User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Dalam tafsiran-tafsiran alkitabiah kita dapat menemukan pesan Injil yang paling mendasar bahwa hadiah luar biasa dan kasih penyelamatan Tuhan, Putra-Nya satu-satunya, Yesus, diberikan kepada kita melalui iman. Kita dapat menemukan bahwa “siapa pun yang percaya kepadaNya tidak akan mati, melainkan memiliki hidup yang kekal.” Kita dapat menemukan pula bahwa kita diselamatkan melalui “baptisan untuk lahir baru dan pembaruan oleh Roh Kudus. Agar dapat memperoleh kedua-duanya kita membutuhkan iman. Kita dapat menemukan juga bahwa “keselamatan menjadi milikmu melalui iman.”

Dan dalam ayat-ayat mengagumkan dan logika evangelistik, kita baca:

“Tetapi apakah katanya? Ini:

“Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.”

Itulah firman iman, yang kami beritakan. Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dan antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. Karena Kitab Suci berkata: “Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.” Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani, Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dan semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepadanya. Sebab barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.

Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepadaNya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakanNya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakanNya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!” (Rm 10:8-15).

Surat ensiklik utama Paus Yohanes Paulus II tentang karya penebusan, “Redemptoris Missio” menjelaskan bahwa “Iman adalah kelahiran dan pengajaran, dan setiap komunitas gerejawi menarik sumber dan kehidupannya dan respons pribadi dan setiap penganut kepada pengajaran itu.”

Lalu kemudian, apakah iman? Iman adalah suatu cara untuk mengetahui dan melihat realitas-realitas yang secara fisik tidak kelihatan, namun sebenarnya jauh lebih penting daripada realitas-realitas yang dapat kita lihat dengan mata fisik kita.

Ada sebuah kasus yang sangat bagus yang memungkinkan iman menjadi tema pokok dan Injil.

“Iman adalah dasar dan segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dan segala sesuatu yang tidak kita lihat. Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita. Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dan apa yang tidak kita lihat.” (Ibr 11:1,3)

Dan bagaimanakah iman diperoleh?

Iman adalah pemberian dan Allah yang ditawarkanNya kepada setiap orang. Pada umumnya iman diperoleh dari pengertian akan kebenaran Injil melalui pengajaran, melihat atau mendengarkan tanda-tanda dan bukti yang meneguhkan kebenarannya, dan karya langsung dan Roh Kudus di dalam jiwa (bdk. Rm 10:8-15, 2Kor 3:16-18; Yoh 14:10-11; 1Tes 5:9).

Iman sendiri, dan perubahan yang bersumber darinya, adalah pemberian-pemberian dan rahmat dan jasa Allah semata-mata, karya RohNya yang tidak menuntut balas jasa.

Kitab Suci menanamkan konsep dan iman dengan beberapa pengertian.

Salah satu pengertian yang diajarkan Kitab Suci tentang iman adalah bahwa iman sebagai “iman yang harus dipertahankan” (2Tim 1:13-14, 2:2; Yud 3), bahwa kerangka dan kebenaran-kebenaran diungkapkan oleh Tuhan. Makna utama dan iman dalam hal ini adalah bahwa iman adalah pengetahuan akan kebenaran. Ini adalah makna iman yang muncul pertama dalam pikiran kita bila kita berbicara mengenai mensharingkan ‘iman’ atau mengajarkan ‘iman’. Namun dalam kenyataannya iman yang ‘proporsional ini saja tidak memadai. “Bahkan setan-setan juga percaya” (Yak 2:19), namun kita masih membutuhkan baik ketaatan maupun kepercayaan.

Kitab Suci juga menunjukkan iman sebagai “ketaatan iman”. (Rm 1:5, 16:26). Iman dalam hal ini adalah pengetahuan akan iman—baik secara implisit maupun eksplisit—memiliki panggilan kepada ketaatan. Dasar yang sudah sering didengar tentang ini adalah “iman tanpa perbuatan adalah mati” (Yak 2:17). Ada suatu fakta dan tingkah laku manusia berdasarkan kebenaran yang merupakan tujuan dan buah dan Injil. Paus Yohanes Paulus II dalam dokumen ensikliknya, ”Veritatis Splendor” menerangkan secara jelas sekali hal ini.

Seperti sabda Yesus: “Jikalau kamu tetap dalam firmanKu, kamu benar-benar adalah muridKu dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 8:31-32). Jika kita mematuhi kebenaran yang telah dinyatakan kepada kita, dengan bantuan rahmat Tuhan, kita akan mengerti lebih banyak lagi akan kebenaran ini dan mengalaminva lebih banyak dari buah-buahnya di dalam kehidupan kita. Memungkinkan perubahan yang besar terjadi pada orang-orang yang pindah dan kepercayaan lain. Walaupun sudah mengalami bertahun-tahun kebiasaan-kebiasaan, keterikatan-keterikatan dan pengaruh dan suatu dunia kafir, dapat diubah melalui kuasa Injil dan hubungan yang hidup dengan Allah yang menarik kita ke dalamnya.

Namun semuanya ini: ketaatan yang merupakan tanda otentik iman yang menyelamatkan, manifestasi iman melalui cintakasih, pertumbuhan dalam kesempurnaan moral, doa, hidup dalam cintakasih, kesetiaan dan pelayanan, diberikan dan disempurnakan melalui rahmat Tuhan sendiri.

Kita baca bahwa “Karena kita buatan Allah, diciptakan dalam Yesus Kristus untuk melakukan perbuatan balk, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya (Ef.2:10).

Bahkan segala karya-karya kita yang baik yang akan kita lakukan disediakan oleh Allah jauh sebelumnva. Jalan yang kita lalui dalam kesehari-harian hidup kita telah disiapkan Tuhan untuk transformasi moral dan hidup dalam cintakasih dan pelavanan yang memampukan kita untuk berkembang dalam hidup.

Kita lihat dalam Flp 2:12-13: “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan dan pekerjaan menurut kerelaanNya.”

Rahmat Allah yang bekerja memampukan kita untuk mau dan melakukan apa yang Ia kehendaki. Ia tidak hanya memanggil kita untuk taat dalam iman, namun juga memampukan kita untuk taat. Rahmat yang luar biasa!

Yang ketiga dan mungkin merupakan kata iman yang paling umum digunakan dalam Kitab Suci adalah iman sebagai kepercayaan. “Dan berbahagialah ia, yang telah percaya. sebab apa yang dikatakan kepadanya dan Tuhan, akan terlaksana.” (Luk 1:45).

Dorongan yang mendasar dan seluruh pesan Yesus adalah dorongan untuk percava kepadaNya, dan kepada Bapa: “Jadi, jika rumput di padang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api demikian didandani Allah, terlebih kamu, hai orang yang kurang percaya! Jadi janganlah kamu mempersoalkan apa yang akan kamu makan dan apa yang akan kamu minum dan janganlah cemas hatimu. Semua itu dicari oleh bangsa-bangsa di dunia yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu tahu, bahwa kamu memang membutuhkan semuanya itu. Tetapi carilah kerajaanNya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu.” (Luk 12:28-31).

Iman yang Yesus inginkan supaya kita miliki adalah iman akan kebaikan Allah, kuasa Allah, kemahabenaran Allah dan di atas segalanya adalah cinta Allah kepada setiap pribadi dalam seluruh aspek kehidupan dan kebutuhannya. Ia memanggil kita untuk menyerahkan diri dan pasrah seutuhnya yang hanya mungkin jika kita tahu dan mengenal siapakah Allah itu.

Ini adalah iman yang sama yang telah membuat Ayub mampu untuk mengatakan bahwa ia akan tetap percaya kepada Allah “walaupun Ia hendak membunuh aku.” (Ayb 13:15).

Iman ini berpusat kepada hubungan pribadi dengan Allah, Bapa, Putra dan Rob Kudus. Yesus berkali-kali menekankan bahwa inti dan keselamatan menyangkut suatu hubungan dengan Dia.

Suatu ketika, saat berbicara dengan satu kelompok uskup Amerika, Paus Yohanes Paulus II menekankan hal ini.

“Kadang-kadang bahkan banyak umat Katolik yang kehilangan kesempatan untuk mengalami Kristus secara pribadi: bukan Kristus sebagai ‘paradigma’ atau ‘nilai’ belaka, namun Allah yang hidup: ‘jalan, kebenaran, dan hidup’ (Yoh 14:6).”

Pemuka-pemuka Gereja lebih sering melihat bahwa banyak umat Katolik yang miskin dalam ungkapan-ungkapan hubungan pribadinya dengan Yesus.

Kardinal Godfried Daneels dan Belgia, dalam mengomentari perkembangan gerakan New Age di antara umat Katolik, menunjukkan bagaimana pengenalan akan Allah membuat umat Katolik kebal terhadap serangan-serangan itu.

‘Mungkin memang ada benarnya tuduhan-tuduhan dan aliran New Age melawan umat kristiani, melihat kurangnya pengalaman hidup, ketakutan akan hal-hal yang bersifat mistik, kelelahan moral yang tak berkesudahan dan tuntutan yang berlebih-lebihan dan doktrin-doktrin ortodoks. Khususnya dalam tahun-tahun belakangan ini, kekristenan praktis direndahkan sampai dianggap hanya merupakan suatu sistem moral belaka. Syahadat iman, sebagai doktrin hidup dan sumber dan pengalaman religius dan mistik, telah ditinggalkan. Banyak yang kemudian dipengaruhi oleh moralisme yang keras kepala ini dan telah pergi untuk mencari kedamaian di tempat lain. Tetapi bukankah Kristus bersabda: “Datanglah kepadaKu, kalian semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang kupasang itu enak dan bebanKu pun ringan” (Mat 11:28-30).

Sebagai seorang Katolik, kita harus meninggalkan pengertian akan aspek iman sebagai kepercayaan yang kaku dan semata-mata hanya berupa ketaatan moral, dan mengembangkan iman sebagai hubungan pribadi berdasarkan kepercayaan, penyerahan dan kepasrahan seutuhnya kepada Allah. Sebab akibat dan iman yang keliru ini, penyembahan, hidup dan misi gereja telah dipadamkan, dan pengalaman akan Roh Kudus dan karyaNya dalam hidup kita dibatasi.
(bersambung)

 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting