

Biarlah hanya Dia yang menguasai segenap jiwa, raga dan hati kami.

Bagi Dialah kemuliaan, syukur, pujian, kehormatan untuk selama-lamanya. Amin.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting