ducklings-2014-01.jpgducklings-2014-02.jpg

Santo Alfonsus Maria de Liguori

User Rating:  / 7
PoorBest 

 


MASA KECIL

Santo Alfonsus lahir di sebuah kota dekat Napoli, Italia, pada tanggal 27 September 1696. Keluarga Alfonsus adalah keluarga bangsawan katolik yang bijaksana, saleh dan terhormat. Ayahnya, Don Joseph de Ligouri, seorang laksamana militer kerajaan Napoli dan ibunya, Donna Anna Cavalieri, mendidik Alfonsus dengan disiplin yang tinggi terutama dalam hal iman dan cara hidup katolik. Orang tuanya juga mendidiknya ala militer.

Dengan disiplin yang tinggi, seminggu sekali ia diwajibkan tidur di lantai tanpa alas. Hal ini membuatnya tidak manja dan terbiasa dengan pola hidup yang keras. Sewaktu kecil, ia dibaptis dengan nama Alfonsus Mary Antony John Francis Cosmas Damian Michael Caspar, tetapi ia lebih suka dipanggil Alfonsus Maria. Don Joseph menyekolahkan anaknya pada usia yang sangat dini dan muda. Dengan bakat dan kemampuan yang luar biasa, Alfonsus mulai belajar hukum pada usia tiga belas tahun dan pada usia enam belas tahun ia memperoleh gelar Doktor Hukum dengan predikat “Magna cum Laude”.

MASA DEWASA

Pada tahun 1717 ayahnya merencanakan pernikahan untuk Alfonsus, namun ia menolak. Ia tetap melanjutkan pekerjaannya sebagai pengacara dengan rajin dan tenang. Alfonsus mengalami kelesuan dalam hidup rohani, namun ia tetap memiliki kehendak kuat untuk menghindari dosa berat. Alfonsus memutuskan  untuk tidak menikah dan ia menantikan petunjuk dari Tuhan untuk mengikuti dan menjalankan kehendak-Nya.

KARIR ALFONSUS

Santo Alfonsus sungguhlah seorang pengacara hebat. Selama dua puluh tahun berkarir, ia tidak pernah terkalahkan dalam satu kasus pun. Pada tahun 1723 ia membela satu kasus besar. Seorang bangsawan Napoli menuntut  Walikota Tuscani atas kepemilikan suatu bangunan berharga lebih dari 100.000 poundsterling. Ia menangani kasus ini dan membela kliennya dengan hebat. Saat di pengadilan seorang juri berkata dengan tenang: “Anda telah mengabaikan bukti yang menjadi inti dari seluruh kasus ini.” “Apa maksudmu? Di mana? Bagaimana?”  tanya Alfonsus. Juri menyerahkan suatu bukti yang telah dibacanya beberapa kali, tetapi dengan suatu paragraf yang ditandai bahwa Alfonsus telah keluar dari pembelaannya secara keseluruhan.    

Intinya terletak pada apakah bangunan yang didirikan tersebut berada di bawah pengawasan hukum Lombard atau Angevin. Klausa ini membuat jelas bahwa Alfonsus lalai dan mengabaikan bukti-bukti yang ada. Oleh karena itu diputuskanlah oleh juri bahwa kliennya kalah. Untuk beberapa saat ia terdiam. Kemudian ia berkata, “Saya telah membuat suatu kesalahan. Kasus ini milikmu”. Segera Alfonsus meninggalkan ruang pengadilan. Alfonsus mengurung diri selama tiga hari di kamar, merenungkan kekalahannya. Kekalahan ini membuat batinnya tertekan. Akan tetapi, ternyata Tuhan memiliki rencana yang indah atas diri Alfonsus, kekalahan ini membukakan pintu hatinya untuk menjalani hidup bakti kepada Tuhan. Setelah lama berdoa dan merenung di depan tabernakel, akhirnya  ia pun memperoleh ketenangan batin. Ketenangan batin inilah yang menumbuhkan kerinduan hatinya untuk menjadi seorang biarawan.

Ketika mengunjungi orang sakit di rumah sakit seperti yang biasa ia lakukan, Alfonsus dua kali mendengar suara ajaib yang berkata,”Tinggalkanlah dunia dan serahkanlah dirimu kepada Aku”. Lama kelamaan ia sadar bahwa itu adalah suara Tuhan. Pada akhirnya dengan kesadaran ini, ia memutuskan untuk menjadi biarawan yang sepenuhnya mempersembahkan hidup bagi Tuhan. Lalu Alfonsus  pergi ke gereja Maria Bunda Penebus dan menawarkan dirinya kepada seorang pastor. Don Joseph mencoba segala usaha untuk menggagalkan keinginan anaknya. Akan tetapi, pada akhirnya sang ayah terpaksa menyetujui Alfonsus untuk menjadi pastor, asal saja, selain bergabung dengan Ordo Pengkotbah, ia harus tetap tinggal di rumah. Dengan nasihat pimpinannya, Pastor Pagano OP,  Alfonsus menerima persyaratan ini.


www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting