header-carmelia17---lent-2014-01.jpgheader-carmelia17---lent-2014-02.jpg

Siapa Ibu-Ku dan Siapa Saudara-Ku?

User Rating:  / 2
PoorBest 

“Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia. Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya: "Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau." Jawab Yesus kepada mereka: "Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?" Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku."(Mrk 3:31-35).



Perikop Kitab Suci: Ibr 10:1-10; Mrk 3:31-35

Berefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

  • Nepotisme dan kolusi sering atau banyak terjadi dalam berbagai usaha atau kegiatan, namun hemat saya asal tidak korupsi tidak apa-apa dan ada kemungkinan ikatan persaudaraan yang telah baik tersebut diperteguh atau diperkuat sehingga usaha atau kegiatan mereka semakin efisien, efektif dan afektif. Yang pokok, terutama dan pertama-tama adalah ‘melakukan kehendak Allah’, sebagaimana disabdakan oleh Yesus. Kehendak Allah dalam usaha atau kegiatan atau bersama antara lain dapat kita temukan dalam aneka tatanan atau aturan yang baik dan adil, yang terkait dalam usaha, kegiatan atau hidup bersama tersebut serta dalam diri sesama atau saudara-saudari kita yang berkehendak baik. Maka marilah kita lihat, cermati, pahami dan hayati dengan baik aneka tatanan dan aturan yang terkait dengan usaha, kegiatan dan hidup kita, jauhkan dan berantas aneka cara hidup dan cara bertindak yang hanya mengikuti selera pribadi, apalagi korupsi. Dengan kata lain marilah kita tegakkan dan hayati disiplin, yaitu “kesadaran akan sikap dan perilaku yang sudah tertanam dalam diri, sesuai dengan tata tertib yang berlaku dalam suatu keteraturan secara berkesinambungan yang diarahkan pada suatu tujuan atau sasaran yang telah ditentukan” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit:  Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka-Jakarta 1997, hal 10). Selain berdisiplin juga penting mendengarkan dan mengakui kehendak baik dari saudara-saudari kita; kehendak baik merupakan wujud kehendak Allah dalam dan melalui orang yang berbudi pekerti luhur. Rasanya semua orang, kita semua, memiliki kehendak baik, maka marilah kita komunikasikan atau bagikan kepada saudara-saudari kita, dan kemudian kita sinerjikan untuk membangun dan memperdalam persaudaraan atau persahabatan sejati dalam usaha, kegiatan maupun hidup bersama.
  • "Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.” (Ibr 10:9). Kutipan ini baik kita renungkan atau refleksikan dan mungkin baik juga ditulis lebih besar serta diletakkan di atas meja kerja, pintu masuk rumah/kantor, di kamar maupun toilet/kamar mandi, dst. Kita meneladan Yesus yang datang ke dunia untuk menyelamatkan dunia seisinya, dengan berusaha sekuat tenaga, bersama-sama serta bantuan rahmat Tuhan ke tempat manapun atau dimanapun kita datang untuk menyelamatkan apa yang tidak selamat, membereskan apa yang tidak beres, membetulkan apa yang salah, dst.. Pertama-tama dan terutama marilah kita perhatikan rumah tangga/keluarga kita masing-masing maupun tempat kerja/belajar dimana kita sibuk di dalamnya. Setiap kali memasuki rumah atau kamar di rumah kita hendaknya dengan semangat “Sungguh aku datang untuk melakukan kehendakMu”, demikian juga ketika memasuki tempat kerja atau belajar. Kehendak Allah yang pertama dan utama bagi kita semua adalah agar kita saling mengasihi satu sama lain. Untuk melaksanakan kehendak Allah ini kiranya tidak sulit asal masing-masing dari kita menyadari dan menghayati diri sebagai ‘yang terkasih’, yang diciptakan oleh Allah dalam kasih dan hanya dapat tumbuh berkembang dalam dan oleh kasih. Karena masing-masing dari kita adalah ‘yang terkasih’, maka bertemu atau berjumpa dengan siapapun berarti yang terkasih bertemu dengan yang terkasih dan dengan demikian secara otomatis saling mengasihi. “Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.anes  Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih” (1Yoh 4:7-8), demikian pesan Yohanes dalam suratnya. Tidak saling mengasihi berarti tidak mengenal atau mengimani Allah alias tidak beriman atau kafir.

 

“Aku sangat menanti-nantikan TUHAN; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong. Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku, Ia memberikan nyanyian baru dalam mulutku untuk memuji Allah kita. Banyak orang akan melihatnya dan menjadi takut” (Mzm 40:2-4ab)

 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting