header-carmelia17---advent-01.jpgheader-carmelia17---advent-02.jpg

Hidup dalam Sabda Allah

User Rating:  / 1
PoorBest 

 

Sering kita jumpai adanya ajaran tentang cara hidup yang benar. Banyak tayangan dalam media massa yang begitu menarik. Begitu juga banyak ajaran tentang cara memaknai hidup kita. Namun, kerapkali kita menjadi bingung. Benarkah ajaran itu? Sesuaikah dengan ajaran iman? Apa yang harus kita buat? Bagaimana kita bersikap? Kita harus datang kepada Yesus, Tuhan kita.

Kita harus percaya kepada Yesus. Apa maksud pernyataan ini? Mengapa kita harus percaya kepada-Nya? Sebab, Sabda Allah adalah Roh yang memberikan hidup yang kekal. Di tengah-tengah keraguan-raguan bahkan penolakan terhadap Yesus, karena para murid dan orang banyak sulit menerima bahwa Yesus adalah Roti dari surga yang memberikan hidup yang kekal. Dalam Injil Yohanes pada hari ini, Yesus kembali menegaskan bahwa sabda-Nya adalah Roh yang memberikan hidup yang kekal. Yesus meminta kepada para pendengarnya supaya mereka percaya kepada Dia, agar orang mendengarkan sabda-Nya, dan para pengikut-Nya hidup dalam sabda-Nya (bdk. Yoh 6: 63). Seperti yang dikatakan dalam surat kepada orang Ibrani: “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita” (Ibr 4:12).

Itulah sebabnya, dalam keadaan apapun, baik dalam suka maupun duka, dalam untung maupun rugi, kita harus berani percaya, mendengarkan dan hidup dalam Sabda Allah. Khususnya, dalam situasi sulit, dalam keadaan tidak diterima orang lain, kita hendaknya berani percaya kepada Yesus. Kita kembali untuk mendengarkan ajaran dan sabda Yesus yang akan memberikan pemahaman baru, penghiburan rohani dan kekuatan baru untuk setia pada tugas dan kewajiban kita. Justru, dalam keadaan yang pelik, kita berani datang kepada Yesus, untuk memohon kepada-Nya: “Tuhan Yesus, tolonglah aku. Tuhan Yesus kuatkan aku. Tuhan, bantulah aku untuk setia kepada-Mu.” Maka, Tuhan Yesus pun akan memberikan terang-Nya kepada kita supaya kita kembali mengenal dan melaksanakan kehendak-Nya. Kita pun rela berseru bersama pemazmur: “Tunjukkanlah jalan-Mu kepadaku, ya Tuhan, dan tuntunlah aku di jalan yang rata, oleh sebab seteruku” (Mzm 27:11).

Karena itu, mari kita membaca dengan penuh perhatian sabda Allah dalam Kitab Suci. Kita dapat membaca Kitab Suci, dari Kitab Kejadian sampai Kitab Wahyu. Setiap hari kita luangkan waktu untuk membaca 3 - 5 bab, sehingga selama kurang lebih setahun kita dapat membaca Kitab Suci seluruhnya. Tentu saja, bukan hanya sekedar membaca begitu saja, melainkan kita dapat merenungkan satu ayat yang menyentuh dan satu ayat yang memberikan kesan mendalam dalam hati kita. Ulang-ulangilah ayat itu. Resap-resapkan ayat itu dalam hati kita. Biarkan ayat itu memenuhi hati kita. Pada akhirnya sabda Allah membimbing kita untuk melaksanakan kehendak Allah bagi kita hari ini, sekarang dan saat ini.

Memang, membaca Kitab Suci tidak mudah. Karena, kita harus sungguh-sungguh setia meluangkan waktu, di antara kesibukan kita dalam mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Selain itu, bahasa Kitab Suci tidak semuanya dapat dimengerti dengan baik. Namun, bila kita memohon kehadiran dan bimbingan Roh Kudus sebelum membaca Kitab Suci, maka Roh Kudus akan menolong dan menerangi kita dalam kelemahan dan kerapuhan kita. Pada akhirnya, selangkah demi selangkah kita belajar hidup dalam sabda-Nya.

 

Serafim Maria CSE

Penulis tetap di situs carmelia.net

 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting