User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

 

Dalam dunia modern yang mengutamakan rasio ini, kita jumpai macam-macam orang bila ditinjau dan sikap bersyukur, yaitu:

 

  1. Orang yang sama sekali menolak untuk bersyukur. ini ada pada orang-orang ateis. Mereka menganggap Allah tidak ada, maka kita sama sekali tidak bisa berbicara tentang syukur kepada mereka; kata syukur tidak ada dalam kamus mereka.
  2. Orang yang belum bisa bersyukur. Mereka adalah orang beragama yang tidak pernah atau belum merasa puas dengan hidupnya, bahkan menyesali hidupnya.
  3. Orang yang hanya bersyukur jika senang, tetapi memaki Tuhan bila susah.
  4. Orang yang penuh rasa syukur. Sebagai orang Kristen bagaimana sikap kita terhadap “bersyukur” ini, dan apa yang dikehendaki Allah dan kita dalam hal ini?

 

SIKAP YANG TIDAK BERSYUKUR ADALAH DOSA

Bersyukur kepada Allah berarti berterima kasih kepada Allah; mengucap syukur berarti mengucapkan terima kasih. Mengapa kita perlu berterima kasih kepada Tuhan? Banyak! Karena Tuhanlah yang menciptakan kita, yang memelihara kehidupan kita, yang mengangkat kita menjadi anak-Nya, dan yang memberikan kita hidup kekal di dalam Putra-Nya, Yesus Kristus. Singkatnya, kita perlu berterima kasth atas cinta Tuhan yang telah dicurahkan kepada kita. Dalam 1 Kor. 4:7, Paulus mengatakan: “Apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima?” Segala sesuatu kita terima karena kasih-Nya semata-mata, anugerah Allah, bukan karena kita sendiri yang mencapainya. Itu semua adalah penyelenggaraan Tuhan bagi hidup kita. Tidak pada tempatnya bila kita mempunyai sikap taken for granted (menganggap itu memang sudah semestinya), apalagi menuntut sebagai haknya. Jasa atau balasan apa yang dapat kita berikan atas karunia yang begitu besar ini. Di sini hubungan kita dengan Tuhan tidaklah sederajat seperti dalam transaksi dagang atau jual-beli, tetapi kita ada di pihak yang menerima dan Tuhan ada di pihak yang memberi. Maka sudah layak dan pantas bila kita bersyukur kepada Tuhan; tidak bersyukur berarti tidak tahu terima kasih. Sifat tidak tahu terima kasih mengabaikan atau menolak mengakui kasih Allah dengan rasa syukur dan menjawabnya dengan kasih balasan. Gereja Katolik dengan tegas mengajarkan bahwa ini adalah DOSA melawan kasih Allah (Katekismus Gereja Katolik no. 2094).

Dalam Rm. 1:18, Paulus menerangkan bagaimana manusia jatuh ke dalam dosa: “Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya.” Perhatikanlah kalimat “mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya..” Selanjutnya dikatakan: “Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. Mereka melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya.” Manusia berdosa karena menolak untuk memuliakan dan bersyukur kepada Allah, karena dosa adalah penolakan dan penyangkalan Allah sebagai Allah, tidak mau mengakui Allah, tidak memberikan apa yang menjadi hak-Nya, atau melecehkan Allah. Bukan dalam arti tidak tahu bahwa Allah itu ada, tetapi bertindak seolah-olah Allah tidak ada. Maka syukur itu bukanlah hal yang remeh — kalau ingat saya bersyukur, kalau tidak ya sudah — tetapi serius; syukur menunjukkan bagaimana Sikap kita dihadapan Allah. Dalam Luk. 17:11-19 Yesus sendiri kecewa terhadap 9 orang kusta yang telah disembuhkan-Nya, karena mereka tidak ingat lagi untuk bersyukur dan memuliakan-Nya.

Orang yang tinggi hati menganggap bahwa apa yang mereka dapatkan itu adalah semata-mata hasil usaha mereka sendiri dan tidak mengakui bahwa seluruh hidupnya bergantung pada Tuhan, sehingga merasa tidak perlu bersyukur. Walaupun dalam banyak hal memang diperlukan kerja keras dan pihak manusia untuk mendapatkan hal tersebut, namun itu semua terbatas. Tanpa berkat Tuhan (bdk. Flp. 2:13) dibalik semua usahanya itu walaupun ada kemauan, kesempatan, dan kekuatan, jangan harap ia mendapatkannya. Ini adalah suatu pandangan yang buta, rabun rohani. Diperlukan baik rahmat Tuhan maupun usaha manusia untuk mendapatkan sesuatu. Akan tetapi kalau manusia membuka matanya, begitu banyak aspek hidup lainnya yang manusia tidak bisa usahakan dan seluruhnya bergantung kepada Tuhan, contoh: ia tidak bisa memilih dimana dan kapan ia dilahirkan dan pada keluarga apa, tidak bisa membuat dirinya sehat (tidak cacat) walaupun punya uang untuk membeli obat, tidak bisa mencapai kepastian akan keadaannya Setelah mati, dan banyak hal lain dimana ia tidak bisa menentukan hidupnya.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting