ducklings-2014-01.jpgducklings-2014-02.jpg

Hipnotis dan Hipnoterapi dalam Terang Iman Kristiani

User Rating:  / 10
PoorBest 

 

1. Pengantar

Dewasa ini, orang beriman seringkali dihadapkan pada realitas yang bukan berasal dari dirinya sendiri. Salah satunya ialah fenomena tentang hipnotis dan hipnoterapi. Karena kurangnya pengetahuan dan pengalaman, orang kerap kali bingung untuk menyikap realitas ini. Mengapa terjadi adanya hipnotis dan hipnoterapi? Apa penyebabnya? Bagaimana kita menyikapinya? Langkah praktis apa yang harus kita lakukan? Kita perlu memahami realitas ini dalam terang iman Kristiani. 

 

2. Apa itu Hipnotis dan Hipnoterapi?

2.1.  Sebuah Kasus Hipnotis dan Hipnoterapi

Suatu ketika kami mendapatkan email dari seorang umat yang menanyakan tentang sebuah gejala psikologis, yaitu hipnotis dan hipnoterapi. Karena, ia merasa ada “sesuatu yang tak beres” pada waktu ia mengikuti salah satu pertemuan yang dipimpin oleh seorang ahli dalam bidang tersebut yang dikenal dengan “hypnoterapist”. Dalam email tersebut, ia menyatakan ada beberapa aspek yang bertentangan dengan iman Kristiani, yaitu:

  1. Untuk sementara kita tinggalkan dulu Tuhan kita, kita fokus pada setiap pikiran kita sendiri dulu.
  2. Katakan pada diri anda dan dalam pikiran anda, “Saya adalah produk pikiran saya!”
  3. Jika anda mengijinkan saya, maka saya akan merubah pikiran anda dari yang takut, dan dari segala sikap pesimis menjadi lebih baik.

 

Setelah itu, peserta pun diajak untuk melewati kayu-kayu yang telah dibakar oleh api dan dengan tuntunan ahli tersebut, para peserta menginjak kayu-kayu yang sedang terbakar itu. Dari kejadian tersebut, timbul aneka reaksi yang timbul sekaligus begitu banyak kebingungan mengenal realitas ini, yang pada intinya ialah apakah praktek seperti ini sesuai atau bertentangan dengan iman Kristiani?

 

2.2.  Arti Hipnotis dan Hipnoterapi

Demi menjawab pertanyaan itu, kita perlu memahami hipnotis dan hipnoterapi. Hipnotis ialah suatu keadaan di mana seorang secara rela di bawah kendali seorang ahli untuk mendapatkan suatu perubahan tertentu dalam dirinya. Sedangkan, hipnoterapi menunjuk pada bidang pekerjaan yang dilakukan seorang ahli hipnotis. Mengingat kedua kata tersebut sulit dibedakan dalam kenyataannya, maka penggunaan kata-kata tersebut menunjuk pada realitas yang sama. Biasanya seorang yang mengalami rasa takut, khawatir bahkan depresi mengunjungi seorang ahli hipnotis supaya ia dibebaskan dari perasaan negatif dan traumatis tersebut. Kemudian, ahli hipnotis tersebut mengajak seseorang untuk memusatkan perhatiannya pada sebuah objek, sebuah pemikiran, atau kata-kata dari seorang ahli hipnotis atau hipnoterapis.

Setelah beberapa waktu, orang akan mengalami keadaan hipnotis, yaitu suatu keadaan tak sadar, sepenuhnya berada dalam kekuasaan ahli hipnotis. Keadaan tersebut dapat terbagi dalam tiga hal, yaitu analgensia: suatu cara untuk mengolah rasa sakit dan membebaskannya, amnesia: orang kehilangan ingatannya untuk beberapa waktu, dan age regression: orang kembali mengingat suatu peristiwa dalam masa lampau sebagai akar dari persoalan yang dihadapinya. Dalam keadaan ini, seorang ahli hipnotis akan memerintahkan seseorang untuk mengikuti apa yang ia kehendaki atau untuk mendapatkan hasil atau perubahan yang ingin dicapai, misalnya dari rasa sakit menjadi sembuh, dari rasa takut menjadi berani, dan dari pengalaman sakit di masa lampau menjadi keadaan damai. Tentu saja metode ini berbeda dengan proses terapi psikologis pada umumnya, dan realitas ini tak sama dengan praktek meditasi pada umumnya (lh. L. Dodge Fernald dan Peter S. Fernald, Introduction to Psychology, Fifth Edition, India: A.I.T.B.S. Publishers, & Distributors, 1999, p. 167-170).

 

2.3. Penafsiran atas Hipnotis dan Hipnoterapi

Dari pengertian tersebut, ada dua hal yang patut diperhatian. Di satu pihak, memang patut diakui bahwa hipnotis dapat membantu seseorang, namun hal itu tak dapat dimutlakkan pada semua orang. Dalam hipnotis, mungkin orang dapat terbantu untuk mendapat penyembuhan fisik, ataupun mengalami pembebasan dari gangguan kejiwaan atau ingatannya. Akan tetapi, di lain pihak, realitas ini juga mengandung resiko tinggi dan tidak mustahil sarat dengan penyimpangan, dan pada akhirnya menjadi pintu masuk bagi kuasa si jahat. Sebab, hipnotis dapat disalahgunakan untuk berbagai tindakan kejahatan seperti pencurian, perampokan, bahkan tindakan sadis lainnya (bdk. dengan tindakan kriminal dengan penggunaan ilmu gendam yang pernah dimuat dalam beberapa surat kabar beberapa waktu yang lalu). Selain itu, hipnotis dapat menjadi pintu masuk bagi kuasa si jahat untuk menindas, menjerat dan merugikan kita. Itulah sebabnya, realitas ini harus dipandang dengan sikap yang penuh hati-hati dan waspada. Kalau perlu, kita harus menghindarinya dan hanya hidup dalam iman yang benar kepada Tuhan Yesus Kristus dan setia pada ajaran Gereja-Nya.


www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting