header-carmelia17---easter-01a.jpgheader-carmelia17---easter-02a.jpg

Sakramen Tobat

User Rating:  / 14
PoorBest 

 

Pada zaman sekarang praktek pengakuan dosa atau menerima Sakramen Tobat (Sakramen Rekonsiliasi) mengalami kemerosotan yang cukup memprihatinkan. Kenyataan yang dapat kita lihat, antrean panjang di depan ruang pengakuan Gereja hanya ada pada saat menjelang Natal dan Paskah. Sedangkan pada hari-hari yang lain, dapat dikatakan hampir tidak ada yang datang untuk mengaku dosa. Padahal manusia berbuat dosa tidak hanya pada saat menjelang Natal atau Paskah saja. Tetapi setiap hari manusia dapat berbuat dosa, bahkan dalam satu hari manusia dapat berbuat dosa banyak sekali, baik disadari maupun tidak disadari.

Dalam suatu retret yang diadakan di Pertapaan Karmel, banyak ungkapan-ungkapan jujur yang sangat mengejutkan. Dengan jujur mereka mengatakan bahwa pengakuan dosa yang mereka lakukan saat itu adalah pengakuan yang dilakukannva pertama kali setelah bertahun-tahun menjadi Katolik tidak pernah mengaku dosa.

Atau ada yang mengatakan pengakuan dosa terakhir kali yang dilakukan adalah lima belas tahun yang lalu, sehingga dia sudah lupa cara-caranya. Mengapa sampai terjadi waktu itu, rupanya salah satu penyebab utama dan kemerosotan praktek pengakuan dosa ini adalah kurang adanya pengertian tentang Sakramen Tobat.

Karena dosa, manusia dapat terpisah dan Allah. Keterpisahan ini dapat menyebabkan kebinasaan manusia. Tetapi karena Allah sangat mencintai manusia, Dia tidak menghendaki satu orang pun binasa sehingga Ia mengutus Putera-Nya yaitu Yesus Kristus untuk menyatukan kembali manusia dengan Allah. Selama hidup-Nya di dunia, Yesus melakukan banyak hal untuk menyelamatkan manusia, bahkan sampai mengorbankan diri-Nya wafat di salib. Tetapi kemudian Dia bangkit kembali dan mengalahkan maut serta kembali kepada Bapa untuk semakin mengukuhkan keselamatan manusia. Setelah kembali kepada Bapa, bukan berarti karya Yesus di dunia berakhir. Dia sudah menganugerahkan kepada kita sakramen-sakramen melalui Gereja sebagai tanda bahwa Dia tetap hadir di tengah-tengah umat manusia dan akan menyelamatkan mereka.

Salah satu sakramen yang diberikan oleh Yesus adalah Sakramen Tobat atau Sakramen Rekonsiliasi. Sakramen mi diberikan oleh Yesus karena Dia mengetahui kelemahan manusia dan kekuatan setan yang berusaha terus-menerus menarik manusia kepada dosa. Melalui Sakramen Tobat, manusia menerima pengampunan dan rahmat belas kasihan Allah, sehingga manusia disatukan kembali dengan Allah dan Gereja. Jadi, Sakramen Tobat memiliki kuasa membebaskan manusia dan dosa dan kuasa untuk mempersatukan manusia kembali dengan Allah. Sakramen Tobat dapat sungguh-sungguh berdaya guna bila memiliki empat unsur pembentuknya yaitu: tobat, pengakuan, absolusi dan penitensi.


1. Sikap Tobat

Pemberian Sakramen Tobat, selain menunjukkan bahwa Allah mau mengampuni manusia, juga menunjukkan atau mengandaikan bahwa manusia sendiri ingin dan mau diampuni. Jadi dalam Sakramen Tobat ada keterlibatan kita sebagai penerima sakramen. Keterlibatan yang harus kita berikan terwujud dalam suatu sikap tobat. Kalau dengan melakukan dosa berarti manusia menolak Allah, sehingga terpisah dari-Nya, maka dengan mengambil sikap tobat berarti manusia menolak dosa dan segala hal yang bertentangan dengan hukum Allah. Dia yang awalnya memalingkan diri dan Allah, sekarang mengarahkan pandangannya lagi kepada Allah.

Bagaimanakah sikap tobat yang baik dan benar? Sikap tobat yang baik dan benar adalah sikap tobat yang dilandasi oleh rasa cinta kepada Allah. Karena cinta itu, ia sadar bahwa diri dan perbuatannya sudah melukai Dia yang dicintainya. Inilah sikap tobat ideal yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang. Janganlah sikap tobat kita hanya dilandasi oleh rasa takut, malu dan sungkan, kalau dikatakan tidak berani mengaku dosa. Juga janganlah kita mengaku dosa karena takut pada dosanya. Tetapi mengaku dosalah justru karena sadar bahwa kita sudah melukai Dia yang mencintai kita dan kita cintai pula. Kalau kita dapat melakukan hal ini, sudah menunjukkan bahwa kita telah menjadi pribadi dewasa yang sudah dapat melihat nilai yang indah dan kasih dan cinta Tuhan, tidak hanya bersaksi karena adanya dosa.

Konkretnya, yang dituntut dalam pertobatan adalah sikap jujur mengakui bahwa ada hal-hal yang keliru dalam hidup kita yang membutuhkan perubahan. Kemudian dengan rendah hati menyatakan kesediaan untuk berubah, sadar bahwa kita mau berpaling dan segala perbuatan salah serta mengambil keputusan untuk berusaha tidak melakukan hal itu lagi. Akhirnya kita mau mohon ampun kepada Tuhan atas segala dosa dan kesalahan kita. Semua hal di atas kita wujudkan secara konkret dengan masuk ke dalam ruang pengakuan untuk mengakui dosa kita dan menerima pengampunannya.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting