Santa kita ini telah menuliskan bagian-bagian yang sangat menggembirakan berkenaan dengan tema ini dan dari bagian-bagian itu kami memilih contoh-contoh berikut ini:
“Saya memastikan kepadamu, ia mengatakan kepada seorang susternya, bahwa Tuhan kita yang baik jauh lebih baik daripada yang mampu engkau bayangkan. Ia akan puas dengan satu pandangan, satu desahan cinta... Bagi diriku sendiri aku menemukan bahwa jalan menuju Yesus adalah melalui Hati-Nya. Bandingkan dengan seorang anak kecil yang telah menjengkelkan ibunya dengan menampilkan tingkah laku yang buruk atau ketidak taatan. Apabila anak itu bersembunyi di sebuah sudut dengan perasaan takut akan hukuman, ia akan merasa bahwa ibunya tidak akan pemah memaafkannya. Tetapi sebaliknya apabila ia membuka kedua tangannya yang kecil kepada ibunya dan dengan senyum mengatakan, “Cintailah, ciumlah daku, mami, aku tidak akan melakukannya lagi,” tidak akankah ibunya mendekap si kecil ke hatinya dengan penuh kasih sayang, dan melupakan apa yang telah dilakukan anaknya? Dan lagipula, meskipun ia menyadari sepenuhnya bahwa si kecilnya yang tersayang akan berbuat kesalahan lagi pada kesempatan yang berikutnya, hal itu tidak mempunyai arti apa-apa bila anak itu berkenan di hatinya. Anak itu tidak akan pernah dihukum.
Berhubungan dengan ini ia mengatakan dengan selera humor yang tak dibuat-buat, “Tuhan kita mempunyai satu kelemahan besar. Ia buta dan sama sekali tidak mengetahui apa pun tentang aritmatika. Ia tidak tahu bagaimana caranya untuk menjumlahkan, namun untuk membutakan Ia dan mencegah-Nya untuk menambahkan jumlah yang paling kecil... engkau harus memenangkan Hati-Nya. Ini adalah titik kelemahanNya.”
“Untuk memenangkan hati Yesus” kelihatannya merupakan suatu ungkapan yang sanggup menerangkan isi hatinya membaca bahwa ia menggunakannya berkali-kali. Lagipula, ia mengaku secara terus terang bahwa dirinya sendiri menggunakan muslihat ini: “Dengan jalan inilah saya dapat memegang kuat-kuat Tuhan kita yang baik dan dengan menggunakan jalan inilah saya akan diterima dengan baik oleh Dia.”
Ia mempertahankan kepercayaan yang sama itu dan kedamaian yang tak tergoyahkan dalam periode kekeringan yang lama yang membuatnya tidak mampu untuk berdoa dan melakukan kebajikan apa pun. “Bahkan apabila api cinta kasih kelihatannya sudah padam, saya akan tetap menuangkan bahan bakar ke dalamnya dan Yesus akan memperhatikan untuk menyalakannya kembali.” Dan ketika keadaan kekeringan itu terus berlanjut, ia dengan tenang mengomentarinya: “Yesus akan menjadi lelah lebih cepat untuk membuat saya menunggu daripada saya menjadi lelah menunggu-Nya.”
Akhirnya, pada saat-saat tertentu ia memiliki hampir suatu firasat bahwa kekeringan ini akan tetap bersamanya sampai nafasnya yang terakhir. Namun hal ini tidak membuatnya putus asa: “Tak dapat diragukan, Yesus tidak akan bangun sebelum kediaman agungku dalam kekekalan namun, daripada meratapnya, saya malahan merasakan sukacita yang besar.”
“Ya, biarkan Ia bersembunyi! Dengan senang hati aku akan menunggu-Nya. Sampai Hari yang besar itu saat matahari tidak terbit dan kegelapan iman harus mati.”
Mengikuti teladan Teresia, marilah kita menjadikan kepercayaan kita sebanding dengan keagungan dan Makhluk Ilahi dan memadamkannya dengan jurang kelemah lembutan dan Hati Allah! Kita harus menolak untuk menyatakannya dengan keterbatasan konsep-konsep kita yang miskin. Kita harus ingat bahwa Allah dengan senang hati memberikan kepada anak-anak-Nya apa pun yang mereka butuhkan, apa pun yang akan membuat mereka bahagia. Ia dimuliakan saat Ia membagi-bagikan kepada mereka anugerah-anugerah-Nya yang tak terukur. Yesus tidak pernah merasa terganggu saat kita meminta hal-hal yang sejalan dengan rancangan-Nya. Bila Ia dengan sering telah memberikan kepada kita berkat-berkat preventif kepada kita saat kita gagal untuk berdoa, maka dengan kesiapan yang jauh lebih besarlah Ia akan mendengarkan permohonan-permohonan kita.
Mengingat bahwa anak-anak pada umumnya selalu mendesak orang tua mereka dengan keberanian yang mirip dengan saat mereka masih dalam masa kanak-kanaknya, dan bahwa pada bagian mereka, orangtua seringkali bertingkah bodoh dan memperlihatkan kelemahan dengan menyerah kepada keinginan anak-anak mereka,” Teresia percaya bahwa Allah juga memiliki kelemahan-Nya terhadap mereka yang mendekati-Nya dengan watak seorang anak kecil: “Saat kita mengharapkan sesuatu dan Allah yang baik yang Ia tidak berniat untuk memberikannya kepada kita, Ia sungguh berkuasa dan kaya sehingga Ia berhutang kepada kemuliaan-Nya untuk tidak mengecewakan kita dan Ia mengabulkan keinginan-keinginan kita... tetapi kita harus mengatakan kepada-Nya: “Saya sangat menyadari bahwa saya tidak pantas untuk rahmat ini. Saya semata-mata hanya membuka tanganku kepadaMu, Seperti seorang anak pengemis kecil, dan saya yakin bahwa Engkau akan memuaskanku secara penuh.”
Ada kemungkinan bahwa Tuhan tidak langsung menjawab kita. Kadang-kadang Ia membuat kita menunggu. Ia lebih tahu daripada kita akan apa yang baik bagi kita dan waktu yang tepat untuk memberikan bantuan. Lagipula, Ia tidak harus memperhatikan unsur waktu untuk melakukan karya-Nya dalam jiwa kita. “Yesus tidak membuat waktu sebagai pertimbangan-Nya, karena tidak ada waktu di surga. Ia semata-mata hanya memperhatikan cinta.”
Sungguh disesalkan betapa banyaknya jiwa yang kurang dalam kepercayaannya. Sikap semacam mi tidaklah sejalan dengan kerahiman tak terbatas dan Tuhan atau nilai perantara dan jasa-jasa Kristus yang tak terukur. Kekurangan dalam kepercayaan dalam jiwa semacam ini seringkali disebabkan oleh terlalu banyaknya perhatian akan ketidak layakan mereka dan kemiskinan karya-karya mereka.
Kemudian marilah kita menyadari kebenaran bahwa keberhasilan kita, betapapun hebatnya, bukanlah dasar Sesungguhnya dan kepercayaan kita. Hal ini haruslah bergantung sepenuhnya dan cinta kasih Allah yang berbelas kasih, atas dasar iman dalam Yesus Kristus. Teresia tidak pernah mempelajari Teologi namun ia telah diterangi oleh kebijaksanaan yang secara murah hati Allah curahkan ke dalam jiwa-jiwa yang ‘kecil’ dan ‘sederhana.’ Sehingga ia tahu lebih banyak daripada banyak teolog dan teoritikus dan kehidupan rohani apa yang merupakan peran masing-masing dan Allah dan manusia di dalam karya penyempurnaan kita, dan syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk menjamin keberhasilannya. Baginya, perkembangan yang cepat dalam jalan cinta kasih bergantung kepada tetap tinggal sangat kecil dan menaruh kepercayaan kita kepada Tuhan: “Adalah Yesus yang melakukan segalanya dalam diri saya; saya tidak melakukan apa pun, selain tetap tinggal kecil dan lemah.”



