header-carmelia17---Queen-of-Rosary01.jpgheader-carmelia17---Queen-of-Rosary02.jpg

Anak Itu Bertambah Besar dan Menjadi Kuat, Penuh Hikmat, dan Kasih Karunia Allah Ada Pada-Nya

User Rating:  / 0
PoorBest 

 

Bapak Yohanes (nama samaran) adalah orang desa dan pekerjaan sehari-hari sebagai buruh (tukang batu) sedangkan istrinya, Maria (nama samaran), untuk mendukung kebutuhan hidup berkeluarga dan suaminya, berjualan makanan sehari-hari pedesaan, khususnya di pagi hari, misalnya ‘sego gudangan” (nasi sayur tanpa kuah), bubur serta berbagai masakan dari bahan pokok ketela (gatot, tiwul dst.). Sebagai suami-istri mereka dianugerahi 4 anak. Ketika anak-anaknya masih kecil, apa yang diperoleh Yohanes dari kerja sebagai tukang batu dan Maria dari usahanya jualan makanan dapat mencukupi kebutuhan hidup keluarga, namun ketika anak-anaknya mulai belajar di sekolah menengah, kesulitan keuangan mulai muncul. Untuk kebutuhan makan dan minum sederhana setiap hari dapat tercukupi, tetapi untuk biaya pendidikan mereka harus cari usaha lain, antara lain dengan menggadaikan barang atau cari pinjaman. Bapak Yohanes dan ibu Maria bersama-sama berpegang teguh pada prinsip ini: ”Tidak ada harta benda atau kekayaan lain yang dapat kita wariskan kepada anak-anak kita, dan marilah kita wariskan pendidikan yang baik pada anak-anak, meskipun untuk itu harus kerja keras, prihatin, serta cari pinjaman atau bantuan dari orang lain.” Dengan kata lain pendidikan anak-anak menjadi prioritas di atas kebutuhan lainnya, misalnya perbaikan rumah, perabotan rumah dst. Yang penting dan utama adalah kebahagiaan dan kesejahteraan anak di masa depan, ketika mereka tumbuh berkembang menjadi dewasa. Dan memang benar apa yang dicita-citakan bapak Yohanes dan ibu Maria berbuah sebagaimana didambakan. Singkat cerita, 4 anaknya tumbuh berkembang menjadi pribadi dewasa yang cerdas beriman, bekerja sebagai guru atau pendidik di sekolah  dan masing-masing bergelar sarjana. Sebagai guru atau pendidik, anak-anak mereka disegani dan dikasihi oleh banyak orang karena mereka boleh dikatakan sebagai ‘man or woman for/with others’. 


“Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya” (Luk 2:40)
 

Hari Minggu setelah perayaan Natal kita rayakan atau kenangkan pesta “Keluarga Kudus: Yesus, Maria, Yosef”. Keluarga dibangun dengan oleh dan atas dasar cinta kasih; dalam dan oleh cinta kasih keluarga diharapkan tumbuh dan berkembang dalam menanggapi panggilan atau tugas pengutusan Tuhan. “Bertolak pada cinta kasih dan dengan selalu menunjuk kepadanya, Sinode terakhir menekankan empat tugas umum bagi keluarga:

 

1. Membentuk persekutuan pribadi-pribadi 

Kita semua adalah ‘manusia yang diciptakan oleh Allah sesuai dengan gambar atau citra-Nya’ dan dianugerahi roh/jiwa yang membuat kita tumbuh dan berkembang  menjadi pribadi-pribadi yang cerdas beriman. Pribadi cerdas pada umumnya dapat ‘survival’  dan sejahtera dalam lingkungan hidupnya macam apa pun. Sementara itu sebagai yang beriman “harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang" (1Pet 1:5-7). Untuk menambahkan keutamaan-keutamaan pada iman tersebut perlu berkomunikasi cinta kasih dengan yang lain, dan secara khusus komunikasi cinta kasih antar suami-istri yang meliputi: badan/tubuh, kepala/otak, hati, dan seks, maka hendaknya suami-istri saling mengasihi "dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu" (Luk 10:27). 

Persekutuan suami-istri adalah persekutuan cinta kasih, berdasarkan cinta kasih, yang diikat oleh cinta kasih, maka suami-istri diharapkan menjadi teladan atau saksi cinta kasih di dalam hidup sehari-hari, baik di dalam keluarga, masyarakat maupun tempat kerja.  Ingatlah bahwa masing-masing dari kita diciptakan oleh Allah dengan partisipasi bapak-ibu kita masing-masing dalam dan oleh kasih; masing-masing dari kita adalah ‘buah kasih’ atau ‘kasih’.  Maka panggilan atau tugas pengutusan untuk menjadi teladan atau saksi kasih sebenarnya mudah sekali karena masing-masing dari kita adalah kasih maka perjumpaan dengan siapa pun berarti perjumpaan antara kasih dengan kasih dan dengan demikian terjadilah pertemuan atau perjumpaan saling mengasihi. 

Sering kami mendengar bahwa orang sulit untuk saling mengasihi karena adanya perbedaan-perbedaan: selera, pendapat, rasa, usia, SARA, dst. Bukankah laki-laki dan perempuan masing-masing memiliki kepribadian yang berbeda, tubuh berbeda, usia berbeda, dst. Namun demikian saling tertarik untuk saling mendekat dan mengasihi?  Dengan kata lain perbedaan-perbedaan yang ada menjadi daya tarik untuk saling mendekat, saling bersahabat, dan saling mengasihi. Maka jika ada perbedaan-perbedaan antara suami-istri (selera, pendapat, rasa, pikiran, dst.), hendaknya menjadi  daya tarik untuk saling mengasihi bukan untuk saling menjauhi. Jutaan atau milyaran manusia yang diciptakan Allah di dunia ini tidak ada yang sama, dan meskipun dilahirkan kembar tetap ada perbedaan-perbedaan. Bahkan anggota tubuh kita yang berpasangan dan nampak sama pun sebenarnya tidak sama, demikian kata seorang dokter: panjang dua buah daun telinga, besar dua lobang hidung, besar dua buah dada perempuan, besar dua buah pelir laki-laki, dst. tidak sama persis (tidak percaya nanti ukur sendiri?!). Apa yang berbeda bersatu atau bersekutu akan menjadi sesuatu yang menarik dan memesona. 

 

2. Mengabdi kepada kehidupan 

Buah persekutuan pribadi-pribadi antara suami-istri melalui atau dengan komunikasi bahasa kepala/otak, hati, tubuh/badan, dan seks adalah ‘hidup baru’, seorang anak yang manis dan menarik. Dengan kata lain melalui kelahiran ‘hidup baru’ atau ‘anak’,  kiranya suami-istri juga semakin hidup dan bergairah, dan suasana hidup keluarga juga semakin meriah. Dalam hal ini suami-istri berpartisipasi dalam karya Penciptaan Allah alias melaksanakan sabda-Nya: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi" (Kej 1:28). Suami-istri pun juga semakin menyerahkan diri alias melayani atau mengabdi kepada anak-anaknya, bekerja keras demi masa depan anak. 

Anak tumbuh berkembang di dalam ‘rahim ibu/perempuan’ dan kiranya hanya dengan dan oleh kerahiman anak di dalam rahim tumbuh berkembang sehat dan kemudian dilahirkan. Maka tugas pengutusan untuk ‘mengabdi kepada kehidupan’ harus dijiwai oleh kerahiman, cinta kasih yang tidak mencari keuntungan diri sendiri. Dalam mendampingi anak yang tumbuh berkembang dalam rahim maupun melahirkannya, kiranya suami-istri, lebih-lebih bagi sang istri atau perempuan harus siap sedia untuk menderita, dan dengan demikian ambil bagian atau berpatisipasi dalam karya Tuhan dan menghayati sabda Yesus ini: “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu” (Yoh 16:20-22). 

Bersekutu dalam cinta kasih serta mengabdi kepada kehidupan kiranya bukan ‘menelusuri jalan tol yang bebas hambatan’ melainkan ‘menelusuri jalan terjal, berlubang serta berkelok-kelok’ penuh tantangan dan hambatan alias berpartisipasi dalam karya penyelamatan Yesus yang telah dihayati dalam dan melalui penderitaan serta wafat di kayu salib. Maka kasih atau kerahiman dalam hidup berkeluarga hemat saya perlu menghayati ajaran kasih dari Paulus ini: “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1Kor 13:4-7). Mengabdi kepada kehidupan berarti berbudaya hidup atau berbudaya kasih. 

 

3. Ikut serta dalam pengembangan masyarakat 

 Keluarga merupakan basis atau dasar hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Apa yang hidup, tumbuh, dan berkembang di dalam keluarga melalui anggota-anggota keluarga akan sangat berpengaruh dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Relasi antar suami-istri akan mempengaruhi relasi rekan kerja atau  berorganisasi, relasi antara kakak-adik akan mempengaruhi relasi senior dan yunior, relasi orang tua-anak akan mempengaruhi relasi atasan-bawahan/pemimpin-anggota, relasi anggota keluarga-pembantu rumah tangga akan mempengaruhi relasi terhadap orang-orang kecil, bodoh, miskin, dan kurang terperhatikan di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Maka baiklah kita perhatikan hidup berkeluarga kita masing-masing, sejauh mana keluarga kita berperanserta dalam pengembangan masyarakat, bangsa, dan negara. 

Salah satu ciri khas hidup bersama yang baik ditandai komunikasi yang baik. Dalam ber-KOMUNIKASI ada proses MADU->ADU->PADU. MADU berciri khas manis, enak, dan menyehatkan; rasanya masing-masing dari kita akan merasa menjadi yang termanis, terenak, dan paling menyehatkan  Namun hal itu masih bersifat subjektif, maka ketika bertemu dengan orang lain ada kemungkinan tidak cocok, berbeda, atau bertengkar alias ADU (bertengkar). Memang untuk menjadi PADU, bersatu, dan bersahabat sering harus melalui pertengkaran, cekcok, atau gesekan yang menyakitkan. Jika hal ini kita kenakan dalam perjalanan hidup berkeluarga, kiranya MADU terjadi ketika masa pacaran dan tunangan, sedangkan ADU terjadi pada masa balita perkawinan untuk menjadi PADU, dan PADU sejati mulai dialami setelah berhasil menelusuri balita perkawinan dengan baik. 

Komunikasi memang merupakan sesuatu yang sangat menentukan pertumbuhan dan perkembangan hidup bersama. Komunikasi yang kemudian menjadi komunio dan komunitas berasal dari akar kata bahasa Latin “communicare”,  yang antara lain berarti membagi sesuatu dengan seseorang, memberikan sebagian kepada seseorang, bertukaran, membicarakan sesuatu dengan seseorang, tukar pikiran, bercampur/berhubungan/bersekutu dengan seseorang, ambil bagian dalam. Sejauh mana arti-arti dari ‘communicare’ tersebut terjadi di dalam kehidupan keluarga kita masing-masing, melalui dan dalam diri semua anggota keluarga? 

Sarana atau alat-alat komunikasi berkembang begitu pesat pada masa kini, dan melalui sarana atau alat-alat komunikasi kita antara lain dapat mengetahui bahwa masih banyak pertentangan, permusuhan, balas dendam/kebencian entah di dalam keluarga khususnya maupun masyarakat pada umumnya. Pengamatan saya: sarana dan alat-alat komunikasi yang berkembang pesat juga diiringi atau disertai perkembangan dan pemantapan egoisme yang memperporak-porandakan dan memecah belah hidup bersama. Komunikasi yang terjadi lebih diwarnai oleh kepentingan bisnis, materi dan diri sendiri, masih didominasi oleh penghayatan pada tingkat psiko-fisik atau psiko-sosial jauh dari psiko-spiritual, didominasi oleh yang ‘berharta/kaya, berkedudukan dan terhormat di masyarakat’ alias lebih bersifat top -> down bukan bottom ->up. “Apa yang keluar dari mulut berasal dari hati” (Mat 15:18), demikian sabda Yesus, dengan kata lain ada yang ada di dalam hati kita sangat menentukan cara kita berkomunikasi maupun isi komunikasi. 

Apa yang ada di dalam hati kita/orang?   “Dari hati (orang) timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat” (Mat 15:19). Jika yang ada di dalam hati kita apa yang jahat dan tidak bermoral tersebut marilah kita bertobat. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus kita dipanggil untuk meneladan HatiNya, yang tertusuk oleh tombak serta mengalirkan darah dan air, lambang sakramen-sakramen Gareja yang menyelamatkan dan membahagiakan.  Meneladan Hati Yesus berarti hidup dari dan oleh Roh Kudus, sehingga menghasilkan buah-buah Roh yaitu: “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal  5:22-23). Keutamaan-keutamaan sebagai buah Roh ini hendaknya menjiwai cara hidup, cara berkomunikasi kita di dalam keluarga kita masing-masing, sehingga kemudian menjiwai seluruh anggota keluarga dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 

 

4. Berperanserta dalam kehidupan dan misi Gereja” (Paus Yohanes Paulus II: Anjuran Apsotolik “Familiaris Consosrtio”, 22 November 1981, no. 17) 

Sebagaimana keluarga menjadi basis atau dasar hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, demikian pula keluarga katolik menjadi miniatur Gereja atau ‘Gereja mini’. Kehidupan dan misi Gereja tergantung dari kehidupan dan misi keluarga-keluarga Katolik.  Gereja adalah ‘paguyuban atau komunitas hidup beriman’ yang sangat tergantung dari ‘paguyuban atau komunitas hidup beriman terkecil’ yang menjadi basis, yaitu keluarga Katolik. Peran keluarga Katolik dalam rangka berpartisipasi dalam kehidupan dan misi Gereja hemat saya dapat  dilaksanakan atau dihayati dengan gerakan ‘dialog kehidupan’, ‘dialog kerja’ dan ‘dialog iman’, baik di dalam keluarga sendiri maupun di dalam masyarakat pada umumnya. 

Dengan menghayati 4 (empat) tugas umum keluarga di atas kiranya anak-anak yang dianugerahkan oleh Allah kepada suami-istri akan tumbuh berkembang dan  “bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada mereka”.” 

Karena iman ia (Abraham) juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia.Itulah sebabnya, maka dari satu orang, malahan orang yang telah mati pucuk, terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya” (Ibr 11:11-12). 

Para bapak-ibu/suami-istri kiranya mendambakan anak cucu atau keturunannya  berjumlah besar “seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya”. Tentu saja tidak hanya jumlah besar yang didambakan tetapi keturunannya menjadi ‘bintang’ yang bersinar terang, menjadi penuntun jalan hidup bagi sesamanya meskipun ia hanya kecil bagaikan sebutir pasir di tepi laut. Agar anak-anak serta keturunan tumbuh berkembang menjadi ‘bintang kehidupan yang menyelamatkan dan membahagiakan’ maka hidup suami-istri harus dijiwai oleh iman dan secara konkrit setia menghayati atau melaksanakan janji perkawinan “saling setia mengasihi baik dalam untung maupun malang, sehat maupun sakit serta bersama-sama mendidik anak-anak yang dianugerahkan oleh Allah secara Katolik, berdasarkan ajaran-ajaran Gereja Katolik”. 

Kami mendambakan bahwa dari keluarga-keluarga katolik muncul ‘bintang-bintang kehidupan secara khusus’, yaitu dari anak-anak anda ada yang terpanggil untuk menjadi  imam, bruder atau suster, dan secara umum anak-anak dan keturunan seterusnya tumbuh berkembang menjadi ‘man or woman for/with others’. Salah satu cara atau usaha untuk menumbuhkan hidup terpanggil macam itu antara lain anak-anak dibina dan dididik dalam hal ‘kepekaan sosial dan tidak egois’. “Lebih peduli kepada orang lain. Belajar merasakan kebersamaan dan kasihan kepada orang lain. Empati, toleransi dan rasa persaudaraan. Peka terhadap kebutuhan orang lain dan situasi” (Linda & Richard Eyre : Mengajarkan nilai-nilai  kepada anak,  Gramedia – Jakarta 1997, hal. 136). 

Kepekaan sosial dan tidak egois ini sedini mungkin hendaknya dibinakan atau dibiasakan dalam diri anak-anak di dalam keluarga, dengan kata lain diusahakan kaderisasi sedini mungkin. Seorang kader adalah orang yang fungsional menyelamatkan lingkungan hidupnya. Maka baiklah sedini mungkin anak-anak difungsikan dalam kehidupan dan kebutuhan bersama. Sebagai contoh: ketika anak-anak dapat mengurus tempat tidur dan selimut sendiri hendaknya setiap hari diminta mengurusnya dengan baik, ketika anak-anak mulai dapat menyapu hendaknya diberi tugas kebersihan tempat-tempat tertentu, dan seterusnya seperti mencuci alat-alat makan dan minum, pakaian dll. Jauhkan aneka macam bentuk pemanjaan pada anak-anak. Di beberapa sekolah ada program kegiatan ‘live in’, yaitu para peserta didik diajak ‘merasakaan kebersamaan dan kasihan kepada orang lain’ terutama yang miskin dan berkekurangan, antara lain dengan tinggal dan bekerja bersama dengan orang-orang/anak-anak pedesaan atau pegunungan yang miskin. Tentu saja ‘live in’ ini lebih bagi sekolah-sekolah yang berada di kota-kota besar, sedangkan sekolah-sekolah di pedesaan kiranya dapat diusahakan dengan bentuk lain, misalnya gerakan kebersihan lingkungan desa dimana sekolah berada, dst. 

“Allah kita di sorga; Ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya! Berhala-berhala mereka adalah perak dan emas, buatan tangan manusia, mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berkata-kata, mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat, mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengar, mempunyai hidung, tetapi tidak dapat mencium” (Mzm 115:3-6). 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting