Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/k5444188/public_html/plugins/content/jplayer/jplayer.php on line 32

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Pengertian tentang Persepuluhan

Dewasa ini yang dimaksud dengan “persepuluhan” (atau “persembahan persepuluhan”) adalah memberikan sepersepuluh atau 10 % dari seluruh penghasilan kepada Tuhan, melalui Gereja, para religius, ataupun melalui karya-karya cinta kasih lainnya, dll.

Wajibkah Seorang Katolik Mempraktikkan Persepuluhan?

Ada yang mengatakan bahwa persepuluhan termasuk perintah Gereja, sehingga perintah Gereja Katolik bukan lima, melainkan enam. Hal ini tidak benar. Dalam Katekismus Gereja Katolik no. 2041-2043 kita bisa melihat kelima perintah Gereja Katolik. Dan, di bawah kelima perintah Gereja tersebut, ditambahkan: “Umat beriman juga berkewajiban menyumbangkan untuk kebutuhan material Gereja sesuai dengan kemampuannya” (Katekismus Gereja Katolik, no. 2043). Jadi, Gereja Katolik mewajibkan umat beriman untuk memberi persembahan, tetapi tidak menentukan jumlahnya.

Kitab Hukum Kanonik (Codex Iuris Canonici) juga mengatakan:

·           “Kaum beriman kristiani terikat kewajiban untuk membantu memenuhi kebutuhan Gereja, agar tersedia baginya apa yang perlu untuk ibadah ilahi, karya kerasulan serta amal kasih dan nafkah yang wajar bagi para pelayan rohani” (Kan. 222 #1).

·           “Mereka juga terikat kewajiban untuk memajukan keadilan sosial dan juga, mengingat perintah Tuhan, membantu orang-orang miskin dengan penghasilannya sendiri” (Kan. 222 #2).

·           “Dalam menggunakan hak-haknya kaum beriman kristiani, baik sendiri-sendiri maupun tergabung dalam perserikatan, harus memperhatikan kesejahteraan umum Gereja dan hak-hak orang lain serta kewajiban-kewajibannya sendiri terhadap orang lain” (Kan. 223 #1).

Memang masalah wajib atau tidaknya praktik persepuluhan ini menjadi bahan perdebatan yang berkepanjangan dan cukup rumit. Mari sekilas kita menelusuri lika-liku praktek persepuluhan ini.

Persepuluhan dalam Perjanjian Lama

Dalam Perjanjian Lama ayat pertama tentang persepuluhan ini kita temukan dalam Kitab Kejadian yang mengisahkan Abraham, setelah menang atas para musuhnya, mempersembahkan “sepersepuluh dari semuanya” (bdk. Kej 14:17-20) kepada Melkisedek. Melkisedek—seorang raja dan sekaligus seorang imam Allah Yang Mahatinggi—saat itu mempersembahkan roti dan anggur sebagai ucapan syukur atas kemenangan Abraham dan memberkati Abraham. Namun, ini bukanlah awal praktek memberikan 10% dari penghasilan kepada para imam, karena tampaknya pada masa itu praktik ini sudah merupakan suatu kebiasaan.

Kitab Kejadian juga mengisahkan Yakub yang bernazar kepada Tuhan untuk memberikan sepersepuluh (bdk. Kej 28:20-22) dari segala sesuatu yang Tuhan berikan kepadanya. Singkatnya, praktek persepuluhan begitu sering ditemukan dalam Perjanjian Lama karena memang praktek ini sangat ditekankan dalam Perjanjian Lama, khususnya dalam Kitab Imamat, Kitab Bilangan, dan Kitab Ulangan. Misalnya:

·           “Haruslah engkau benar-benar mempersembahkan sepersepuluh dari seluruh hasil benih yang tumbuh di ladangmu, tahun demi tahun” (Ul 14:22).

·           “Demikian juga segala persembahan persepuluhan dari tanah, baik dari hasil benih di tanah maupun dari buah pohon-pohonan, adalah milik TUHAN; itulah persembahan kudus bagi TUHAN” (Im 27:30).

·           “Mengenai bani Lewi, sesungguhnya Aku berikan kepada mereka segala persembahan persepuluhan di antara orang Israel sebagai milik pusakanya, untuk membalas pekerjaan yang dilakukan mereka, pekerjaan pada Kemah Pertemuan” (Bil 18: 21).

Hukum Taurat Musa mewajibkan praktik persepuluhan ini dan praktik ini tetap berlanjut pada jaman para nabi dan raja-raja Israel (bdk. 2Taw 31:5.6.12; Neh 10:37-38; 12:44; 13:12; Mal 3:7-10).

Konon praktek persepuluhan ini juga umum dilakukan oleh masyarakat kuno Yunani, Roma, Lidia, Arabia, Babilonia, dan Persia, yang mempersembahkannya kepada dewa-dewi mereka. Dan, mengapa sepersepuluh? Angka sepuluh dianggap dasar sistem numerik, sehingga melambangkan totalitas. Maka, dianggap layak mempersembahkan sepersepuluh dari semua berkat kepada sang penguasa totalitas.

Persepuluhan dalam Perjanjian Baru

Berbeda dengan Perjanjian Lama, praktik persepuluhan jarang kita jumpai dalam ayat-ayat Perjanjian Baru.

 

Dalam tulisan St. Paulus

Menelusuri tulisan-tulisan St. Paulus, kita akan menemukan bahwa St. Paulus tidak menekankan praktik persepuluhan, walaupun ia menegaskan bahwa umat beriman perlu menyokong hidup para pelayan tempat kudus dan para pewarta Injil: “Tidak tahukah kamu, bahwa mereka yang melayani dalam tempat kudus mendapat penghidupannya dari tempat kudus itu dan bahwa mereka yang melayani mezbah, mendapat bahagian mereka dari mezbah itu? Demikian pula Tuhan telah menetapkan, bahwa mereka yang memberitakan Injil, harus hidup dari pemberitaan Injil itu” (1Kor 9:13-14). Menurutnya, jumlah persembahan itu menurut kerelaan hati: “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2Kor 9:7).

Kenyataan bahwa St. Paulus tidak menekankan praktik persepuluhan terasa mengherankan jika kita mengingat bahwa St. Paulus adalah seorang Yahudi yang sejak masa mudanya hidup sebagai seorang Farisi dengan mazhab yang paling keras (bdk. Kis 26:3-4). Namun, keheranan ini terjawab dalam 1Kor 9:21, dimana St. Paulus mengatakan bahwa dia hidup menurut Hukum Kristus. Jika praktik persepuluhan diwajibkan oleh Yesus, tentu St. Paulus juga akan menekankan praktik ini.

Dalam Injil

Beberapa orang menafsirkan kata-kata Yesus dalam Injil Matius dan Lukas sebagai suatu dasar bahwa Yesus mewajibkan praktik persepuluhan ini:

“Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan” (Luk 11:42; bdk. Mat 23:23).

Namun, kita perlu melihat konteks ayat-ayat tersebut. Saat itu Yesus sedang menghadapi dan mengecam orang-orang Farisi. Hal ini bisa kita umpamakan seperti berikut: Yesus datang ke suatu daerah lalu berdialog dengan masyarakat di situ. Masyarakat ini mempunyai praktik adat/tradisi/kebiasaan mereka sendiri. Dalam dialog itu mereka bertanya kepada Yesus tentang salah satu praktik mereka itu dan Yesus mengatakan bahwa praktik itu baik dan perlu mereka lakukan, tetapi mereka juga harus mengingat nilai-nilai luhur yang seharusnya menjiwai praktik tersebut. Kata-kata Yesus ini ditujukan kepada masyarakat itu dan hal ini tidak berarti bahwa semua bangsa harus melakukan praktik mereka yang dibenarkan oleh Yesus. Demikianlah gambaran konteks kata-kata Yesus di atas. Yesus sedang menyoroti praktik keagamaan orang Farisi. Bahkan, sebetulnya para ahli Taurat sadar bahwa saat itu Yesus sedang berbicara kepada orang Farisi saja, maka ketika isi kecaman Yesus juga menyinggung mereka, mereka protes. Dan, Yesus yang semula hanya mengecam orang Farisi lalu mengecam para ahli Taurat juga:

“Seorang dari antara ahli-ahli Taurat itu menjawab dan berkata kepada-Nya: ‘Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga.’ Tetapi Ia menjawab: ‘Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun’” (Luk 11:45-46).

Selain itu, dalam perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai (lih. Luk 18:9-14) dikisahkan bahwa Allah membenarkan si pemungut cukai, padahal tidak dikatakan apakah si pemungut cukai ini memberi persepuluhan atau tidak. Sebaliknya, biarpun dikatakan bahwa si orang Farisi itu memberi persepuluhan, namun ia tidak dibenarkan Allah. Hal ini menunjukkan bahwa benar atau tidaknya seseorang di hadapan Allah tidak ditentukan oleh persepuluhan.

 

Aspek “Interioritas”

Yesus datang tidak untuk meniadakan Hukum Taurat, melainkan menggenapinya, menyempurnakannya (lih. Luk 6:27-37 tentang “Yesus dan hukum Taurat”). Salah satu aspek penyempurnaannya adalah aspek “interioritas”. Maksudnya, perbuatan lahiriah saja tidak cukup, Tuhan melihat hati.

Ketika orang Farisi heran melihat Ia tidak mencuci tangan sebelum makan, Yesus berkata kepadanya, “Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan. Hai orang-orang bodoh, bukankah Dia yang menjadikan bagian luar, Dia juga yang menjadikan bagian dalam? Akan tetapi, berikanlah isinya sebagai sedekah dan sesungguhnya semuanya akan menjadi bersih bagimu. Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan” (Luk 11:39-42).

Sebenarnya yang dimaksud Yesus dengan “isinya” di sini adalah “bagian dalam” diri kita. Ingatlah sabda-Nya “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu” (Mrk 12:30). Oleh karena itu, Dia berkata bahwa jika kita memberikan “isi/bagian dalam” ini, yaitu kita memberikan segenap hati, jiwa, akal budi, kekuatan kita, maka semuanya akan menjadi bersih. Jika segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan kita dipenuhi cinta kepada Tuhan (berarti: diserahkan kepada Tuhan) maka pastilah semuanya (bagian luarnya) juga bersih. Bagian luar ini, misalnya, sikap, kata-kata, dan perbuatan kita. Kenapa? Karena dari hatilah timbul segala pikiran jahat yang akan meluap keluar dalam sikap, kata-kata, dan perbuatan kita (bdk. Mat 15:17-20). Jika hati kita dijiwai cinta kepada Tuhan maka seluruh sikap, kata-kata, dan perbuatan kita juga merupakan ungkapan cinta kepada Tuhan, dan dengan sendirinya ini merupakan persembahan kepada Tuhan. Oleh karena itu, sangat tepatlah ayat ini: “mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan” (Mrk 12:33).

Dengan demikian, sebenarnya Yesus menyatakan bahwa tidak cukup memberi Allah hanya 10% dari penghasilan kita, juga tidak cukup 10% dari diri kita, tetapi 100%, “segenap, segenap, segenap, dan segenap”!

Namun, Yesus tidak mewajibkan kita untuk memberi persepuluhan bukan berarti Yesus melarang kita untuk memberi persembahan ataupun persepuluhan. Sebaliknya, Yesus menghendaki kita murah hati seperti Bapa (bdk. Luk 6:36). Yang penting disertai “interioritas” yang benar. Berikut ini beberapa point tentang “interioritas” yang seharusnya dimiliki dalam memberi persembahan, baik persepuluhan maupun bukan.

Aspek “Interioritas” Suatu Persembahan

1. Cinta kepada Tuhan

Persembahan kita seharusnya didasari cinta kepada Tuhan. Dengan memberi persembahan, kita mau menyenangkan dan memuliakan Tuhan dengan harta dan penghasilan kita:

“Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu” (Ams 3:9; bdk Mzm 96:8).

Jadi, persembahan adalah sarana untuk mengungkapkan cinta pada Tuhan. Sarana ini bisa disalahgunakan menjadi sarana untuk cinta diri, misalnya demi gengsi/kehormatan/nama baik ataupun untuk motivasi-motivasi yang lain, sehingga bukan demi kemuliaan Tuhan tetapi “demi kemuliaanku”.

2. Rendah hati dan bersyukur

Persembahan seharusnya merupakan ungkapan syukur kepada Tuhan atas segala sesuatu yang telah kita terima dari-Nya. Sikap bersyukur ini juga didasari kerendahan hati yang mampu melihat bahwa segala berkat berasal dari Dia dan bahwa Dialah yang mempunyai segala sesuatu (bdk. Ul 8:18; Mzm 24:1).

Ada orang yang justru mempunyai sikap yang “sebaliknya” dalam memberi persepuluhan: bukan bersyukur atas berkat yang telah diterima, melainkan supaya memperoleh kembali dengan berlipat ganda. Sikap ini tentunya kurang tepat. Bayangkan jika seorang teman Anda memberi Anda sesuatu, tetapi dengan maksud supaya Anda memberi dia kembali berlipat ganda, bagaimana perasaan Anda? Bandingkan dengan teman yang memberi Anda dengan motivasi untuk menyenangkan Anda. Sikap mana yang didasari cinta yang tulus kepada Tuhan? Sikap rendah hati juga berarti kita tidak merasa diri “hebat” (karena telah memberi persembahan) dan memandang rendah orang lain (lih. Luk 18:9-14).

3. Cinta kepada Sesama

Cinta kepada Tuhan yang otentik akan selalu melahirkan cinta kepada sesama. Persembahan kita juga merupakan cinta dan kepedulian kita terhadap Gereja dan sesama kita. Persepuluhan ataupun persembahan lainnya tidak harus diserahkan kepada Gereja, bisa saja diberikan untuk orang miskin ataupun melalui karya-karya cinta kasih lain.

Orang sering mengira bahwa dosa itu hanya disebabkan karena melakukan sesuatu, padahal orang bisa berdosa justru karena tidak melakukan apa-apa. Dalam perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus yang miskin (lih. Luk 16:19-30) tidak dikatakan bahwa si orang kaya tersebut mencuri, korupsi, dll. Dosa si orang kaya ini adalah dosa ketidakpedulian terhadap sesama. Ia menutup hati terhadap si Lazarus miskin yang ada di depan matanya.

 

Penutup

Walaupun Gereja Katolik hanya mewajibkan persembahan sukarela, namun jikalau situasi dan kondisi Anda memungkinkan untuk memberi persepuluhan, alangkah baiknya jika Anda melakukannya. Karena dengan persembahan, kita juga mau mengatakan bahwa kita tidak mengabaikan Allah dalam (mengatur) perekonomian kita. Salah satu contoh mengabaikan Allah dalam perekonomian kita adalah: kita membelanjakan sejumlah besar uang untuk bersenang-senang, hobi, rekreasi, dll, lalu kalau masih ada sisanya barulah kita memikirkan Tuhan dan sesama.

Akan tetapi, jikalau situasi dan kondisi Anda tidak memungkinkan untuk memberi persepuluhan tidak perlu Anda merasa bersalah. Situasi dan kondisi dalam contoh di atas tentu berbeda dengan situasi dan kondisi seorang janda miskin yang pekerjaannya menjahit dan harus mencari nafkah untuk tiga orang anaknya. Yesus melanggar peraturan hari Sabbat demi cinta kasih (untuk menyembuhkan orang). Ia juga membenarkan Daud dan pengikut-pengikutnya yang memakan roti sajian dalam bait Allah yang hanya boleh dimakan oleh para imam (bdk. Luk 6:3-4).

Entah Anda memberikan persepuluhan ataupun tidak, berusahalah untuk senantiasa menyenangkan dan memuliakan Allah dalam segala sesuatu yang Anda lakukan, dengan demikian seluruh diri dan hidup Anda merupakan suatu persembahan kepada Tuhan dan Anda memenuhi kerinduan Yesus untuk memiliki Anda 100% !

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting