ducklings-2014-01.jpgducklings-2014-02.jpg

Arti Teologis Penyembuhan dan Pembebasan

User Rating:  / 4
PoorBest 

Pengantar

 

Mulai sekitar tahun 1960 Gereja dilanda suatu krisis iman tentang realitas para malaikat dan roh jahat. Karena pengaruh para teolog liberal, antara lain Bultman dengan demythologisasinya, psikologi serta psikiatri non-kristen, orang membuang eksistensi para malaikat, khususnya eksistensi roh jahat. Pengaruh itu terasa hingga kini, walaupun di sana-sini orang mulai menyadari realitas roh jahat itu kembali. Namun pada umumnya, masih banyak teolog dan imam karena pengaruh pendidikannya membuang realitas roh jahat itu. Suatu hal yang menarik ialah kenyataan, bahwa dewasa ini justru banyak psikolog dan psikiater, seperti di Amerika Serikat dan Perancis, yang menemukan kembali realitas roh jahat itu. 

Demikian pula, lama sekali orang sangat skeptis terhadap penyembuhan lewat doa-doa. Dalam Gereja Katolik pada umumnya orang tidak percaya akan kuasa penyembuhan itu. Orang mengakui bahwa memang dapat terjadi penyembuhan, namun itu hanya pada awal Gereja saja, atau oleh orang-orang khusus, seperti para kudus, tetapi bukan oleh orang-orang kristen biasa. Yang lain bahkan membuang kemungkinan penyembuhan itu, karena dipengaruhi oleh teologi liberal protestan. Namun dengan munculnya Pembaharuan Karismatik, penyembuhan menjadi kenyataan dan orang berhadapan pula dengan realitas dunia kegelapan.
Karena realitas itu merupakan hal yang penting dan yang akan sering kita jumpai dalam pelayanan kita, maka kita akan melihat terlebih dahulu realitas roh jahat itu, kemudian juga arti penyembuhan bagi kita.


I. Realitas roh jahat

Karena Pembaharuan Karismatik, suatu realitas dan pemahaman baru telah masuk ke dalam Gereja. Fakta-fakta yang terjadi dalam Pembaharuan Karismatik dengan pengalaman Roh Kudusnya yang kuat, telah membuka mata banyak orang. Lewat Pembaharuan ini orang-orang mulai menyadari kembali realitas penyembuhan karena kuasa doa dan realitas roh jahat yang dapat dikalahkan karena kuasa iman. Buku-buku tentang penyembuhan dan doa pembebasan mulai bermunculan, mula-mula di kalangan orang karismatik, tetapi kemudian juga di kalangan non-karismatik. 

Dewasa ini juga ada angin baru dalam teologi kontemporer. Dalam sebuah bukunya, Le demon, myth ou realite, (Setan, mitos atau kenyataan) tahun 1995, teolog dan mariolog terkenal, Rene Laurentin, dengan panjang lebar membahas tentang realitas setan, pengaruhnya terhadap manusia serta doa pembebasannya. Ia memberikan uraian panjang lebar tentang realitas doa pembebasan serta menimba dari tradisi-tradisi Gereja pula, disamping surveinya tentang praktik-praktik kontemporer. Demikian pula Jean Claude Sagne OP, seorang ahli moral,  dalam bukunya: Sacrement de la Reconciliation et Vie Spirituelle, (Sakramen Rekonsiliasi dan Hidup Rohani), tahun 1995, juga membahas panjang lebar tentang doa pembebasan. Sesungguhnya, ajaran tentang roh jahat merupakan ajaran konstan Gereja sejak semula hingga sekarang ini.

1.1. Ajaran Gereja

Sebenarnya sejak semula Gereja mengakui dan mengajarkan realitas roh jahat dan dewasa ini lewat para pemimpin tertingginya hal itu terus-menerus diulangi. Pada kesempatan ini hanya dibahas beberapa dokumen kontemporer saja. 
Konsili Vatikan II, biarpun tidak memberikan ulasan sistematis tentang roh jahat, namun mengingatkan kita akan ajaran Kitab Suci dan Tradisi Gereja tentang roh jahat. Manusia telah tergoda oleh ‘si jahat’ sejak awal sejarah (Gaudium et Spes 13) (GS 13), tetapi Tuhan menjanjikan kepadanya kemenangan atas ular itu (Lumen Gentium 55). Kristus telah melepaskan kita dari kuasa iblis (GS 22; Ad Gentes, 3,9) dan Ia telah menghancurkan kuasa si jahat (GS 2).

Paus Paulus VI,  dalam homilinya tanggal 29 Juni 1972 mengungkapkan serangan balik si Iblis sesudah Konsili, yang telah menyebabkan keluarnya 40.000 imam dan lebih dari 100.000 suster serta banyaknya penyimpangan-penyimpangan teologis, pemberontakan, dan lain-lain:

 

“Bagaimana semuanya itu bisa terjadi? Seorang lawan yang kuat telah campur tangan, yaitu yang disebut iblis: makhluk misterius yang disebut Santo Petrus dalam suratnya (1 Ptr.5:8-9)... Kami percaya akan aktivitas setan yang sedang giat bekerja di dunia dewasa ini justru dengan tujuan untuk mengacaukan, untuk merontokkan buah-buah Konsili Ekumenis.. “ 


Kemudian dalam audiensi umum tanggal 15 November 1972 Paus Paulus VI mengatakan: 

 

“Apakah yang menjadi kebutuhan terbesar Gereja dewasa ini? Janganlah terkejut mendengar jawaban kami dan jangan menganggapnya terlalu naif, atau bahkan berbau takhyul, salah satu kebutuhan terbesar Gereja ialah perlindungan terhadap kejahatan yang disebut iblis. Kejahatan bukanlah hanya kekurangan akan sesuatu hal, melainkan suatu kekuatan yang aktif, suatu makhluk yang hidup, yang bersifat rohani, yang sesat dan menyesatkan. Suatu realitas yang dahsyat, misterius, dan mengerikan.”

 

Selanjutnya Paus mengatakan, bahwa menolak realitas roh jahat  atau mereduksinya menjadi suatu realitas semu, atau menjadi personifikasi suatu sebab yang tidak kita ketahui adalah bertentangan dengan ajaran Kitab Suci dan Gereja yang begitu jelas. Juga dinyatakan lebih lanjut, bahwa kita tidak hanya berhadapan dengan satu roh jahat, tetapi banyak, namun salah satunya menjadi pemimpinnya, yaitu Satan. 
    Kemudian Paus juga memberikan tanda-tanda kehadiran setan dan sarana-sarana untuk melindungi diri terhadapnya:

 

“Apakah ada tanda-tanda yang menunjukkan kehadiran setan? Manakah sarana-sarana untuk melindungi diri terhadap bahaya yang mengerikan itu? Jawaban untuk pertanyaan pertama membutuhkan banyak kebijaksanaan, biarpun tanda-tanda si jahat seringkali tampak jelas.”


Kemudian Paus mengatakan, bahwa kita dapat mengandaikan adanya campur tangan yang licik dan misterius dari si jahat pada kasus-kasus berikut:


di mana orang menyangkal Allah secara radikal, subtil, dan absurd.
di mana dusta yang munafik diungkapkan dengan kuat melawan  kebenaran yang jelas.
di mana cintakasih dicekik oleh egoisme yang dingin dan kejam.
di mana nama Kristus menjadi obyek kebencian yang sadar dan hebat.
di mana semangat Injil dikebiri dan disangkal dalam perbuatan.
di mana orang menegaskan, bahwa keputusasaan adalah satu-satunya jalan keluar, dan lain-lain. 

 

Penggantinya, Paus Yohanes Paulus II, juga mengingatkan kita akan realitas roh-roh jahat, yang dilakukannya pada pelbagai kesempatan. Dalam Exhortatio Apostolica 2 Desember 1984, Paus mengingatkan kebenaran, bahwa dunia dikuasai si jahat. Dalam surat apostolik Parati Semper untuk tahun kaum muda tanggal 31 Maret 1985, Paus menyatakan, bahwa kita jangan takut menyebutkan nama pembuat utama kejahatan, yaitu ‘si jahat’. Si jahat bersembunyi dalam aktivitas manusia, sehingga kejahatan yang dipompakannya sejak semula berkembang berkat manusia sendiri, sehingga akhirnya berkembang menjadi kejahatan struktural dan semakin tidak dikenali lagi sebagai suatu dosa pribadi. Akhirnya manusia dalam arti tertentu merasa dibebaskan  dari dosa, kata ‘dosa’ lenyap dari kamusnya, tetapi sekaligus mengalami pendangkalan hidupnya. 


1.2. Ajaran Kitab Suci tentang roh jahat

Kalau kita membuka Kitab Suci, banyak sekali rujukan tentang setan yang kita jumpai dalam Kitab Suci, baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru, tetapi secara istimewa dalam Perjanjian Baru. 

 

Perjanjian Lama :

  • Kejadian 3, iblis, dalam rupa ular,  menggoda Hawa.
  • Imamat 17:7, mempersembahkan kurban kepada jin-jin.
  • Ulangan 32:17, mempersembahkan kurban kepada roh-roh jahat.
  • 1 Raja-Raja 22:19-23, roh pendusta memperdaya Ahab dan para nabi palsunya untuk peperangan yang menyebabkan kebinasaannya sendiri. 
  • Kebijaksanaan 2:23-24, Allah menciptakan manusia untuk kebakaan. Tetapi karena dengki setan maka maut masuk ke dunia.

Perjanjian Baru :

  • Mrk.1:34, Yesus menyembuhkan banyak orang dan mengusir banyak setan.
  • Mrk.3:11-12, Yesus mengusir banyak setan.
  • Mat.12:22, orang kerasukan setan dan menjadi buta dan bisu.

Pengutusan para murid:

  • Mrk.3:15, para rasul diberi kuasa untuk mengusir setan
  • Mrk.6:7,13,  Yesus mengutus 12 murid dan memberi kuasa untuk mengusir setan. Hal yang sama kita jumpai dalam Luk.9:1; Mat.10:1.8 

Kalau kita bandingkan antara Mrk.7:31-37 dengan Mrk.9:17-18 jelas terlihat, bahwa pengarang suci dengan jelas membedakan antara orang yang kerasukan setan (Mrk.9:17-19) dengan orang yang hanya sakit biasa (Mrk.7:31-37). Pada yang kerasukan, Yesus dengan tegas mengusir setan itu dan pada yang sakit biasa, Ia tidak mengusir setan melainkan menyembuhkannya secara biasa. 

Kecuali itu dalam pengutusan para murid, Yesus dengan jelas membedakan kuasa untuk mengusir setan dan kuasa untuk menyembuhkan orang sakit: “Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan….  Pergilah beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan.” (Mat.10:1.7-8)

  • 1 Ptr.5:8, iblis mengaum-aum seperti singa hendak menelan mangsanya.
  • Ef.6:10-12, persenjataan rohani melawan roh-roh jahat

Roh mencari tempat istirahat atau merasuki orang:

  • Mat.12:43-45, roh jahat keluar dari manusia dan kemudian kembali lagi dengan 7 roh jahat lainnya.
  • Mat.8:28-32, “pasukan” roh keluar dari manusia dan merasuki babi-babi (bdk. Mrk.5:2-13; Luk. 8:27-33).

 

1.3. Siapakah roh-roh jahat itu?

Roh jahat adalah:

malaikat yang memberontak terhadap Allah, menolak Allah secara definitif (lih.Yes. 14:12-15), dalam tradisi biasanya dikenakan pada malaikat agung, Lucifer, pembawa cahaya, yang memberontak dan karenanya menjadi iblis.

Ada macam-macam roh jahat dan pengaruhnya juga macam-macam sesuai dengan tingkatan-tingkatannya (bdk.Ef.6:12).

Roh-roh ini punya pengaruh terhadap manusia dan mengganggu manusia, bahkan keinginannya hanya satu: menghancurkan manusia (1 Ptr.5:8). Karena itu kita harus memakai seluruh persenjataan Allah untuk melawannya (Ef.6:13).

Kristus telah mengalahkan kuasa-kuasa ini: Penguasa dunia ini akan dicampakkan (Yoh. 12:31); Putera Allah menjadi manusia ialah untuk mengalahkan si Iblis. (Ibr.2:14)
Orang-orang kristen awali sering memakai kuasa Roh Kudus untuk mengusir roh-roh jahat ini (Mrk.16:17). Kemudian hari terjadilah tahbisan eksorsis, yaitu petugas untuk mengusir setan. 


II. Karya Penyelamatan Yesus: penyelamatan manusia secara total. 


2.1.    Yesus Pembawa Kabar Gembira

Ketika Yesus memulai karya-Nya di depan khalayak ramai, Ia mulai mewartakan Kabar Gembira, Kabar Keselamatan. Dalam Injil Lukas para malaikat mewartakan kelahiran Yesus sebagai suatu kabar kesukaan besar, Kabar Gembira: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus Tuhan di kota Daud.” (Luk.2:10-11) Dan Markus memulai Injilnya dengan kata-kata berikut: “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah,” (Mrk.1:1) Yesus sendiri memulai pewartaan-Nya dengan mengajak orang bertobat dan percaya kepada Injil: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.” (Mrk.1:15). Fokusnya di sini ialah pewartaan Injil, ‘Eu-anggelion’, Kabar Baik atau Kabar Gembira. 

Tujuan pewartaan Yesus bukan lain supaya orang bertobat dan percaya kepada perutusan-Nya dan akhirnya percaya kepada Dia sebagai Sang Penyelamat. Tugas pewartaan Injil ini merupakan suatu tugas utama bagi para murid. Para murid harus mewartakan Injil kepada semua manusia dan memberikan kesaksian tentang Yesus Kristus. “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.” (Mat.28:19)  “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Mrk.16:15) “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kis.1:8)

Kepercayaan kepada Yesus merupakan hal yang amat penting, hal yang menentukan sekali, soal hidup atau mati, seperti yang diungkapkan dengan jelas dalam Markus 16:15-16: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.”  Dalam Injil Yohanes hal itu menjadi lebih jelas dan tegas lagi. Iman akan Yesus akan menentukan nasib seseorang dan itu diungkapkan berkali-kali: “Siapa yang percaya kepada-Nya tidak akan binasa, tetapi akan memperoleh hidup yang kekal.” (Yoh.3:14,16,36) Kalau orang yang percaya akan memperoleh hidup yang kekal, sebaliknya mereka yang tidak percaya sudah terhukum (bdk.Yoh.3:18,36). 
 
2.2. Yesus menyembuhkan dan membebaskan

Sudah kita lihat, bagaimana Yesus pertama-tama datang membawakan Injil. Sekaligus harus dikatakan, bahwa pewartaan-Nya tidak dapat dilepaskan dari karya penyembuhan dan pengusiran setan. Bahkan pengusiran setan merupakan tanda kehadiran Kerajaan Allah. Kalau kita meneliti pelayanan Yesus semasa hidup-Nya di dunia ini, dapat kita saksikan, bahwa penyembuhan dan pembebasan merupakan bagian integral dari pelayanan-Nya. Di manapun Ia mewartakan, Ia juga sekaligus menyembuhkan orang sakit dan membebaskan mereka dari kuasa iblis.  Dalam Lukas 7:21-22 dinyatakan, bahwa dari penyembuhan serta pengusiran setan  dan mukjizat yang dilakukan-Nya orang harus mengetahui, bahwa Ia adalah Mesias.  Selanjutnya dari beberapa teks berikut nyata pula, bahwa karya penyembuhan tidak bisa dilepaskan  dari karya pewartaan Yesus:

  • Mat 4:23a. Yesus berkeliling seluruh  Galilea, mengajar, memberitakan Kerajaan Allah dan  melenyapkan segala penyakit dan kelemahan, serta orang-orang yang kerasukan setan.
  • Mat 8-9. Dalam kedua bab ini Matius sebagian besar hanya  menceritakan tentang  penyembuhan dan pembebasan saja. Dalam bab-bab berikutnya juga terdapat banyak cerita tentang penyembuhan.
  • Mat 15:30. Orang  berbondong-bondong  membawa orang yang lumpuh, timpang, orang buta,  bisu  dan  banyak  lagi  yang lain ... dan Ia menyembuhkan mereka semua.
  • Mat.12:28. Kenyataan  bahwa  Yesus  mengusir setan dengan kuasa Roh Allah menjadi tanda, bahwa Kerajaan Allah sudah datang.

Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan, bahwa penyembuhan dan pengusiran setan tidak dapat dilepaskan dari pelayanan Yesus dan merupakan bagian integral dari pelayanan-Nya. Di mana Yesus mewartakan Injil, di situ pula Ia menyembuhkan orang sakit dan membebaskan orang-orang yang diganggu roh jahat.


2.3. Gereja Melanjutkan Karya Yesus

Pelayanan Yesus tidak terhenti dengan wafat-Nya. Dalam arti yang sebenar-benarnya pelayanan Yesus baru berkembang penuh sesudah wafat-Nya, khususnya sesudah pencurahan Roh Kudus. Dalam diri para murid-Nya Yesus melanjutkan dan menyempurnakan pelayanan-Nya. Sewaktu Yesus mengutus para murid untuk mewartakan Injil, Ia sekaligus juga memberikan kepada mereka tugas untuk menyembuhkan serta mengusir setan dan untuk itu Ia memberikan kuasa kepada mereka untuk menyembuhkan orang sakit dan mengusir setan-setan.

  • Mat.10:1. Yesus  memberi  kuasa kepada para murid untuk mengusir roh-roh jahat dan  untuk  melenyapkan segala penyakit dan segala kelemahan.
  • Mat.10:7-8. “Pergi  dan  beritakanlah:   Kerajaan Sorga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan.” Hal yang sama kita jumpai pula dalam paralelnya pada Markus dan Lukas.

Dalam ‘perjamuan akhir’ Yesus juga menyatakan dengan resmi, bahwa bila mereka percaya, mereka juga akan melakukan segala pekerjaan yang dilakukannya sendiri, bahkan lebih besar daripada itu (bdk.Yoh.14:12). Dan pada akhir Injil Markus Yesus memberikan kuasa kepada semua orang percaya untuk mengadakan pelbagai macam tanda, antara lain mengusir setan demi namanya dan menyembuhkan orang sakit (Mrk.16:17-19). Ini terlaksana secara nyata dalam pelayanan para murid, antara lain dalam pelayanan Filipus di Samaria, (bdk.Kis.8); Petrus; Paulus dan para murid lainnya.

Karena itu dengan sebenar-benarnya dapat kita katakan, bahwa sebagaimana dalam pelayanan Yesus pribadi, demikian pula dalam pelayanan Gereja, Tubuh Mistik-Nya, penyembuhan dan pembebasan dari  kuasa setan adalah bagian integral dari misi Gereja yang diterima-Nya dari Yesus sendiri.


III. Arti Kristiani Penyembuhan


3.1. Yesus datang menyelamatkan manusia

Tujuan kedatangan Tuhan Yesus pertama-tama bukanlah untuk penyembuhan fisik, melainkan untuk menyelamatkan manusia lewat iman. Penyelamatan pertama-tama berarti memiliki hidup kekal: “Demikian besarlah kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh.3:16) Hidup yang kekal itu intinya ialah pengenalan akan Allah: “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang Engkau utus.” (Yoh.17:3) Mengenal disini pertama-tama berarti memasuki hubungan pribadi dengan Allah sendiri, memasuki persekutuan hidup dengan Dia, memasuki aliran hidup yang mengalir dari Bapa kepada Putera dalam Roh Kudus dan kembali lagi kepada Bapa dalam Roh yang sama. Kita diikutsertakan dalam aliran hidup itu dan kita mengambil bagian di dalamnya. Karena itu oleh Roh yang sama itu kita dijadikan anak-anak Allah sendiri, sehingga kita dapat menyebut Allah dengan sebutan “Abba, Bapa”: “Oleh Roh itu kita berseru: ya Abba, ya Bapa.” (Rom. 8:15)

Diselamatkan juga berarti dibebaskan dari cengkeraman iblis dan kuasa kegelapan dan masuk ke dalam Kerajaan Terang, Kerajaan Allah: “Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih; di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa.” (Kol.1:13-14) Jadi konsekuensi dari memiliki hidup kekal ialah mendapat pengampunan dosa, dilepaskan dari kuasa dosa, kuasa maut dan kuasa kegelapan, serta hidup dalam terang Allah. 

3.2. Penyembuhan: tanda kehadiran dan keterlibatan Allah 

Bagi seorang Kristen penyembuhan tidak berhenti pada penyembuhan fisik, walaupun itu yang paling menyolok dan segera dapat diamati. Juga penyembuhan fisik bukanlah yang terpenting atau paling utama, sebab hidup fisik kita bukan yang paling berharga. Tujuan Yesus menyembuhkan juga bukan semata-mata penyembuhan fisik, sebab mereka-mereka yang disembuhkan Yesus, bahkan yang dibangkitkan-Nya, akhirnya semuanya mati lagi. Bahkan dalam pengajaran-Nya Yesus menekankan, bahwa bila perlu kita harus berani menyerahkan hidup kita demi mempertahankan iman kita demi kesetiaan kepada Allah dan Ia menyebutkan mereka yang dianiaya dan dibunuh demi Yesus sebagai orang-orang yang berbahagia (bdk.Mat.5:11-12). Yesus sendiri juga memberi teladan, yaitu dengan tidak menghindar dari kematian jasmani di salib demi penyelamatan kita. Karena itu penyembuhan yang utama ialah penyembuhan jiwa kita, keselamatan kekal kita, pendamaian kita dengan Allah, pengampunan dosa-dosa kita. Tujuan kedatangan Yesus ke dunia bukan lain daripada membawa kita kepada pengenalan Allah yang menyelamatkan, membawa kita kepada persatuan transforman dengan Allah yang mengubah dan mengillahikan kita. 

Kalau demikian halnya, di mana tempat penyembuhan dalam kerangka tujuan tersebut? Seperti sudah kita lihat di atas, penyembuhan merupakan bagian integral dari karya Yesus di dunia, namun juga tidak dapat disangkal, bahwa ketika Yesus berada di  dunia ini, tidak semua orang sakit disembuhkan-Nya dan mereka yang disembuhkan pun akhirnya mati juga. Oleh karena itu penyembuhan-penyembuhan itu merupakan tanda bagi kita, supaya kita percaya kepada-Nya dan bertobat. Karena itu percaya kepada Yesus jauh lebih penting daripada penyembuhan, bahkan penyembuhan dan mukjizat  yang tidak menghasilkan iman dan pertobatan, adalah sia-sia. Itulah sebabnya Yesus mengecam keras sekali beberapa kota yang telah begitu banyak menyaksikan penyembuhan dan mukjizat yang dilakukan Yesus, namun tidak juga bertobat, seperti Khorazim, Betsaida dan Kapernaum (bdk.Mat.11:20-24). Karena itu tujuan segala mukjizat dan tanda yang dilakukan Yesus ialah agar supaya kita percaya kepada-Nya. Demikian pula bila dewasa ini Gereja melanjutkan karya-karya pewartaan Yesus dengan disertai tanda-tanda, tujuannya bukan lain daripada supaya barang siapa mendengar Injil menjadi percaya. Untuk mempermudah orang percaya itulah mukjizat-mukjizat diadakan. 


“Masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam Kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Messias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.” (Yoh.20:30-31)

 

Lewat penyembuhan dan mukjizat-mukjizat itu, Tuhan ingin menyatakan kepada kita, betapa Ia mengasihi kita, memperhatikan kita, memelihara kita, supaya dengan demikian kita semakin percaya kepada-Nya dan semakin mengasihi Dia. Melalui semua sentuhan dan jamahan itu seolah-olah Tuhan mau berkata: “Lihatlah, betapa Aku mengasihi engkau dan memperhatikan engkau.” Karena itu semuanya tadi adalah tanda perhatian, kepedulian, dan penyertaan Tuhan kepada kita yang menyertai kita tidak hanya dalam soal penyembuhan, tetapi juga dalam soal-soal lain. Itu tadi semua benar bagi orang-orang yang beriman. 

Bagi orang-orang yang sedang mencari Allah, penyembuhan dan mukjizat merupakan tanda yang amat jelas akan kehadiran Allah di tengah kita. Pewartaan yang disertai dengan penyembuhan akan memiliki kredibilitas yang tinggi, sehingga orang lebih mudah menerima Kabar Gembira. Di samping itu penyembuhan dan mukjizat juga menyingkirkan hambatan dan halangan kepada iman dalam diri orang yang menyaksikannya. Dengan menyaksikan suatu penyembuhan besar yang terjadi orang akan berkata: “Sungguh, Allahmu adalah Allah yang hidup.” 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting