User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 


Inti hidup kita adalah relasi pribadi dengan Tuhan, sebab tanpa relasi ini tidak ada hidup rohani. Oleh karena itu, saudara-saudariku, marilah kita mencari relasi ini, membinanya, dan memohon agar kita semakin disatukan dengan diri-Nya.

Banyak cara untuk membina hubungan pribadi ini; untuk berdoa. kita dapat berdoa kepada-Nya dalam Ekaristi, Ibadat Harian, Doa Hening atau Doa Yesus, Lectio Divina, Adorasi, Devosi-devosi, serta doa di dalam sikap batin kita.


1. Ekaristi

Dalam Ekaristi misteri wafat dan kebangkitan Tuhan dihadirkan bagi kita sekarang ini. Dalam Ekaristi itu pula kita berjumpa dengan Yesus secara pribadi dalam rupa roti. Dengan menyambut komuni, kita menyambut Yesus pribadi. Dengan makan Tubuh-Nya dengan iman dan dengan hormat, kita akan diproses oleh-Nya menjadi semakin serupa dengan Dia.

Persiapkanlah diri baik-baik untuk setiap Perayaan Ekaristi, sehingga kita layak menyambut Yesus dalam hati kita. Rayakanlah Ekaristi dengan penuh perhatian dan dengan penuh kerinduan. Dengan menyambut komuni, kita dipersatukan dengan Yesus sendiri. Daya hidup-Nya akan mengalir ke dalam diri kita dan dengan demikian perlahan-lahan kita akan diubah ke dalam diri-Nya. Sesudah komuni hendaknya hening sejenak, berbicaralah dengan Yesus dalam hati. Inilah saat kemesraan dengan Tuhan Yesus.

2. Ibadat harian

Dewasa ini semakin banyak orang yang menyadari bahwa Ibadat Harian atau Brevir sebenarnya sejak semula tidak dikhususkan untuk kaum religius, melainkan juga untuk seluruh Gereja. Kita semua boleh mendoakan doa yang sangat indah ini.

Doakanlah ibadat harian dengan penuh perhatian dan dengan penuh penghayatan. Doa ini adalah doa resmi Gereja, sehingga bila kita mendoakannya, kita berdoa bersama seluruh Gereja dan atas nama Gereja memuji dan memuliakan Allah yang patut dipuji dan dimuliakan demi diri-Nya sendiri.

Mazmur-mazmur yang didaraskan akan membantu kita dalam doa pribadi. Demikian pula bacaan-bacaan yang ada akan menggugah iman kita. Doakanlah Ibadat Harian dengan perlahan-lahan, penuh perhatian. Sesudah tanda bintang hendaknya berhenti sebentar. Demikian pula sesudah tiap mazmur berhenti lebih lama sedikit.


3. Doa hening dan doa Yesus

Doa hening atau doa Yesus adalah sebuah bentuk doa yang sederhana, tetapi mampu membawa kita pada kedalaman doa yang besar. Doa ini merupakan kekuatan hidup kita. Melalui doa ini Tuhan akan dapat mencurahkan kepada kita cinta dan kebijaksanaan-Nya.

Ketika orang menyentuh jumbai jubah Tuhan, suatu kekuatan keluar dari-Nya dan menyembuhkan segala penyakit. Kini kita tidak lagi memiliki pakaian-Nya, tetapi sebagai gantinya kita memiliki Tubuh dan Darah-Nya, juga kemungkinan untuk mengucapkan nama-Nya dengan iman, cinta kasih, sambil mengenali dengan dorongan Roh Kudus, bahwa Ia sungguh-sungguh Tuhan. Di dalam nama Yesus sendiri hadir seluruh pribadi-Nya. Dengan menyerukan nama-Nya dengan penuh iman dan cinta kasih, kuasa-Nya yang menyembuhkan juga hadir bagi kita.

Petrus dan Yohanes di depan pintu gerbang kenisah, semua rasul dan para kudus memakai kuasa Nama ini untuk menyembuhkan orang-orang sakit atau untuk mengusir setan. Tuhan sendiri mengundang kita untuk berbuat yang sama.

“Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, ku akan melakukannya.” (Yoh 14:14)

 Banyak sekali orang Kristen yang menyucikan dirinya dengan mengucapkan nama Yesus ini secara terus menerus. Yang satu hanya mengucapkan Nama itu saja. Yang lainnya menambahkan suatu permohonan minta bantuan Tuhan untuk saat itu seperti misalnya:

“Tuhan Yesus, datanglah menolong aku.”

 Yang lain lagi, lebih banyak jumlahnya, menambahkan pada Nama Tuhan ini pengakuan iman Petrus, seruan si buta serta pengakuan di pemungut bea. Seruan ini membawa kita kepada kerendahan hati serta cintakasih yang mendalam:

“Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah yang hidup, asihanilah aku, orang berdosa ini.”

Di bawah ini, engkau dapat membaca petunjuk praktis untuk melakukan doa ini:

  • Ambillah sikap duduk yang baik, entah dengan bersila ataupun dengan dingklik. Yang penting punggung harus tegak. Kalau bersila, usahakan agar kedua lututmu menempel pada lantai. Mata dapat dipejamkan atau dibuka. Kalau dibuka arahkan kira-kira satu meter ke depan di lantai. Mata yang terbuka dapat mengurangi pelanturan.
  • Mulailah dengan menyebut nama Yesus dengan penuh iman dan cintakasih. Engkau dapat meritmekannya pada irama napasmu, namun ini tidak mutlak. Waktu tarik napas: Yeee, waktu keluar: susss. Atau boleh juga: Tuhannnn --- Yesussss. Dapat pula: Tuhan Yesus Kristus ---- Putera Allah yang hidup ----- Kasihanilah aku ----- orang berdosa ini. Atau: Tuhan Yesus Kristus ----- kasihanilah aku.
  • Dengan semakin diresapi oleh nama Yesus, semakin dekat pula pribadi Yesus denganmu. Sampai suatu ketika nama Yesus menjadi selalu menggema dalam diri kita, menjadi komunikasi tidak kunjung putus antara kita dan Dia.

4. Lectio divina

Lectio Divina adalah suatu cara doa yang unik, yakni dengan memakai Kitab Suci. Kalau engkau lebih tertarik pada lectio divina ini, jangan ragu- ragu melakukannya.

Ambillah suatu teks Kitab Suci yang sudah kaukenal dan kaupersiapkan sebelumnya. Lakukan lectio divina dalam 4 langkah:

  • Pertama: lectio atau bacaan; bacalah penuh perhatian, perlahan-lahan. Bertanyalah: Apakah arti teks itu dalam konteksnya dan menurut konteks kebudayaan waktu itu?
  • Kedua: meditatio atau peresapan; resap-resapkan teks atau kalimat tersebut, khususnya yang menyentuh hatimu. Engkau dapat bertanya: Apa yang dikatakan Tuhan kepadaku secara pribadi melalui teks ini? Apa jawabanku pribadi? Kemudian teks atau kalimat yang menyentuh hatimu itu dapat kauulang-ulangi sampai puas hatimu.
  • Ketiga: oratio atau doa; berdasarkan teks tersebut bicaralah dengan Tuhan dari hati ke hati dan  ungkapkan isi hatimu kepada-Nya. Ingatlah, dalam doa yang terpenting bukanlah banyak berpikir tentang Tuhan, melainkan banyak mencintai. Itulah pesan Santa Teresa Avila.
  • Keempat: contemplatio atau kontemplasi; sesudah berbicara sejenak, belajarlah diam, mendengarkan Tuhan, sambil memandang dengan iman Dia yang hadir dalam dirimu atau di hadapanmu. Bila perhatianmu tidak dapat terpusat lagi pada Tuhan yang hadir, kembalilah ke langkah pertama dan mulai dengan teks atau ayat berikutnya. Proses itu diulangi seperti di atas sampai waktu yang ditentukan untuk doa telah selesai.

 Bila engkau setia, Tuhan akan menarikmu ke arah kontemplasi ilahi, seringkali secara bertahap. Bila pada permulaan bacaan atau peresapan atau doa porsinya lebih banyak, kemungkinan setelah itu porsinya terbalik. Mungkin sekali baru saja mulai, engkau akan terdorong untuk langsung mengungkapkan doamu, memuji atau memuliakan Tuhan. Kalau demikian, ikutilah tarikan tersebut. Setelah itu secara bertahap engkau akan ditarik kepada keheningan untuk sekedar memandang dengan kasih Dia yang hadir. Inilah kontemplasi ilahi. Biarlah itu terjadi secara bertahap dan natural, jangan dipaksakan.

Bila Tuhan menarikmu ke dalam kontemplasi, itu sungguh merupakan suatu anugerah istimewa dari Tuhan. Kontemplasi ini merupakan bentuk doa yang paling luhur dan paling efektif dalam pengudusan. Dalam kontemplasi semacam itu Tuhan mencurahkan kasih dan kebijaksanaan ke dalam jiwa secara langsung, dari Roh kepada roh, tanpa perantaraan pancaindera ataupun gagasan ataupun ide-ide. Karenanya kontemplasi ini juga merupakan aktivitas tertinggi dan paling luhur dari manusia. Namun walaupun demikian, tanpa tarikan Tuhan, janganlah engkau memasuki kontemplasi itu, sebab bila demikian, itu bukan kontemplasi ilahi, melainkan suatu kekosongan yang steril.

5. Adorasi

Saudaraku, Yesus yang hadir dalam Sakramen Mahakudus datang melawat kita dalam Adorasi kita kepadanya. Adorasi artinya menyembah dan yang kita sembah adalah Yesus sendiri. Allah yang Mahabesar, yang tidak bisa ditampung oleh seluruh alam semesta mau menjelma menjadi roti kecil untuk kita sembah.

Adorasi hendaknya dilakukan dengan kesadaran, bahwa Tuhan Yesus sungguh-sungguh hadir dalam Sakramen Mahakudus. Di situ Ia menantikan engkau. Sembahlah Dia dengan iman dan cinta yang penuh kerinduan. Waktu adorasi hendaknya ada cukup waktu untuk hening di hadirat Tuhan. Berilah kesempatan kepada Tuhan untuk berbicara, baik melalui nubuat maupun secara langsung dalam hati masing-masing.


6. Devosi-devosi

Kalau engkau tertarik pada devosi-devosi tertentu, seperti rosario dan doa-doa lainnya, silakan melakukannya, tetapi tanpa mengabaikan yang utama. Namun, janganlah menumpuk segala macam devosi. Hidup doamu dan hubunganmu dengan Allah harus bertumpu pada Sabda Tuhan dan Ekaristi dalam iman, harapan, dan kasih.

7. Sikap batin

Berdoalah dengan tujuan semata-mata untuk memuliakan Tuhan, untuk hadir pada Allah saja, bukan untuk mencari kepuasan diri sendiri. Semakin murni intensi doamu, semakin cepat engkau akan berkembang dalam pengenalan dan kasih Allah.

(Sumber: Pedoman Praktis Putri Karmel dan CSE)

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting