
Tidaklah sulit untuk melihat bahwa melalui salah satu bagian dan akhir hidup Teresia dan yang lainnya, Teresia terkenal karena cinta, cintanya kepada Tuhan. Dan halaman pertama naskahnya yang pertama tepat di baris akhir dan tiga karyanya yang utama, yang termasuk surat-suratnya, tindakan penyerahan dirinya, puisi-puisinya, dan catatan-catatan kecil yang ditulis oleh kakaknya di samping tempat tidurnya saat ia sedang sakit, semuanya mirip. Bagaimana seseorang dibuat begitu terpesona karenanya?
“Aku sangat mencintai Tuhan”, katanya saat menceritakan kenangannya yang paling utama. Sehingga setelah menerima Komuni pertama ia berkata, ”Aku juga mempunyai hasrat untuk mencintai Tuhan, dan ingin menemukan sukacita hanya di dalam Dia.” Kita harus melihat kembali dan membaca ulang dengan semangat apa ia mempersiapkan dirinya untuk menerima Komuni pertama… Tidak diragukan lagi, dia diistimewakan dan dikenyangkan dalam hal ini sebagaimana hanya sedikit anak-anak mengalaminya, bahkan sangat sedikit, tapi Tuhan sangat murah untuk memberikan rahmat-Nya, dan rahmat itu diberikan-Nya bagi seluruh Gereja-Nya sehingga Dia telah menyiapkan tanah pilihan-Nya ini. Teresia memberi kesaksian yang sederhana dalam hal ini, “Engkau tahu oh Tuhanku, aku tidak mempunyai keinginan lain selain mencintai Engkau, aku tidak mempunyai ambisi untuk kemuliaan yang lain. Cintamu telah memenuhi diriku lebih dulu sejak masa kecilku, dan berkembang seiring dengan pertumbuhanku, dan kini cinta-Mu telah menjadi lembah yang amat dalam yang tak dapat kuukur...”
Kalau kita melihat pada bagian akhir hidupnya, bahwa jalan raksasa, seketika menjadi besar dan singkat, hanya dalam waktu dua puluh empat tahun. Theresia sungguh-sungguh tidak menginginkan apa-apa lagi selain hidupnya dihancurkan oleh cinta.
Dia mengulangi mengenai dirinya di setiap naskahnya yang besar:
Naskah A, dalam sukacitanya yang besar karena masuknya Celine ke Karmel:
“Aku tidak mempunyai hasrat lain kecuali mencintai Yesus sampai tolol... tidak juga aku berhasrat untuk menderita atau mati, dan kemudian aku mencmtai keduanya, tapi cintalah yang menarikku.
Naskah C, ada semacam perbedaan, “Aku tidak lagi mempunyai keinginan besar kecuali mencinta sampai mati” (Ns C, lb 7). Ketika menjelang ajalnya, Teresia mengatakan bahwa dia tidak hanya memiliki hasrat untuk mencintai Yesus segila-gilanya, di mana cinta yang membuta ini begitu jelas menerangkannya tetapi juga jalan telah terpatri, yaitu jalan kematian. Dan merupakan kematian karena cinta.
“Aku ingin menjadi seorang santa”, tulisnya kepada Muder Agnes dan Yesus, pada tanggal 27 Maret 1888, pada saat usianya 15 tahun. Dalam hal in dia juga ingin menjadi kebanggaan bagi ayahnya, seperti yang dikatakannya ini, “Ya, aku akan tetap menjadi ratu kecilmu. Aku akan berusaha keras untuk menjadi kebanggaanmu dengan menjadi seorang santa besar” (Surat-surat, Mei-Juni, 1988). Kemudian ia masuk Karmel pada tanggal 9 April. Kita dapat menemukan beberapa sebab daya tariknya ini dalam menuju kekudusan, bukan yang biasa saja, tetapi kekudusan yang besar (khususnya antara tahun 1888-1889). Kekudusan dan cinta kasih adalah segalanya bagi Teresia. Sejak lama ia telah memahami bahwa segala sesuatu yang berada di bawah sinar matahari adalah kesia-siaan dan kemalangan belaka bagi jiwa... dan satu-satunya yang baik adalah mencintai Tuhan dengan segenap hati dan menjadi miskin dalam roh” (Ns. A, lb. 32). Pada saat ia berusia dua belas tahun, dia telah mengerti tentang kelemahan kodrat, dengan merasakan sedikit kesenangan dunia yang diakuinya. Borjuis kecil ini merasa senang ketika ia memamerkan topi barunya pada han Natal 1887, meskipun ia menderita karena ia tidak dapat masuk Karmel secepat yang diinginkannya. “Apakah kamu akan percaya,” katanya kepada Celine, “Sekalipun aku dicelupkan dalam lautan kepahitan, aku senang memamerkan topi biruku yang cantik dengan dihiasi merpati putih! Betapa anehnya kelemahan-kelemahan kodrati ini!”
Terjadi dalam beberapa bulan dan periode di mana ia menjadi sangat bergairah akan konferensi Abbe Arminjon, “Karena tahu bahwa tidak bisa dibandingkan pahala hidup kekal dengan sedikit pengorbanan hidup. Aku ingin mencinta, mencintai Yesus dengan meluap-luap, memberi-Nya beribu-ribu tanda kasih selama aku masih bisa… Aku tidak putus-putusnya mengulangi kata-kata cinta yang dapat mengobarkan hatiku…” Ini merupakan serangan cinta yang banyak diceritakannya kepada Muder Agnes yang mencatat segala percakapannya di samping tempat tidurnya, serangan cinta yang menyiapkan dasar untuk meledakkan nyala api, tindakan penyerahan kepada Kerahiman, dan untuk rahmat yang menyusul kemudian, “Sejak berumur empat belas tahun aku telah mendapat serangan cinta ini. Betapa aku sangat mencintai Tuhan! Tetapi itu semua tidak berarti apa-apa setelah aku menyerahkan diriku. Itu bukan api yang sesungguhnya membakar aku” (Catatan kuning, 17 Juli).
Muder Agnes menyuruhnya untuk menceritakannya (untuk yang kedua kalinya untuk mencatatnya, karena ia tidak memperhatikan yang pertama).
“Yah, aku telah memulai jalänku dengan salib yang dengannya tiba-tiba aku diseret dengan cinta yang begitu hebat kepada Tuhan yang hanya dapat kuungkapkan dengan mengatakan bahwa aku seperti dicelupkan ke dalam api. O betapa api yang hebat namun sekaligus betapa manisnya! Aku dibakar dengan cinta dan aku merasakannya selama satu menit, dan satu detik kemudian, aku tak dapat tetap bertahan dengan hasrat ini tanpa mati. Akhirnya aku tahu apa yang dikatakan oleh para kudus pada saat mereka mengalaminya dengan sering. Namun aku hanya mengalaminya sekali dan itu pun dalam waktu yang sangat singkat saja, lalu aku kembali kepada kekeringanku” (Catatan Kuning, 7 Juli).
Apa yang terjadi? Tidak diragukan lagi, sulit untuk mengungkapkannya kecuali mengalaminya sendiri... Tetapi apakah di sini ada semacam pemurnian oleh Tuhan sendiri mengenai seluruh peristiwa hidup Teresia? Karena tindakan penyerahan dirinya mengandung tujuan yang sangat tepat dan sempuma untuk dirumuskan.
“Untuk dapat hidup di dalam tindakan cinta sejati.”
Selama beberapa tahun ia meminta, “Cinta, cinta tak terbatas selain Engkau sendiri... Cinta yang bukan lagi aku tetapi Engkau, Yesus.” (Catatan Profesi 8 Sept. 1890).
Ambisinya di sini menjadi tak terbendung, “Aku ingin mencintai-Nya dengan amat sangat... Mencintai-Nya lebih daripada yang Dia pernah dicintai” (Surat kepada Suster Agnes dan Yesus, selama retretnya, 6 Jan 1889).
Suatu hari, ia menemukan bagaimana caranya untuk memenuhi keinginan gilanya ini, yaitu dengan melemparkan dirinya ke dalam kerahiman Bapa. Segeralah ia menyusun langkahnya, yang dikatakannya seperti api yang melahap dirinya, kemudian ia menyalip Celine, meminta izin dan Muder Agnes yang tidak tahu apa yang terjadi, atau setidaknya tidak begitu tertarik memperhatikan cara lain kesalehan di antara para biarawatinya. Semuanya ini merupakan hasil dan pencariannya yang lama dan sungguh-sungguh.
Beberapa bulan sebelumnya, selama empat puluh jam, 26 Peb 1895, ia menumpahkan isi hatinya dalam salah satu puisi-puisinya, yang merupakan gambaran yang jelas mengenai cita-citanya yang begitu mendalam.
Lima belas stanza mengalir dan ayat-ayat Injil Yohanes, “Jika seseorang mengasihi-Ku, dia akan mentaati firmanKu, BapaKu akan mengasihinya, dan Kami akan datang dan diam bersama-sama dengan dia” (Yoh. 14:23). Mudah bagi kita untuk membayangkan bagaimana sikap Teresia dalam penyembahan di hadapan Sakramen Mahakudus sambil mengulangi dan merenungkan Sabda Yesus dengan diiringi suara-suara batinnya yang berbunyi, “Hidup dengan cinta.”
“Hidup dengan cinta, adalah Surgaku... dan takdirku” apa arti kalimat ini? Tiap stanza mencoba menjawab, masing-masing menjawab beberapa segi, beberapa wama cinta yang Teresia cita-citakan dan ia ingin hidup darinya dan hari ke hari, termasuk impiannya untuk mati karena cinta yang seringkali timbul hampir di setiap tempat... yang akan segera menjadi kenyataan.
Tentu saja ia harus mulai dengan mengulangi cinta ini, “Ah, Engkau tahu, Tuhan Yesus, aku mencintaiMu!... TatapanMu sajalah kebahagiaanku.” Untuk hidup dengan cinta, bagi Teresia adalah yang paling utama tidak saja dengan meneladan hidup Tuhan yang adalah Cinta itu sendiri, namun juga membuang semua ketakutan. “Tak sejejak dosa pun kulihat. Dalam sekejap cinta telah membakarnya habis!”
Untuk hidup dengan Cinta, sekali lagi adalah dengan melihat salib sebagai harta yang berharga, yaitu untuk memberi tanpa batas, untuk menyebarkan kedamaian dan sukacita dalam setiap hati, dan akhirnya untuk bendoa bagi para imam, Gereja, para pendosa, “Oh Tuhan Sang Cinta. Biarlah mereka berpaling pada rahmatMu dan terpujilah Nama-Mu selamanya.”
Kita harus kembali ke masing-masing segi ini yang muncul beberapa kali dalam beberapa puisinya, tapi yang menghubungkan semuanya itu, segi apa yang mendorong Teresia begitu kuatnya, adalah kehausan akan cinta yang membakarnya.
“Mencintai: betapa memang hati kita untuk itu... Pada saat-saat tertentu, aku mencari kata lain untuk mengungkapkan cinta, tapi di tanah pembuangan ini, kata-kata tidak berguna untuk mengungkapkan seluruh getaran jiwa, sehingga kita harus membatasi dengan satu kata ini saja, yaitu: Mencinta” (Surat kepada Marie Guerin, Juli 1890).
Kalimat-kalimat di atas ditulisnya lima tahun sebelum ia melakukan penyerahan diri, tujuh tahun sebelum naskah B, merupakan surat yang mengagumkan kepada suster Marie dari Hati Kudus dimana kita tidak lagi meragukan sifat dasar dan alur yang mengagumkan yang mengangkat jiwa Teresia, dan dunia sekitar yang terangkat bersamanya, dunia akan datang lainnya, dan semua jiwa yang akan meneladan ajarannya, dan semua yang akan ikut serta dalam perlombaan cinta ini.
“Beri aku tempat untuk bernaung, demikian kata Archimedes, “dan dengan sebuah hati aku akan mengangkat segenap dunia.” Teresia sendiri mengutip sarjana besar itu beberapa minggu sebelum ia menmggal. Dia juga menemukan sarana untuk mengangkat dunia, yaitu: cinta, lebih tepatnya “doa yang dikobarkan dengan api cinta” (Ns C, ibid).
Tidak mungkin untuk menyalin seluruh naskah B di sini, di mana menurut pejabat berwenang merupakan salah satu karya besar tulisan rohani. Teresia secara harfiah terbakar, meskipun hanya dalam imannya. Kakaknya Marie tidak membuat kesalahan sedikitpun ketika ia mengulangi, bersyukur padanya dengan perasaan mendalam, “Kau ingin aku mengatakan sesuatu? Yah, kau keranjingan oleh Tuhan yang baik, tapi keranjingan seperti orang jahat yang dimiliki setan” (Surat kepada Teresia, Sept 1896).
Memang benar. Tuhan membimbing Teresia sejak masa kecilnya. Sejak dini Teresia telah mengalami bahwa sarana yang paling tepat untuk mencapai Tuhan dan menyenangkan hati-Nya adalah dengan cinta. Sampai akhir hidupnya ia tidak ragu-ragu akan keyakinannya tersebut, seperti yang dikatakannya, “aku amat sangat mengerti bahwa hanya cinta yang dapat membuat kita menyenangkan Tuhan, sehingga hanya cinta saja yang aku perjuangkan mati-matian…” (Ns B, lb 1).
Dia mencari ayat-ayat Injil untuk memuaskan kerinduannya yang menggebu-gebu dan akhirnya menemukan bahwa cinta saja, yang merupakan hidupnya, yang merupakan bidangnya, yang menyeluruh dan paling benharga. Siapa yang tidak mengerti baris-baris ini?
“Aku mengerti bahwa Gereja mempunyai hati dan hatinya dibakar oleh cinta. Aku tahu bahwa hanya Cinta saja yang membuat para anggota Gereja untuk bergerak, dan kalau Cinta tidak mengobarkan mereka, para rasul tidak akan memberitakan Injil kemana-mana, para martir akan menolak untuk menumpahkan darah mereka... Aku tahu bahwa dalam Cinta terkandung segala bidang, bahwa Cinta adalah segalanya, mencakup seluruh waktu dan tempat... dengan kata lain Cinta adalah abadi…
“Kemudian, dalam kewalahan karena sukacita yang berlebihan, jiwaku menjerit, Oh Yesus, Oh Cintaku... akhirnya kutemukan panggilanku, panggilanku adalah CINTA!... Ya, aku telah menemukan tempatku di dalam Gereja; Engkau, Oh Tuhanku, telah memberiku tempat itu... di dalam jantung Gereja, Bunda, aku akan mencinta... sehingga aku akan menjadi segalanya... sehingga impianku telah nyata!!!” (Ns B, lb 3).
Saat Teresia menulisnya, dia masih hidup sekitar satu tahun lagi. Sampai akhir hidupnya dia akan mengulanginya bahwa cinta saja yang berarti. Kematian tidak menggentarkannya. Dia tidak memberikan apapun kepada Tuhan selain cinta, dia yakin bahwa Tuhan akan meraih cintanya dan tiba-tiba mengoyak selubung hidupnya tanpa sempat memakainya. “Mengoyak selubung untuk perjumpaan yang manis. Saya selalu memakai istilah itu untuk kematian karena Cinta yang kurindukan. Cinta tidak akan memperpanjang usiaku, namun merenggutnya tiba-tiba.
Pada tanggal 6 Juni 1897, dengan indah dia mengulanginya lagi kepada suster Maria dari Trinitas, yang bertanya kepadanya apakah dia merasa bahagia mengetahui akan segera meninggal, “Aku akan sangat berbahagia kalau aku meninggal, tapi... aku tidak mengharapkan pada kesakitan, hal ini hanya membuat lama saja” (Kenyataannya, dia banu meninggal 4 bulan kemudian). “Aku tidak mengharapkan apa-apa lagi selain cinta. Mohonlah kepada Yesus kita yang baik agar semua doa yang diperuntukkan bagiku semakin menambah api untuk membakarku.”
Dalam kata pengantar buku Percakapan Terakhir, dikatakan bahwa Teresia secara mengagumkan begitu mencintai Tuhan. Tepat sekali, ilham misterius apa, desakan apa yang tersimpan dalam hati gadis kecil ini, kekuatan rahasia apa di dalamnya?
Itu adalah tuas cinta, yang dapat mengangkat kita juga, dan Gereja serta dunia. Untuk Segalanya, Tuhan, Tuhan saja! Ambisi gila. Mungkin. Tapi siapa yang tidak ingin dapat mengakhiri hidupnya seperti yang diungkapkan Teresia dalam Naskahnya yang pertama, menyanyikan lagu cinta yang tak pernah habis (Ns A, lb 84), begitu juga dengan yang kedua, milik barisan jiwa-jiwa “cinta yang berharga’, dan akhirnya seperti yang dikatakannya yang terakhir ketika ia sangat kelelahan, penanya terjatuh dan tangannya, Dalam kepercayaan dan dalam cinta (Ns C, lb 37).
Penyerahan Diri
Sepanjang hidupnya, Teresia menanamkan dalam dirinya kemurahan hati yang mantap dan kesetiaan yang teguh tak tengoyahkan dalam mencapai apa yang menyenangkan bagi Tuhan. Niatnya senantiasa tidak berubah untuk melakukan kehendak Tuhan dan untuk tidak memiliki kehendak lain selain kehendak Tuhan.
Karena cintanya yang begitu bear akan kehendak ilahi itulah yang membuatnya berusaha, sebaik mungkin untuk menjalani hidup religius dalam segala kesempurnaannya. Ia juga mengetahui, merupakan kehendak Tuhan bahwa kita harus saling mengasihi, karena itu ia selalu berusaha untuk mengasihi sesamanya seperti Yesus telah mengasihi. Dia memiliki hasrat yang begitu besar untuk menderita, karena menurutnya hal itu merupakan bukti yang paling mulia dan cinta kasih, cara yang paling sesuai untuk menjadi serupa dengan Sang Penyelamat Ilahi, dan sarana yang terbaik untuk menyadari kehendak Tuhan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa.
Kemudian, menjelang akhir tahun 1895, ia sampai pada kesimpulan bahwa ada suatu tingkatan cinta kasih yang bahkan jauh lebih tinggi daripada keinginan untuk menderita. Sementara saat memberi sentuhan-sentuhan akhir pada manuskripnya yang pertama, ia menyadari bahwa seluruh keinginanya telah terpenuhi, tidak hanya kerinduannya akan kesempurnaan, tapi juga hal-hal yang sebelumnya ia anggap sebagai kesia-siaan, kendati ia belum pernah mengalaminya. “Ini adalah suatu karunia akan kerahiman ilahi”, katanya.
Namun tibalah saatnya bahwa semua kerinduannya berubah menjadi hanya satu belaka. “Sekarang saya memiliki”, katanya, “Tak ada satu kerinduan lain selain kerinduan untuk mencintai Yesus sampai gila. Ya, cinta itu sajalah yang menarik aku. Aku tidak lagi merindukan penderitaan ataupun kematian, walaupun aku masih mencintai keduanya. Aku telah merindukan hal ini untuk waktu yang lama. Aku telah menderita dan mendekati ajalku... Sekarang, penyerahan diri adalah satu-satunya jalanku. Aku tidak lagi dapat dengan begitu kuatnya untuk mengharapkan apapun juga selain kehendak Allah yang terjadi seutuhnya dalam jiwaku.” Dan diilhami oleh S. Yohanes Salib, ia menyimpulkan, “Muderku, betapa manisnya jalan cinta kasih itu! Tak dapat disangkal, kita semua dapat jatuh, untuk gagal dalam bertekun, namun cinta kasih mengetahui bagaimana caranya untuk menarik keuntungan dan segala sesuatu. Ia dengan cepat menghilangkan segala sesuatu yang mungkin tidak menyenangkan Yesus, meninggalkan hanya suatu kerendahan hati dan rasa damai yang sangat mendalam di dalam lubuk hati kita.” (Diterjemahkan oleh Sdr. Yohanes Peter Kusuma, sekarang ia dikenal dengan Fr. Gabriel dari Salib).
