Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/k5444188/public_html/plugins/content/jplayer/jplayer.php on line 32

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

Setiap orang Kristiani diharapkan menyadari akan betapa pentingnya memiliki iman yang benar, karena iman yang benar menjadi dasar bagi penghayatan hidupnya sebagai seorang Kristiani, bagaimana dia dapat bersikap dan bertindak sebagai seorang Kristiani yang baik. Agar kita dapat bersikap dan bertindak dengan benar, kita membutuhkan pengetahuan yang benar dan jelas tentang doa dalam berbagai perayaan di Gereja. Hal ini membantu kita agar kita dapat dengan sungguh-sungguh berpartisipasi dengan hati, jiwa, dan fisik. Dalam kenyataannya banyak sekali umat Gereja kita yang merasa bahwa mereka ke Gereja hanya sekedar untuk menjalankan kewajiban, mereka hanya berpartisipasi secara fisik saja dan tidak melibatkan hati dan jiwanya. Padahal dalam berbagai perayaan ini, kita dapat menerima banyak sekali kekuatan dan rahmat yang akan memampukan kita untuk menjalani kehidupan sehari-hari.

Liturgi adalah perayaan iman Gereja akan misteri penyelamatan Allah yang terlaksana dalam diri Putra-Nya, yaitu Yesus Kristus. Liturgi bertitik tolak dari sejarah keselamatan manusia. Liturgi adalah saat atau peristiwa di mana “diaktualisasi” atau diwujud-nyatakan karya keselamatan kita dengan cara yang sedemikian rupa sehingga melalui perwujudan karya itu, misteri Kristus dan misteri hidup Gereja menjadi nyata di dalam kehidupan bagi setiap orang. Dengan kata lain, Liturgi adalah pelaksanaan aktual misteri penebusan Kristus. Liturgi merupakan tindakan keselamatan oleh Kristus di dalam Gereja. Liturgi merupakan tempat pelaksanaan tugas keimaman Kristus di mana termuat kesempurnaan ibadah kepada Allah dan pengudusan manusia, yang dinyatakan lewat tanda-tanda dan upacara. Dalam Liturgi itulah berlangsung peristiwa perjumpaan antara Allah dan umat beriman, yaitu kita semua, melalui Yesus Kristus dalam ikatan Roh Kudus.

Ada dua hal atau aspek penting dari Liturgi, yaitu: (1) Liturgi sebagai sumber dan puncak kehidupan kristiani, dan (2) Liturgi sebagai sebuah perayaan kehidupan.

1. Liturgi sebagai sumber dan puncak kehidupan kristini

Jikalau dikatakan bahwa Liturgi adalah sumber dan puncak kehidupan Kristiani, maka Liturgi harus dipandang sebagai bagian dari hidup kita sehari-hari. Akan tetapi, dalam seluruh kegiatan hidup sehari-hari itu, Liturgi memiliki tempat yang khas dan bahkan unggul. Pandangan bahwa Liturgi harus dipandang sebagai sumber dan puncak kegiatan hidup umat Kristiani, ditegaskan oleh Konsili Vatikan II dalam dokumen Konstitusi Liturgi Sacrosanctum Concilium. Dalam dokumen tersebut dikatakan: "Liturgi itu puncak yang dituju oleh kegiatan Gereja, dan serta merta sumber daya kekuatannya. Sebab usaha-usaha kerasulan mempunyai tujuan ini: supaya semua orang melalui iman dan baptis menjadi putra-putra Allah, berhimpun menjadi satu, meluhurkan Allah di tengah Gereja, ikut serta dalam kurban, dan menyantap perjamuan Tuhan.”

Selain itu, Liturgi disebut sebagai puncak dan sumber kehidupan Gereja, karena semua kegiatan dan fungsi Gereja memiliki arah dan tujuan yang satu dan sama, yakni perayaan misteri karya keselamatan Allah yang berupa pengudusan manusia dan pemuliaan Allah. Liturgi menjadi fungsi dasar Gereja, sebab Liturgi bersangkut-paut secara langsung dengan perayaan misteri iman, yang di dalam ke­giatan Gerejawi yang lain dipersiapkan, dibina, dan diperdalam. Dalam Liturgi tampillah Gereja menurut dirinya, yakni sebagai umat beriman yang dipanggil dan dipilih oleh Allah melalui Kristus dan dalam Roh Kudus untuk bersama-sama merayakan dan menikmati karya penebusan Kristus.

Penjelasan arti Liturgi sebagai sumber dan puncak kehidupan Kristiani juga dapat bertolak dari pengertian Liturgi sebagai medan perjumpaan Allah dan manusia. Dalam hidup sehari-hari dan dalam kegiatan hidup kita sehari-hari, kita selalu berjumpa dengan Allah. Allah se­lalu hadir dan menyertai kita dalam setiap jenis kegiatan: bekerja, belajar, tidur, makan, belanja, rekreasi, nonton TV, dan sebagainya. Akan tetapi, dalam kegiatan tersebut, penyertaan dan kehadiran Allah tidaklah begitu kita sadari dan kita akui dengan tegas. Dalam Liturgi, penyertaan dan kehadiran Allah itu kita katakan, kita akui, kita nyatakan dan kita ungkapkan dengan tegas. Di samping kita menyatakan dengan tegas relasi dan perjumpaan kita dengan Allah, kita pun juga menyadari dan bahkan menerima daya kekuatan dan penyelamatan dari Allah itu dalam Liturgi. Liturgi bukan hanya menjadi medan pengungkapan iman, me­lainkan juga menjadi medan perjumpaan kita dengan Allah yang menganugerahkan keselamatan dan kekuatan bagi hidup kita sehari-hari. Oleh karena itu, Liturgi menjadi sumber kehidupan kita karena Allah menganugerahkan keselamatan kepada kita dan menjadi puncak kehidupan kita karena kita menyatakan komitmen kita akan hubungan dengan Allah secara tegas.

2. Liturgi sebagai sebuah perayaan kehidupan

Hidup manusia yang berarti juga hidup kita adalah karunia yang berasal dari Allah agar manusia mengambil bagian dalam hidup Allah dan terarah bagi Allah. Dalam Kitab Suci dipahami bahwa hanya Allah yang mempunyai hi­dup. Hal ini bisa kita temukan dalam Kitab Mazmur bab 21 ayat 5, yang mengatakan: Hidup dimintanya daripadaMu; Engkau memberikannya kepadanya, dan umur panjang untuk seterusnya dan selama-lamanya.

Kemudian juga dikatakan bahwa Allah sebagai pemilik hidup itu, telah memanggil sesuatu kepada kehi­dupan. Hal ini dapat kita temukan dalam kisah panjang tentang penciptaan manusia dan berbagai mahkluk hidup dalam Kitab kejadian bab satu. Kemudian dalam Injil Yohanes, gagasan mengenai hidup dapat kita temukan secara berlimpah ruah. Seperti misalnya dikatakan, "Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia." (Yoh. 1:3-4) Kemudian dalam bab 5 ayat 26 dikatakan, “Hidup mengalir dari Allah Bapa dan Sang Putra memiliki hidup itu dalam diri-Nya.” (Yoh. 5:26) Atau misalnya dalam bab 14 ayat 6: ”Hanya dengan percaya kepada Sang Putra dan melalui Dia, manusia akan memperoleh hidup.” (Yoh. 14:6)

Demikianlah Kitab Suci memahami hidup selalu dalam arti: dari Allah, di hadapan Allah, dan menuju kepada Allah. Secara sederhana dapat dirumuskan bahwa hidup berarti kebersamaan dengan Allah. Kebersamaan kita dengan Allah terlaksana dalam ke­hidupan sehari-hari. Hidup kita sehari-hari terdiri atas seribu satu macam kegiatan, baik yang bersifat pribadi maupun bersama orang lain. Dalam melaksanakan se­gala aktivitas kehidupan kita itu, kita selalu berada dalam situasi kebersamaan dengan Allah. Maka, kehidupan kita sebenarnya bermakna kebersamaan dengan Allah. Ke­bersamaan itu merangkum makna perjumpaan dan komunikasi. Apa­ bila orang hidup baik dan mengikuti kehendak Allah, maka orang itu ada dalam kebersamaan dengan Allah secara positif. Di sana akan dihasilkan berbagai macam buah Roh, seperti dikatakan oleh Paulus, "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, ke­setiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri." (Gal. 5:22­-23) Sebaliknya, apabila orang hidup tidak baik, tidak teratur, dan menentang kehendak Allah, maka orang itu berada dalam kebersamaan dengan Allah secara negatif. Kebersamaan dengan Allah secara negatif berarti kita tidak mau hidup bersama Allah. Allah menyapa, tetapi kita diam saja dan tidak menyambut sapaan itu. Tanda-tanda kebersamaan dengan Allah secara negatif ialah bahwa di sana ada "percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya." (Gal. 5:19-21) Demikianlah hidup kita sehari-hari. Cakrawala hidup tetap selalu sama, yaitu wadah kebersamaan dengan Allah. Sadar atau tidak sadar kita hidup dalam suasana dan cakrawala kebersamaan dengan Allah.

Kebersamaan dengan Allah yang kita hayati setiap detik dan setiap saat dalam hidup sehari-hari itu dirayakan, disadari, diakui, dinyatakan, dan disyukuri serta dimohon dalam perayaan Liturgi. Dengan “kebersamaan dengan Allah” itu sebagai penghubung, perayaan Liturgi menjadi perayaan kehidupan. Kehidupan di sini adalah kehidupan dalam artian konkret sehari-hari. Suka-duka kehidupan yang kita alami sehari-hari dirayakan dan dimasukkan dalam perayaan Liturgi sendiri. Liturgi bukan hal terpisah, tetapi perayaan kehidupan itu sendiri. Apa yang kita pikirkan, kita perjuangkan, kita imani, dan kita tekuni dirayakan dalam Liturgi. Sebab dalam Liturgi itu, kebersamaan dengan Allah mencapai ungkapan dan pelaksanaannya secara paling padat.

a. Liturgi mengenal tingkatan

Liturgi mengenal tingkatan prioritas dan pentingnya. Pada prinsipnya kita dapat mengenal Liturgi yang selalu bersifat resmi dan paraliturgi atau olah kesalehan yang merupakan lebih kurang "Liturgi yang tidak resmi". Liturgi tentu lebih penting dari paraliturgi. Nilai keresmian Liturgi terletak pada aspek pengungkapan dan pelaksanaan diri Gereja yang biasanya ditandai pada siapa pemimpinnya. Dalam bidang Liturgi sendiri atau yang resmi ada tingkatan-tingkatannya lagi. Sehingga di dalam Liturgi, kita bisa menjumpai berbagai perayaan yang meliputi:

1) Perayaan sakramen-sakramen

  • Sakramen yang tertinggi dan merupakan puncak perayaan Liturgi Sakramen adalah Perayaan Ekaristi.
  • Kemudian perayaan Sakramen Baptis dan Krisma sebagai sakramen inisiasi
  • Kemudian perayaan sakramen-sakramen yang lain yaitu Imamat, Perkawinan, Tobat, Pengurapan orang sakit.

2) Perayaan sabda

  • Perayaan sabda ini meliputi perayaan sabda dalam Perayaan Ekaristi dan juga di luar Perayaan Ekaristi, khususnya Perayaan Sabda pada hari Minggu yang dirayakan tanpa imam.

3) Perayaan Liturgi harian atau ibadat harian

  • Paraliturgi atau olah kesalehan meliputi berbagai upacara dan ibadat yang bersifat devosional dan termasuk sakramentali, seperti: doa rosario, pentakhtaan Sakramen Mahakudus, doa malam bersama, doa sebelum dan sesudah makan, persekutuan doa, dan lain-lain. Paraliturgi ini dapat dilakukan secara pribadi atau kelompok.

Mungkin ada yang bertanya: yang bagaimanakah yang harus kita pilih apabila waktu Liturgi dan paraliturgi bertabrakan? Kalau kita harus memilih, maka kita harus memilih yang Liturgi atau yang lebih resmi. Akan tetapi, asalkan olah kesalehan itu selaras dan membantu iman umat, maka kompromi atau jalan tengah sangat dianjurkan. Misalnya, umat berdoa rosario bersama sebelum Perayaan Ekaristi dimulai.

b. Liturgi sebagai sumber spiritualitas Kristiani

Hidup rohani sering disebut dengan istilah Spiritualitas yang berarti hidup menurut Roh Kudus. Gerak hidup menurut Roh Kudus merupakan gerak hidup yang selalu membawa orang kepada kepenuhan kebersamaan dengan Allah. Kalau Liturgi merupakan pengungkapan dan pelaksanaan kebersamaan dengan Allah, maka spiritualitas Kristiani akan mendapat sumber makanan dan inspirasinya dari Liturgi. Sebab Roh Kudus yang menjadi api utama spiritualitas Kristiani hadir dan dirayakan dalam Liturgi. Roh Kudus itu menghadirkan Yesus Kristus yang adalah gambaran Allah Bapa. Dan Kristus hadir melalui Roh-Nya dalam Liturgi. "Sebab bagi kaum beriman, Liturgi merupakan sumber utama yang tidak tergantikan, untuk menimba semangat Kristiani yang sejati".

Semangat Kristiani merupakan cerminan dari hidup Kristiani yang bertumpu pada daya kekuatan Injil. Kehidupan Kristiani merupakan suatu proses perubahan hidup terus-menerus dalam rangka mengikuti Kristus. Hidup Kristiani akhirnya merupakan perjalanan untuk semakin menyerupai Kristus, sebagaimana Paulus selalu dengan bangga berkata: "Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku" (Gal. 2:19-20).

Dengan demikian, tujuan seluruh usaha pendalaman rohani dan pengembangan spiritualitas akhirnya terletak di dalam usaha untuk semakin menyerupai Kristus, yakni semakin bersatu dengan Kristus. Justru persatuan dengan Kristus itu mendapatkan ungkapan dan perwujudannya secara paling intensif dan jelas di dalam Liturgi. Liturgi dan spiritualitas memang tidak pernah dapat dipisahkan.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting