User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Pengantar

St. Albertus adalah seorang kudus yang telah setia dalam mengikuti Kristus. Kesetiaan itu diraih lewat suatu proses terus menerus selama hidupnya. Kasih Kristus dialaminya secara nyata dalam hidupnya. Kasih itu mengalir dalam hatinya, karena telah menyatu dengan Kristus lewat doa yang tak kunjung putus. Doa menjadi bagian dari hidupnya yang membuahkan kebijaksanaan, hikmat serta pengenalan akan Kristus yang telah mengubah hidupnya.

Dia menjadi seorang gembala yang sungguh berkenan di hati umat serta panutan bagi mereka, bahkan terkenal karena keramahan, selalu membawa kedamaian dan kesatuan bagi siapa saja. Tuhan mengaruniakan kepadanya kebijaksanaan dan pengetahuan yang mendalam, dimana ia mempersatukan para pertapa dari gunung Karmel dalam satu komunitas. Atas permintaan mereka yang hidup di dekat Sumber Elia di gunung Karmel, beliau menulis Regula atau pedoman hidup bagi para pertapa tersebut. Meskipun beliau bukan seorang karmelit, tetapi mempunyai peran besar dalam meletakkan dasar hidup Karmel. Hubungan yang sangat dekat dengan Yesus lahir dari sikapnya yang terus menerus berdoa dan melayani umat dengan baik. Serta terus berjuang untuk menegakkan kesatuan diantara umat manusia dan memelihara hidup damai bagi sesama.

Riwayat Hidup

St. Albertus lahir sekitar pertengahan abad kedua belas di Castel Gu alteri, Italia, dari keluarga Avogadro. Sekitar tahun 1180 ia menjadi penyusun hukum kanon Salib Suci dari Mortara dan dipilih menjadi Prior. Pada tahun 1184, ia diangkat menjadi Paus Bobbio dan tahun 1185 diangkat menjadi uskup Vercelli. Oleh karena kepandaian dan kegemilangannya dalam berorganisasi, maka pada tahun 1205 St. Albertus diangkat menjadi Patriark Yerusalem oleh Paus Inocentius III. Pada tahun 1208-1209, ia menulis Regula atau pedoman hidup bagi para Karmelit. Pada tahun 1213, Paus mengundang dia untuk mengikuti Konsili Latheran IV, namun Albertus tidak hadir karena kesehatannya yang memburuk. Pada tahun 1214 St Albertus dibunuh di Arce. Atas jasa dan pengorbanan St. Albertus, Ordo Karmel menggelarkannya menjadi SantoKarmel dan pestanya dirayakan setiap tanggal 17 September.

Sang Gembala yang membawa Damai

Kristus datang ke dunia untuk membawa kabar gembira bagi semua orang. Tugas ini tidaklah berakhir tetapi tarus berlanjut lewat orang-orang tertentu yang dipilih oleh Yesus. St. Albertus yakin bahwa ia dipilih oleh Tuhan untuk mewartakan damai Kristus itu. Bila damai Kristus itu turun atas setiap orang kristen maka akan terjadi kesatuan diantara mereka.

Dia juga yakin bahwa Kristus datang untuk mempersatukan umat manusia yang tercerai berai oleh dosa. Dosa memisahkan manusia dari Allah, lebih fatal lagi manusia kehilangan rahmat, maka tidaklah mengherankan kalau Yesus berdoa bagi para pengikutnya, agar tetap bersatu (Yoh. 17:20-21). Yesus menghendaki dunia itu satu dan mengenal Allah, karena satu-satunya yang membahagiakan adalah mengenal Allah dan Yesus Kristus sebagai putra-Nya.

Ketika menjadi Imam, ia tak henti-hentinya mewartakan kasih dan kebaikan Allah kepada umat. Allah mencintai manusia, Allah tidak meninggalkan manusia. Mengapa? Karena manusia itu ciptaan Allah sendiri yang sungguh mulia dan secitra dengan-Nya (bdk. Kej. 1:27). Seorang imam hendaknya menguduskan dan mentobatkan banyak orang. Ketika ia diangkat menjadi uskup, St. Albertus terkenal sebagai seorang gembala yang dekat dengan umat. Umat merasakan kehadirannya yang menyapa mereka dengan kata-kata yang baik dan lembut, serta menghibur orang-orang yang menderita dan menguatkan iman mereka akan Yesus Kristus. St. Albertus mengingatkan umatnya bahwa untuk menjadi duta damai perlu relasi pribadi dengan Kristus yang kuat dan mendalam. Lebih dari itu melihat Kristus yang hadir dalam diri sesama. Konsekuensinya adalah melayanidan menyapa setiap orang tanpa memandang ras, suku dan latar belakang.

Ia juga di karunia kemampuan dan kecerdasan yang tinggi. Meskipun demikian ia tetap rendah hati, tampil bijaksana dan sederhana dan menggembalakan umat dengan penuh kasih. Umat merasakan perhatian dan kebaikan sang gembala, maka hidup dan tindakannya menjadi panutan dan teladan bagi mereka.

Patriark Yerusalem (1205-1214)

Ketika Paus Inocentius III, mengangkatnya menjadi Patriark Yerusalem, dia tetap menjalankan misi perdamaian dan kesatuan dalam tugas dan karyanya. Tanggal 16 Juni 1205, Paus menunjuk Albertus sebagai prelat ke tanah suci, karena Paus melihat ia terkenal bijaksana, seorang yang terpercaya dan tegas dalam mengambil keputusan serta punya wibawa, maka ia diutus menjadi utusan gereja untuk provinsi Yerusalem.

Tugas lain yang diterimanya dari Paus adalah menjadi pengantara perdamaian antara Raja Cyprus dan Yerusalem, antara Raja Armania dan dewan Tripoli yang pada waktu itu sedang menghadapi suatu persoalan dan pergolakan besar. Kedua raja yang sedang bertikai ini berhasil didamaikan. Melihat kenyataan ini Paus mengirim surat kepadanya, karena tetap menampilkan kebijaksanaan, kewibawaan, kelembutan dan kesahajaan dalam menangani persoalan. Maka dari itu Paus tetap mendukung keberadaan Albertus di Yerusalem.

Misinya tidak lain adalah dalam segala hal tetap menampilkan kedamaian karena dia yakin bahwa Kristus hadir dan menyertainya. Segala persoalan akan diselesaikan dalam damai dan aman kalau bersama dan dalam Kristus.

Pemberi Regula Karmel

Meskipun menjabat sebagai Patriark Yerusalem, perhatiannya terhadap para pertapa karmel, terutama cara hidup mereka tetap menarik dia. St. Albertus yang suci dan bijaksana itu, atas permintaan para pertapa karmelit di gunung karmel diminta agar menyusun sebuah pedoman hidup untuk mereka.

Pada tahun 1208-1209, St. Albertus menulis Regula atau pedoman hidup bagi para pertapa tersebut. Pedoman itu mengungkapkan cita-cita mereka sendiri yang telah lama mereka hayati sebelum dituliskan. Regula itulah yang kemudian hari menjadi pegangan mereka dalam menghayati cita-cita dan juga setelah mereka berkembang dan meluas ke seluruh gereja. Mereka inilah pendahulu para kermelit dewasa ini.

Dari Regula atau pedoman hidup yang disusunnya, tampak jelas bahwa beliau memahami dengan baik Kitab Suci, sehingga Regula yang disusunnya itu menekankan unsur Alkitabiah.

Lewat Regula tersebut, kita memahami harapan-harapan beliau sebagai orang suci dan diperuntukkan bagi para karmelit yang meraih kesempurnaan kesucian lewat doa yang terus menerus di gunung Karmel. Disatu pihak Regula ini menyodorkan cara hidup yang baru, tetapi di lain pihak masih merupakan kesinambungan dari Injil dan tradisi-tradisi besar kehidupan Religius pertama dan Bapa-bapa Padang Gurun. Regula ini sangat pendek, hanya 18 pasal dan sebuah penutup. Pada kesempatan ini, penulis tidak membahas 18 pasal tersebut, tetapi hanya menampilkan isi Regula tersebut. Regula ini melukiskan perjuangan keras suatu komunitas, dengan menampilkan kembali contoh komunitas kristen awali dalam hidup sehari-hari.

Isi Regula tersebut, akan dituangkan sebagai berikut:

Kis. 2:41-42

Regula St. Albertus

Tekun dalam doa

Berdoa dan berjaga-jaga

Berkumpul setiap hari di Bait Allah

Berdoa liturgi

Memiliki bersama-sama

Milik Bersama

Memecahkan Roti

Merayakan Ekaristi

Sehati sejiwa

Pemeriksaan Batin setiap

Lima pokok ini merupakan kelanjutan dari tradisi para Rasul, menunjukkan cara hidup komunitas karmel. Komunitas harus memperoleh santapan dari firman Tuhan, menuntut keterlibatan mereka dan terbuka akan firman Tuhan.Pembedaan Roh yang disertai dengan doa di hadapan Tuhan, dalam perayaan sabda bersama dan sakramen. Dituntut juga hidup sederhana, barang-barang dibagikan kepada orang-orang miskin. Komunitas selalu mendapat santapan dari perayaan ekaristi dan diperkuat lewat pemeriksaan batin setiap hari minggu.

Regula menetapkan bahwa biarawan karmel harus berdoa didalam sel atau pondoknya sendiri. Kesunyian batin sebagai tempat dikembalikannya pikiran yang terpecah-pecah. Kesunyian sangat diperlukan untuk menemukan diri sendiri dan berkomunikasi dengan orang lain, supaya tetap mempertahankan kepribadiannya serta terbuka terhadap orang lain.Nasihat Regula untuk bermeditasi dan merenungkan hukum Tuhan merupakan panggilan untuk memusatkan perhatian pada Injil. Doa ini mulai dari jeritan si miskin, kerinduan pria dan wanita, dan melalui imandoa ini mengantar seseorang pada suatu perziarahan untuk sampai ke gunung karmel.

Teladan St. Albertus

  1. Belajar terus menerus untuk mencintai kedamaian dan kesatuan ditengah masyarakat atau lingkup lebih kecil yaitu Gereja. 
    Sebagai orang kristiani kita dipanggil untuk membawa damai Kristus di tengah dunia ini. Damai yang diberikan itu akan tetap terpelihara dalam diri setiap orang kristiani, jika ia memiliki kesetiaan dan semangat untuk bersatu sebagai pengikut Kristus. Kedamaian adalah suatu rahmat yang terus dicurahkan kepada setiap hati yang terbuka kepada Kristus. Bila rahmat Kristus itu menyatu dalam diri setiap orang kristiani, maka ia akan berdamai dengan Allah, dengan orang lain atau dirinya sendiri bila demikian ia mampu menjadi duta damai bagi siapa saja, bukan perpecahan atau kekacauan.
  2. Berdoa memohon rahmat hikmat atau kebijaksanaan. 
    St. Albertus terkesan dengan Salomo yang berdoa memohon hikmat kepada Allah. Lewat kebijaksanaan, Salomo mampu memutuskan segala perkara seberat apapun. Kebijasanaan itu sendiri merupakan rahmat Allah yang menerangi di lewat karunia pengertian yang luar biasa (bdk. 1Raj. 3:1-15). Kenyataan inilah yang mendorong St. Albertus agar dengan tulus memohon rahmat kebijaksanaan kepada Allah. Dia yakin bahwa Allah akan mendengarkan permohonannya. Terbukti dia menjadi seorang gembala yang sangat bijaksana dalam memimpin umat. Dia juga terkenal tegas dan berwibawa dalam mengambil keputusan, karena ia yakin bahwa segala keputusan yang dilakukan dalam dan melalui kuasa Allah akan membuahkan hasil yang baik dan berguna. St. Albertus adalah orang sederhana sama seperti orang kristiani lainnya, lewat sikapnya ini kita mau mencontoh imannya, bahwa kita juga akan memperoleh kebijaksanaan yang sama kalau kita meminta kepada Tuhan dalam iman. (bdk. Mat 7:7).
  3. Kerendahan Hati
    St. Albertus menyadari bahwa segala kemampuan yang ada padanya berasal dari Allah. Kesadaran ini membuat dia tidak besar kepala, terhadap kesuksesan yang dilakukannya. Dia juga bersyukur bahwa Allah memakai dia untuk tujuan khusus dan ia juga tidak menyia-nyiakan rahmat itu. Kita juga diingatkan bahwa hidup ini adalah rahmat Allah, maka segala kemampuan, kepandaian, kecakapan yang kita miliki hendaknya kita syukuri sebagai anugerah Allah, bukan untuk memegahkan diri tetapi membuat kita semakin rendah hati. Demikian pula dengan hidup rohani, Tuhan telah memberikan berbagai macam karunia rohani kepada setiap orang yang dipilihnya secara khusus, hendaknya menggunakan sesuai kehendak Allah dan karunia itu juga diperuntukkan bagi kebaikan orang lain.
  4. Semangat juang yang tinggi.
    St. Albertus menunjukkan cara terbaik bila menghadapi krisis atau tantangan, yakni: tidak mudah menyerah tetapi mencari solusi terbaik, lewat bantuan orang lain. Sebagai orang beriman kita memohon pertolongan Tuhan melalui doa. Sebagai orang kritiani, kita yakin bahwa kristuslah kekuatan kita, mari kita berjuang dan berusaha bersikap sebagai insan Allah, dimana kita berjuang bersama Allah, bukan berjuang sendirian.
    St. Albertus telah mencapai persatuan dengan Kristus karena imannya, kasihnya terhadap Tuhan dan sesama, yang melahirkan damai dan sukacita. Kita juga dipanggil untuk menebarkan kasih itu kepada sesama tanpa memandang latar belakangnya. Dalam kesatuan bersama Kristus, marilah kita bersama-sama menjadi duta damai bagi sesama (Dari berbagai sumber).
www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting