header-carmelia17---lent-2014-01.jpgheader-carmelia17---lent-2014-02.jpg

Mereka Mengira bahwa Ia adalah Hantu

User Rating:  / 1
PoorBest 

“Sesudah itu Yesus segera memerintahkan murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa. Ketika hari sudah malam perahu itu sudah di tengah danau, sedang Yesus tinggal sendirian di darat. Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan di atas air dan Ia hendak melewati mereka. Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia adalah hantu, lalu mereka berteriak-teriak, sebab mereka semua melihat Dia dan mereka pun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka: "Tenanglah! Aku ini, jangan takut!" Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan angin pun redalah. Mereka sangat tercengang dan bingung, sebab sesudah peristiwa roti itu mereka belum juga mengerti, dan hati mereka tetap degil” (Mrk 6:45-52)

 

Perikop Kitab Suci: 1Yoh 4:11-18; Mrk 6:45-52

Berefleksi atas bacaan-bacaan di atas, saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

  • Orang yang sedang dalam ketakutan, bingung atau frustrasi pada umumnya tidak tajam melihat atau mendengarkan sesuatu, bahkan apa yang dilihat atau didengarkannya sering membuat semakin takut, bingung atau frustrasi. Itulah kiranya yang dialami oleh para rasul, yang kurang beriman, ketika di tengah malam di tengah danau diombang-ambingkan angin sakal, yang mengira Yesus adalah hantu. Namun ketika Yesus brrsabda :”Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”, angina sakal pun reda dan mereka menjadi tenang. Maka bercermin dari pengalaman para rasul tersebut kami mengajak dan mengingatkan anda sekalian: hendaknya tidak perlu takut atau bingung ketika harus menghadapi aneka macam masalah atau tantangan kehidupan, melainkan tenanglah. Orang yang takut dan bingung memang akan menjadi ‘buta’ alias kurang peka, tajam dan cermat melihat atau menghadapi segala sesuatu, dan ketika bertindak pasti akan merusak. Sebaliknya jika kita tetap tenang yang berarti ‘ati wening’ (berhati jernih), maka kita akan dapat melihat segala sesuatu dengan tajam, cermat dan tepat,, siapa itu sesama kita, siapa itu Tuhan dan apa itu harta benda, sehingga dapat bertindak atau berperilaku benar dan menyelamatkan atau membahagiakan. Ingatlah dan sadarilah serta hayatilah bahwa Tuhan senantiasa hadir dan berkarya dalam kebersamaan maupun kerja kita dimanapun dan kapanpun. Kehadiran dan karyaNya dapat kita lihat dan nikmati dalam apa yang baik, luhur, mulia dan benar dalam lingkungan hidup kita, dan memang hanya dapat kita lihat dan nikmati ketika kita dalam ketenangan atau keheningan. Percayalah dan imanilah bahwa apa yang baik, luhur, mulia dan benar di lingkungan hidup kita lebih banyak daripada apa yang tidak baik, jahat atau amburadul.
  • "Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih” (1Yoh 4:18), demikain pesan atau nasihat Yohanes kepada kita semua. Dekatilah, sapalah dan perlakukanlah segala sesuatu dalam dan oleh kasih. Binatang buas atau berbisa pun dapat ditaklukkan dan menjadi sahabat kita ketika didekati, diperlakukan dalam dan oleh kasih, sebagaimana telah dihayati oleh para ‘pawang’. Tanaman atau aneka jenis tumbuhan dapat hidup, tumbuh berkembang dengan baik ketika dirawat dengan penuh cintakasih. Memang aneh dan nyata apa yang sering terjadi: orang lebih mengasihi binatang, tanaman atau harta benda daripada manusia. Kasih memang sungguh menghancurkan aneka macam bentuk ketakutan, maka dekatilah, sapalah dan sentuhlah segala sesuatu yang nampak atau dirasa menakutkan dalam dan oleh kasih, karena segala sesuatu ada, diadakan atau diciptakan dalam dan oleh kasih, dan hanya dapat tumbuh berkembang dalam dan oleh kasih. Yang sering terjadi dan memprihatinkan adalah orang takut untuk dioperasi, takut disuntik oleh dokter dst.., padahal yang bersangkutan sakit. Takut sebenarnya berarti ‘kalah sebelum perang’ dan tidak hidup dalam dan oleh kasih, dan dengan demikian orang yang bersangkutan terhukum dengan.sendirinya, alias menghukum atau menyengsara-kan diri sendiri. Maka dengan ini kami berharap dan berpesan: para pelajar atau mahasiswa hendaknya jangan takut menghadapi ulangan umum atau ujian, mereka yang sedang sakit hendaknya jangan takut berobat, ketika berjalan sendirian atau tinggal di rumah sendirian tidak perlu takut, dst… Pendek kata dekatilah dan perlakukanlah segala sesuatu dengan ‘bahasa kasih’ dan mungkin hanya melalui ‘bahasa tubuh’, tanpa kata-kata, misalnya dengan membelai, mencium, meraba, dst.., atau gerakan anggota tubuh kita.


“Kiranya semua raja sujud menyembah kepadanya, dan segala bangsa menjadi hambanya! Sebab ia akan melepaskan orang miskin yang berteriak minta tolong, orang yang tertindas, dan orang yang tidak punya penolong; ia akan sayang kepada orang lemah dan orang miskin, ia akan menyelamatkan nyawa orang miskin” (Mzm 72:11-13)

 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting