header-carmelia17---advent-01.jpgheader-carmelia17---advent-02.jpg

Marilah Kita Pergi ke Betlehem untuk Melihat Apa yang Terjadi di Sana, Seperti yang Diberitahukan Tuhan Kepada Kita

User Rating:  / 0
PoorBest 

Pada Tanggal 25 Desember, kita rayakan atau kenangkan kelahiran ‘Seorang Bayi’, Penyelamat Dunia yang diiringi pujian gembira oleh para malaikat: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."(Luk 2:14). Mendengar pujian gembira tersebut pada gembala yang tertidur di kegelapan malam yang dingin pun terbangun dan kemudian berseru bersama: "Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.”(Luk 2:15)


Perikop Kitab Suci: Yes 62:11-12; Tit 3:4-7; Luk 2:15-20

Cicero adalah seorang komandan perang yang handal dan tangguh, pasukannya senantiasa menang dalam peperangan atau pertempuran, padahal jumlah anggota pasukan tidak besar. Perang atau pertempuran pada masa ini antar musuh harus berhadapan muka, maklum pasukannya adalah pasukan berkuda, sedangkan senjatanya adalah pedang atau panah. Waktu itu Cicero memimpin tentara berjumlah 100 (seratus) tentara dan harus menghadapi pasukan musuh yang berjumlah besar, lebih dari 1000 (seribu) tentara. Cicero harus memutar otak alias berpikir matang untuk menyusun strategi perang. Setelah berpikir dan mempertimbangkan banyak hal akhirnya Cicero memutuskan strategi perang sbb: “Pasukannya tidak perlu langsung melawan berhadapan dengan pasukan musuh, melainkan mereka diperintahkan menyusup ke daerah musuh melalui jalan lain, dan setiap tentara/orang harus ‘menculik’ anak atau bayi dari musuh”. Perang atau pertempuran memang belum dimaklumkan dan pasukan nampak masih dalam persiapan, tetapi anak buah Cicero telah menyusup ke daerah lawan melalui jalan lain tanpa membawa senjata dan memang masing-masing tentaranya berhasil menculik seorang anak atau bayi. Dengan penculikan anak atau bayi tersebut, maka para ibu menangis dan berteriak-teriak menyusul atau menemui suam-suami mereka yang siap perang. Para ibu menceriterakan bahwa tentara musuh telah menculik anak-anak mereka. Mendengar dan memperhatikan laporan, tangis dan derita para ibu atau istri-istri mereka, maka pasukan yang semula siap perang dan membunuh ‘bertekuk-lutut’, alias tidak jadi perang, melainkan memaklumkan perdamaian dengan Cicero dengan harapan anak-anak atau bayi mereka dikembalikan. Dan memang perdamaian sungguh terjadi karena anak-anak atau bayi tersebut. Dalam hati para tentara ada bisikan luhur: untuk apa hidup dan berjuang, bukankan untuk anak-anak kita. Anak-anak atau bayi telah membuat para orang dewasa untuk saling bertekuk-lutut dan bersujud membangun dan memperdalam perdamaian sejati.

Hari ini kita rayakan atau kenangkan kelahiran ‘Seorang Bayi’, Penyelamat Dunia yang diiringi pujian gembira oleh para malaikat: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."(Luk 2:14). Mendengar pujian gembira tersebut pada gembala yang tertidur di kegelapan malam yang dingin pun terbangun dan kemudian berseru bersama: "Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.”(Luk 2:15)

 

"Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.” (Luk 2:15)

Dalam (salah satu) Perayaan Ekaristi Natal hari ini pada umumnya dikhususkan bagi anak-anak bersama dengan orangtuanya: koor oleh anak-anak, ada persembahan dari anak-anak kepada Kanak-Kanak Yesus yang berbaring di palungan, pesta anak-anak dst… Dengan kata lain kepada kita semua diharapkan mengarahkan pandangan dan perhatian kita kepada anak-anak dan tentu saja juga kepada Kanak-Kanak Yesus yang erbaring di palungan, bersembah-sujud kepadaNya. Hendaknya diakui, diimani dan dihayati bahwa anak-anak atau bayi-bayi lebih suci, murni, bersih daripada orang dewasa/kakak-kakak atau orangtuanya sendiri. Maka marilah, bersama dengan ‘para gembala’,  kita ‘pergi ke Betlekem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita”..

Ingat dan sadari bahwa beberapa penjahat sering mengarahkan pandangan dan perhatiannya pada anak-anak untuk ‘diculik’ dan dijadikan ‘tameng’ atau alat untuk memeras uang sebanyak mungkin dari para orangtuanya. Beberapa orangtua juga telah bertekuk-lutut serta menyerahkan sebagian besar harta atau uangnya kepada penjahat demi anak-anaknya. Maka baiklah sekarang kita arahkan pandangan dan perhatian kita kepada anak-anak, dengan kata lain kita wujudkan sembah-sujud dan kebaktian kita kepada  Kanak-Kanak Yesus dengan bersembah-sujud dan berbakti kepada anak-anak. “Kita harus mengajarkan nilai kepada anak-anak kita karena inilah amal yang paling nyata dan paling efektif yang dapat kita perbuat untuk kebahagiaan mereka”  dan nilai-nilai itu antara lain “kejujuran, keberanian, cinta damai, keandalan diri/potensi, disiplin diri/tahu batas, kemurnian/kesucian, setia/dapat dipercaya, hormat, cinta/kasih sayang, peka/tidak egois, baik hati/ramah, adil/murah hati” (lihat:  Linda & Richard Eyre: Mengajarkan Nilai-nilai kepada anak-anak, Gramedia -  Jakarta 1997,  hal  xvii- xxvii).

Metode terbaik untuk mengajarkan nilai kepada anak-anak adalah contoh tentang siapa kita dan yang kita berikan. Contoh selalu menjadi guru yang paling baik - dan yang kita perbuat selalu berdampak lebih luas, lebih jelas, dan lebih berpengaruh daripada yang kita katakan” (ibid, hal xxviii-xxix). Perhatikan dan cermati bahwa anak-anak akan melihat dan mendengarkan dengan cermat, tekun dan penuh penyerahan diri pada apa yang anda katakan dan perbuat; dan apa yang dilihat dan didengarkannya akan sangat berpengaruh pada perkembangan dan pertumbuhan kepribadiannya. Itulah kiranya yang ‘diberitahukan Tuhan kepada kita’ ketika kita berada di depan anak-anak. “Ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita, supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh kasih karunia-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita.” (Tit 3:4-7)

Kelahiran Yesus, Penyelamat Dunia, di tengah-tengah kita merupakan ‘kemurahan Allah, kasih-Nya kepada manusia’, hal yang sama kiranya juga kita imani dan hayati ‘kelahiran seorang anak’ di tengah-tengah kita. Dialah dan juga anak-anak menjadi pengharapan kita’  semua, maka marilah kita senantiasa bergembira, ceria, bergairah, dan dinamis karena kemurahan Allah yang penuh pengharapan ini. Kita wujudkan kegembiraan, keceriaan dan kegairahan kita dengan berbuat baik kepada sesama agar mereka juga bergembira, ceria dan bergairah dalam hidup yang sarat dengan tantangan dan hambatan pada saat ini. Namun ingat dan hayati bahwa jika kita dapat berbuat baik kepada orang lain tidak lain merupakan rahmat Allah, Allah yang hidup dan berkarya dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini.

Hari ini kita kenangkan “Juruselamat Dunia”, dan kepada kita semua dianugerahi panggilan dan tugas pengutusan untuk menjadi ‘juruselamat dunia’ juga. Maka di mana ada bagian dunia, seluk beluk dunia tidak selamat di situlah kita dipanggil untuk menyelamatkannya. Ingat dan hayati kita kenangkan atau rayakan adalah Penyelamat ‘Dunia’ bukan penyelamat orang Kristen atau Katolik. Maka marilah kita wujudkan bersama-sama kidung pujian para malaikat “damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.". Memang pertama-tama dan terutama bagian dunia yang harus kita selamatkan adalah lingkungan hidup kita sehari-hari, yaitu keluarga maupun tempat kerja dan terutama adalah kelauarga atau komunitas kita masing-masing, dimana kita menjadi anggotanya.

 

"Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang yang tulus hati. Bersukacitalah karena TUHAN, hai orang-orang benar, dan nyanyikanlah syukur bagi nama-Nya yang kudus.” (Mzm 97:11-12)

 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting