header-carmelia17---Queen-of-Rosary01.jpgheader-carmelia17---Queen-of-Rosary02.jpg

Hidup Rohani adalah Suatu Perjalanan

User Rating:  / 24
PoorBest 

Suka dan duka yang datang silih berganti hanya akan memberi arti penuh dan utuh bila orang bersandar kepada Tuhan dan menemukan adanya di dalam Dia yang menciptakan. Dengan berpegang pada Tuhan sebagai pusat hidup, perjalanan itu akan membawanya kepada hidup yang penuh arti. Namun perjalanan rohani yang akan dinyatakan di sini bukan sekedar perjalanan biasa, melainkan yang sepenuhnya mengarah kepada Tuhan dan memberi suatu dimensi bahwa sesungguhnya hanya Allah saja yang patut dicari di atas segala-galanya. Seperti diungkapkan Santo Yohanes dan Salib dalam bait puisinya, “Di manakah Engkau bersembunyi?”

Di sini kita akan mengarungi suatu rentetan perjalanan. Perjalanan yang mengisahkan suatu kehidupan yang manis dan pahit, kejenuhan yang sering membawa orang kepada keputusasaan, kebosanan, frustasi dan akhirnya akan membawa pula kepada kebencian terhadap diri sendiri dan orang lain, bahkan seringkali mempengaruhi orang untuk berhenti mencani Allah. Sehingga lambat laun dia akan kehilangan Allah dalam hidupnya. Bahkan dapat terjadi, pada akhirnya orang itu bisa membenci Allah sendiri.

Sungguh tidak mudah merintis hidup rohani menjadi suatu perjalanan yang indah. Dan ini membutuhkan waktu, penyerahan diri, dan keterbukaan. Kerinduan akan Allah yang dibakar oleh cinta yang membara itulah yang merupakan kunci untuk mengerti seluruh rencana Allah atas perjalanan hidup kita. Kita harus menggali dan terus menggali, hingga sampai pada suatu kedalaman yang hakiki dan yang akhirnya akan membawa kita sampai kepada penemuan yang abadi, yaitu hidup bersatu dengan Dia.

Pada bait puisi “Di manakah Engkau bersembunyi?” ini terkandung suatu arti yang dalam. Kita harus terus mencari untuk menemukan Dia. Bersembunyi bukan berarti setelah menemukan lalu selesai. Dalam arti rohani, kita harus mencari dan terus mencari. Dengan mata jasmani kita tidak menemukan perjalanan yang indah itu. Semuanya harus dipandang dengan mata iman. Hanya iman yang hidup sajalah yang mampu melihat segala sesuatu dari setiap sisi.

Seperti halnya bila kita mau mencari sumber air, kita akan berusaha menggali dan terus menggali dengan satu tujuan, yaitu bahwa kita akan sungguh-sungguh menemukan sumber air yang jernih. Begitulah dalam hidup manusa, sumber air yang jernih yang tak lain tak bukan adalah Allah sendiri. Allah adalah sumber air yang harus kita can dan kita temukan dalam hidup kita karena hanya Dialah yang bisa memuaskan kehausan kita dan akhirnya kita menemukan kebahagiaan yang abadi. Seperti kata Wanita Samaria itu dalam percakapan dengan Yesus, “Tuhan, berikan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.” (Yoh.4:15).


Menggali dalam Arti Rohani

Dalam arti rohani, menggali bukanlah sesuatu yang mudah dan dapat dicapai dengan sekali perjuangan. Seringkali kita mengalami kegagalan yang tidak kecil nilainya. Kita tidak menemukan apa-apa dari yang kita gali. Kemudian mulailah timbul pikiran yang bukan-bukan, godaan-godaan pun mulai muncul, mengusik hati dan budi kita: Setan berperan dalam din manusia, akhirnya orang mulai bosan dan jenuh. Kita menggali kekosongan dan kejenuhan. Semangat berjuang mulai lluntur, lalu berhentilah kita dan berakhir hanya sampai di situ dan perjuangan yang dimulai itu pun menjadi hilang dan sia-sia.

Menggali dalam usaha kedua, dengan semangat yang bernyala-nyala, orang berusaha menggali dan menggali terus. Setelah memperoleh seperempat galian, ia masih dipenuhi semangat sampai setengah atau lebih. Kemudian godaan datang mempengaruhi, tantangan-tantangan mulai muncul dan kita mulai menyadari bahwa apa yang kita inginkan belum nampak hasilnya, padahal perjuangan yang kita lakukan sudah memeras keringat dan membuat kita lelah. Maka setan pun mulai beraksi setelah mengetahui kelemahan kita. Dia mulai mengusik kita dan pelan-pelan munculah kejenuhan. Tanpa kita sadari, kita sudah berada di bawah pengaruh godaan-godaan itu dan yang kita temukan kemudian adalah keputusasaan. Akhimya berhentilah kita dalam berjuang, sehingga sia-sialah semua perjuangan dan semangat yang sudah dirintis selama ini.

Dalam usaha berikutnya, setelah semakin dalam menggali dan tetap tidak menemukan apa pun yang dicarinya, mulai menasa lelah, lemah semangat bahkan diperparah dengan munculnya rintangan-rintangan, binatang-binatang kecil, batu-batu keras, juga ular. Akibatnya timbulah ketakutan. Pikiran mulai dthantui bayangan bahwa usahanya sia-sia. Sampai akhirnya orang tersebut berhenti sampai di situ dan tidak menemukan apa-apa.

Begitulah dengan pengalaman hidup rohani. Seringkali kita tidak tekun dan setia. Kita lebih senang mencari yang enak dan mudah dengan hasil berlipat ganda, daripada bersusah-susah dahulu dan menikmati hasilnya kemudian. Begitulah yang sering kita cari dalam hidup ini, tanpa mau menghadapi tantangan dan kesulitan.

Menggali bukanlah sekedar menggali saja. Melakukan sesuatu selalu membutuhkan perjuangan dan cinta. Cinta memerlukan pengorbanan yang seringkali tidak kecil. Kita memang perlu menyadari bahwa menggali bukanlah didasarkan pada emosi, melainkan pada suatu cinta. Cintalah yang menjadi dasar pekerjaan dan pemikiran kita. Cinta harus menguasai hidup kita. Bila cinta sungguh menguasai kita, maka segala rintangan dan halangan, kesulitan dan kejenuhan bisa diatasi. Seringkali hidup kita dihadapkan pada tantangan dan godaan yang bertubi-tubi, dan seringkali pula kita tidak setia. Kita lari dan kenyataan hidup ini sehingga setiap kali kita berjalan dan menemukan rintangan, kita berbalik dan segera meninggalkannya, Sehingga akhirnya tujuan utama kita tidak akan pemah tercapai.


Menggali untuk Menemukan Mutiara

Mutiara berharga tidaklah mudah untuk ditemukan. Kita harus selalu menggali dan terus menggali. Mutiara sejati adalah Allah sendiri, maka kembali Santo Yohanes dan Salib

bertanya dalam Madah Rohani, “Di manakah Engkau bersembunyi?” Allah yang tersembunyi tidak mudah dijangkau dan tidak mudah ditemukan dalam sehari dua han, setahun atau dua tahun, bahkan bertahun-tahun atau lebih. Tetapi kita harus terus-menerus mencarinya sepanjang perziarahan hidup kita. Tanpa ini semua perjuangan kita akan sia-sia dan tidak berguna.

Jadi, perjalanan hidup rohani adalah suatu perjalanan yang akan mengisahkan kematian, kepahitan, kegembiraan, kegagalan, kejenuhan, keputusasaan, tetapi juga kedamaian dan kebahagiaan. Semuanya silih berganti, berputar bagaikan sebuah roda kehidupan, pasang dan surut. Dan ini tidak hanya berhenti sampai di sini saja. Kita harus berjalan dan terus berjalan, mendaki dan terus mendaki. Apa pun yang kita jumpai dalam perjalanan, tidaklah boleh menjadi halangan dan keputusasaan bagi kita, melainkan dengan melihat bahwa Tuhanlah tujuan akhir hidup kita, kita harus tetap mengarah pada tujuan tersebut, yaitu menemukan Sang Mutiara itu sendiri.

Adakalanya perjalanan kita itu tersendat-sendat. Suatu waktu kita akan menemukan jalan buntu yang tidak teratasi. Di sinilah kita harus selalu percaya dan mempercayakan diri kepada Dia yang selalu menyertai perjalanan kita. Bahwa Dia tidak akan meninggalkan kita yatim piatu (Yoh.14:18). Karena di dalam perjalanan rohani kita, kita diminta juga untuk terbuka terhadap Roh Kudus yang akan membimbing seluruh langkah hidup kita untuk menemukan Mutiara, Sang Kebahagiaan abadi itu.

Dalam mengahadapi rintangan yang tak mungkin terelakkan itu, hendaknya kita pun waspada bahwa semakin kita setia kepada Allah, semakin setan akan berusaha menghadang kita. Sebab emas diuji dalam api, tetapi orang yang kepadanya Tuhan berkenan dalam kancah penghinaan (Sir.2:5). Inilah keindahan dan Sang Mutiara yang tidak menanik kita pada kilau cahayanya saja, tetapi juga mengajak kita untuk melihat betapa dalam, betapa tinggi, betapa luas serta betapa lebarnya keindahan yang akan kita nikmati untuk masuk ke dalam Mutiara itu sendiri.

Godaan dan rintangan pun menawarkan jalan kepada kita, apakah kita akan berbelok mengambil jalan pintas ataukah kita akan terus berjalan bersama rintangan itu untuk mencapai yang abadi? Sekali lagi cinta adalah kuncinya. Kunci untuk membuka rintangan dan kegagalan, kunci untuk mengarungi cobaan-cobaan hidup dan cinta harus menjadi dasar segala-galanya. Inilah ajaran Santo Yohanes Salib yang telah mencapai persatuan cinta yang mesra dengan Sang Mutiara yaitu Allah sendiri.


Teman dalam Perjalanan

Setiap orang membutuhkan teman di dalam perjalanan hidupnya. Sulit dikatakan bahwa manusia berhasil meniti perjalanan hidupnya tanpa bantuan orang lain. Seperti dalam Kitab Kejadian, Allah sendiri telah berkata bahwa Ia telah membentuk dan menciptakan Hawa untuk menjadi pendamping bagi Adam. Tuhan Allah berfirman, “Tidak baik kalau manusia itu seorang din saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia (Kej.2:18). Maka sudah sejak penciptaan, manusia hidup berdampingan satu sama lain untuk saling mengisi dan mengarahkan hidup kepada yang lebih luhur sesuai dengan cita-cita dan harapan Allah sendiri.

Dalam peralanan rohani pun, kita membutuhkan teman. Namun bukan sembarang teman. Ada ‘teman’ yang ‘menyenangkan, misalnya: harta benda, kedudukan, jabatan, pujian, perhatian, dan lain-lain. Ada juga ‘teman’ yang ‘tidak menyenangkan’, seperti: penderitaan, cobaan, godaan, nintangan, fitnahan, ejekan, penghinaan, kesukanan, dan lain-lain. Manakah yang akan kita pilih saat ini?

Marilah kita kembali melihat motivasi kita yang sesungguhnya, apa tujuan perjalanan kita? Akan kemanakah kita berjalan? Kita mencoba untuk meithat hati kita, “Di manakah Dia bersembunyi?” Dan Yesus sendiri memberi teladan dalam perjalanan hidupNya, bahwa Dia banyak ditemani oleh penderitaan, celaan, cobaan, hinaan, dan sebagainya. Bahkan ‘teman’ yang paling setia menemani perjalanan hidupNya adalah salib. Saliblah puncak dan segalanya. Saliblah yang akan memberi kilau pada hidup kita karena hanya saliblah yang bisa mengantar kita menemukan Mutiara itu dalam perjalanan hidup kita. Jadi, setiap pengikutNya akan memiliki ‘teman’ yang sama supaya bisa bersatu dengan Dia. Namun semuanya ini membutuhkan ramat. Hanya dengan bekerjasama dengan rahmatNya, kita akan dikuatkan untuk sampai kepadaNya.


Rahmat Memiliki Peran Utama yang Terpenting

Peran rahmat tidak bisa diabaikan begitu saja. Kerjasama yang terbaik untuk menunjang perjalanan hidup kita mencapai Sang Mutiara adalah rahmat. Rahmat inilah yang memberi kesegaran dan menguatkan perjalanan hidup rohani kita dalam menghadapi tantangan dan rintangan. Rahmat mi juga yang memberi keutuhan dan kekuatan untuk merath hal-hal yang lebih luhur.

Seperti diungkapkan Santa Theresia dan Lisieux, “Tidak mungkin Tuhan memberikan keinginan-keinginan yang tidak dapat dipenuhi.” Segala sesuatu yang positif, yang timbul dalam pikiran kita, ditumbuhkan Allah untuk dihayati dan dipenuhi. Hal ini sering tidak kita sadari. Kita sering mengabaikan rahmat yang setiap saat ditawarkan Tuhan kepada kita. Oleh karena itu, apa pun yang digerakkan Tuhan bagi kita untuk perjalanan hidup kita pasti sejalan dengan rahmat yang Ia sediakan. Dan untuk itulah kita harus selalu terbuka terhadap bimbinganNya melalui Roh KudusNya agar perjalanan hidup rohani kita benar-benar mencapai puncak yang dikehendaki oleh Tuhan sendiri. Dia senantiasa membantu kita dengan mengirimkan Roh KudusNya untuk membimbing langkah kita. Dan melalui rahmat itulah kita akan lebih mudah dan lebih ringan mengarahkan hidup kita kepada tujuan utama tadi.

Demikianlah akhirnya, Seluruh hidup kita akan terarah kepada Tuhan dan kita perlu terus berjalan ke arah itu agar perjalanan hidup rohani kita sungguh-sungguh mencapai tujuan tersebut.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting