Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/k5444188/public_html/plugins/content/jplayer/jplayer.php on line 32

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

Istilah purgatorium (pemurnian) merupakan satu istilah yang berkaitan erat dengan istilah surga dan neraka. Agar dapat memahami purgatorium dengan baik dan benar, orang harus memahami surga dan neraka secara baik dan benar. Surga merupakan keadaan atau tempat para suci menikmati damai dan kebahagiaan kekal dalam memandang dan mencintai Allah. Dengan sebutan surga sebenarnya ingin mengungkapkan kebahagiaan manusia dalam kesatuannya dengan Allah. Dengan demikian bagi kita surga pada hakekatnya berarti partisipasi dalam kebangkitan Kristus. Jika surga dilihat sebagai kesatuan manusia dengan Allah, sebagai pemenuhan sempurna hidup manusia sebagai kebahagiaan, dapat memandang dan mencintai Allah maka inti neraka ialah tidak memandang Allah selama-lamanya. Neraka ialah keadaan atau tempat para pendosa yang tidak bertobat, menderita untuk selama-lamanya dan terpisah dari hadirat Allah karena dia menolak Allah. Apabila surga sebagai kesatuan manusia dengan Allah dan nereka sebagai keterpisahan manusia dengan Allah maka apa yang dimaksudkan dengan api penyucian atau pemurnian?

Paham Gereja Katolik tentang Purgatorium

Gereja memahami api penyucian (purgatorium) sebagai suatu keadaan orang yang mati dalam rahmat dan dalam persahabatan dengan Allah, namun belum disucikan sepenuhnya. Mereka sudah pasti akan memperoleh keselamatan abadinya, tetapi mereka masih harus menjalankan satu penyucian untuk memperoleh kekudusan yang perlu, supaya dapat masuk ke dalam kegembiraan surga (KGK 1030). Api Penyucian itu sangat berbeda dengan neraka atau siksa para terkutuk yang menolak Allah secara definitif.

Tradisi Gereja berbicara tentang api penyucian dengan berpedoman pada teks-teks tertentu dari Kitab Suci (bdk 1Kor. 3:15; 1Petrus 1:6-7). Kedua teks ini ingin mengungkapkan pelbagai pencobaan dan pemurnian yang harus dijalankan seseorang untuk membuktikan kemurnian iman yang nilainya lebih besar daripada emas yang fana sehingga seseorang memperoleh puji-pujian dan kemuliaan serta kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.

Santo Gregorius Agung menyatakan kesungguhan akan api penyucian ini, “Kita harus percaya bahwa sebelum pengadilan masih ada api penyucian untuk dosa-dosa ringan tertentu. Karena kebenaran abadi mengatakan bahwa, kalau seseorang menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak dan di dunia yang akan datang pun tidak (Mat. 12:32). Dari ungkapan ini nyatalah bahwa beberapa dosa dapat diampuni di dunia ini, yang lain di dunia lain” (KGK 1031).

Istilah api penyucian sendiri sudah menunjukkan situasi manusia dalam keadaan “penyucian,” sebagai persiapan untuk masuk surga. Hal ini dimungkinkan karena yang masuk api penyucian itu adalah orang yang mati dengan rahmat, tetapi hukuman dosanya belum tertebus. Dengan demikian, situasi api penyucian telah ditentukan dengan jelas: dari satu sisi, orangnya mempunyai rahmat dan oleh karena itu ia termasuk anggota surga, tetapi dari sisi lain masih ada kedosaan juga, yang kurang sesuai dengan surga. Supaya sesuai dengan keadaan surga dia terlebih dahulu menjalani api penyucian (menjalani hukuman atas dosa-dosanya). Bagaimanakah situasi hukuman itu digambarkan?

Hukuman-hukuman dosa itu dijalani dan ditanggung oleh orang yang sudah mati yakni yang ada di api penyucian. Sebab, menurut kepercayaan Tradisi Gereja, hukuman-hukuman dosa yang belum tertebus menyebabkan orang masih harus menjalani api penyucian ketika ia meninggal. Gagasannya demikian: apabila orang selama hidupnya tidak sempat menyelesaikan hukuman atau denda dosa yang dilakukannya maka ketika dia sudah me-ninggal jiwanya masih harus dimurnikan dalam api penyucian. Orang yang berada di api penyucian sudah dapat dipastikan akan masuk surga. Api penyucian itu sama sekali bukan neraka. Neraka hanya untuk orang yang secara pasti hukuman abadinya belum dihapus karena dia tidak mau bertobat dan menolak hidup bersama Allah.

Konsili Trente mengajarkan bahwa api penyucian dan jiwa-jiwa di situ dibantu oleh sumbangan doa kaum beriman, terutama oleh kurban Ekaristi yang berkenan kepada Allah. Dan Konsili ini menandaskan kepada para uskup bahwa mereka harus berusaha supaya ajaran sehat mengenai api penyucian disebarluaskan, dan khususnya terhadap umat yang sederhana harus dihindari pikiran-pikiran yang berbelit-belit.

Yang menarik dari pernyataan Konsili Trente ini adalah api penyucian tidak digambarkan sebagai hukuman. Kata “api,” tidak ada dalam teks asli Konsili yang berbicara tentang purgatorium. Sebaliknya tekanan ada pada bantuan yang diberikan kepada jiwa-jiwa yang ada di api penyucian itu. Dengan demikian penyucian di sini terutama dimaksudkan sebagai pembersihan dan penyembuhan. Gagasannya demikian: orang yang pada dasarnya sudah beriman dan mempunyai rahmat, belum dengan sepenuhnya “dibenarkan,” belum “menjadi orang benar” seratus persen. Dengan kata lain, api penyucian harus dihubungkan dengan proses pembenaran dan pembersihan manusia.

Purgatorium sebagai Proses Penyempurnaan

Gereja mengajarkan bahwa proses pembenaran dan pembersihan ini mungkin belum selesai dengan kematian biologis. Untuk menghindari kesulitan bahwa proses ini diteruskan sesudah hidup di dunia ini maka kematian dipahami sebagai bukan akhir hidup manusia. Oleh karena itu, proses ini harus diletakkan dalam proses kematian sendiri. Perlu dicatat bahwa kekhasan api penyucian ialah proses penyempurnaan ini terjadi justru dalam konfrontasi dengan Allah.

Dengan demikian proses api penyucian itu tidak dapat dilepaskan dari pengadilan dan dibedakan dengan memandang Allah (surga). Dalam pengadilan manusia mengenal diri sendiri menurut kenyataannya yang sesungguhnya. Kesadaran ini sesungguhnya datang bukan dari dalam diri manusia, melainkan dari Allah yang dihadapinya untuk menjalani pengadilan. Proses penyempurnaan ini jangan dilihat sebagai sesuatu yang dilaksanakan hanya oleh manusia sendiri, sebagai keaktifan manusia saja, melainkan harus dipandang sebagai sesuatu yang diderita oleh karena pertemuan dengan Allah.

Proses penyempurnaan ini harus dijalani oleh setiap insan karena merasakan ketidaksempurnaan yang masih ada padanya sebagai kesalahannya sendiri, yang menyebabkan dia belum diperkenankan memandang Allah. Akan tetapi, bukan hanya rasa sakit yang dialami manusia dalam proses penyempurnaan dalam api penyucian, melainkan juga rasa gembira karena dia percaya teguh dan bersyukur bahwa dia oleh Tuhan dalam kebangkitan-Nya diberi kemungkinan mencapai kesempurnaan melalui penderitaan.

Doa dan Kurban silih untuk Jiwa-jiwa di Api Penyucian sangat Bermanfaat

Gereja kaum musafir menyadari sepenuhnya persekutuan dalam seluruh Tubuh Mistik Kristus. Sejak masa pertama agama Kristiani, Gereja dengan sangat khidmat merayakan dan mendoakan untuk mereka yang telah meninggal. Mendoakan mereka yang meninggal didasarkan atas paham bahwa: “kita semua, kendati pada taraf dan dengan cara yang berbeda, saling berhubungan dalam cinta kasih yang sama terhadap Allah dan sesama dan melambungkan madah pujian yang sama ke hadirat Allah. Sebab semua orang yang menjadi milik Kristus dan didiami Roh-Nya, berpadu menjadi satu Gereja dan saling erat berhubungan dalam Dia” (LG 49).

Dalam interpretasi demikian, doa-doa untuk jiwa-jiwa di dalam api penyucian tidak kehilangan artinya. Justru dengan melihat kematian sebagai proses pemurnian dan penyempurnaan iman maka kematian adalah sesuatu yang terlaksana dalam persekutuan iman, yakni dalam Gereja. Sepanjang hidupnya, setiap warga Gereja (Gereja Jaya, Gereja yang masih Berjuang, dan Gereja yang mengalami Penyucian, Penderitaan) senantiasa membutuhkan doa sesamanya. Iman kita selalu perlu diteguhkan oleh persekutuan kegerejaan. Apalagi saat kematian, orang membutuhkan peneguhan iman dari Gereja. Di samping mendoakan mereka yang telah meninggal, Gereja juga tidak henti-hentinya mempersembahkan kurban-kurban silih bagi mereka (2Mak. 12:45; Sir. 7:33; LG 50). Doa kita untuk mereka yang telah meninggal tidak hanya membantu mereka sendiri. Jikalau mereka sudah dibantu maka doa mereka pun akan berdaya guna bagi kita.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting