header-carmelia17---lent-2014-01.jpgheader-carmelia17---lent-2014-02.jpg

Saya Tidak Mengerti Apa yang Saya Baca

User Rating:  / 5
PoorBest 

 Salah satu alasan mengapa banyak orang Kristen malas membaca Kitab Suci adalah karena dirinya tidak mengerti apa yang dia baca. Karena tidak mengerti apa yang dibacanya, maka banyak orang menjadi malas dan kehilangan semangat dalam membacanya. Memang, ketika membaca Kitab Suci kita tidak diharapkan untuk mengerti secara intelektual apa saja arti dari teks yang kita baca itu, namun harus diakui bahwa membaca Kitab Suci terasa lebih menyenangkan jika kita mengerti apa yang kita baca. Hal ini sebenarnya berlaku untuk semua jenis bacaan, mulai dari buku ilmiah sampai komik sekalipun, umumnya hanya dapat dinikmati kalau kita mengerti apa yang kita baca.

Kesulitan memahami Kitab Suci adalah sesuatu yang biasa, kita bukanlah satu-satunya orang yang mengalaminya. Dalam Kisah Para Rasul misalnya tercatat seorang sida-sida dari Etiopia yang mengalami kesulitan memahami nubuat nabi Yesaya mengenai Hamba Allah yang menderita (Kis 8:26-40). Sida-sida ini membutuhkan bantuan dari Filipus untuk dapat memahami apa yang ia baca. St. Petrus juga menunjukkan bahwa isi surat-surat Paulus sulit untuk dipahami sehingga sejumlah orang yang sok tahu meskipun tidak tahu malah memutarbalikkannya menjadi kebinasaan bagi diri mereka sendiri (2 Pet 3:15-16). Jadi kesulitan membaca Kitab Suci memang suatu yang biasa saja, semua orang mengalaminya, dan kita tidak perlu khawatir soal itu.

Sebagian orang mungkin dengan enteng mengatakan “kalau tidak mengerti mintalah Roh Kudus membimbingmu, maka Ia akan menjelaskan isi Kitab Suci padamu”. Tentu kita percaya akan bimbingan Roh Kudus. Percaya akan bimbingan Roh Kudus tidak berarti bersikap naïf menunggu adanya bisikan-bisikan atau wangsit dari langit yang menjelaskan isi Kitab Suci kepada kita. Kitab Suci sendiri menjelaskan bagaimana Roh Kudus bekerja menggunakan sarana-sarana manusiawi dalam penulisan Kitab Suci. Misalnya St. Lukas mengadakan penyelidikan atas kisah-kisah Yesus yang didengarnya dari para saksi mata dan pelayan Firman sebelum dibukukannya secara teratur (Luk 1:2-4). Hal yang serupa juga dapat ditemukan pada teks-teks Perjanjian Lama dan Baru di mana penulis-penulis suci digerakkan oleh Roh Kudus untuk menggunakan sarana-sarana manusiawi baik berupa pengetahuan akan berbagai tradisi lisan, dokumen  atau metode penulisan tertentu sesuai budaya dan zaman mereka. Jadi kita memang membutuhkan sarana-sarana manusiawi seperti pengajar yang baik dan literatur penunjang yang bermutu pula. Dan mempelajari Kitab Suci dengan cara sedemikian ini membutuhkan waktu dan usaha yang khusus, perlu ditambahkan pula bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan dan bakat yang sama untuk melakukannya dengan baik.

Jadi, kita masih memiliki masalah bagaimana mengatasi ketidakmengertian kita akan Kitab Suci. Kitab Suci adalah Sabda Allah, ia tetap dapat bekerja dalam diri kita sekalipun kita tidak memahami maknanya, Allah sendiri telah berjanji:

“Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya” (Yesaya 55:10-11).

Berdasarkan ayat di atas ini kita dapat yakin bahwa sekali pun kita tidak mengerti isi teks Kitab Suci yang kita baca namun membaca teks Kitab Suci itu tetap bermanfaat bagi kita. Kerja Sabda Allah itu dalam diri kita mungkin tidak dapat kita kenali dengan segera namun dengan cara yang misterius sabda itu tetap bekerja melakukan tugasnya untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran sehingga kita yang membacanya diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik dan dapat memperoleh hikmat dan tiba pada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus (2 Tim 3: 16, 17, 15b). Kuasa Allah yang tak terbatas memampukan sabda-Nya bekerja dalam diri kita sekali pun secara intelektual kita tidak memahami arti teks yang kita baca.

St. Teresa dari Avila adalah satu dari sekian banyak orang Kristen yang memiliki masalah yang sama dengan kita, yaitu bahwa ia sangat kesulitan memahami teks-teks Kitab Suci. Dalam bukunya Meditasi Kidung Agung (Meditations on the Song of Songs) Teresa mengungkapkan kesulitannya dan sekaligus memberi petunjuk mengenai apa yang hendaknya kita lakukan jika kita mengalami kesulitan itu:

“Saat Tuhan ingin memberikan pengertian, Yang Mulia melakukannya tanpa usaha kita. Saya mengatakan ini kepada para wanita, dan juga kepada para pria yang tidak berkewajiban mempertahankan kebenaran melalui belajar. Karena mereka yang dipanggil Tuhan untuk menjelaskan Kitab Suci kepada kita harus melakukannya dengan pengertian yang baik, dan mereka akan memperoleh banyak dari pengertian mereka. Tetapi kita harus menerima dengan kerendahan hati apa pun yang Tuhan berikan kepada kita; dan janganlah kita disusahkan oleh apa yang tidak Ia berikan, tetapi bergembiralah dengan merenungkan betapa hebat Tuhan dan Allah yang kita punya."

Karena satu kata dalam Sabda-Nya mengandung dalam dirinya sendiri ribuan misteri, dan pengertian kita hanya dangkal saja. Bahwa kita tidak mengerti sabda-Nya saat sabda itu tertulis dalam bahasa Latin atau Ibrani atau Yunani itu tidaklah mengejutkan. Tetapi bahkan dalam bahasa kita sendiri; betapa banyak hal dalam mazmur Raja Daud yang mulia walaupun telah diterjemahkan ke dalam bahasa kita tetap saja tidak dapat kita mengerti sebagaimana mazmur-mazmur itu tertulis dalam bahasa Latin! 

Jadi hendaknya kamu selalu berjaga untuk tidak membuang waktu untuk hal-hal ini atau melelahkan dirimu sendiri, karena wanita tidak membutuhkan lebih daripada yang mereka butuhkan untuk meditasi mereka. Dan dengan ini, Allah akan memberkati mereka. Saat Yang Mulia ingin memberi kita pengertian akan sabda-Nya, kita akan menemukannya tanpa khawatir dan susah payah. Selebihnya, marilah kita merendahkan diri kita, dan, sebagaimana telah saya katakan, bergembiralah bahwa kita memiliki Tuhan yang sedemikian itu, karena sabda yang Ia ucapkan sekalipun dalam bahasa kita sendiri tetap saja tidak dapat kita mengerti” (Chapter 1, no.2)

Dalam kutipan di atas ini, kita menemukan bagaimana St. Teresa mengecam para susternya yang selalu ingin mengerti isi Kitab Suci dan menyibukkan dirinya dengan berbagai usaha untuk memahami isi Kitab Suci. Bagi Teresa hal itu tidaklah perlu bahkan tidak banyak gunanya. Panggilan Teresa dan para susternya, dan juga panggilan kaum awam pada umumnya, adalah bukan untuk menjadi pengkhotbah atau menjadi ahli Kitab Suci. Karena hal itu bukanlah panggilan kita, maka kita juga tidak perlu terlalu ambil pusing mengenai teks-teks Kitab Suci yang tidak kita mengerti. 

Berusaha memahami isi Kitab Suci itu wajar, baik, dan sah-sah saja, tetapi hendaklah kita ingat bahwa kita membaca Kitab Suci pertama-tama bukan untuk memahami atau menafsirkan isinya tapi untuk berjumpa dan berkomunikasi dengan Allah yang menyapa kita melalui sabda Kitab Suci. Komunikasi antara Allah dan kita tidak terbatas pada pengertian kita terhadap teks-teks Kitab Suci.

Resep Teresa dalam membaca Kitab Suci adalah bacalah dan nikmatilah saja, jika Anda tidak mengerti isinya maka renungkanlah betapa dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah, keputusan-keputusan-Nya yang tak terselidiki dan jalan-jalan-Nya yang tak terselami (Rom 11:33). 

Dengan mengikuti nasehat Teresa ini maka saat kita tidak paham isi teks Kitab Suci sekali pun, pembacaan Kitab Suci tetaplah menjadi saat perjumpaan kita dengan Allah dimana kita mendengarkan Allah yang menyapa kita melalui sabda-Nya dalam Kitab Suci. Dengan ini rasanya kita tidak perlu terlalu memusingkan keterbatasan kita memahami teks Kitab Suci dan dapat terus membacanya walaupun kita tidak mengerti.

 

Daniel Pane

Salah satu penulis di situs carmelia.net 

www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting