Print
Hits: 100
Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Prolog

Bila kita merayakan hari kelahiran Kristus, kita memeringati saat-saat unik dimana Allah menerobos waktu dan sejarah dalam wujud manusia. Putera Allah menjadi seorang manusia, sehingga Dia dapat menembus kita sekalian dengan kehidupan, kematian, dan kebangkitan-Nya. Hari Natal tidak hanya mengingatkan kita bahwa kelahiran Yesus benar-benar terjadi, namun juga mengungkapkan orang-orang macam apa yang menerima anugerah pertama Allah, yaitu anugerah diri-Nya sendiri. Hal ini juga menunjukkan bahwa kita pun dapat menerima anugerah ini. Dengan merenungkan mereka, kita menemukan apa yang bisa kita lakukan agar kenyataan Natal menembus dalam kehidupan nyata kita sekarang ini, karena Putera Allah ingin dilahirkan kembali dalam diri setiap manusia, dalam diri Anda, dan diri saya, bila saja kita mau membuka hati kita menyambut-Nya. Dalam merayakan Natal tahun ini mari kita merenungkan cinta dan kesetiaan dari dua tokoh Natal yang patut kita teladani: Maria dan Yusuf.

 

Maria

Tokoh pertama dari peristiwa Natal yang hendak kita renungkan adalah Maria. Seorang malaikat, utusan dari dunia spiritual, menyampaikan pesan bahwa Maria akan mengandung dan melahirkan seorang anak, padahal saat itu ia belum bersuami. Menerima berita yang luar biasa ini, dia menjawab, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:38).

Seringkali kita gagal untuk meneladan kepahlawanan Maria yang selalu siap sedia untuk patuh. Dia tahu apa yang akan digosipkan oleh para wanita yang mengambil air di sumur desa. Dia dengan mudah dapat membayangkan kebimbangan dan tanda-tanda apa yang akan menghinggapi diri tunangannya, Yusuf. Walaupun demikian, dia tetap setia menetapkan kehendaknya untuk taat pada rencana dan kehendak Allah.

Kesetiaan memerlukan keberanian yang luar biasa. Peran Maria sebagai seorang isteri dan ibu cukup besar. Maria setia menerima keputusan Yusuf demi kebaikan Yesus dan dirinya. Maria mematuhi perintah Yusuf ketika pada malam hari Yusuf mengajaknya mengungsi ke Mesir. Kepatuhan Maria kepada Yusuf merupakan tanda cinta dan kesetiaannya terhadap Yusuf.

Dewasa ini, khususnya karena tekanan gerakan emansipasi wanita, peranan wanita sebagai istri dalam keluarga telah terpengaruh sehingga relasi suami-istri seringkali berubah menjadi ajang perebutan dominasi dan kontrol dalam perkawinan. Sebenarnya dalam perkawinan Kristen, pasangan tidak perlu mendominasi maupun mengambil-alih kontrol, tetapi harus saling mengasihi dan menempatkan pasangannya terlebih dahulu, tanpa mementingkan diri sendiri.

Kasih dan kesetiaan Maria sebagai istri menjadi inspirasi dan pedoman bagi para ibu Kristen. Apa yang Kitab Suci katakan tentang kasih dan kesetiaannya? Kita dapat melihat kasih dan kesetiaannya terutama ketika kesedihan melanda. Contohnya, kesedihan pertama Maria ketika Simeon mengatakan bahwa Yesus akan menjadi perbantahan dan suatu pedang akan menembus hatinya (bdk. Luk 2:34-35). Ketika mengetahui bahwa Anaknya akan menjadi perbantahan dan ditolak banyak orang, Maria tetap pasrah dan terbuka terhadap kehendak Allah. Seperti yang seharusnya dilakukan oleh semua ibu dan setiap orang yang mencintai Tuhan, ia percaya bahwa segala yang terjadi adalah untuk kebaikan. Oleh karena itu, dalam menghadapi berbagai macam penderitaan, Maria tidak putus asa. Walaupun menyakitkan, ia menerima semua yang terjadi dalam kepasrahannya yang penuh iman dan cinta pada Tuhan: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38).

Maria tetap setia dan percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah membiarkan dia berjalan sendirian. Ia tidak putus asa dan tenggelam dalam penderitaan dan kesedihannya. Sikapnya sebagai seorang ibu sejati yang penuh semangat dan rela mengorbankan diri mencapai puncaknya di kaki salib di Kalvari. Maria sangat memahami penderitaan setiap ibu. Ia berbagi air mata dengan setiap ibu yang sangat menderita atas peristiwa-peristiwa sedih yang menimpa suami dan anak-anak mereka. Para ibu Kristen dapat bercermin pada semangat dan hati Maria yang simpatik. Ini merupakan pelajaran penting bagi setiap ibu untuk tetap setia dan pasrah dalam menghadapi setiap penderitaan demi cinta dan kesetiaan kepada Tuhan dan sesama.

 

Yusuf

Tokoh kita yang kedua adalah Yusuf. Alangkah istimewanya Yusuf! Dialah orang yang terdekat dengan Yesus dan Maria. Ia tinggal selama bertahun-tahun di bawah satu atap dengan Yesus dan Maria di Nazaret.

Sebagai seorang suami, ia menjadi kepala keluarga. Baginya, tanggung jawab ini tidak mudah karena Yesus dikandung dari Roh Kudus dan Maria adalah Perawan Tak Bernoda. Walaupun tugasnya sangat berat, Yusuf tetap setia pada panggillan hidupnya. Sekarang ini, ketika peran suami dan ayah menjadi tertawaan media dan ditolak/disangkal dalam kehidupan nyata, kita memerlukan Yusuf sebagai teladan dan panutan untuk memberikan pengertian yang benar tentang peran seorang suami dan ayah.

Ia dipilih sebagai suami bagi Maria. Cinta hormat serta perhatian seperti apakah yang ia berikan kepada Maria? Hal ini dapat kita lihat terutama saat Yusuf menyadari bahwa Maria sudah mengandung. Kita dapat membayangkan betapa beratnya cobaan yang dihadapi Yusuf. Ia tidak tahu bagaimana Maria dapat mengandung (bdk. Mat 1:18-24). Akan tetapi, karena mengetahui kesalehan Maria dan karena rasa hormat serta kepercayaan yang dimilikinya terhadap Maria, maka Yusuf tidak langsung menarik kesimpulan dan mengambil keputusan dengan tergesa-gesa. Sebaliknya, ia berdoa dan memikirkan jalan keluar yang terbaik. Akhirnya ia memutuskan untuk tidak menyingkapkan keadaan Maria, mengingat konsekuensinya.

Dalam hukum Yahudi, hukuman bagi orang yang berzinah adalah hukuman mati dirajam (dilempari batu). Yusuf memutuskan untuk meninggalkan Maria secara diam-diam dan menyerahkannya pada penghakiman Tuhan. Pada saat itulah Tuhan melalui malaikat-Nya menampakkan diri kepada Yusuf dan memintanya untuk tidak takut mengambil Maria sebagai isterinya. Seperti yang diteladankan Yusuf, seorang suami Kristen yang baik harus memiliki rasa hormat, cinta, dan penghargaan terhadap istrinya. Kesetiaan Yusuf mendampingi Maria merupakan ungkapan cintanya kepada Maria. St. Paulus mengatakan, “Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia” (Kol 3:19). Sikap ini melindungi keutuhan pernikahan serta menghindarkannya dari kecurigaan tak beralasan, penilaian, dan perbuatan yang dapat merusaknya.

Kesetiaan Yusuf kepada Maria juga terlihat jelas dalam tanggapan Yusuf ketika malaikat Tuhan memintanya bangun dari tidurnya, dan membawa Maria dan Yesus mengungsi ke Mesir untuk menghindari kemarahan Raja Herodes yang ingin membunuh Yesus. Yusuf tidak mengeluh, bahkan ia tidak meminta untuk menunggu sampai fajar tiba. Karena kasih dan kesetiaannya, Yusuf membawa istri dan anaknya untuk memulai perjalanan yang jauh dan sulit. Oleh karena itu, para suami dapat belajar dari Yusuf bagaimana berkurban demi cinta dan kesetiaan terhadap isteri dan anak. Yusuf berani menanggalkan kepentingan pribadi demi cinta dan kesetiaannya kepada orang-orang yang dikasihinya. Jika pengorbanan adalah bahasa cinta dan kesetiaan, betapa besar cinta dan kesetiaan Yusuf terhadap Yesus dan Maria. Bagi Yusuf, cinta dan kesetiaan itu diungkapkan dalam sikap dan perbuatan.

Kita dapat melihat kasih dan kesetiaan Yusuf terhadap Maria yang bersedih ketika mereka kehilangan Yesus di Bait Allah selama tiga hari. Ketika Yusuf menyadari bahwa mereka kehilangan Yesus, ia tidak mengatakan kepada Maria, “Anak itu tanggung jawab kamu, bukan tanggung jawab saya!” seperti yang sekarang sering dilakukan para suami terhadap istrinya. Yusuf tidak melemparkan tanggung jawab kepada istrinya dan ia juga tidak bermalas-malasan sementara Maria mencari Yesus. Sebaliknya, ia mendampingi Maria mencari Yesus dan berbagi kesedihan. Inilah seorang suami yang terbuka dan bersedia menolong setiap saat istrinya membutuhkannya.

 

Bagaimana Realitas Kehidupan Pasutri pada Zaman Ini?

Zaman mesin telah banyak memberi kiasan yang buruk yang menggambarkan relasi yang tidak mulus dalam kehidupan pasutri. Dasar utama dari setiap perkawinan adalah saling setia. Hal yang mendasar untuk diingat adalah bahwa kesetiaan tidak pernah terjadi begitu saja. Kesetiaan harus merupakan komitmen yang tulus sepenuh hati. Oleh karena itu, jangan pernah membiarkan perkawinan Anda menjadi sebuah medan perang, dimana yang satu ingin menguasai yang lain.

Sebuah pedoman penting bagi pasutri adalah “Berusahalah untuk selalu saling menguatkan, bukannya saling menularkan dan menumbuhkan bibit-bibit kelemahan pada diri pasangan”. Ketika orang dengan sengaja membiarkan kelemahan-kelemahan masuk dalam relasi mereka, maka salah satu aspek yang sangat buruk dari pernikahan adalah kecenderungan ke arah meningkatnya—bukan berkurangnya—khayalan masing-masing. Dengan demikian, perkawinan yang seharusnya mendorong untuk saling memberi dan menolong, justru dapat menjadi hambatan bagi perkembangan pribadi.

Jika pasangan Anda sedang marah, jadikanlah diri Anda sebagai pembawa damai. Waspadalah: dalam kejengkelan sesaat, sangatlah mudah untuk melupakan betapa tidak pentingnya perasaan itu dibandingkan dengan seluruh kedalaman cinta Anda satu sama lain. Dan, bersama dengan kejengkelan itu, mudah pula untuk menyampaikan pesan yang lebih menghancurkan: “Aku tidak mencintaimu”.

Data statistik perceraian begitu mengejutkan. Sudah sering dibicarakan bagaimana anak-anak menderita akibat ketidaksetiaan orang tua dalam perkawinan. Tentu saja hal ini merupakan masalah yang sangat nyata dewasa ini. Namun, penderitaan yang diakibatkan bagi pasangan sendiri, entah mereka mempunyai anak ataupun tidak, juga cukup besar. Di balik sikap tidak peduli, di balik kemarahan dan sikap saling menuduh terdapat tragedi pribadi yang mendalam. Betapapun sikap luarnya menunjukkan ketidakpedulian, di dalam batinnya bersemayam rasa bersalah, keraguan diri, dan penderitaan, karena menyadari bahwa sesuatu yang sangat indah harus berakhir dengan hancur berkeping-keping, atau tumbang seperti pohon yang terkena badai hebat. Pasangan seperti itu kadang-kadang tetap tinggal bersama bukan karena mereka saling mencintai. Bukan pula karena percaya bahwa dalam Tuhan masih ada harapan demi pertumbuhan mereka dalam keharmonisan menuju suatu cita-cita. Mereka berpura-pura rukun hanya karena takut akan apa yang mungkin dikatakan orang. Ada pula yang terikat pada perkawinan hanya karena merasa harus menikah. Ini sama saja dengan membunuh tujuan perkawinan.

 

Penutup

Sebagai penutup, saya tampilkan kisah sepasang suami-istri. Seorang istri membagikan pengalamannya, “Dulu saya beranggapan bahwa perpecahan, perpisahan, ketidaksetiaan, perceraian, meninggalkan rumah, ... semuanya ini merupakan peristiwa yang dibesar-besarkan film. Keluarga kami bebas dari peristiwa-peristiwa dramatis semacam itu. Saya berpikir, ‘Apa yang dapat memecahkan suatu keluarga yang sedemikian kecil seperti keluarga kami? Adakah sesuatu hal yang dapat memecahkan keluarga kami? Tentu tak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan kami—entah hal-hal yang ada sekarang ini maupun hal-hal yang akan muncul kemudian.’ Saya yakin tentang hal ini, sampai muncul peristiwa kekecewaan ketika ia [suaminya] berkata, ‘Engkau bukanlah orang yang paling saya cintai dan yang paling ingin saya nikahi; Engkau bukan lagi gadis yang lemah lembut yang dengannya saya jatuh cinta; Sudahkah saya membuat kesalahan? Apakah pernikahan kita merupakan suatu kekeliruan?’ Peristiwa ini disusul dengan terjadinya percekcokan serius yang pertama dan berbagai macam hal: kesulitan dengan mertua, putra sulung terlibat pemakaian obat-obat terlarang, putri bungsu jatuh cinta dengan seorang laki-laki yang telah berkeluarga. Puncaknya, ia meninggalkan saya, padahal empat anak kami masih kecil.”

Sepuluh tahun kemudian … saat istri tersebut baru pulang Misa pada tanggal 23 Desember tiba-tiba tetangganya segera menyongsongnya dan memberitahu bahwa suaminya barusan tiba. Ia menjatuhkan tasnya dan .... ia tidak percaya pada pandangan matanya sendiri. Sungguh, itulah suaminya! Si suami dengan ragu-ragu berjalan mendekati sang istri, sorot matanya memohon pengampunan. Sang istri menyingkirkan semua penderitaan di masa lampau, dan menyambut suaminya yang telah lama hilang. Tiada kata omelan, tiada kata-kata kasar yang ia ucapkan. “Tuhan telah mendengarkan doa anak-anakmu setiap tahun saat Natal. Kami memohon kepada-Nya untuk mengembalikan engkau kepada kami pada satu pesta Natal,” kata sang istri kepada suaminya. Kisah ini mengajarkan bahwa doa dan pengampunan merupakan ungkapan cinta dan kesetiaan pasutri juga.

“Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” (Rm 8:28). Selamat Natal! Semoga Tuhan memberkati dan meneguhkan ikatan kasih dan kesetiaan Anda sekeluarga!