header-carmelia17---Queen-of-Rosary01.jpgheader-carmelia17---Queen-of-Rosary02.jpg

Maria Perawan Selalu

User Rating:  / 2
PoorBest 

 

1. PENDAHULUAN

Kita sebagai orang Katolik, percaya dan yakin bahwa “Bunda Maria Tetap Perawan Selamanya”. Katekismus Gereja Katolik menegaskan, “Pengertian imannya yang lebih dalam tentang keibuan Maria yang perawan, menghantar Gereja kepada pengakuan bahwa Maria dengan sesungguhnya tetap perawan, juga pada waktu kelahiran Putera Allah yang menjadi manusia” (KGK No. 499). Ajaran ini, keperawanan Maria yang abadi menurut tradisi telah dibela dan dipelajari dalam tiga bagian: Maria mengandung Kristus (virginitas ante partum); Maria melahirkan Kristus (virginitas in partu); dan Maria tetap perawan setelah kelahiran Kristus (virginitas post partum). Ada banyak yang menolak pandangan ini, tetapi Gereja dalam kacamata iman yakin bahwa Maria adalah perawan selalu.

 

2. KEBERATAN-KEBERATAN ATAS KEPERAWANAN MARIA

Sepanjang sejarah Gereja, ajaran dan dogma mengenai keperawanan Maria selalu menjadi kontroversi yang tidak berkesudahan. Kontroversi ini muncul dari berbagai pihak yang mempertanyakan kebenaran keperawanan Maria. Apakah mungkin Maria sungguh-sungguh perawan, baik sebelum melahirkan, saat melahirkan, dan setelah melahirkan? Pertanyaan ini bukan hanya diajukan oleh pihak-pihak di luar Gereja, seperti dari pihak Protestan, namun juga berasal dari dalam Gereja sendiri, misalnya Helvidius, seorang imam pada abad ke-4 yang ditentang oleh St. Hieronimus. Dasar-dasar keberatan yang mereka ajukan didukung oleh teks-teks Kitab Suci yang secara eksplisit memberatkan ajaran keperawanan Maria. Berikut ini adalah beberapa keberatan tentang keperawanan Maria disertai beberapa argumentasinya. 

 

2.1. Helvidius

Helvidius menyatakan Maria hanya sekedar model istri dan ibu teladan dalam hidup dan ia tidak mengakui keperawanan Maria baik sebelum atau setelah kelahiran Kristus. Keberatan-keberatan yang diajukan Helvidius didasarkan pada teks-teks Kitab Suci, seperti Mat 1:18-25; Mat 1:24-25; dan Luk 2:7. Dalam pembahasan tentang keberatan Helvidius ini kami menggunakan tulisan St. Hieronimus: “Contra Helvidius”[1] yang membela keperawanan Maria dan menentang gagasan Helvidius.

 

2.1.1. Keberatan tentang Keperawanan Maria Sebelum Melahirkan

Helvidius mengutip Injil Matius 1:18-20: “Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus”. Dari perikop ini Helvidius mempersoalkan kata “Yusuf suaminya...nama istrinya”. Helvidius mengatakan bahwa “penulis Injil tidak akan menggunakan kata-kata bahwa mereka (Yusuf dan Maria) telah berhubungan sebagai suami istri kalau kenyataannya mereka belum pernah berhubungan (sebagai suami istri)” yang dianalogikan dengan “seseorang akan makan kalau kenyataannya ia tidak akan makan”. Helvidius menafsirkan jika Matius menggunakan kata “suami istri” maka Maria dan Yusuf akan berhubungan sebagai suami istri.


2.1.2. Kata “sampai” pada Mat 1: 25

“Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus “(Mat 1:24-25). Menurut Helvidius kata “sampai” menunjukkan kepada suatu tenggang waktu yang telah ditentukan dengan pasti dan setelah tenggang waktu ini tergenapi (selesai) maka hal-hal yang tertunda akan segera dilakukan atau terjadi. Dalam kasus ini adalah masalah: “tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki” adalah sudah jelas menurut Helvidius bahwa setelah Maria melahirkan maka persetubuhan itu terjadi, dan hanya terhenti sementara oleh karena kehamilan dari Bunda Maria.


2.1.3. Saudara-saudara Yesus

Helvidius yakin bahwa Maria melahirkan anak-anak yang lain, dan ia mengutip bagian ini: “Ketika mereka tiba di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung,...”(Luk 2:6-7). Dari bagian inilah Helvidius berusaha keras untuk menunjukkan bahwa kata “sulung” hanya dapat diaplikasikan kepada seseorang yang memiliki saudara-­saudara.

 

2.2 Sanggahan dari pandangan Protestan

Pihak yang kerap mengajukan keberatan terhadap keperawanan abadi Maria mungkin berasal dari Protestan. Sebetulnya ada begitu banyak pandangan teologis dalam Gereja Protestan terutama menyangkut keperawanan Maria, baik yang pro maupun yang kontra terhadap ajaran tersebut. Beberapa pandangan yang membela keperawanan Maria bahkan berasal dari para perintis Protestantisme, misalnya: Martin Luther mengatakan demikian:

Kristus, penyelamat kita, adalah buah rahim yang nyata dan alami dari Maria... Ini adalah tanpa campur tangan lelaki, dan dia tetap perawan setelah itu. Kristus... adalah satu-satunya anak dari Maria, dan Perawan Maria tidak mempunyai anak lain selain Dia.... Aku merasa setuju dengan pernyataan bahwa "saudara" berarti "sepupu" disini, karena tulisan suci dan orang Yahudi selalu memanggil sepupu dengan saudara”[2].


Untuk mengetahui sanggahan dari pihak Protestan yang kontra dengan ajaran keperawanan Maria, kami mengambil sumber dari sanggahan pendeta Budi Asali M.Div[3] dan Randy Blackaby[4]. Pendeta Budi Asali menulis, Doktrin tentang keperawanan abadi dari Maria lagi-lagi merupakan ajaran yang sama sekali tidak punya dasar Kitab Suci!” Ia memberikan beberapa argumen yang menyanggah keperawanan Maria, yaitu mengenai saudara-saudara kandung Yesus dan keperawanan Maria sesudah melahirkan, sementara Randy Blackaby mempersoalkan hubungan suami istri antara Yusuf dan Maria.


2.2.1. Saudara-saudara kandung Yesus

Menurut pendeta Budi Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, berbicara tentang saudara-saudara Yesus. Perjanjian Lama, dalam Mzm 69:9 menubuatkan tentang Mesias / Yesus dengan kata-kata sebagai berikut: “Aku telah menjadi orang luar bagi saudara-saudaraku, orang asing bagi anak-anak ibuku[5]. Perjanjian Baru juga berkata bahwa Tuhan Yesus mempunyai saudara-saudara (Mat 13:54-56 ; Kis 1:14). Dan Luk 2:7 menyebut Tuhan Yesus sebagai anak sulung.

Kata 'saudara' dalam ayat-ayat ini tidak bisa diartikan 'saudara sepupu' seperti yang ditafsirkan oleh Gereja Katolik, karena pertama, dalam bahasa Yunani 'saudara sepupu' mempunyai istilahnya sendiri, yaitu yang digunakan dalam Kol 4:10. Menurutnya ada kesalahan penerjemahan dalam LAI, yaitu bahwa kata 'kemenakan' dalam Kol 4:10 versi Kitab Suci Indonesia (baca: LAI) adalah penerjemahan yang salah, karena seharusnya adalah 'saudara sepupu'. Sedangkan yang kedua, kata ‘saudara sepupu’ tidak cocok dengan nubuat tentang Mesias / Yesus dalam Mzm 69:9, karena di sana saudara-saudara Yesus itu disamakan dengan 'anak-anak ibuku'.

 

2.2.2. Keperawanan Sesudah Melahirkan

Dalam Mat 1:24-25 dikatakan bahwa Yusuf tidak bersetubuh dengan Maria sampai Yesus lahir. Kalau misalnya dikatakan bahwa kita libur sampai tanggal 1 Januari, maka bukankah itu berarti bahwa setelah itu kita tidak lagi libur? Jadi, kalau dikatakan bahwa Yusuf tidak bersetubuh dengan Maria sampai Yesus lahir, ini berarti bahwa sesudah kelahiran Yesus mereka hidup sebagai suami istri biasa / bersetubuh. Sebab itu tidak ada gunanya mempertahankan keperawanan Maria setelah Yesus lahir. Kristus memang harus lahir dari seorang perawan untuk menggenapi Yes 7:14 dan supaya Yesus bisa lahir tanpa dosa. Tetapi setelah Yesus lahir, keperawanan Maria itu tidak lagi perlu dipertahankan.


2.2.3. Hakikat Perkawinan Yusuf dan Maria

Sanggahan pihak Protestan lainnya berasal dari Randy Blackaby. Ia menulis demikian dalam sanggahannya terhadap ajaran keperawanan Maria, yang disebutnya sebagai “fable” (dongeng)[6]: “The Bible clearly states that Mary was a virgin who had never known a man sexually from the time she conceived until after the birth of Jesus (Matthew 1:18, 23-25; Luke 1:26-35).” (Kitab Suci menegaskan bahwa Maria adalah seorang perawan yang tidak berhubungan seksual sejak ia mengandung sampai melahirkan Yesus (Mat 1:18, 23-25; Luk 1:26-35)). Pertanyaannya adalah mengapa Gereja Katolik mengajarkan bahwa Maria tetap perawan selama hidupnya di dunia?

Randy mengatakan bahwa Gereja Katolik mengajarkan bahwa penolakan terhadap perkawinan dan seksualitas merupakan tingkatan spritualitas yang tinggi. Ini sebabnya para imam, suster, dan pemimpin Gereja lainnya mengucapkan kaul selibat. Namun untuk mendukung doktrin selibat tersebut, Gereja Katolik membuat mitos tentang keperawanan Maria yang bertolak belakang dengan isi Kitab Suci. Kitab Suci hanya menunjukkan bahwa Yusuf tidak bersetubuh dengan istrinya sampai …(Mat 1:24-25). Yesus mempunyai saudara perempuan dan laki-laki (Mrk 6:3; Mat 12:46-50; Kis 1:14), dan Ibr 13:4 menyatakan bahwa perkawinan adalah hal yang luhur, termasuk di dalamnya adalah relasi seksual.

Rasul Paulus mengajarkan bahwa suami dan istri tidak boleh menghindari hubungan seksual dalam pernikahan (1Kor 7:1-5) dan kesatuan secara seksual adalah bagian dari hubungan pria dan wanita yang menjadi satu daging (Mat 19:5-6). Hal yang menarik adalah sikap Gereja Katolik yang tidak mengesahkan pernikahan dan menyatakannya tidak pernah terjadi bila dalam pernikahan tidak terjadi persetubuhan. Apakah pernikahan Maria dengan Yusuf tidak pernah ada dan tidak sah? 

 

3. KEPERAWANAN MARIA

3.1. Keperawanan Maria Sebelum Melahirkan

Kitab Suci tidak banyak mengisahkan perihal Ibu dari Yesus Kristus, Juruselamat kita, walaupun dalam tradisi pengajaran Gereja serta dalam teologi dan kristologi Gereja, peranan Bunda Maria, Dara Nazaret ini sangatlah penting. Maria adalah ti­tik tolak dalam sejarah manusia, sebuah jembatan di mana Yang Ilahi turun ke dunia, sehingga yang fana dapat mengecap segala sesuatu yang ada di surga. Kabar gembira yang dibawa oleh malaikat utusan Allah tidak hanya datang kepada Maria, tetapi juga kepada seorang laki-laki dari keluarga Nabi Daud yang bernama Yusuf. Yusuf saat itu ditunangkan kepada Maria, seorang wanita yang belum pernah bersuami (bdk. Lukas 1: 34). Tetapi dalam masa pertunangannya ini Yusuf mendapati Maria sudah dalam keadaan mengandung, sebagai seorang pria yang cukup dipandang ia berniat untuk berpisah dari Maria. Tetapi Allah mengutus malaikat-Nya dan berkata: "Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan mereka akan menamakan Dia Imanuel" - yang berarti: Allah menyertai kita” (Matius 1 :23). Referensi ini sebenarnya ditujukan bagi Sang Bunda Allah, Maria disebut sebagai Sang Anak Dara. Sebutan Anak Dara ini merupakan sebuah terjemahan dari bahasa Yunani. Dalam bahasa Yunani kata ini ditulis: παρθενος (Parthenos). Kata "anak dara" secara harafiah berarti: perawan atau gadis, dalam kamus umum bahasa Indonesia berarti: masih murni, belum kawin atau belum berbaur (tersentuh) dengan laki-laki. Ayat ini sebenarnya diambil dari se­buah nubuat Nabi Yesaya: “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-Iaki, dan ia akan menamakan Dia Immanuel” (Yesaya 7:14). Dalam bahasa Ibrani kata perawan/anak dara menggunakan kata “alma” yang diterjemahkan sebagai wanita muda. Tetapi dalam terjemahan Septuaginta (LXX), Kitab Suci terjemahan kuno menggunakan bahasa Yunani, yang dipakai tetaplah kata: παρθενος(Parthenos) yang berarti perawan.

Persoalan yang muncul apakah Maria telah berhubungan badan dengan Yusuf sebagai suami istri sebelum melahirkan Yesus sebagaimana dituduhkan Helvidius? Hieronimus menjawab dengan pendasaran Kitab Suci bahwa kata suami istri dapat diterapkan pada mereka yang telah bertunangan menurut tradisi Yahudi. Demikian jawaban Hieronimus : “...sebab adalah biasa di dalam tradisi Kitab Suci untuk menyebut wanita yang dipertunangkan sebagai istri”[7]. Bukti berikut ini ditegaskan oleh Kitab Ulangan: “Apabila ada seorang gadis yang masih perawan dan yang sudah bertunangan-jika seorang laki-laki bertemu dengan dia di kota dan tidur dengan dia, maka haruslah mereka keduanya kamu bawa ke luar ke pintu gerbang kota dan kamu lempari dengan batu,...karena ia telah memperkosa istri sesamanya manusia.“(Ul 22:23-24). Dengan demikian Yusuf dan Maria masih berstatus tunangan meskipun telah disebut sebagai suami istri. Status tunangan itu tentu akan memberikan batasan tertentu bagi keduanya dalam relasi, sehingga sebagai orang Yahudi yang taat Yusuf dan Maria tidak akan berhubungan badan sebelum keduanya disahkan dalam pernikahan. Apalagi pada kenyataannya Yusuf dan Maria tidak pernah berhubungan suami istri sampai Maria melahirkan Yesus dan juga setelah kelahiran Yesus.

Gereja selalu memanggil Bunda Maria sebagai Sang Perawan Maria. Dalam teks liturgi Ekaristi yang di tulis oleh St. Yohanes Krisostomos, Maria selalu ditulis sebagai : yang tersuci, yang termurni, yang terberkati, yang termulia dan yang Selalu Perawan Maria atau secara gamblang berarti: Perawan Kekal Maria. Sebutan ini menjadi sebuah gelar yang amat digemari khususnya dalam Gereja Timur, dengan demikian adalah sebuah pen­gajaran Gereja bahwa Maria adalah seorang Perawan. Pengertian Maria se­bagai perawan bukan terjadi di kemudian hari tetapi sejak masa Perjanjian Baru. Gereja awal telah memiliki keyakinan bahwa pernyataan Manusia-Ilahi Yesus Kristus di dunia berbeda dengan manusia-manusia pada umumnya. Kristus dilahirkan oleh seorang ibu tanpa adanya campur tan­gan seorang ayah (laki-laki), dalam hal inilah Gereja Awal mempunyai pengertian awal tentang kelahiran Kristus dari seorang Perawan. Oleh sebab itu ibunya disebut sebagai perawan, perawan dalam arti sesungguhnya. Maria mengandung Kristus dari Roh Kudus. Harus dimengerti bahwa Roh Kudus bukanlah ayah kandung dari Kristus, pengertiannya adalah: Maria mengandung atas kuasa Roh Kudus, dalam keadaan sebagai seorang perawan.

Dalam Perjanjian Lama terdapat begitu banyak tipologi yang menun­jukan kepada Maria dan sebagai Bunda Tuhan dan sebagai Sang Perawan. Di atas kita sudah membaca nubuatan dari Nabi Yesaya mengenai karya Allah, lewat Maria, Sang Perawan akan mengandung dan melahirkan Sang Imanuel (Yesaya 7:14), sebuah nubuatan yang secara lang­sung dikutip dalam pembukaan Injil Matius (Matius 1 :23).

Selain itu Kitab Keluaran (2:15-3:22) mengisahkan Nabi Musa yang lari dari Mesir. Ia ditampung oleh seorang bernama Yitro, yang akhimya men­jadikan Musa sebagai menantunya. Yitro juga mempekerjakan Musa sebagai gembala dari ter­naknya, di mana Musa biasa membawa ternaknya ke gunung Horeb. Di sana Yahweh menampakan diri kepada Musa dalam bentuk semak belukar yang menyala tetapi tidak terbakar. Allah meminta Musa untuk membebaskan bangsa Israel. Gereja memandang kejadian ini sebagai sebuah tipologi dari Bunda Maria. Keilahian Kristus dilambang­kan dengan api yang menyala sedangkan semak belukar tersebut melambangkan Bunda Maria. Keilahian Kristus yang menghanguskan tidak merusak ataupun mengubah kodrat kemanusiaan Kristus, meskipun Sang Api tadi tinggal dalam rahim Maria serta mengambil kemanusiaannya[8].

Dalam tradisi perkandungan Yesus oleh perawan Maria pertama-tama mengenai Yesus kristus bukan Maria, diawali dengan Kristologi bukan Mariologi. Oleh karena itu dalam Perjanjian Baru (Bdk. Mat:1:18-25) dan (Luk:1:26-28) umat kristen yakin bahwa Yesus tampil di muka bumi ini dengan cara yang sama sekali berbeda dengan manusia lain. Dalam Injil Matius dikatakan bahwa Maria mengandung dari Roh Kudus; Roh, daya cipta Allah sendiri.Roh Kudus itu bukan ayah dari Yesus, tetapi Allah dengan Roh-Nya. Selain itu dari Injil Lukas 1:34-35 mengenai kabar sukacita, jelas bahwa malaikat menampakkan diri “kepada seorang perawan yang bertunangan dengan Yusuf,” dan bahwa “nama perawan itu Maria” (Luk1:27). Namun ayat yang paling menentukan adalah ayat 34-35; di sana Maria bertanya bagaimana pengandungan itu terjadi karena ia adalah seorang perawan dan dijelaskan oleh malaikat bahwa ia akan mengandung berkat kuasa Roh Kudus. Seandainya Maria bermaksud menuntaskan hubungan perkawinannya dengan Yusuf maka sangatlah mustahil Maria mengajukan pertanyaan seperti itu. Dan oleh karena jawaban ini, maka dapat dikatakan bahwa Maria mengandung Yesus berkat daya kekuatan Allah. Ayat-ayat yang sudah diatas menyatakan dengan tegas bahwa Maria mengandung Yesus tanpa kehilangan keperawanannya, dan makna historis –harafiah ayat-ayat ini tidak pernah diperdebatkan.

Ajaran para bapa Gereja, yang berasal dari masa Santo Ignatius dari Anthokia, secara penuh mendukung ajaran tentang pengandungan keperawanan, sebagaimana tertera dalam doa-doa Maria. Dalam konsili Lateran Paus Santo Martinus I, memaklumkan kanon berikut:

“Para Bapa Kudus mengakui bahwa Maria yang kudus dan tetap perawan dan tak bernoda sungguh-sungguh dan benar-benar Bunda Allah yang, dalam kegenapan waktu, tanpa benih laki-laki, tetapi berkat Roh Kuduslah, ia mengandung Sang Sabda sendiri, yang sebelum segala waktu telah lahir dari Allah Bapa, dan tanpa kehilangan keperawanannya melahirkan Dia , dan sesudah kelahiran-Nya tetap menjaga keperawanannya tak ternoda; siapa saja yang tidak sepakat dengan ajaran ini ,terkutuklah dia.”

Keperawanan Maria sebelum mengandung Yesus Kristus sudah cukup jelas dari kesaksian Injil Matius maupun Lukas di mana Maria secara jelas disebutkan sebagai “seorang perawan” (bdk. Luk 1:26-27, Mat 1:18). Di samping itu, ketika Malaikat Gabriel memaklumkan kepada Maria bahwa ia akan menjadi Bunda Mesias, ia menjawab, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Inilah pernyataan yang secara gamblang menunjukkan bahwa sebelum mengandung, perawan Maria masih menunjukkan keperawanannya. 

 

3.2. Perawan Pada Saat Melahirkan

Kitab suci (Mat 1 dan Luk 1) memberi kesaksian tentang keyakinan kristen bahwa Yesus dikandung oleh ibu-Nya sebagai perawan. Tetapi sejak abad ke-2 muncul kepercayaan bahwa Yesus juga dilahirkan secara luar biasa. Secara konkret itu berarti, bahwa Yesus tidak hanya dikandung secara luar biasa tetapi juga dilahirkan secara luar biasa. Pembahasan tentang keperawan Maria saat melahirkan merupakan bagian pembahasan yang paling sulit. Ini bukan berarti bahwa Gereja tak mampu dengan iman menjelaskana dan mempertanggung jawabkannya. Keyakinan ini sudah terungkap oleh Ignasius dari Antiokhia (sekitar tahun 110) dan Ireneus (sekitar tahun 200) meskipun keterangan mereka tidak jelas.

Secara tradisional Gereja memahami keperawan Maria sewaktu melahirkan dalam arti bahwa Yesus keluar dari rahim IbuNya tanpa membuka rahim. Dengan kata lain, Maria melahirkan tanpa mengalami kerusakan pada tanda-tanda fisik keperawanan yang dimiliki oleh orang yang masih perawan[9]. Dalam karangan-karangan apokrif pandangan ini muncul dan dipahami bahwa selaput dara Maria tidak rusak oleh kelahiran Yesus.[10] Maria juga melahirkan tanpa sakit bersalin dan kesakitan lainnya yang selalu terjadi dalam proses kelahiran anak sesudah Hawa jatuh ke dalam dosa. Hal ini terjadi karena Maria bebas dari dosa asal. Kita ingat bahwa salah satu bentuk penderitaan yang diwariskan kepada kita akibat dosa asal adalah “sakit bersalin.” Tuhan Allah bersabda kepada Hawa, “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu” (Kej 3:16). Karena Bunda Maria bebas dari dosa asal sebab ia dikandung tanpa noda dosa, sebagai konsekuensinya adalah ia bebas dari “sakit bersalin”.

Kelahiran yang dialami Maria adalah “kelahiran ajaib”[11]. Kelahiran ini menunjuk pada keutuhan fisik Maria. Keutuhan fisik tidak hanya menunjukan bahwa tidak adanya hubungan seksual, tetapi juga merupakan tanda keperawan batiniah Maria. Ketika mendengar keperawanan secara fundamental hendak mengatakan bahwa ini adalah suatu pernyataan biologis dan karena itulah ini menjadi batu sandungan bagi mereka yang secara sistematis mengabaikan kemungkinan mukjizat.

Ada orang, khususnya di kalangan Reformasi (meskipun para reformator menerima tradisi ini), mengatakan bahwa tradisi mengenai “virginitas in partu” itu berlawanan dengan Gal 4:4, yang menekankan bahwa Yesus “lahir dari seorang perempuan” seperti manusia lain, Yesus sungguh-sungguh menjadi senasib dengan manusia. Apalagi Gal 4:4 berpikir kepada “Wanita” yang tampil dalam Kej 3:16. Wanita ini menjadi terkutuk justru dalam melahirkan anak. Berhadapan dengan argumen tersebut ada orang menunjuk kepada Luk 2:7, dikatakan Maria membendung anaknya dengan lampin dan membaringkannya dalam palungan. Jadi penginjil Lukas memikirkan hal sedemikian rupa, sehingga Maria tidak seperti ibu yang lain terkena sakit bersalin waktu melahirkan. Ia yang baru melahirkan tidak dapat sendiri mengurus anaknya. Tetapi mungkin jika penginjil berpikir sejauh itu dan demikianpun Gal 4:4 pasti juga tidak memberikan laporan dan tidak merepotkan diri dengan soal bagaimana ibu Yesus melahirkan anaknya. Paulus hanya secara kristologis mau menonjolkan bahwa anak Allah menjadi manusia, keturunan wanita. Tentu saja dengan jelas bahwa Paulus tidak tahu apa-apa tentang kelahiran Yesus secara luar biasa apalagi fisik.[12]

Dikatakan ditempat lain, tradisi Gereja, berhadapan dengan persoalan ini keperawan Maria saat melahirkan Yesus tidak jelas tetapi kemudian tradisi melihat bahwa keperawan Maria lebih dalam arti keutuhan fisik Maria bukan hanya dilihat dalam tanda-tanda lahiriah keperawanan tetapi juga sikap batin Maria dengan sikap hati secara eksklusif dan total untuk melahirkan Yesus. Dalam perjanjian lama, ada beberapa gambaran yang menunjuk keperawanan Maria sewaktu melahirkan, misalnya St. Ambrosius menyebut Maria sebagai “Pintu Gerbang yang tertutup rapat”(Yehezkiel 44:2). Yesaya menyebut kelahiran bayi laki-laki tanpa mengalami sakit bersalin (Yes 66:7). Beato Thomas dari Villanova dan lain-lain melihat gambaran Maria sebagai semak yang dilihat Musa yang menyala tetapi tidak terbakar.

Kita akan melihat bagaimana perkembangan dari pandangan ini. Para bapa Gereja berjuang untuk menjelaskan makna virginitas in partu. Sebagian besar bapa-bapa Gereja Barat tampaknya menekankan integritas fisik Maria. Sebagai contoh, Paus St. Leo Agung mengatakan, “… Ia (Bunda Maria) melahirkan-Nya tanpa kehilangan keperawanannya, …. (Yesus Kristus) dilahirkan dari rahim Santa Perawan karena kelahiran-Nya adalah kelahiran yang ajaib…” Mereka membandingkan kelahiran Kristus dengan munculnya Dia secara ajaib dari makam yang tertutup ataupun sekonyong-konyong menampakkan diri di ruang atas meskipun pintu-pintu terkunci. Beberapa bapa Gereja mengggunakan analogi kelahiran Kristus dengan seberkas cahaya matahari yang bersinar menembus kaca: sama seperti kaca tetap “tak berubah; karena berkas cahaya, demikian juga Bunda Maria karena kelahiran Kristus. Bahkan Paus Pius XII dalam ensikliknya “Mystici Corporis” (1943) menegaskan, “Dialah [Bunda Maria] yang secara ajaib melahirkan Kristus Tuhan kita….”[13].

Sebaliknya, Para Bapa Gereja Timur menekankan sukacita Maria dan bebasnya Maria dari sakit bersalin dalam melahirkan Yesus, Putra Allah. Mereka memandang Bunda Maria sebagai Hawa Baru, yang bebas dari siksa dosa asal. Di samping itu, mereka tidak hendak kehilangan gagasan akan Bunda Maria sebagai seorang ibu dalam arti sepenuh-penuhnya. Ingat, Injil Lukas 2:7 hanya menyebutkan, “ia melahirkan …” yang tidak mengandaikan adanya suatu proses kelahiran yang ajaib. Secara resmi, Gereja menjunjung tinggi keperawanan Maria yang abadi. Paus Siricius pada tahun 390 menulis: “Inilah perawan yang mengandung dalam rahimnya dan sebagai seorang perawan melahirkan seorang putera.” Konsili Kalsedon (451) mengesahkan ajaran Paus Leo I bahwa Maria Tetap Perawan Selamanya[14]. Konsili Lateran (649) (tidak termasuk dalam konsili umum) menyatakan:

Barangsiapa tidak, menurut para bapa suci, mengakui dengan sesungguhnya dan sepantasnya bahwa Maria Tersuci, yang tetap perawan selamanya dan yang dikandung tanpa noda dosa, adalah Bunda Allah, karena dalam hari-hari terakhir ini ia mengandung dalam realitas sebenarnya tanpa benih manusia, dari Roh Kudus, Allah Sabda Sendiri, yang dilahirkan dari Bapa sebelum segala waktu, dan melahirkan-Nya tanpa sakit, keperawanannya tetap utuh murni sesudah kelahiran Putranya, biarlah ia dikutuk.

Pada tahun 1555, Paus Paulus IV menegaskan keperawanan Maria sebelum, selama dan sesudah kelahiran Kristus. Namun demikian, Gereja tidak mendefinisikan secara khusus bagaimana Bunda Maria tetap virginitas in partu.

Sekitar tahun 1950-an, suatu kontroversi besar muncul di antara para teolog mengenai tafsiran atas virginitas in partu. Kontroversi yang dilakukan Albert Mitterer begitu menekankan kualitas fisik keperawanan sehingga orang gagal melihat keunggulan peran Maria sebagai bunda dan dalam melahirkan Yesus. Bebas dari “sakit bersalin” tidak menuntut bebas dari tindakan melahirkan. Dr. Ludwig Ott menyatakan, “Tampaknya hampir tak masuk akal membuktikan bahwa martabat Putra Allah ataupun martabat Bunda Allah menuntut adanya suatu kelahiran yang ajaib”. Pastor Karl Rahner, tanpa mempelajari segala detail anatomi, memfokuskan diri pada realita rohani akan keperawanan Maria, yaitu bahwa Maria mengandung Putra Allah. Persalinannya pada intinya pastilah berbeda dari para wanita lainnya sebab ia bebas dari akibat dosa asal. Oleh sebab itu, keperawanannya, persalinannya, dan keibuannya, seluruhnya ada dalam persatuan dengan kehendak Allah.

Akhirnya, pada tanggal 27 Juli 1960, Biro Suci (sekarang Kongregasi untuk Ajaran Iman) mengeluarkan peringatan, “Beberapa studi teologis telah dipublikasikan di mana masalah keperawanan Maria virginitas in partu yang sensitif dibahas dengan istilah-istilah yang tak pantas, dan yang lebih buruk, dengan cara yang secara jelas bertentangan dengan tradisi doktrin Gereja dan perasaan devosi umat beriman.” Sejujurnya, pembahasan virginitas in partu yang berfokus pada segala detil anatomi tubuh tidak hanya gagal melihat keindahan teologi inkarnasi, melainkan juga memalukan.

Pada intinya, kita perlu menegaskan dan menghormati baik keperawanan maupun keibuan Bunda Maria. Konstitusi Dogmatis tentang Gereja Konsili Vatikan II menegaskan bahwa kelahiran Kristus “tidak mengurangi keutuhan keperawanannya, melainkan justru menyucikannya”[15]. Sebab itu, “dalam misteri Gereja, yang tepat juga disebut Bunda dan Perawan, Santa Perawan Maria mempunyai tempat utama, serta secara ulung dan istimewa memberi teladan perawan maupun ibu” ( LG art. 63). 

 

3.3. Keperawanan Maria Sesudah Melahirkan

Keperawanan Maria sesudah melahirkan merupakan segi yang paling gampang diterima dari keperawanan Maria. Alasannya adalah jika keperawanan Maria sewaktu melahirkan putra Allah tanpa kehilangan keperawanan menuntut suatu mujizat, keperawan Maria sesudah melahirkan hanyalah berarti bahwa Maria tetap seorang perawan dan karenanya tidak mempunyai anak selama sisa hidupnya[16]. Di lain pihak, keperawanan Maria sesudah melahirkan menjadi hal yang paling sulit dijelaskan karena mereka yang mempersempit wahyu ilahi hanya pada Kitab Suci belaka tidak menemukan bukti-bukti kuat dalam Perjanjian Baru, apalagi ada ayat-ayat dalam Perjanjian Baru yang terlihat bertolak belakang dengan ajaran Gereja resmi tentang keperawanan Maria[17]. Contohnya dalam Injil Mat 1: 25 tentang kata “sampai” dan Luk 2:6-7 tentang kata “anak sulung” yang diangkat oleh Helvidius.

Arti keperawanan Maria sesudah melahirkan berarti bahwa sesudah kelahiran Yesus, Maria sebagai istri Yusuf tetap tidak berhubungan seksual dengan Yusuf, tetapi memberikan seluruh perhatian dan cintanya kepada Tuhan dalam bentuk melayani Yesus dan keluarganya. Maria tetap perawan sampai saat wafatnya. Sikap mental Yusuf dan Maria seperti nampak dalam Mat 1-2 dan Luk 1-2, jelaslah memperlihatkan niat mereka untuk mengabdikan diri sepenuh-penuhnya kepada Tuhan[18].

Namun yang menjadi persoalannya adalah apakah Maria dan Yusuf menjalin hubungan layaknya hubungan suami istri setelah kelahiran Yesus, hal inilah yang menjadi perdebatan yang panjang antara umat kristen, contohnya Helvidius (lihat hlm.2). Ini dikarenakan dalam Alkitab dengan jelas menyebut bahwa Yesus disebut sebagai anak sulung (Luk 2:7) dan mempunyai “saudara dan saudari” (Mrk 3:32) dan dalam Injil Matius dikatakan bahwa Yusuf tidak bersetubuh dengan Maria sampai ia melahirkan anaknya laki-laki (Mat 1:25).

Meskipun tidak diajarkan secara eksplisit dalam Alkitab, keperawanan Maria sesudah melahirkan berulangkali dinyatakan oleh para Bapa gereja Latin, Yunani, dan Suriah. Yang menonjol di antara sumber-sumber patristik adalah tulisan Santo Hieronimus Contra Helvidius, yang tidak hanya mengukuhkan ajaran gereja tetapi telah menaklukkan keberatan-keberatan terhadap keperawanan Maria setelah melahirkan[19]. Hieronimus memberikan jawaban jitu terhadap keberatan Helvidius dengan dasar Kitab Suci. Untuk menjawab persoalan kata “sampai” Hieronimus mengatakan demikian:

“Sedangkan untuk kata “sampai”, Helvidius ditentang oleh otoritas yang sama yaitu oleh Kitab Suci. Kitab Suci yang sering memakai kata “sampai” untuk menunjukkan penggunaannya untuk waktu yang tidak terbatas (kekal). Hal ini dinyatakan oleh nabi Yesaya: “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia...” (Yes 46:4). Apakah Ia akan berhenti menjadi Allah mereka ketika mereka mencapai usia yang lanjut? Bahkan juru selamat kita dalam kitab Injil berkata: “...Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Mat 28:20). Apakan Tuhan akan meninggalkan para rasul-Nya jika kesudahan zaman akan tiba?”[20]


Menurut Helvidius, saudara-saudara Yesus yang ditulis dalam injil adalah anak-anak hasil hubungan suami-istri antara Yusuf dan Bunda Maria, setelah kelahiran Yesus Kristus. Dalam tesisnya menentang Helvidius, Hieronimus juga menolak sebuah tradisi apokrif yang menyatakan bahwa Yusuf adalah seorang duda yang tua dan telah mempunyai anak, tradisi ini masih diimani oleh Gereja-Gereja Timur, khusunya dalam tradisi Gereja Ortodoks. Menurut Hieronimus saudara-saudara Yesus di sini hanyalah berarti sepupu sebagaimana diterjemahkan dari bahasa Ibrani secara sederhana. Untuk mendukung pendapat bahwa Maria tetap perawan, dikemukakan alasan-alasan sebagi berikut[21]:

1.Kitab suci memakai bahasa Yunani yang diwarnai oleh terjemahan PL dan latar belakang Yahudi. Dalam latar belakang Yahudi ”saudara” berarti seperti dalam bahasa Indonesia, yaitu meliputi juga saudara sepupu atau keponakan.

2.Beberapa kali disebut ”saudara-saudara” tetapi tidak pernah disebut ”anak Maria” atau “anak Yusuf”, selain diarahkan untuk Yesus.

3.Dalam Mrk 6:3, Yesus disebut “anak Maria”, dengan kata sandang. Ini berarti Yesus adalah anak satu-satunya.

Terhadap pandangan Helvidius bahwa Yesus adalah anak sulung yang berarti Ia mempunyai saudara kandung lainnya, Hieronimus menjawab demikian:

“Sikap kita adalah demikian: setiap anak tunggal adalah anak sulung, tetapi tidak setiap anak sulung adalah anak tunggal. ... Firman Allah mendefinisikan sulung sebagai segala sesuatu yang terdahulu lahir dari kandungan atau sebagai yang membuka kandungan/rahim, hal ini juga tidak selalu berarti bahwa ia harus mempunyai adik”.[22]

Origenes termasuk salah seorang penulis pertama yang mengungkapkan kepercayaan umat kristen pada umumnya: ”Tak seorang pun yang berpandangan tepat tentang Maria akan mengatakan bahwa ia mempunyai anak selain Yesus.” Keyakinan yang berakar dalam akan kelestarian keperawanan maria disebabkan oleh kepercayaan, bahwa oleh penjelmaan putra Allah, tubuh Maria menjadi seperti kenisah yang dikhususkan kepada Roh kudus dan sabda Allah dengan pengudusan yang tidak dapat ditarik kembali[23].

Pengertian Maria se­bagai Perawan bukan terjadi di kemudian hari pada masa Gereja telah mapan tetapi sudah sejak masa Perjanjian Baru. Sejak masa Perjanjian Baru, Gereja awal telah memiliki keyakinan bahwa pernyataan Manusia-Ilahi Yesus Kristus di dunia berbeda dengan manusia-manusia pada umumnya. Kristus dilahirkan oleh seorang ibu tanpa adanya campur tan­gan seorang ayah (laki-laki), dalam hal inilah Gereja Awal mempunyai pengertian awal tentang kelahiran Kristus dari seorang Perawan. Oleh sebab itu ibunya disebut sebagai perawan dalam arti sesungguhnya. Maria mengandung Kristus dari Roh Kudus. Harus dimengerti bahwa Roh Kudus bukanlah ayah kandung dari Kristus, pengertiannya adalah: Maria mengandung atas kuasa Roh Kudus, dalam keadaan sebagai seorang perawan[24]. 

 

3.4. Hakikat Perkawinan Yusuf dan Maria

Gereja Katolik mengakui keabsahan pernikahan dengan syarat utama, yaitu: ratum dan consumatum, artinya pernikahan tersebut sah secara hukum dan terjadinya persetubuhan. Yusuf dan Maria adalah pasangan suami istri yang sah secara hukum karena keduanya menikah dengan tradisi Yahudi. Hal ini dibuktikan dari kesaksian Injil, yaitu: “Ia mengambil Maria sebagai istrinya” (Mat 1:24). Permasalahan yang cukup pelik adalah bagaimana keabsahan pernikahan Yusuf dan Maria bila keduanya tidak bersetubuh?

 

Pertanyaan di atas memang cukup sulit dijawab bila peristiwa seputar kelahiran Yesus dibawa dalam konteks ajaran Gereja yang baru muncul belakangan. Penting untuk dicermati bahwa Gereja barulah muncul setelah karya Yesus mulai tersebar luas khususnya setelah Pentakosta. Ajaran-ajaran Gereja pun barulah muncul setelah Gereja mulai mendapat pengakuan dan terlembaga secara kokoh seiring perkembangan zaman jauh sesudah zaman para rasul, demikian halnya dengan hukum Gereja yang mengatur salah satunya tentang perkawinan. Maka pernikahan Yusuf dan Maria tidak bisa disebut tidak sah dari konteks zaman yang berbeda, sebab pernikahan keduanya terjadi jauh sebelum lembaga Gereja didirikan. Hal ini dapat dibandingkan dengan contoh sebidang tanah yang dimiliki seseorang jauh sebelum negara Indonesia berdiri dan belum memiliki sertifikat tanah. Setelah negara Indonesia berdiri dan mulai diterapkan sistem sertifikasi tanah, maka tanah itupun tetap dianggap sebagai tanah yang sah milik orang tersebut meskipun dulu ia tidak memiliki sertifikat tanah.

Misteri keperawanan Maria adalah bagian dari rencana keselamatan Allah yang melampaui jangkauan pemikiran manusia. Keperawanan Maria menjadi tanda bahwa kuasa Allah bekerja untuk memberi jalan bagi peristiwa inkarnasi. Hal ini patut disadari sehingga kita tidak terjebak dalam pandangan-pandangan yang nampaknya logis-kritis, namun memberi tempat bagi rencana dan kehendak Allah yang melampaui zaman. Inti ajaran keperawanan Maria terletak pada totalitas dan kesungguhan penyerahan diri Maria kepada Allah dalam seluruh eksistensinya, baik secara rohani dan jasmani[25] . Penyerahan diri Maria dan Yusuf kepada rencana dan kehendak Allah menjadi tindakan yang melampaui akal budi dan pemahaman manusia akan rencana keselamatan Allah. 

 

4. PERAWAN SUCI DAN GEREJA

Setelah kita membahas tentang keperawanan Maria, maka saat ini kita akan melihat bagaimana kedudukan Maria sebagai perawan suci dalam Gereja. Gereja dalam merenungkan karya penyelamatan yang dikerjakan oleh Yesus Kristus mau tidak mau juga menyentuh peran Maria, sebab, kita tak dapat memahami misteri Yesus Kristus lepas dari peranan Bunda Maria, atau dengan kata lain Bunda Maria membantu kita untuk bisa memahami misteri Putranya dan sebaliknya melalui Misteri Yesus, Putranya kita juga dapat mengerti peranan Bunda Maria.

Konsili vatikan II menguraikan begitu jelas mengenai hubungan antara Perawan suci dan Gerejanya, di antaranya yang hangat didiskusikan menyangkut Santa Perawan sebagai pengantara mediatrix dan juga Maria sebagai Typos Gereja. 

 

1.Maria sebagai “Pengantara/Mediatrix”

Maria sebagai pengantara bukan berarti merelatifkan kedudukan Yesus yang merupakan satu-satunya mediator antara manusia dengan Allah. Sebelum kita mengerti Maria sebagai “pengantara” maka ada baiknya kita terlebih dulu mengetahui kedudukan Yesus yang merupakan satu-satunya mediator. Gereja tetap menyakini bahwa Yesus adalah satu-satunya pengantara antara Allah dan manusia. Dasar iman terletak pada tindakan dan peristiwa Allah mewahyukan diri-Nya secara bebas dalam peristiwa inkarnasi. Dimana Allah menjadi manusia dalam diri Yesus dari Nasaret. (Mrk 1:24, Luk 4:34). Dengan demikian Yesus adalah Penyelamat yang dilahirkan oleh Maria dan yang memuncak pada peristiwa kebangkitan-Nya. Sehingga berdasarkan peristiwa yesus Kristus itu maka orang Kristen bersama Paulus berkata ” bahwa hanya satu Allah saja, yaitu Bapa yang dari-Nya berasal segala sesuatu dan satu Tuhan yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan” (Bdk. 1 Kor 8:6). Keyakinan kita bahwa hanya melalui Yesus keselamatan Allah terwujud dan sampai pada manusia. Pengantara dari Allah kepada manusia, pengantara menurun. Selain itu, Yesus juga sebagai pengantara manusia kepada Allah, wakil manusia dihadapan Allah, hal ini terungkap dalam peristiwa salib, dan mati demi umat manusia. Singkatnya Yesus tetap menjadi pusat iman kita[26].

Bagaimana dengan gelar Maria sebagai Mediatrix. Gelar ini sebenarnya mau menyatakan bahwa peranan Bunda Maria sebagai Bunda Rohani. Peranan ini memberikan dua dimensi : pertama persekutuan antara Maria dan Yesus, kedua Maria dengan setia tetap memelihara semua anggota tubuh mistik Kristus sampai akhir zaman[27]. Maka Konsili Vatikan II dalam dokumennya tentang Santa Maria, Perawan dan Bunda Allah dalam Misteri Kristus dan Gereja, menegaskan bahwa “tugas Bunda Maria sebagai Bunda bagi manusia, sama sekali tidak mengaburkan dan mengurangi satu-satunya tugas perantara Kristus, melainkan menunjukan keampuhannya”[28]. Konsili Vatikan II mempertahankan gelar “pengantara” (mediatrix), tetapi merelativasikannya begitu rupa sehingga pengantaraan Maria berarti: ia (bersama orang kudus lainnya) mendoakan umat beriman. Hal ini dengan tegas dikatakan oleh Paus Pius XII yang menyebut Maria sebagai “Omnipotentia suplex”, “pemohon yang adikuasa”. Kedudukan Maria hanya sebagai pemohon seperti semua orang beriman tetapi dalam hal memohon Maria unggul[29]. Singkatnya pengantaraan Maria bukan pengantara di samping Kristus, tetapi ia pengantara berkat persatuan dan persekutuan dengan Kristus dan di dalam Gereja sebagai persekutuan orang beriman yang mencakup semua, dari awal sampai akhir[30]. Kedudukan Maria dalam menjadi pengantara penyelamatan selalu dalam ketergantungan pada Allah dan Kristus. Konsili Vatikan II membawa suatu terang baru bagi kehidupan Gereja, yang menekankan hubungan yang mesra antara Perawan Suci dan Gereja, hubungan ini dilihat dalam tugas Maria sebagai Bunda Allah, dimana Ia dipersatukan dengan Putranya yang merupakan Sang Penebus, serta keistimewaan anugerah-anugerah yang diterimanya karena keikutsertaan dalam karya keselamatan umat manusia, dengan demikian Bunda Maria sebagai Bunda Allah adalah citra Gereja yaitu dalam tata iman, cinta kasih, dan kesatuan yang sempurna dengan Kristus[31].

Maria hadir sebagai seorang yang setia dan selalu berpegang teguh pada ikatan batiniah antara Kristus dan Gereja. Gereja juga disebut “Bunda dan Perawan”. Dikatakan Bunda karena Gereja menerima sabda Allah dengan taat, seperti Maria yang pertama taat dan percaya kepada pewartaan malaikat walaupun di tengah kesusahan dan perjuangan sampai berada di bawah kaki salib Putranya. Gereja juga dikatakan sebagai perawan karena terinspirasi dari bagaimana Perawan Maria menunaikan tugasnya sebagai perawan. Tugas Gereja sebagai perawan secara nyata diwujudkan dalam memelihara dan menjaga kesetiaan yang dianugerahkan oleh Yesus sendiri. Dalam memelihara dan menjaga kesetiaan ini Gereja dibantu oleh rahmat Allah. Dengan kata lain kesetian itu bukanlah merupakan hasil usaha yang terlepas dari intervensi Allah, tetapi kesetiaan tercipta juga berkat rahmat Allah. 

 

2. Maria Typos Gereja

Istilah “Typos” (citra) merupakan suatu istilah yang memiliki arti yang sangat mendalam. Pertama-tama bukan mau mengatakan sebagai contoh, teladan, walaupun hal ini tak dapat dipungkiri. Tetapi kata Typos ini lebih menunjuk pada sesuatu yang bersifat dinamis yang bergerak dan hidup, bukan pada sesuatu yang statis. dengan menyebut Maria sebagai Typos, Konsili Vatikan II memiliki pandangan bahwa bahwa Typos berarti pada tingkat terbatas, pribadi sudah menjadi nyata apa yang masih dituju oleh yang dipralambangkan itu. Dengan demikian kalau Maria disebut Typos Gereja ini berarti pada tingkat pribadi dalam Maria sudah menjadi real terwujud apa yang sedang dijalani dan yang ditujui oleh Gereja. Dalam diri Maria kita dapat melihat Gereja yang sejati. Konsili Vatikan II (LG art. 56) menjelaskan bahwa dalam diri Maria Gereja telah mencapai kesempurnaan[32].

Istilah Maria sebagai Typos Gereja pertama kali digunakan oleh St. Ambrosius pada abad IV. Dalam KV II, istilah ini dimunculkan kembali dan pada akhirnya menjadi ajaran resmi. Namun sejak abad ke-2, para pujangga Gereja selalu memparalelkan Maria dengan Gereja. seperti Paulus memparalelkan Kristus sebagai Adam baru. Siapakah yang menjadi Hawa baru? Mula-mula para pujangga melihat Gereja sebagai “Hawa kedua”. Hawa menjadi ibu segala yang hidup demikian juga Gereja menjadi ibu dari segala yang hidup dalam tata penyelamatan. Perbedaannya Hawa bersama Adam menyebabkan dosa, membawa kematian, sedangkan Gereja, Hawa baru bersama Adam baru yaitu kristus membawa kehidupan. Tetapi disini juga Maria dilihat sebagai Hawa yang baru yang diparalelkan dengan Hawa yang lama. Dengan demikian Gereja secara positif diparalelkan dengan Maria. Disini Gereja maupun Maria sebagai Hawa kedua diperlawankan dengan Hawa pertama, dengan demikian Gereja dan Maria disejajarkan secara positif.

Maka Maria adalah Typos Gereja. Dan Gereja adalah antitypos Maria. Gereja sebagai antitypos Maria didasarkan pada tugas yang diemban Gereja sebagai Perawan. Tugas Gereja sebagai Perawan diinspirasikan dari bagaimana perawan Maria menuanaikan tugasnya sebagai Perawan. Dimana letak tugas Gereja sebagai Perawan? Tugas Gereja sebagai Perawan diwujudkan secara nyata dalam kesetiaannya yang dijanjikan oleh sang Mempelai yaitu Yesus Kristus (bdk LG. art. 64) dan dalam menjaga kesetiaan itu Gereja dibantu oleh rahmat Allah sendiri[33]. Singkatnya sebagai antitypos Maria, Gereja memiliki tiga dimensi, yaitu sebagai Bunda, Perawan, dan Mempelai. Yang mengikat ketigannya ini menjadi satu kesatuan adalah bahwa Gereja mengikuti jejak Maria dalam hal iman serta peran Maria dalam karya keselamatan demikian juga Gereja hadir dalam dunia sebagai tanda keselamatan itu. Jadi sejak Ireneus ada sejumlah pujangga menyejajarkan Maria dengan Gereja, misalnya: oleh karena iman dan berkat Roh Kudus, Maria melahirkan Kristus demikian juga Gereja oleh karena imannya dan berkat Roh kudus melahirkan orang-orang Kristen. Lebih lanjut Agustinus mengatakan Kristus dan Tubuh-Nya adalah satu. Dengan melahirkan Kristus Maria melahirkan juga Gereja, dan Gereja melahirkan anggota-anggota tubuh Kristus.

Konstitusi Lumen Gentium mengambarkan hubungan Maria dengan Gereja yang menekankannya pada gelar Maria sebagai typos Gereja. disana dikatakan bahwa Maria dipandang sebagai typos Gereja karena iman, kasih dan persatuannya dengan Kristus yang sedemikian sempurnanya, sehingga Maria sangat terlibat sepenuhnya dalam karya keselamatan Allah[34]. Singkatnya kesetiaan Maria dalam melaksanakan kehendak Allah serta penghayatan imannya yang sepenuhnya akan Allah menjadi cita-cita ideal dari Gereja, sehingga di sini Maria hadir bagi Gereja sebagai pribadi yang sudah melaksanakan kehendak Allah sebagai citra Gereja sehingga dengan meneladani Maria Gereja semakin serupa dengan Kristus. Jika Maria dikatakan sebagai typos Gereja, ini berarti bahwa eksistensi Maria dipusatkan pada peranan dan tugasnya dalam Gereja sebagai pembantu semua anggota Gereja dalam peziarahan menuju pada hidup dan persatuan dengan Kristus, sebagaimana yang telah ditunjukannya sendiri dalam hidup yang selalu bersatu dengan Kristus. 

 

5. RELEVANSI

Bagaimana keperawanan Maria dapat relevan dengan kehidupan kita sebagai umat beriman? Keperawan Maria menjadi model dalam hidup keperawanan Gereja. Setiap anggota Gereja dipanggil untuk menghayati hidup keperawanan seperti Maria. Oleh karena kita dituntut untuk memperhatikan hidup keperawanan kita; antara lain:

 

1.Dalam Kehidupan Keluarga

Hidup keluarga bukanlah sesuatu yang buruk, jika dibandingkan dengan hidup sebagai perawan. Baik hidup berkeluarga maupun hidup sebagai perawan (selibat) merupakan panggilan hidup umat beriman. Persoalan yang muncul mengenai keperawanan dalam hidup keluarga menjadi masalah pelik dewasa ini, terutama jika keperawanan dipandang sebagai kriteria moral seseorang (terutama perempuan). Perlu ada pandangan secara dewasa untuk tidak memandang keperawanan secara fisik sebagai penentu moral seseorang, sebaliknya keperawanan juga menjadi kendali untuk tidak terburu-buru mengikuti trend zaman yang negatif, seperti hubungan seksual pra nikah atau hubungan seksual tanpa komitmen perkawinan.

Walaupun demikian, mereka harus menjaga keperawanannya sebelum menikah. Dalam zaman seperti sekarang ini, kerap terjadi bahwa ada banyak perempuan yang hamil di luar nikah. Argumen ini sangat mendasar karena dalam Gereja Katolik diajarkan bahwa perkawinan merupakan salah satu sakramen yang suci, sehingga dalam hal ini merupakan salah satu indikasi kesucian.

 

2.Dalam penghayatan hidup selibat

Keperawanan bagi para calon imam dan kaum religius merupakan salah satu hal yang esensial. Keperawanan di sini tidak serta merta dipahami secara fisik belaka, namun keperawanan dalam hati yang lebih diutamakan. Selibat merupakan satu bentuk keperawanan sebagai persembahan diri kepada Allah. Sebagaimana Perawan Maria mempersembahkan dirinya bagi rencana keselamatan Allah, demikian pula para calon imam serta kaum religius dipanggil pula untuk menjalani hidup keperawanan dengan menyangkal diri, mempersembahkan diri bagi rencana Allah dalam pelayanan dan bakti terhadap sesama.Wujud konkret dari penghayatan keperawanan bagi kaum selibat tertuang dalam Trikaul.

Pertama, kaul kataatan sebagaimana jawaban “Ya” Maria mengungkapkan ketaatan yang total (Bdk Luk 1:36). Wujud ketaatan itu harus tampak dalam penyangkalan diri misalnya ketaatan pada pimpinan. Kedua, kaul kemiskinan; Maria telah menunjukkan sikap kesederhanaan dan penyerahan yang total kepada Allah. Seorang selibat harus memiliki sikap ini dengan hidup yang tidak terikat pada hal-hal duniawi dan menyerahkan diri seutuhnya pada Allah. Dengan meneladani kemiskinan Kristus kaum selibat menyatakan bahwa Ia sungguh –sungguh Putra, yang menerima segalanya dari Bapa, dan dalam cintakasih menyerahkan kembali segalanya kepada Bapa (Bdk, Yoh 17:7)[35] Kaul Kemurnian: Dengan menghayati kaum kaul kemurnian, kaum selibat mengenakan cinta kasih murni Kristus dan mewartakan kepada dunia, bahwa Ia Putera Tunggal Allah yang satu dengan Bapa (bdk. Yoh 10:30;14:11). Kaum selibat yang menghayati kaul kemurnian dan para perawan, sebagai ungkapan serah-diri kepada Allah dengan hati yang tak terbagi (Bdk. 1 Kor 7:32-34) mencerminkan cintah kasih tiada batasnya yang menyatukan ketiga pribadi ilahi di kedalaman misteri Tritunggal, cintah kasih yang ditampilkan oleh sang Sabda yang menjelma bahkan hingga menyerahkan hidupNya, cintah kasih “Yang dicurahkan kedalam hati kita melalui Roh Kudus” (Rm 5:5), yang mengundang jawaban cintah kasih seutuhnya terhadap Allah dan sesama [36]. Oleh karena itu dalam menghayati ketiga kaul serta komitmen selibat, para calon imam dan religius, keperawanan dapat diartikan sebagai suatu sikap mati raga yang dikaitkan dengan segala latihan puasa, kerendahan hati, singkatnya para calon imam dan religius harus mengusai diri dalam segala-galanya. Tindakan atau keinginan seksual dipandang sebagai puncak hawa nafsu yang harus dikendalikan sebagai bentuk persembahan diri kepada panggilan dari Allah.

 

3.Dialog Antaragama

Ajaran keperawanan Maria sering menjadi ‘tembok’ saat berdialog dengan umat beragama lain, khususnya Protestan. Pada posisi dialog ekumenisme dengan umat Protestan, peran Maria tidak boleh ditepikan atau disembunyikan. Justru pada kesempatan tersebut ajaran tentang keperawanan Maria dapat ditampilkan untuk membuka wawasan umat kristiani, baik yang Katolik maupun Protestan, untuk mengenal dan mencintai Maria yang diakui keperawanannya termasuk oleh para perintis Protestantisme. Dengan demikian ajaran iman yang benar tentang Maria tidak terkubur, bahkan menjadi jembatan penghubung untuk berdialog dalam iman kristiani yang benar. 

 

 Eugenius de Jesu CSE

Salah satu penulis di situs carmelia.net



[1]http://www.newadvent.org/fathers/3007.htm diakses tanggal 4 Maret 2008, Contra Helvidius diterjemahkan pula oleh Pater Gabriel Rehatta, seorang imam Gereja Orthodox Indonesia dari Paroki Ephipania Agia Sophia, Kalimalang Jakarta Timur dan disunting oleh Leonard T. Panjaitan.

[2] http://www.ekaristi.orgdiakses tanggal 4 Maret 2008.

[3]http://www.geocities.com/reformed_movement/ diakses tanggal 4 Maret 2008.

[5] Pendeta Budi Asali memberikan catatan bahwa Mzm 69:9 memang merupakan nubuat tentang Mesias / Yesus. Hal ini terlihat dari Mzm 69:10: “sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku, dan kata-kata yang mencela Engkau telah menimpa aku.”(bdk. Yoh 2:17) dan Mzm 69:22: “Bahkan, mereka memberi aku makan racun, dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum aku anggur asam”(bdk. Mat 27:34 Yoh 19:28-29). Kata 'racun' dalam Mzm 69:22 versi LAI merupakan penerjemahan yang salah. Seharusnya adalah seperti NIV: 'gall'(= empedu). Jadi nubuat ini tergenapi dalam Mat 27:34. Lihat http: // www.geocities.com/reformed_movement/ diakses tanggal 4 Maret 2008.

[7] http://www.newadvent.org/fathers/3007.htm diakses tanggal 4 Maret 2008.

[8] http://www.newadvent.org/fathers/3007.htm diakses tanggal 4 Maret 2008. 

[9] Scott Hann & Leon J. Supernant, Catholic for a Reason II: Scripture and the Mystery of the Mother of God, Malang: Dioma, 2007, hlm.133.

[10] Dr. C. Groenen, OFM, Op.Cit., hlm. 55.

[11] Gerald Owens, C.Ss.R., “Our Ladys Virginity in the Birth of Jesus,”, Catechism of the Council of Trent, 1972, menguraikan lebih lanjut: “Dengan mempertahankan keutuhan keperwanannyanya yang tak tercemar, Maria melahirkan Yesus, Putera Allah, tanpa mengalami ….rasa sakit sedikitpun”. Kutipan ini diambil dari catatan kaki pada Op.Cit, hlm. 133.

[12] Dr. C. Groenen, OFM, Op.Cit., hlm. 57.

[13] Diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin The Arlington Catholic Herald, diakses tanggal 4 Maret 2008.

[14] Scott Hann & Leon J. Supernant, Op.Cit., hlm. 135 : “Yesus dilahirkan dalam suatu pola kelahiran baru yakni dalam keperawanan yang tidak dirusakan dan tidak mengalami gairah nafsu, tetapi sungguh memberikan bahan untuk suatu tubuh…”.

[15] Ibid., hlm.136, Persatuan Bunda dengan Puteranya dalam karya penyelamatan itu terungkap sejak Kristus dikandung oleh Santa Perawan hingga wafatnya…kemudian pada kelahiran Yesus, yang tidak mengurangi keutuhan keperawanannya, melainkan justru menyucikannya (LG 57).

[16] Ibid., hlm 136-137.

[17] Ibid., hlm 137.

[18] Dr. Petrus Maria Handoko, Santa Perawan Maria Bunda Allah dalam Misteri Kristus dan Gereja, Malang: Dioma, 2006, hlm 73.

[19] Scott Hann & Leon J. Supernant, Op.Cit., hlm. 138

[20] http://www.newadvent.org/fathers/3007.htm diakses tanggal 4 Maret 2008.

[21] Dr. Petrus Maria Handoko,Op.Cit., hlm 74.

[22] http://www.newadvent.org/fathers/3007.htm diakses tanggal 4 Maret 2008. Argumen Hieronimus didasarkan pada kitab Bilangan 18:15

[23] George A. Maloney, SJ, Maria Rahim Allah, Yogyakarta: Kanisius, 1990, hlm 45.

[24] http://www.newadvent.org/fathers/3007.htm diakses tanggal 4 Maret 2008.

[25] Georg Kirchberger, Allah menggugat, Maumere: Ledalero, 2007, hlm. 447

[26] Bdk. Eddy Kristiyanto OFM., Maria Dalam Gereja, Yogyakarta: Kanisius, 1987, hlm. 52.

[27] Ibid., hal. 57.

[28] Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium art.53, dalam Dokumen Konsili Vatikan II, terj. R. Hardawiryana, S.J., Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI, 2002.

[29] Dr. C. Groenen, OFM, Op.Cit., hlm. 140.

[30] Ibid hal. 145.

[31] Bdk.Yohanes Paulus II, Redemptoris Mater, Ende: Nusa Indah, 1987.

[32] Dr. C. Groenen, OFM. Op.Cit. hlm. 127

[33] Eddy Kristiyanto OFM. Op. Cit. hlm.65

[34] Ibid., hlm. 63.

[35] Yohanes Paulus II, Vita Consecrata, Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI, hlm. 26

[36]Ibid, hlm.36.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting