User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Article Index

 

 
 

Pengantar

Dewasa ini kami melihat bahwa orang Katolik cenderung kurang menghayati iman Kristiani mereka. Ditambah lagi dengan zaman yang semakin sekularisme ini, banyak orang hanya mencari kesenangan-kesenangan duniawi dan melupakan Tuhan. Hal ini dapat dilihat dengan banyaknya anak-anak muda yang sudah tidak lagi pergi ke gereja melainkan pergi ke tempat-tempat diskotik, kasino, bar, dsb. Banyak juga kita jumpai gedung-gedung gereja yang dihancurkan dan diubah menjadi tempat-tempat pesta. Namun, apabila kita mau merenungkannya: benarkah cara hidup seperti ini? Bukankah dengan cara demikian orang-orang beriman mengurbankan iman Kristennya? Jika demikian apa yang harus kita lakukan? Tulisan ini tidak menjanjikan jawaban atas segala permasalahan yang dihadapi orang beriman. Namun dengan ajaran dan teladan hidup seorang kudus besar dalam Gereja Katolik, kita dapat belajar satu hal bahwa mengikuti Yesus Kristus dalam Gereja Katolik berarti menghayati ajaran Injil secara radikal, tanpa kompromi sedikitpun. Mengikuti Yesus dan menghayati ajaran Injil juga sepatutnya dilakukan sesuai dengan status hidupnya, hingga pada akhirnya kita akan sampai pada tujuan hidup manusia, yakni persatuan dengan Allah, Sang Penciptanya.

 

Awal Kehidupan

Karolus Boromeus dilahirkan di istana Rocca d’Arona, tepi danau Maggiore, Italia pada tanggal 2 Oktober 1538. Ia merupakan anak keluarga bangsawan dan juga putera kedua dari enam bersaudara. Ayahnya, Giberto Berromeo, merupakan seorang yang saleh dan berbakat, sedangkan ibunya, Margherita de’Medici, adalah saudari Paus Pius IV (1846-1878). Di kemudian hari, Karolus menjadi Kardinal dan Uskup Agung Milano. Dari seluruh kisah kehidupan dan karyanya, dapat dikatakan bahwa Karolus sudah ditentukan Tuhan sejak lahirnya untuk menjadi pelayan Allah bagi kemajuan Gereja-Nya.

Kurang lebih 40 tahun setelah adanya Reformasi Protestan, Tuhan menggerakkan Karolus untuk membantu Paus dalam usahanya memperbarui Gereja. Pada usia 22 tahun, Karolus diangkat menjadi Kardinal oleh pamannya, Paus Pius IV. Pada saat itu, Karolus juga menjabat sebagai sekretaris negara, ia pun menjadi orang penting di Kuria Roma. Namun seiring berjalannya waktu, Karolus meminta kepada Paus agar ia dibebaskan dari tugasnya di Kuria Roma, sehingga ia dapat lebih memusatkan perhatiannya untuk memperbarui keuskupannya, keuskupan Milano.

 

Penghayatan Hidup Doa, Matiraga, dan Kesederhanaan

Pada suatu ketika, setelah kakaknya meninggal secara mendadak, Karolus memutuskan untuk mengikuti suatu retret khusus. Kemudian, ia menjadi imam dan mulai hidup secara radikal. Salah satu hal yang paling menonjol dalam hidupnya ini ialah hidup doa yang baik dan teratur. Karolus sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk berdoa, bahkan dalam pengajaran dan kotbahnya pun ia seringkali menekankan betapa pentingnya hidup doa yang baik secara pribadi maupun secara komuniter. Karolus juga tidak lupa untuk menghayati sakramen-sakramen yang ada di dalam Gereja, khususnya sakramen pertobatan. Hal ini dapat dilihat melalui hidup sehari-harinya di mana Karolus sangat rajin untuk mengaku dosa. Di samping hidup doa yang baik, hal lain yang dapat kita teladani dari Karolus adalah semangatnya untuk melakukan matiraga yang keras. Hal ini ditunjukkannya melalui semangatnya dalam menyangkal diri dan berpuasa. Selain itu, Karolus juga menekankan perlunya hidup secara sederhana. Kepada staf keuskupannya, Karolus juga menegaskan agar mereka menghayati suatu corak hidup yang lebih sederhana, disertai dengan semangat doa dan matiraga.

 

Perhatian kepada Orang-orang Sakit dan Orang-orang Miskin

Karolus juga mempunyai perhatian bagi mereka yang dianggap hina oleh kebanyakan orang, khususnya orang-orang sakit. Hal ini dapat dilihat ketika ada wabah sampar yang ganas menyerang daerah tempat tinggalnya, Milano, pada tahun 1576. Dengan kerelaan hati yang besar, Karolus menjadikan tempat tinggalnya sebagai rumah sakit. Ia sendiri juga melayani sebagai perawat dan pembimbing rohani para pasien. Selain orang-orang sakit, Karolus juga mempunyai perhatian besar kepada orang-orang miskin. Ia membagikan kekayaannya kepada orang-orang miskin serta menyisihkan banyak dana untuk beasiswa bagi anak-anak yang berasal dari keluarga yang berkekurangan.

 


 

Semangat Memperbarui Iman dan Mengobarkan Api Kristiani dalam Gereja

Pada masa pasca Konsili Trente, semangat hidup Kristiani di dalam Gereja sangat menurun. Banyak umat sudah tidak pergi ke gereja lagi, bahkan ada juga umat yang meninggalkan iman Kristiani-nya karena terpengaruh oleh ajaran bidaah-bidaah yang timbul pada masa itu. Akibatnya, gereja-gereja menjadi sepi dan banyak yang diubah menjadi toko atau tempat pesta. Pada masa itu pula, banyak anak tidak mengenal Tuhan, bahkan membuat tanda salib saja pun mereka tidak bisa, sedangkan para imam juga tidak bisa berkotbah karena tidak terdidik baik dalam hal pewartaan iman. Sebagai salah seorang tokoh utama Konsili Trente, Karolus Boromeus merasa terpanggil untuk memperbarui iman umat yang sudah mulai pudar. Dalam hal ini, Karolus berusaha untuk kembali mengobarkan api Kristiani di dalam kehidupan Gereja. Sebagai langkah awal, Karolus berusaha keras untuk mendesak para pemimpin Gereja agar keputusan-keputusan Konsili Trente dilaksanakan di dalam kehidupan Gereja. Pada akhirnya, usaha Karolus itu membuahkan hasil dengan diadakannya pembaruan Tridentine yang membahas pelaksanaan keputusan Konsili Trente tersebut.

Semangat Karolus untuk memperbarui Gereja juga tampak ketika ia mendirikan sekolah-sekolah minggu untuk memperkenalkan Tuhan kepada anak-anak. Karolus juga membuka seminari-seminari keuskupan untuk mendidik para calon imam yang mampu mewartakan imannya dengan baik, itulah seminari-seminari model pertama. Selain itu, Karolus juga banyak mengadakan kunjungan ke wilayah-wilayah yang lain seperti Italia, Switzerland, dan lain-lain untuk mewartakan Injil dan memperbarui Gereja, utamanya bagi orang-orang yang masih belum mengenal Kristus dan bagi orang-orang yang sudah lemah semangat imannya. Pada awalnya, usaha Karolus hampir gagal karena ia tidak bisa berbicara dengan lancar, tetapi Karolus pantang menyerah dan selalu berbicara dengan penuh keyakinan. Selain itu, banyak halangan yang harus ia hadapi, seperti ancaman pembunuhan dari orang-orang yang tidak sependapat dengannya dan tuduhan-tuduhan palsu oleh pemerintah terhadapnya. Benarlah sabda Yesus bahwa setiap orang yang mengikuti-Nya akan mendapat banyak halangan dan penderitaan (bdk. Mat 24:9; Mrk 13:13).

 

Akhir Kehidupan

Namun di tengah-tengah kesulitan tersebut, Tuhan tidak pernah meninggalkan Karolus. Hal itu terbukti melalui perlindungan dari Paus terhadap Karolus, sehingga ia tetap dapat meneruskan usaha-usahanya untuk memperbarui Gereja. Iman dan ketabahan Karolus serta usaha-usahanya berhasil menyalakan api semangat Kristiani dalam hati umatnya dan membuat Kristus dicintai lagi. Akibat semuanya itu, Karolus sangat disukai umat dan dianggap sebagai penyelamat kota Milano. Namun, pekerjaan-pekerjaan berat ditambah dengan penderitaan-penderitaan yang dialaminya membuat kesehatan Karolus menurun. Pada akhirnya, ia wafat di Milano pada tanggal 3 Nopember 1584.

 

Kesimpulan

Memang, usaha untuk menjadi orang kudus dalam Gereja di zaman ini tidak mudah. Namun, apabila kita yakin akan apa yang Tuhan kehendaki dan rencanakan dalam kehidupan, kita tidak perlu takut dan gentar, sebab Dia telah berjanji untuk menyertai kita hingga akhir zaman (bdk. Mat 28:20). Ini terbukti dengan usaha dan perjuangan Santo Carolus Boromeus yang terus bertekun hingga akhirnya. Akhirnya, segala karyanya menghasilkan buah yang melimpah, sebab dia tidak mengandalkan kekuatan sendiri, dia menanggapi rahmat dan memeliharanya hingga akhir kehidupannya. Kiranya teladan hidupnya menjadi teladan hidup beriman pada zaman ini. Semoga! (Sumber: Nicolaas Martinus Schneiders, Orang Kudus Sepanjang Tahun, Jakarta: Obor, 1999). 

 


Sdr. Christopher Alex Budiman

Salah satu penulis di situs carmelia.net

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting