User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

 

Pengantar

Dewasa ini, pemahaman tentang Gereja terasa “kabur”. Arti dan makna Gereja perlu di-dekonstruksi (baca: dibaca ulang). Solusinya, dengan menelusuri sumber iman Kristiani, yaitu Kitab Suci, Tradisi dan Magisterium. Dalam tulisan ini penulis hanya membahas Kisah Terjadinya Gereja menurut Perjanjian Baru dan Bapa Gereja sub-apostolik. Maka, tulisan ini akan mengalir dalam jalan pikiran: arti etimologis dan pengertian, Hakekat Pewartaan Yesus, Apakah Yesus Mendirikan Gereja? Eklesiologi umat Kristen perdana, Eklesiologi dalam Periode sub-apostolik, dan Kesimpulan.

 

Arti Etimologis dan Pengertian

Kata bahasa Indonesia “gereja” berasal dari kata bahasa portugis igereja. Dalam bahasa Latin ecclesia berasal dari kata bahasa Yunani ekklèsia yang berarti “rapat rakyat” atau “perkumpulan rakyat”. Dalam konteksnya berarti “persekutuan orang beriman”. Alkitab Aleksandria (Septuaginta, LXX), menerjemahkan kata ecclesia dari kata Ibrani qahal YHWH, yang berarti “jemaat (umat) yang dipanggil oleh firman Allah supaya keluar dari antara bangsa-bangsa dan menjadi umat Allah sendiri (bdk. Bil 16:3).

Gereja adalah umat Allah yang berasal dari Kristus dalam Roh Kudus. Dinamisme ini berpusat dalam Allah yang mewahyukan diri-Nya dalam Tubuh dan Darah Kristus. Jadi, Gereja sebagai ecclesia adalah kontinuitas perjanjian dalam sejarah penyelamatan Allah dan mencapai kepenuhannya dalam misteri salib dan kebangkitan Kristus.

 

Hakekat Pewartaan Yesus

Pesan Yesus bukanlah Gereja melainkan Kerajaan Allah atau Kerajaan Surga. Kata “Kerajaan Allah” ditemukan 122 kali dalam Perjanjian Baru, 99 kali dalam Injil Sinoptik dan 90 kali dalam perkataan Yesus. Yesus mewartakan Kerajaan merujuk pada apa yang disebut Gereja. Seluruh aktivitas Yesus mau mengatakan dimensi eskatologis umat Allah. Melalui perumpamaan-Nya, Yesus mengatakan bahwa diri-Nya adalah karya Allah, kedatangan-Nya, kekuasaan-Nya saat ini (bdk. Mrk 1:15). Seluruh karya-Nya untuk menyatukan umat Allah yang baru (Yoh 11:52; Mat 12:30) untuk memasuki relasi dengan Allah dalam Kristus melalui persekutuan dengan Tubuh dan Darah Kristus, yaitu misteri Ekaristi.

Ketika mengumpulkan para murid, Yesus memilih 12 orang sebagai “rasul” (Luk 6:12-16),  yang kelak akan disebut “Gereja” dan “Israel baru” (Luk 12:32; 22:30). Apakah para murid Yesus ini boleh disebut “Gereja”? Jawabannya ialah Ya dan Tidak. Ya, jika paham “gereja” diartikan sebagai “umat Allah”. Para murid dipersatukan dengan Allah dalam pribadi Yesus Kristus (bdk. Mat 18:20). Tidak, jika “gereja” diartikan sebagai orang beriman yang percaya kepada Yesus yang bangkit dari alam maut sebagai Tuhan dan Kristus oleh Allah Bapa (bdk. Kis 2:36).

Maka, untuk melihat hubungan “Ya” dan “Tidak”. Murid yang mengikuti-Nya sebelum wafat-Nya disebut “permulaan Gereja”, dan “Gereja” dalam arti sepenuhnya lahir setelah Kerajaan Allah terlaksana dalam Kristus yang bangkit. Dengan kebangkitan-Nya, Kristus memperoleh dalam kepenuhan dan mencurahkan Roh Kudus kepada mereka yang percaya. Dengan pencurahan Roh Kudus pada hari Pentekosta lahirlah Gereja.

 

Apakah Yesus Mendirikan Gereja?

Jawabannya “Ya” dan “Tidak”. Tidak, selain Yesus tidak secara partikular mendirikan Gereja, para murid tidak mendapat instruksi langsung dari Yesus untuk mendirikan organisasi Gereja. Buktinya ialah sesudah Paskah para murid belum mendirikan “kelompok baru” dan masih setia terhadap hukum taurat dan kebiasaan Yahudi. Yesus hanya mewartakan Kerajaan Allah (Mat 3:2; Mrk 1:15), ditolak (Mat 23:37 dsj) dan wafat di kayu salib.

Ya, Gereja sekarang ini bertolak dari hidup dan karya Yesus yang berpuncak pada sengsara dan kebangkitan-Nya. Melalui kebangkitan-Nya, banyak orang bertobat dan para murid menyadari makna kebangkitan Kristus bagi karya keselamatan Allah. Paham Gereja perdana dalam situasi eskatologis, yaitu Dia yang bangkit (bdk. 1 Kor 15:3). Ekklèsia Gereja perdana memandang “parousia”. Namun, ia masih bagian dari dunia ini dan tidak identik dengan basilea, Kerajaan Allah.

Maka, yang mendirikan Gereja ialah tindakan penyelamatan Allah dalam Yesus, Putra Allah yang bangkit melalui Roh Kudus. Roh Kudus yang memampukan Gereja melanjutkan karya Yesus dengan cara yang baru. Dengan demikian, Allah yang bangkit selalu hadir dalam Gereja-Nya melalui Roh-Nya. Di sini nampak kontinuitas dan diskontinuitas antara para murid pra-paskah dengan gereja perdana pasca paskah. Kontinuitas, karena melanjutkan karya Yesus (Yoh 14:26). Diskontinuitas, meneruskan secara baru siapa Yesus sebenarnya dan misi-Nya (Luk 9:45; Yoh 12:16) dalam kuasa Roh Kudus (Kis 2:4; Yoh 16:13).

 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting