User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

 

Seorang wanita yang menjadi pemimpin suatu pertemuan, melontarkan pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu dijawab, “Kemana dan apa yang akan dituju oleh kaum lelaki pada zaman ini, kalau bukan kaum wanita?” Seorang pria yang hadir dalam pertemuan itu menyampaikan jawaban karena merasa tidak puas dengan jawaban yang berat sebelah itu, “Kaum lelaki akan kembali ke Taman Eden untuk makan buah strawberi.”

Memang benar, bahwa dosa terjadi pertama kali pada seorang wanita, seperti yang dikatakan Santo Paulus kepada Timotius (lh. 1 Tim.2:14) dan kepada umat di Roma (lh. Rm.5:12), bahwa karena dosa satu orang, seluruh keturunan umat manusia menjadi berdosa, termasuk Hawa sendiri. Dosa Hawa hanya berakibat kepada dirinya sendiri, tetapi dosa Adam mengakibatkan semua keturunan manusia berdosa. Hawa yang mempengaruhi Adam sehingga berdosa, tetapi dosa yang dilakukan Adam itulah yang menyebabkan Hawa kehilangan keadaan tidak berdosa yang dimilikinya, demikian pula keturunannya kelak akan kehilangan keadaan ini. Adam dapat mengatakan kepada Hawa, “Ajakanmu membuat aku berdosa.” Tetapi Hawa dapat juga mengatakan, “Dosamu membuat aku kehilangan keadaan asalku yang bersih dan dosa,” karena dosa yang dilakukan sendiri oleh Adam telah menodai Hawa dan seluruh keturunan manusia.

Karena kesalahan ganda yang dilakukan oleh leluhur kita melalui ketidak-taatannya, Allah merancang suatu penyembuhan yang bersifat ganda pula melalui ketaatan. Penyembuhan atau pemulihan yang pertama adalah melalui “Adam Baru”, yaitu melalui ketaatan-Nya kepada Bapa-Nya dalam menjalankan karya penebusan bagi seluruh umat manusia yang berdosa. Sedangkan yang kedua adalah melalui “Hawa Baru”, yaitu melalui ketaatannya untuk menyetujui melahirkan Penebus ke dunia. Kalau Hawa secara khusus dikaitkan dengan kejatuhan manusia dalam dosa, walaupun bukan menjadi penyebabnya, maka Maria secara khusus dikaitkan dengan pemulihan atau penebusan kembali manusia dan kejatuhannya, walaupun bukan sebagal pelaku utamanya. Rencana indah Tuhan dalam sejarah keselamatan, menempatkan Perawan Maria dalam posisi khusus dan satu-satunya di tengah makhluk ciptaan-Nya.

Pengaruh Maria yang menembus segala zaman, tidak hanya diingat orang seperti mereka mengagumi sebuah karya seni lukis, tetapi manusia juga mencatatnya dan mengabadikannya dalam berbagai buku. Selain Yesus, Maria adalah pribadi kedua yang sering menjadi bahan pembicaraan dan penulisan buku-buku, dan perpustakaan di berbagai negara, secara khusus mempersembahkan literatur tentang Maria.

Jika Maria tidak ada atau tidak memberikan persetujuannya untuk menjadi Bunda Penebus, maka Pribadi kedua dan Tritunggal Mahakudus, Sang Sabda, tidak akan menjadi daging, dan Yesus Knistus sebagai Allah dan manusia tidak pemah akan ada. Sehingga tidak akan ada pula Mesias, penebusan, penyelamatan, orang Kristen, Gereja dengan berbagai denominasinya, sekolah Kristen, rumah-rumah sakit. Tidak ada rumah yatim piatu, Paus, pastor, Ekaristi, dan tidak ada juga bentuk doa Kristen yang kita kenal sekarang. Tidak ada gedung-gedung Gereja yang megah dengan segala peralatannya, tidak ada para misionaris, tidak ada perhitungan tahun Masehi sehingga tidak ada kalender seperti yang kita pakai sekarang, dan sebagainya. Banyak kejadian lain yang tidak akan terjadi jika Maria tidak ada.

Berdasarkan semua pandangan di atas, kita melihat, tampaknya keberadaan Maria yang agung mi dapat menjadi bahan pembicaraan yang sangat balk. Salah satu metode untuk memulai pembicaraan ini adalah dengan mengajukan beberapa pertanyaan dan pandangan tentang Bunda Yesus. Sedangkan jawabannya, kita ambil berdasarkan ajaran Kitab Suci yang menjadi dasar sangat kuat bagi Mariologi atau teologi tentang Maria.

Apa tujuannya kita melakukan devosi kepada Bunda Maria atau kepada orang kudus lain-nya? Ada tiga tujuan pokok berkaitan dengan hal mi, seperti yang tertulis dalam Dokumen Konsili Vatikan II (Lumen Gentium, artikel 51), yaitu:


  1. Untuk meniru teladan yang baik dan kehidupan mereka (bdk. 1 Kor.11:1).
  2. Untuk mempersatukan kita dalam persekutuan Para Kudus, yaitu orang-orang yang percaya, baik yang ada di Surga maupun yang ada di bumi (bdk. Ef. 3:5).
  3. Meminta mereka menjadi perantara bagi doa-doa kita untuk kebutuhan tubuh, jiwa dan roh kita (bdk. 2 Mak. 15:12-16, Mzm.106:23).

 

Mengapa kita berdoa kepada Bunda Maria atau kepada orang kudus lainnya?

Kita seharusnya tidak berdoa kepada Bunda Maria atau kepada para kudus atau kepada para malaikat karena dalam arti teologis, arti kata “berdoa kepada” hanya dapat diterapkan kepada seorang yang berdoa kepada Tuhan. Tapi kita berdoa bersama para malaikat dan para kudus, mereka berdoa bersama dan untuk kita. Kita dapat saja mengatakan bahwa kita berdoa kepada Bunda Maria dan para kudus atau kepada para malaikat, tetapi kalimat ini harus tetap diartikan bahwa melalui doa yang sungguh-sungguh kepada mereka, kita meminta supaya mereka mendoakan kita. Seperti yang ada dalam doa Salam Maria, “Doakanlah kami orang yang berdosa ini,” Pada saat itu, doa yang kita panjatkan kita satukan kita dengan doa Bunda Maria bagi kita. Demikian pula doa kepada para kudus sesungguhnya adalah seperti kalau kita minta bantuan kepada teman kita di dunia untuk mendoakan kita, seperti Paulus mendoakan sahabat-sahabat Kristus. Para kudus yang hidup di hadirat Tuhan doanya jauh lebih kuat daripada doa kita karena iman mereka yang jelas lebih kuat. Oleh karena itu mereka adalah kawan yang paling balk dalam berdoa. (bersambung).

 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting