Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/k5444188/public_html/plugins/content/jplayer/jplayer.php on line 32

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Ada sekawanan ayam hutan yang ditangkap oleh seorang pemburu dan dipelihara dalam sebuah kandang dari bambu. Supaya ayam-ayam hutan itu menjadi gemuk sehingga dapat dinikmati dagingnya nanti, si pemburu itu memberi makan dan minum kepada ayam-ayam hutan itu setiap pagi dan sore. Ayam-ayam itu dengan lahap menikmati makanan dan minuman tersebut, sehingga mereka semakin besar dan tambun. Di antara ayam-ayam itu ada seekor ayam hutan yang jarang sekali mau makan dan minum. Makin hari ia semakin kurus, padahal ayam-ayam hutan yang lain semakin gemuk. Pada suatu saat ia menjadi semakin kurus dan semakin kecil sehingga ia dapat meloloskan dirinya. Seekor ayam hutan yang kurus itu, oleh puasa dan pantangnya, berhasil lolos ke alam bebas.Ia selamat kembali ke hutan yang luas berkumpul kembali dengan teman-teman ayam hutan yang lain.

Demikian pula kehidupan manusia, kalau seseorang mengikuti dorongan nafsu makan dan minum sampai tidak teratur, bahkan diperbudak oleh nafsunya, ia justru akan merugikan kesehatannya. Dia terikat oleh kesenangan-kesenangannya terutama dalam hal makanan dan minuman. Misalnya, ada orang yang sangat terikat dengan kebiasaan atau kesenangan makan mie sampai dia tidak bisa melewatkan satu hari tanpa makan mie. Ada banyak orang yang terikat pada rokok, minum-minuman, kebiasaan ngemil (makan makanan ringan yang terus-terusan), dan sebagainya. Seperti kita alami, banyak sekali macam-macam penyakit yang ditimbulkan dari mengkonsumsi makanan dan minuman yang tidak teratur atau berlebihan.Orang bisa terkena kolesterol, diabetes, obesitas, asam urat, hipertensi, dan sebagainya. Karena itu, pantang dan puasa dianjurkan untuk mengatasi semua penyakit itu supaya orang menjadi lebih sehat.

Lebih daripada itu, bila orang menjalankan pantang dan puasa disertai motif-motif yang lebih rohani atau didasari iman maka orang tidak hanya sehat secara jasmani (terbebas dari macam-macam penyakit), tetapi secara mental ia juga akan menjadi lebih tenang dan damai karena terlatih untuk mengendalikan diri dari dorongan nafsu-nafsunya. Secara rohani, ia akan menjadi lebih dewasa.

Ajaran dan Teladan Yesus tentang Berpuasa

Pertama-tama, untuk mengerti kebiasaan orang Kristen dalam hal puasa, perlu disimak khotbah Yesus di atas bukit. Dalam Injil Matius 6:1-18 Yesus mengajar murid-murid-Nya mengenai tiga kewajiban agama yang saling berkaitan, yaitu memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa. Dalam setiap kewajiban tersebut yang terutama ditekankan oleh Yesus adalah motivasi di balik semua itu. Yesus mengajarkan supaya orang waspada dan melihat motivasi hati dan pikiran yang menggerakkan orang untuk memberi sedekah, berdoa, dan berpuasa. Sebab, manusia cenderung untuk melakukan suatu kewajiban agamanya hanya supaya dilihat orang. Orang mungkin mempunyai motivasi melakukan semua itu untuk Tuhan, tetapi sering orang merasa belum puas atau lega kalau perbuatan-perbuatan yang baik itu tidak diketahui orang lain atau tidak banyak yang mengetahuinya.

Kecenderungan untuk menerima peneguhan dan pengakuan dari orang lain (seperti pujian, sanjungan, penghargaan, kekaguman, penghormatan) biasanya menyertai setiap perbuatan baik seseorang. Karena itu, Yesus menekankan supaya semua murid-Nya berhati-hati dan waspada terhadap kecenderungan tersebut. Para murid diajar untuk menyembunyikan semua aktivitas religius itu.Biarkanlah Allah saja yang mengetahuinya dan memberi ganjarannya.

Pada zaman Yesus berpuasa memang termasuk tradisi yang diwajibkan dalam agama Yahudi. Mereka sudah melaksanakan tradisi tersebut sejak zaman Nabi Musa. Baik kaum Farisi maupun murid-murid Yohanes Pembaptis berpuasa secara teratur. Ada hari-hari khusus yang ditentukan untuk berpuasa dalam penanggalan Yahudi, dan biasanya orang-orang Farisi yang saleh berpuasa selama dua hari dalam satu minggu (bdk. Luk 18:12).

Yesus tidak hanya mengajarkan untuk berpuasa yang benar, tetapi Ia sendiri juga menjalankan puasa. Setelah Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di Sungai Yordan, Yesus dipimpin oleh Roh Kudus untuk berpuasa empat puluh hari di padang gurun (bdk. Luk 4:1-2). Di sini kita juga dapat melihat bahwa ada perbedaan yang dapat kita lihat sebelum Yesus berpuasa di padang gurun dengan sesudah Yesus keluar dari padang gurun. Di dalam Injil Lukas dikatakan: “Yesus, yang penuh dengan Roh Kudus, kembali dari sungai Yordan, lalu dibawa oleh Roh Kudus ke padang gurun” (4:1). Lalu, setelah Yesus selesai dari masa berpuasanya di padang gurun dikatakan: “Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu” (4:14). Hal ini menunjukkan bahwa seluruh potensi kekuasaan Roh Kudus, yang diterima oleh Yesus pada waktu dibaptis di sungai Yordan, baru dimanifestasikan (dinyatakan) sepenuhnya setelah Ia berpuasa. Puasa yang dilakukan oleh Yesus merupakan tahap akhir dari masa persiapan yang harus dilalui-Nya sebelum memulai pelayanan-Nya di dunia ini. 

Puasa dalam Gereja Perdana

Orang-orang kristiani perdana tidak hanya melakukan puasa secara pribadi, melainkan juga berpuasa secara bersama-sama (kolektif), dalam rangka melayani atau beribadah kepada Allah. Misalnya, hal tersebut kita temukan pada jemaat di Antiokia yang melakukan ibadah kepada Tuhan dan berpuasa secara bersama-sama (bdk. Kis 13:1-3). Pada saat itu beberapa orang berdoa dan berpuasa bersama-sama, lalu Roh Kudus mengilhami mereka supaya Barnabas dan Saulus dikhususkan untuk mengerjakan tugas yang khusus.

Kebiasaan berdoa dan berpuasa secara kolektif ini juga diajarkan oleh Barnabas dan Saulus kepada semua jemaat baru yang mulai terbentuk di berbagai kota tempat para murid berhimpun sebagai buah dari karya pelayanan mereka. Hal itu dapat kita perhatikan bahwa pada saat memilih dan mengangkat pemimpin-pemimpin jemaat setempat yang disebut “penatua”, mereka melakukan doa dan puasa (bdk. Kis 14:21-23).

Demikianlah, kalau kita membaca Kisah Para Rasul pasal 13-14, kita dapat menyimpulkan bahwa doa dan puasa secara bersama-sama memegang peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan setiap Gereja. Dengan berdoa dan berpuasa orang-orang kristiani perdana menerima bimbingan dan kuasa Roh Kudus, sehingga dapat mengambil keputusan-keputusan penting atau melakukan tugas-tugas yang istimewa.

Secara khusus, kita dapat melihat bagaimana Paulus (yang sebelumnya adalah Saulus, penganiaya orang-orang kristen) dihadapkan pada suatu keputusan yang mengubah kehidupannya. Pada saat mengalami kebutaan di jalan menuju Damsyik, ia tidak makan dan minum selama tiga hari (bdk. Kis 9:9). Setelah Saulus berpuasa maka dia “melihat terang”, dimana Allah mengutus Ananias ke rumah tempat Saulus tinggal. Ananias menumpangkan tangannya atas Saulus, mantan penganiaya orang-orang kristen, dan dia menerima penglihatan untuk menjadi Rasul Paulus. 

Puasa dalam Gereja Katolik

Secara umum, puasa dimengerti sebagai tindakan menjauhkan diri dari makanan, baik secara keseluruhan atau sebagian, untuk suatu masa tertentu. Di dalam ajaran Gereja Katolik juga diberikan pedoman tentang puasa. Misalnya, Gereja mewajibkan umat katolik untuk berpantang pada setiap hari Jumat, sedangkan pantang dan puasa pada masa Prapaskah, seperti ditetapkan dalam Kitab Hukum Kanonik (KHK): “Pantang makan daging atau makanan lain menurut ketentuan Konferensi Para Uskup hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang terhitung hari raya; sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan pada hari Rabu Abu dan pada hari Jumat Agung, memperingati sengsara dan wafat Tuhan kita Yesus Kristus” (Kan. 1251). Ada pun puasa, dalam arti yuridis, berarti makan kenyang hanya sekali sehari, sedangkan pantang berarti memilih tidak makan daging atau ikan atau garam atau tidak jajan atau merokok dan lain-lain (bdk. Statuta Keuskupan Regio Jawa, 1995, pasal 136, no. 6). Hal ini berlaku sebagai suatu pedoman bagi umat katolik, namun pelaksanaan praktisnya dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Praktik pantang dan puasa ini diharapkan menjadi suatu ungkapan pertobatan seorang kristiani. Seperti ditegaskan dalam KHK, kan. 1249: “Semua orang beriman kristiani wajib menurut cara masing-masing melakukan tobat demi hukum ilahi; tetapi agar mereka semua bersatu dalam suatu pelaksanaan tobat bersama, ditentukan hari-hari tobat, dimana umat beriman kristiani secara khusus meluangkan waktu untuk doa, menjalankan karya kesalehan dan amal kasih, menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara lebih setia dan terutama dengan berpuasa dan berpantang, menurut norma kanon-kanon berikut.”

Apa yang Harus Dilakukan Selama Puasa?

Melakukan pantang dan puasa saja tetapi tidak disertai kegiatan rohani, tanpa adanya motivasi rohani dan tujuan rohani, sama halnya dengan suatu program diet untuk kesehatan badan belaka. Mungkin ada orang berpuasa untuk menurunkan berat badan supaya tubuhnya langsing, untuk menyembuhkan kolesterol, asam urat, gula, hipertensi, dan sebagainya. Pantang dan puasa untuk tujuan tersebut memang baik, tetapi itu tidak pertama-tama dimaksudkan dalam kehidupan seorang kristiani, karena tidak berdampak pada pertumbuhan imannya atau religiusitasnya. Karena itu, dalam melakukan pantang dan puasa, diri kita perlu digerakkan oleh motif-motif puasa yang kristiani, misalnya kerinduan untuk mendisiplinkan nafsu pribadi (lih. 1Kor 9:27), mengekspresikan penyesalan pribadi (lih. Yun 3:4-5), dan memperdalam doa pribadi. Selain itu, pantang dan puasa yang dilakukan seorang kristiani haruslah disertai dengan sikap dan perbuatan nyata yang berkenan kepada Allah, misalnya:

  • Melakukan karya amal

Pada waktu kita berpantang dan berpuasa, dana atau uang yang biasanya kita pakai untuk membeli makanan atau minuman, kita gunakan sebagai karya amal untuk orang-orang yang miskin atau yang sangat membutuhkan. Salah satu contohnya, Gereja Katolik menggalakkan Aksi Puasa Pembangunan dalam masa Prapaskah. Oleh Gereja, dana hasil dari pantang dan puasa umat beriman akan dipergunakan atau disalurkan untuk karya-karya amal kasih, sosial, dan lain-lain.

  

  • Pengakuan dosa dan pertobatan

Puasa dan pantang kristiani merupakan ungkapan silih atas dosa-dosa dan untuk menjalani suatu pertobatan. Maka, ketika berpantang dan berpuasa, orang perlu melakukan pemeriksaan batin, merefleksikan seluruh kehidupannya di hadapan Tuhan, menyesali segala kedosaannya, dan kemudian mengakukan dosa-dosanya di hadapan Tuhan dengan menerima Sakramen Tobat. Contoh praktik seperti itu sudah ada sejak jaman Israel, Perjanjian Lama: “Setelah berkumpul di Mizpa, mereka menimba air dan mencurahkannya di hadapan TUHAN. Mereka juga berpuasa pada hari itu dan berkata di sana: ‘Kami telah berdosa kepada TUHAN.’ Dan Samuel menghakimi orang Israel di Mizpa”” (1Sam 7:6).

Contoh lain lagi dalam Kitab Nehemia 9:1-3: “Pada hari yang kedua puluh empat bulan itu berkumpullah orang Israel dan berpuasa dengan mengenakan kain kabung dan dengan tanah di kepala. Keturunan orang Israel memisahkan diri dari semua orang asing, lalu berdiri di tempatnya dan mengaku dosa mereka dan kesalahan nenek moyang mereka. Sementara mereka berdiri di tempat, dibacakanlah bagian-bagian dari pada kitab Taurat TUHAN, Allah mereka, selama seperempat hari, sedang seperempat hari lagi mereka mengucapkan pengakuan dan sujud menyembah kepada TUHAN, Allah mereka.”” Demikian pula, melalui Nabi Yoel, Allah memanggil umat-Nya untuk bertobat: "Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh" (Yoel 2:12).

Bahkan, puasa dan pantang sebagai perbuatan silih atas dosa-dosa ini tidak hanya untuk silih atas dosa-dosa pribadi, melainkan juga dapat kita persembahkan untuk silih dan pertobatan para pendosa, entah untuk saudara-saudari kita sendiri maupun untuk masyarakat dan dunia. Maka, puasa yang demikian itu mempunyai makna penebusan dan penyelamatan bagi orang lain. Dalam arti itu, kita ikut ambil bagian dalam karya penyelamatan yang dilakukan oleh Yesus di atas salib. 

  • Berdoa

Puasa yang disertai doa-doa akan menemukan makna rohaninya, ketika orangdihantar untuk semakin terbuka kepada bimbingan dan kehendak Allah. Saat Yesus berpuasa empat puluh hari di padang gurun, Ia selalu berdoa kepada Bapa-Nya di tempat yang sunyi itu. Jadi, seturut teladan Yesus sendiri, janganlah kita memisahkan puasa dari pertemuan dengan Tuhan dalam doa, sebab puasa juga adalah persiapan yang baik untuk berdoa. Dengan berpantang dan puasa, kita seperti naik mengatasi segala keinginan duniawi, sampai ke dalam dunia yang tak kelihatan dan rohani. Doalah yang akan membawa kita kepada Allah. 

  • Merenungkan Sabda Allah dalam Kitab Suci

Banyak orang jarang membuka Kitab Suci dan membacanya secara pribadi tiap hari. Maka, dalam masa puasa, sangat baik kalau kita luangkan waktu untuk merenungkan Sabda Allah. Puasa disertai dengan mendengarkan Sabda Allah akan membawa orang semakin mengenal kehendak dan perintah-perintah Allah, sehinggga dia tidak hanya berfokus pada kegiatan duniawinya saja melainkan mengarahkan hati mendengarkan suara Allah dalam Kitab Suci. Hal ini juga ditegaskan dalam Kitab Nabi Yeremia: “Jadi pada hari puasa engkaulah yang pergi membacakan perkataan-perkataan TUHAN kepada orang banyak di rumah TUHAN dari gulungan yang kautuliskan langsung dari mulutku itu; kepada segenap orang Yehuda yang datang dari kota-kotanya haruslah kaubacakannya juga” (Yer 36:6).

Tentunya tidak berhenti pada mendengarkan Sabda Allah saja, diharapkan juga kita setelah disegarkan oleh Sabda-Nya kita dengan bersemangat dan gembira melaksanakannya. Karena hanya berpuas diri sebagai pendengar firman, maka tidak ada gunanya. Hal ini ditegaskan oleh St. Yakobus dalam suratnya: “Hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya” (Yak 1:22-25). 

  • Perbuatan-perbuatan kebajikan

Pantang dan puasa janganlah dibatasi hanya dalam hal makanan dan minuman, tetapi lebih daripada itu perlu diupayakan pengendalian atau penguasaan diri dari segala dorongan nafsu yang tidak teratur, misalnya: marah, kesombongan, percabulan, kerakusan, iri hati, malas, dan sebagainya. Sebaliknya kita perlu melakukan kebajikan-kebajikan untuk melawan segala kecenderungan nafsu tak teratur dalam diri kita.

Tanpa usaha mengubah sikap dan perbuatan dalam hidup kita sehari-hari, puasa dan pantang tidak akan memperoleh hasil rohani yang dikehendaki Allah. Misalnya, kita dapat lihat teguran Nabi Yesaya kepada orang-orang yang berpuasa tetapi tidak dapat mengendalikan hawa nafsunya: “Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi” (Yes 58:3-4). Meskipun kita melaksanakan puasa yang keras, kalau masih melakukan perbuatan-perbuatan amoral dan tidak terpuji, semua itu sia-sia, dan tetap membuat kita jatuh ke dalam dosa.

Pantang dan puasa harus disertai dengan perbuatan-perbuatan kebajikan yang berkenan kepada Allah. Itulah ibadah puasa yang dikehendaki Allah, seperti ditegaskan dalam Kitab Nabi Yesaya: “Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!” (Yes 58:6-7). Allah menghendaki agar umat-Nya berpuasa dengan mengembangkan puasa melalui perbuatan-perbuatan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting