header-carmelia17---advent-01.jpgheader-carmelia17---advent-02.jpg

Kisah Seorang Janda di Sarfat Raja-Raja 17;7-24

User Rating:  / 16
PoorBest 

Sarfat adalah suatu tempat yang panas dan kering di daerah Phoenicia. Saat ini dikenal sebagai Libanon. Di sana tampak seorang janda muda berjalan menuju keluar kota hendak mengumpulkan ranting-ranting kering yang jatuh dari pepohonan hutan yang kala itu sudah mengering. Daerah Sarfat sudah mengalami kekeringan yang cukup lama, langit yang tampak cerah dan biru tak berawan seakan menghapus harapan akan turunnya hujan, walaupun hujan turun tetapi barang kali sudah terlambat bagi si janda Sarfat.

Kota ini sudah tidak mengalami musim hujan sudah kurang lebih 2 tahun. Sebelumnya tidak ada seorang pun yang menyukai kelembapan yang menusuk tulang sepanjang minggu-minggu yang diguyur hujan pada musim semi, akan tetapi hujan sekarang sangat ditunggu-tunggu. Tanam-tanaman dan rumput liar dipadang saat itu sudah menjadi kecoklatan dan dedaunan hutan sudah banyak yang berguguran seolah-olah ikut mengalami penderitaan si janda. Imam baal dikawasan itu sudah di minta untuk menenangkan kemurkaan dewa kota, agar hujan dapat mengembalikan kehidupan di bumi, beberapa upacara ritual sudah diadakan, tetapi dewa kota itu yaitu dewa “Phoenicia’’ seolah-olah masih tetap menahan turunnya hujan.

Semua daerah dekat Phoenicia mengalami kekeringan. Pada saat itu rupanya ALLAH telah mendengar doa dari seorang Nabi besar yaitu Nabi Elia: Elia  telah bersunggu-sunggu berdoa supaya hujan jangan  turun dan hujanpun tidak turun di bumi selama 3 tahun dan 6 bulan (Yak 5:17). Dalam ceritera kitab suci tidak dirincikan dengan jelas siapa nama si janda itu, dari keturunan siapa dan golongan mana tetapi yang pasti Tuhan ingin menyelamatkannya. Hidup si janda memang sangat sulit dan ia tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sebelum kekeringan melanda daerahnya, dan sekarang rasanya hampir mustahil untuk dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokoknya.

Matahari membakar dengan teriknya memenuhi seluruh wilayah phoenicia, akan tetapi bagi si janda, masalah utamanya bahwa ia hanya mempunyai sedikit makanan untuk dapat menopang hidup selama masa kekeringan yang belum pasti kapan berakhirnya. Dalam benaknya muncul pikiran untuk berpasrah pada nasib yang dideritanya. Ia mengambil kayu bakar dua tiga potong untuk membuat perapiannya yang terakhir, dan kemudian seperti para pendahulunya mereka akan mencari tempat yang tenang untuk menunggu kematian, karena kelaparan hebat semakin menggerogoti mereka.

Ditengah derap langkah kakinya dibawa panasnya terik matahari terdengar suara lemah tetapi pasti yakni suara seorang lakil-aki dibelakangnya: ”Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi supaya aku minum “(1raja-raja 17;10). Janda itu sedikit tersentak ketika mendengar suara itu, lalu memalingkan wajahnya ke arah dari mana suara itu berasal dan ketika dilihatnya orang tersebut ia pun menaruh belaskasihan padanya dan menuangkan air dalam kendi untuk diberikan kepadanya dan ketika ia menuangkan air, laki-laki itu kembali berkata: “cobalah ambil juga bagiku sepotong roti” (1 Raja - Raja 17:11). 

Membantu dan merawat orang asing adalah sifat umum yang di miliki oleh rakyat dalam kota itu. Tetapi sekarang bagi si janda, tidak ada makanan untuk di makan, apa yang ia miliki tidak cukup untuk membuat dirinya dan anaknya untuk tetap hidup. Bagaimana ia dapat memberikan yang sedikit itu kepada orang yang dihadapannya ? Tetapi ia dengan suara yang lembut dan ramah mulai menjelaskan kepada orang asing itu bahwa ia tidak mempunyai roti, tetapi yang ia punyai hanyalah sedikit tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli (1 Raja-Raja 17:12a). Ia sedang menyiapkan makanan terakhir untuknya dan anak kesayangannya. Saat si janda mencoba meyakinkan orang asing itu, dari dirinya seolah-olah ada dorongan untuk harus melakukan sesuatu bagi orang asing itu. 

Penampilan orang itu meyakinkan kesadarannya bahwa orang itu lebih membutuhkan makanan dari pada dirinya saat itu. Ia sungguh tidak menyadari bahwa orang yang di hadapannya telah tinggal di sebuah aliran sungai yang telah mengering, dan ia bertahan hidup dari daging dan roti yang dibawa oleh burung-burung gagak (1 Raja-Raja 17:6). Orang asing itupun kembali berkata: ”Janganlah takut, pulanglah buatlah seperti yang engkau katakan, tetapi buatlah lebi dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kau buat bagimu dan bagi anakmu”. (1 Raja-Raja 17;13). 

Dan untuk memotivasi si janda sang Nabi kembali meyakinkannya dengan mengutarakan janji ALLAH: ”Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli pun tidak akan berkurang sampai pada waktu Tuhan memberikan hujan ke atas muka bumi (1 Raja-Raja 17:14). Janda itu mungkin tertawa dalam hati mendengar janji dari orang asing itu yang kelaparan dihadapannya. Tetapi ia mempunyai suatu keyakinan bahwa ia nantinya toh akan mati baik dengan adanya makanan atau tidak saat itu. Jadi mengapa ia tidak membagikannya kepada orang lain yang sangat kelaparan  kendatipun sedikit?

Ketika ia berjalan pulang dengan susah paya kerumahnya bersama orang asing itu, janda yang baik hati itu masih belum mengetahui bahwa tamunya adalah seorang nabi ALLAH. Ia hanya mengetahui bahwa orang asing itu kelaparan dan membutuhkan pertolongan. Nabi Elia pun tinggal di rumah si janda untuk beberapa waktu lamanya: ”Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman Tuhan “. (1 Raj 17;1). Rencana Tuhan terlaksana atas diri si janda dan anaknya yang sakit keras dan hampir mati, tetapi nabi Elia kembali berseru kapada ALLAH dan anak itu pun menjadi sembuh (1 Raj 17;20-22). Atas segala mujizat ALLAH yang terjadi membuat mata hati Si janda terbuka dan mengakui sungguh bahwa  Elia adalah benar-benar Nabi Allah dan bahwa ”Tuhan yang Nabi Elia katakan itu adalah benar” (1 Raja-Raja 17:24).

 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting