User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

“Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata: "Kasihanilah kami, hai Anak Daud." Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka: "Percayakah kamu, bahwa Aku dapat melakukannya?" Mereka menjawab: "Ya Tuhan, kami percaya." Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: "Jadilah kepadamu menurut imanmu." Maka meleklah mata mereka. Dan Yesus pun dengan tegas berpesan kepada mereka, kata-Nya: "Jagalah supaya jangan seorang pun mengetahui hal ini." Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu” (Mat 9:27-31).


Berefleksi atas bacaan ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

  • Beriman berarti mempersembahkan diri seutuhnya kepada Tuhan, dan iman pertama-tama dan terutama harus dihayati atau dilaksanakan bukan diomongkan atau didiskusikan. Maka marilah kita menghayati iman dalam hidup sehari-hari, dengan dan dalam iman kita hidup dan bertindak. Rasanya untuk membiasakan diri dalam hal penghayatan iman pertama-tama dalam hal atau perkara yang biasa-biasa saja, misalnya dalam hal makan, minum dan tidur, yang menjadi kegemaran banyak orang. Jika dalam hal atau perkara yang sederhana dan biasa ini orang tidak menghadapi masalah kiranya dengan mudah ia dapat menghayati iman dalam hal-hal atau perkara-perkara yang lebih besar dan rumit. Makan dan minum dengan iman berarti orang dapat menikmati jenis makanan dan minuman macam apapun asal tidak beracun atau membahayakan kesehatan tubuh. Maklum cukup banyak orang mengalami kesulitan atau hambatan ketika mereka berada di tempat lain/asing yang memiliki jenis makanan dan minuman berbeda dengan apa yang dinikmati setiap harinya. Maka marilah ketika kita berada di tempat lain/asing disediakan atau dihidangkan makanan dan minuman sesuai kebiasaan atau tradisi setempat, yang mungkin tidak sesuai dengan selera atau minat pribadi, kita santap dan nikmati makanan serta minuman tersebut dalam dan dengan iman. Marilah kita berpedoman: “Jika orang setempat makan dan minum yang sama tetap sehat dan tidak mati, maka saya makan dan minum pasti tetap sehat dan segar”. Jika makanan dan minuman tidak sesuai dengan selera tetapi sehat, maka langsung telan saja tanpa dikunyah dan percayalah Tuhan menganugerahi ‘mesin penggiling yang luar biasa’ untuk mengolah makanan dan minuman tersebut demi kesehatan dan kebugaran tubuh kita. Hal yang sama adalah tidur: ada orang sulit atau tidak dapat tidur ketika ganti tempat tidur/di tempat lain, yang berarti yang bersangkutan tidak/kurang beriman. Sekali lagi jika orang tidak mengalami kesulitan atau hambatan dalam menikmati aneka makanan dan minuman serta tidur, hemat saya yang bersangkutan selamat, damai sejahtera dan dengan demikian ia dapat dengan semangat iman hidup bersama, hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan baik. “Jadilah kepadamu menurut imanmu”
  • “Pada waktu itu orang-orang tuli akan mendengar perkataan-perkataan sebuah kitab, dan lepas dari kekelaman dan kegelapan mata orang-orang buta akan melihat. Orang-orang yang sengsara akan tambah bersukaria di dalam TUHAN, dan orang-orang miskin di antara manusia akan bersorak-sorak di dalam Yang Mahakudus” (Yes 29:18-19), demikian kata-kata hiburan yang penuh harapan dari Yesaya. Beriman memang harus dilengkapi atau disempurnakan dengan harapan dan cinta kasih. Maka kepada siapapun yang merasa tuli, buta atau sengsara, entah secara spiritual maupun fisik, kami harapkan untuk tetap bergairah, bergembira, dan ceria. Bukalah hati dan jiwa anda terhadap sapaan dan sentuhan Allah, agar dalam ketulian dan kebutaan maupun kesengsaraan anda dikuatkan dan digairahkan oleh-Nya. Untuk itu memang butuh matiraga atau lakutapa, lebih-lebih secara lahir atau fiisik (lihat: Ignatius Loyola, LR no 83-85), misalnya: dalam hal makan dan tidur  mengurangi apa yang normal bukan yang berlebihan, dalam hal badan atau tubuh, memberi padanya kesakitan yang terasa tetapi tidak membahayakan kesehatan tubuh. Tujuan lakutapa lahir atau matiraga adalah untuk “menyilih dosa-dosa masa lampau, mengalahkan diri dan mencari dan mendapatkan suatu rahmat atau anugerah, yang dikehendaki atau diinginkan” (ibid. no 87). Jika dalam lakutapa lahir orang menghasilkan buah-buah yang diharapkan, maka yang bersangkutan “akan tambah bersukaria dalam Tuhan, bersorak-sorai dalam Yang  Mahakudus”. Lakutapa lahir kiranya juga merupakan bentuk cintakasih, yaitu mengasihi diri sendiri.

 

 “Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup! Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah TUHAN “ (Mzm 27:13-14)

 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting