User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Sebuah eksegese singkat atas Flp 1:12-26

Pada tahun ini kita diajak oleh Bapa suci untuk merenungkan St.Paulus. Oleh karena itu, Bapa suci menetapkan tahun ini sebagai tahun Paulus. Merenungkan kisah Paulus selalu merupakan hal yang menarik. Kita tahu bahwa Paulus adalah rasul Kristus yang tangguh dan sangat berjasa dalam penyebaran Injil. Dalam refleksi singkat ini, saya hendak mengeksplorasi sedikit dari kehidupan Paulus sebagai rasul dan pengikut Kristus. Kita merefleksikan bersama bagaimana penderitaan atau kesusahan Paulus sebagai pewarta Injil dan pengikut Kristus. Kita merenungkan bersama dari teks Flp 1:12-26.

 

1. Kritik teks:

Dari perikop yang kita baca, dapat dilihat bahwa teks ini menjadi semacam gambaran atau reprensentasi dari penderitaan Paulus. Dari teks ini saya mencoba membaginya dalam tiga bagian besar yakni: Pertama, alasan pemenjaraan Paulus (12-17). Kedua, sukacita Paulus (18-24) dan Ketiga, Harapan Paulus (25-26).

 

2.Tafsiran : 

i. Alasan pemenjaraan Paulus (12-17)

a. Paulus dipenjarakan karena Kristus dan buahnya bagi kemajuan Injil (ayt.12-

(ayt.13. “aku dipenjarakan karena Kristus”). Paulus sering keluar masuk penjara karena mewartakan Kristus. Kalau kita baca dari kisah para rasul, Paulus sering dipenjara, disesah, dibelenggu dan bersaksi di depan pengadilan. Paulus bersama Silas, pernah dikeroyok masa di Pasar, di Filipi dan kemudian mereka dimasukan penjara.( bdk. Kis 16,23). Dia juga pernah dipenjara di Yerusalem, dia dituduh mencemarkan agama Yahudi. (bdk. Kis 21,31-34). Dia juga pernah dipenjara di Kaisarea (bdk. Kis 23,25). Paulus juga dipenjarakan di Roma (bdk. Kis 28,16). Penjaranya di Roma agak ringan karena dia menjadi tahanan rumah, tetapi tetap dijaga dengan ketat oleh prajurit. Selain apa yang dikatakan dalam kisah para rasul, Paulus sendiri memberi kesaksian tentang penderitaannya karena mewartakan Injil Kristus, misalnya dalam 2 Kor 6,5 dan 11, 23-26. “ ...apakah mereka pelayan Kristus?- aku berkata seperti orang gila – aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh pukulan kurang satu pukulan. Tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali aku mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung dalam laut. Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak-pihak bukan yahudi, bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari saudara-saudara palsu.”

Dalam penjara, Paulus merasa bahwa apa yang dia alami membawa buah yang baik bagi perkembangan Injil (ayt. 12.14) Orang menganggap bahwa kerasulan Paulus sudah mati karena kepenjaraannya. Orang menganggap dia tidak bisa berbuat apa-apa terhadap penyebaran Injil, nyatanya dia dipenjara. Apa yang bisa dibuatnya dalam penjara. Tetapi hal itu terjadi sebaliknya. Paulus sendiri mengakui bahwa dengan situasinya di dalam penjara, membuat Injil semakin tersebar di mana-mana. Keadaan keterpenjaraannya, tidak dilihatnya sebagai beban yang begitu berat dan kematian pewartaannya, tetapi dia bersukacita karena dengan demikian Injil semakin maju diwartakan. Dan di lain sisi, jemaat di Filipi juga semakin berkobar-kobar untuk mewartakan Injil. Pemenjaraan Paulus tidak membuat mereka takut, malahan pemenjarahan Paulus dilihat sebagai kesaksian yang menjadi pendorong bagi mereka untuk tidak gentar mewartakan Injil Kristus.

b. Penderitaan Paulus juga karena saudara-saudaranya seiman.(ayt. 15-17).

Dari dalam penjara Paulus mendengar bahwa ada orang-orang (tentu orang Kristen sendiri, bukan orang Yahudi) yang mewartakan Kristus dengan maksud baik dan ada juga yang mewartakan Kristus dengan maksud tidak baik. Mereka mewartakan Kristus karena dengki dan perselisihan.(ayt.15). Mereka yang disebut terakhir ini, adalah musuh dalam selimut Paulus seperti dikatakannya juga dalam ayt. 17, bahwa mereka mewartakan Kristus karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas. Mereka ini melawan Paulus selama dia dipenjara, dan mereka juga mewartakan Kristus, tetapi menurut Paulus mereka mewartakan Kristus dengan motivasi pribadi yang tidak ikhlas. Mereka melihat Paulus sebagai saingan. Mereka iri hati dengan keberhasilan Paulus dalam mewartakan Injil. Sehingga kesempatan pemenjaraan Paulus dianggapnya sebagai balas dendam. Hal inilah yang semakin menambah derita Paulus.

ii. Sukacita Paulus (18-24).

Ada beberapa hal yang menjadi sukacita Paulus, yakni:

  • Injil Kristus diwartakan (ayt.18-19)

Sukacita Paulus adalah Kristus tetap diwartakan, walaupun banyak juga orang yang mewartakannya dengan motivasi yang tidak baik (ayt.18). Injil semakin maju diwartakan walaupun dia dipenjara. Pemenjaraannya justeru membantu penyebaran Injil. (bdk.ayt.12). Dia merasa bersyukur dan bersukacita, karena semakin banyak jemaat yang dibakar semangatnya untuk tidak takut mewartakan Injil (bdk.ayt.14). 

Dia menyadari bahwa dia pasti menghadapi banyak penderitaan karena mewartakan Injil. Namun dia tidak takut dan gentar, malah dia merasa bangga karena mewartakan Kristus, walaupun dia tahu resikonya berat. Seperti yang diungkapkannya dalam 2 Kor 11,23-28. 

Di balik semuanya itu, dia tetap bersukacita karena kesudahan dari semua itu adalah keselamatannya (ayt.19).

  • Persatuan dengan Kristus (ayt.20-24)

Paulus bersukacita karena dengan penderitaannya Kristus dimuliakan dalam tubuhnya. (ayt.20). Artinya dengan penderitaannya ia menjadi serupa dengan Kristus. Kekuatan Paulus dalam penderitaannya adalah persatuannya dengan Kristus. Dia kagum dengan Yesus yang adalah Allah tetapi rela mengosongkan diri dan menjadi sama dengan manusia bahkan sampai wafat di salib. (bdk.Flp 2,6-11). Dia begitu terkesan dengan kenosis Yesus ini, sehingga dia ingin mengenal Yesus lebih dalam dengan menjadi serupa dengan dia dalam penderitaan, kematian dan kebangkitanNya. (bdk.Flp.3,10-11). pengenalannya akan Kristus membuat dia meninggalkan segalanya bahkan seperti yang dikatakannya sendiri bahwa apa yang dahulunya dia anggap sebagai keuntungan, sekarang dia anggap sebagai kerugian. Karena pengenalannya akan Kristus. (bdk. Flp.3,7). 

Bagi Paulus iman Kristiani itu bergantung pada penyaliban dan kebangkitan Kristus (bdk. 1 Kor 1-4.15). Dan di dalam penjara, Paulus menemukan pemahaman dan kesadaran baru bahwa sebagaimana kebangkitan orang Kristiani mengambil pola kebangkitan Kristus, demikian pula perkembangan hidup orang kristiani harus mengambil pola ketaatan, penderitaan dan penyaliban Kristus. 

Dalam ayt.23, ia mengungkapkan kerinduannya untuk bersatu dengan Kristus. Dia bersukacita karena Kristus menggunakan dia sebagai alatNya. Karena itu, seluruh hidup Paulus diserahkan hanya untuk Yesus. Ia hidup untuk Kristus dan siap mati untuk Kristus. Dengan kata lain, ia siap melakukan apa pun untuk Kristus. Oleh karena itu, dia bersuka cita. Dia tidak takut kalau satu saat dia mati, sebab bagi dia hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. (ayt.21).

iii. Harapan Paulus (25-26).

  • Paulus mengharapkan supaya jemaat di Filipi semakin bersukacita dan maju dalam iman, walaupun dia tidak ada di antara mereka dan tantangan menghadang di depan mereka. (ayt.25).
  • Dia mengharapkan agar mereka bermegah dalam Kristus. (ayt 26). 

 

3. Teologi atau renungan: 

Apa yang mau kita renungkan dari kisah penderitaan Paulus? Kiranya teks di atas membantu kita untuk melihat hidup kita juga saat ini.Apa yang dialami Paulus juga sangat relevan dengan situasi kita sekarang. Penderitaan sebagai pengikut Kristus kiranya mewarnai kehidupan kita sebagai murid Kristus saat ini. Mungkin kita tidak sampai dipenjara atau disesah, tetapi pengalaman pahit hidup harian kita entah itu sakit penyakit, maupun penolakan-penolakan dalam berbagai bentuknya dalam kehidupan masyarakat, selalu mewarnai kehidupan kita. Lalu apakah yang kita buat, lari? Menyangkal Yesus? Kiranya tidak. 

Memilih Kristus berarti siap memikul salib dan menderita bahkan mati. Ini jalan iman orang Kristen menurut Paulus. Kita diundang oleh Paulus untuk menjadi serupa dengan Kristus dengan mengambil bagian dalam penderitaanNya. Mengapa harus dengan penderitaan atau salib? Tentu kita bertanya seperti itu. Inilah yang harus kita terima dan jalankan sebagai pengikut Kristus; barang siapa mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya dan memikul salibnya setiap hari. Jadi, menjadi pengikut kristus bukan untuk senang-senang saja. Justeru dengan memikul salib dan bertahan dalam segala kesusahan kita setiap hari, kita secara bertahap disatukan dengan Kristus sendiri.
Menjadi orang Kristen bersiaplah untuk dibenci, ditolak dan dicibir. Apalagi kalau kita mewartakan Injil Kristus, kita bersiap untuk menerima segala macam tantangan. Bisa datang dari luar dan dari dalam gereja sendiri. Tak jarang kita dianggap saingan, menjadi korban iri hati. Orang bisa mewartakan Kristus, tetapi motivasinya tidak murni. Ini bisa mewarnai kehidupan gereja sebagai komunio dan menjadi tantangan kita bersama. Apakah anda semua siap menghadapi ini?

Paulus tidak pernah gentar dan takut menderita dan bahkan mati untuk Kristus. Mengapa? Karena dia punya pengalaman kebersatuan dengan Kristus yang mendalam. Kita juga bisa bertahan dalam segala cobaan, tantangan dan penderitaan, kalau kita mempunyai relasi yang mendalam dengan Kristus. Kita tidak menderita sendiri.

Di atas semua penderitaan kita dalam Tuhan, kita toh diajak oleh Paulus untuk tetap bersukacita dan dengan penderitaan kita, diharapkan kita semakin tumbuh dalam iman. Paulus mengajak kita untuk bersukacita dalam Tuhan.

 

 

Albertus dari Trinitas CSE

Penulis tetap di situs Carmelia 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting