Print
Hits: 6828

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

 
Keluarga Perjanjian Baru

Kita sering mendengar tentang pasangan suami istri yang menghayati kehidupan berkeluarga dan menjadi kudus karena rahmat Allah yang tercurah bagi mereka. Salah satunya adalah S. Anna dan S. Yoakim, orang tua Santa Perawan Maria. Meskipun tidak termuat dalam Kitab Suci Perjanjian Baru, mereka disebutkan dalam Injil Apokrif S. Yakobus, yang ditulis sekitar tahun 160 Masehi. Injil ini mengisahkan bagaimana S. Yoakim dikunjungi oleh malaikat yang bernubuat tentang kelahiran Maria. S. Anna yang telah bertahun-tahun lamanya berdoa mohon keturunan juga didatangi oleh malaikat yang bernubuat tentang kelahiran seorang anak baginya. Devosi kepada S. Anna telah berkembang berabad-abad lamanya dan banyak Gereja didirikan untuk menghormatinya. Ia dikenal sebagai teladan para ibu rumah tangga dan wanita pekerja. Pesta peringatan kedua orang kudus ini dirayakan pada tanggal 26 Juli.

Selain itu masih ada pasangan kudus lain yang termuat dalam Injil Lukas pasal satu yaitu suatu peristiwa yang mengharukan dan sangat menyentuh dan kehidupan S. Zakharia dan S. Elisabet yang memperoleh keturunan pada masa tua mereka. Pasangan ini telah mengira bahwa mereka sudah terlalu tua untuk mendapatkan seorang anak, akhirnya setelah penantian yang panjang dan pengalaman menjadi bisu yang dialami oleh Zakharia karena ragu-ragu akan kebenaran warta malaikat bahwa ia akan memperoleh keturunan, mereka menjadi orang tua dan S. Yohanes Pembabtis. Zakharia pun dapat berbicara kembali ketika ia selesai menamai anaknya Yohanes, sebagaimana dinubuatkan oleh malaikat yang menampakkan diri kepadanya.

Kisah yang indah tentang Maria dan Yusuf sebagai orang tua Yesus diceritakan beberapa kali dalam Injil. Pasangan keluarga kudus ini menjadi model dan keluarga-keluarga kristiani dalam mengejar kekudusan hidup mereka. Memang kita tidak dapat meragukan kekudusan S. Perawan Maria yang cukup bayak dikisahkan dalam Perjanjian Baru. Meskipun tidak banyak diceritakan dalam Injil dan tidak mengerjakan hal-hal yang sangat luar biasa, S. Yusuf sungguh-sungguk melayani Allah dengan iman yaitu memenuhi perannya sebagai ayah dan suami yang baik dan penuh kasih.


Pasangan Martir

Kekudusan seperti halnya kebahagiaan, juga harus dikejar dan diraih melalui karya dan kehidupan kita sehari-hari. Konsili Vatikan Kedua menyatakan, “Semua yang beriman kepada Kristus, apapun tingkat atau statusnya, dipanggil kepada kepenuhan hidup Kristen dan kepada kepenuhan cinta kasih.” Dalam sejarah Gereja kita dapat menemukan banyak teladan kekudusan. Antara lain yang ditunjukkan oleh pasangan suami-istri yang meraih mahkota kebahagiaan surgawi bersama-sama, bahkan sampai harus menumpahkan darah demi iman mereka kepada Kristus. Pernahkah Anda mendengar kisah tentang S. Krisantus dan S. Dana atau S. Yulianus dan S. Basilissa?

S. Krisantus hidup dalam abad ketiga dan menjadi Katolik yang saleh. Ayahnya sangat tidak senang dan berusaha terus untuk menjadikan Krisantus murtad lewat bantuan seorang dukun wanita kafir bernama Dana. Tetapi selanjutnya dikisahkan bahwa Dana justru bertobat dan kedua orang tersebut saling jatuh cinta kemudian menikah. Karena mempertobatkan banyak orang Roma yang kafir menjadi Kristen, S. Krisantus dan S. Dana akhirnya dijatuhi hukuman mati demi Kristus. Keduanya hidup suci bagi Allah sebagai suami istri dan mencapai mahkota kemartiran bersama-sama. Setelah ditangkap, ditahan, disiksa dan dengan cara dilempari batu, mereka dikubur hidup-hidup di Roma. Peringatannya kita rayakan pada tanggal 25 Oktober.

S. Yulianus dan S. Basilissa merupakan pasangan suami istri yang hidup pada permulaan abad keempat, mereka mengubah rumah mereka yang luas dan besar bergaya Mesir menjadi sebuah rumah sakit untuk merawat orang-orang sakit dan miskin. Karena mengabdikan diri untuk menolong sesamanya dan melayani Allah, mereka berdua menderita kemartiran oleh orang-orang kafir pada masa itu.

S. Margaret Clitherow adalah seorang wanita martir yang bersama dengan 39 orang martir dan Inggris digelari kudus oleh Paus Paulus VI pada tahun 1973. Mereka meninggal selama penganiayaan terhadap orang-orang Katolik pada abad 16 dan 17 di Inggris. Teladan S. Margaret yang sangat berharga ialah bahwa ia selalu mengumpulkan tiga anaknya setiap malam untuk berdoa bersama dan membicarakan hal-hal yang berkenaan dengan Allah. Meskipun bukan seorang Katolik, suaminya — seorang penjual daging yang kaya— tidak mencampuri urusan agama S. Margaret. Santa Margaret dalam hidupnya Senantiasa melakukan tugas rumah tangga yang sederhana bagi kemuliaan Tuhan dan ia juga mempunyai sebuah kapel untuk merayakan Ekaristi yang dipimpin oleh imam-imam yang disembunyikannya. Tetapi ketika penguasa Inggris mengetahui tempat persembunyian itu, ia, suami dan anak-anaknya ditahan. Akhimya St. Margaret dijatuhi hukuman mati pada hari Jumat Agung tanggal 25 Maret 1586.

Selain orang-orang kudus yang telah disebutkan di atas tentu saja masih tak terhitung jumlah pasangan yang tidak kita ketahui sepanjang sejarah gereja selanjutnya yang rela mati demi imannya kepada Kristus.



Pasangan Berada Yang Berkarya Amal Cinta Kasih

Banyak orang kudus yang menikah berasal dan keluarga raja atau bangsawan yang kaya raya. Meskipun demikian tidak jarang mereka tetap hidup Sederhana dan bahkan rela meninggalkan kesemarakan hidup mewah kerajaannya demi cinta dan pengabdian mereka kepada Allah. Banyak pula di antara mereka berbuat amal cinta kasih dengan membangun rumah sakit, sekolah, lembaga sosial atau biara religius untuk merawat orang-orang yang miskin dan tidak mampu.

S. Henry II dan S. Kunegunde yang hidup pada abad sepuluh adalah pasangan suami istri yang sangat saleh dan banyak melakukan karya cinta kasih. Sebagai seorang raja Henry II, yang dijuluki juga sebagai ‘Sang Jagoan karena keberaniannya di medan perang, berjasa besar bagi persatuan dan pembaruan Gera di Hungaria. Dengan semangat memerintah demi kemuliaan Tuhan, ia banyak mendirikan gereja dan tunduk pada takhta kepausan. Bersama dengan istrinya, Henry menjadi sahabat para orang sakit dan miskin serta orang-orang kusta.

Suatu saat dikisahkan bahwa orang-orang, dalam usaha meretakkan hubungan Kunegunde dengan suaminya, menyebarkan fitnah atas Kunegunde. Meskipun kemikian wanita kudus mi bahkan berani mengajukan tantangan untuk diuji kejujuran dan kemurnian dirinya dengan berjalan lewat api. S. Kunegunde dijadikan pelindung bagi negara Polandia dan Lithuania oleh Paus Clemens XI. Sesudah kematian suaminya, ia menjual segala miliknya dan memberikan hasilnya kepada orang miskin dan menghabiskan sisa hidupnya dalam sebuah komunitas religius. Ia juga dihormati sebagai santa pelindung anak-anak sakit keras.

Orang kudus lain yang cukup terkenal adalah S. Elisabet dan Hungaria. Ia sangat dermawan kepada orang miskin sehingga tidak disenangi oleh bangsawan lainnya. Dikisahkan bahwa suatu ketika, saat ia mau membagi-bagikan makanan kepada orang miskin, ia ditanyai oleh suaminya apa yang ada dalam bungkusan yang dibawanya. Setelah menjawab, “Bunga mawar,” terjadilah keajaiban. Bungkusan tersebut benar-benar penuh berisi bunga mawar yang segar meskipun saat itu bukan musimnya. Setelah kematian suaminya, Pangeran Ludwig, akibat penyakit pes selama perjalanan menuju perang salib, S. Elisabet harus mengalami banyak penderitaan. Ketika ia sedang mengandung anaknya yang keempat ia diusir oleh keluarganya. Meskipun setelah itu ia diminta kembali ke istana, rupanya S. Elisabet telah berkeputusan untuk mengabdikan dirinya sepenuhnya bagi orang miskin. Setelah menitipkan anak-anaknya kepada orang yang terpercaya, ia menanggalkan pakaian ningratnya dan menggantinya dengan jubah biarawati ordo ketiga S. Fransiskus. Pesta Santa Elisabet diperingati pada tanggal 17 Nopember.

Anton le Gras dan Luissa de Marillac adalah pasangan ningrat yalig hidup pada abad ke 16. Namun gaya hidup mereka berlainan dengan kawan-kawan mereka yang selalu memburu hidup enak saja. Luissa bersama suaminya sangat menaruh perhatian pada orang-orang miskin dan membantu orang yang ditimpa kesulitan. Sesudah suaminya meninggal dan kedua anaknya dewasa, Luissa rajin membantu S. Vinsensius de Paul dengan mengumpulkan dan melatih wanita-wanita yang bersedia meringankan beban orang sakit, yatim piatu, penderita kelaparan dan gelandangan. Luissa Selanjutnya meninggalkan cara hidup kaum elite menjadi pelopor serikat Putri Kasih dan mencurahkan seluruh tenaganya pada perbuatan amal sampai wafatnya. Pesta peringatannya dirayakan pada tanggal 15 Maret.

Dalam abad ke 17, S. Yohana Fransiska de Chantal menikah dengan seorang perwira muda terdidik dan sangat religius bernama Baron de Chantal. Setelah suaminya meninggal dalam suatu kecelakaan, ia membagi-bagikan harta kekayaannya kepada orang miskin dan mengabdikan seluruh hidupnya untuk berdoa dan bermatiraga. Berkat bimbingan Bapa Rohaninya, S. Fransiskus de Sales, ia bersama-sama membangun ordo Visitasi. Gereja memperingati pestanya pada tanggal 12 Desember.

Meskipun harus membesarkan tujuh anak, tidaklah menjadi halangan bagi Santa Hedwig dan suaminya, Pangeran Silesia, untuk tetap melayani Tuhan. Bersama suaminya, S. Hedwig mendirikan beberapa ordo religius. Demikian juga dengan S. Margaret dan Skotlandia yang bersuamikan raja Malcolm memiliki delapan anak dan salah satunya kemudian menjadi S. David. S. Brigita, ratu dan Swedia, merupakan ibu dan delapan anak. Setelah ditinggal mati suaminya, ia mendirikan ordo Penyelamat Maha Kudus, dimana salah satu anaknya kemudian han menjadi salah satu anggotanya yaitu S. Katarina.


Pasangan Bermasalah

Tidak semua orang Kudus rupanya memiliki perkawinan yang baik atau berasal dan keluarga kaya raya. Beberapa diantaranya dilahirkan dan keluarga yang berantakan atau hidup dalam rumah tangga yang tidak bahagia dan penuh skandal sebelum pertobatan mereka.

Misalnya saja S. Elisabeth dan Portugal yang dilahirkan dalam sebuah keluarga raja yang terkena ekskomunikasi. Pada usia dua belas tahun ia sudah dinikahkan dengan seorang raja lain yang juga diekskomunikasi karena alasan politis. Ia yang memiliki dua orang putera sangat menderita dan tidak bahagia dalam hidup perkawinannya karena ketidaksetiaan suaminya. Tetapi ia tetap sabar dalam menghadapi kesulitan-kesulitannya. S. Elisabeth dihormati sebagai pelindung perdamaian karena jasanya menggagalkan sebuah perang rakyat. Ia memiliki perhatian besar bagi anak-anak miskin dan membangun rumah yatim piatu. Setelah kematian suaminya ia bergabung dengan ordo S. Klara.

S. Fransiskus Borgias dilahirkan dalam suatu keluarga yang sangat terkenal keburukannya sehingga tidak heranlah ia bertumbuh menjadi seperti nenek moyangnya. Tetapi selanjutnya akibat peristiwa kematian dan seorang ratu yang sangat dipujanya, cintanya kepada orang miskin perlahan-lahan mulai tumbuh dan ia menjadi seorang yang saleh serta ayah dan delapan anak. Setelah ditinggal mati istrinya yang tercinta, S. Fransiskus Borgias masuk Serikat Yesus dan menjadi sahabat dan St. Ignasius Loyola. Pestanya tanggal 3 Oktober.

Hal serupa juga terjadi pada S. Alfonsus Rodriguez. Setelah usahanya bangkrut, ia juga kehilangan istri dan anak-anaknya. Selanjutnya ia memulai suatu hidup penuh doa dan penyangkalan diri. Ia pun mencoba untuk melamar masuk Serikat Yesus. Meskipun pada awalnya ditolak, akhirnya ia diterima masuk ordo sebagai bruder dan menghabiskan 46 tahun pengabdiannya sebagai penjaga pintu di Kolese Yesuit di Majorca, Spanyol. Peringatannya dirayakan pada tanggal 31 Oktober.

Salah satu teladan yang sungguh cemerlang ialah kehidupan keluarga bahagia dan Beata Anna Maria Taigi dan Italia. Ibu dari tujuh anak ini hidup selama 48 tahun bersama suaminya yang miskin. Meskipun sangat sibuk oleh pekerjaan rumah tangga, Anna sangat tekun berdoa dan selalu dekat dengan Allah. Banyak orang mengalami kesulitan ditolongnya dengan nasihat-nasihat, bahkan sampai para uskup dan pemimpin umat lainnya datang kepadanya untuk berkonsultasi. Beberapa orang kudus yang menikah seperti dikisahkan secara singkat di atas merupakan teladan yang layak diikuti oleh pasangan suami istri maupun keluarga-keluarga jaman sekarang. Tidaklah berlebihan jika gereja, seperti telah didengungkan dalam Konsili Vatikan II, menyerukan panggilan kepada kekudusan dan menyadarkan setiap warganya untuk mengejar dan meraihnya dalam status atau cara hidup, tugas-tugas maupun keadaanya tanpa kecuali (LG 40 dan 41). Kita Semua tanpa kecuali juga diundang untuk mewujudkan hal itu dalam hidup kita. Bahkan menurut Paus Yohanes XXIII, setiap orang Kristen wajib memahami dan mengejar kekudusannya sendiri dan dengan sekuat tenaga tanpa memandang status, kedudukan, pangkat, atau golongan, tanpa memandang waktu dan tempat, umur, jenis kelamin, kesukuan atau kebudayaan, membentuk suatu keluarga yang kudus.”