header-carmelia17---lent-2014-01.jpgheader-carmelia17---lent-2014-02.jpg

Bersatu dalam Kristus Berbuah Banyak (Yohanes 15:1-8)

User Rating:  / 10
PoorBest 

 

A. MENJADI MURID KRISTUS

Rahmat Allah atau kehidupan Allah di dalam diri kita bisa memberikan energi atau daya yang menghasilkan tenaga kepada kita, untuk melakukan hal-hal yang tidak dapat kita lakukan dengan kekuatan sendiri. Demikian pun rahmat Allah bisa membakar semangat kita, untuk selalu menjaga persatuan dengan Allah sehingga hidup Allah mengalir di dalam diri kita, dan kita akan mengambil bagian dalam terang, kehangatan, dan kekuatan dari Allah sendiri. Energi yang datang dari Allah itu adalah sesuatu yang memberi hidup, yaitu rahmat yang menghidupkan dan menguduskan. Rahmat itu adalah Yesus sendiri yang hidup di dalam diri kita. Sebagai anak-anak Allah kita dipanggil untuk menjadi murid-murid Yesus yang sejati. Menjadi murid-murid Kristus yang sejati sejauh kita bisa melupakan diri sendiri atau lepas bebas dari kelekatan-kelekatan yang ada dalam diri sendiri, supaya Kristus yang diam dalam diri kita sungguh-sungguh hidup dan berkarya. Mula-mula sebagai murid, kita berusaha untuk melepaskan diri dari hal-hal duniawi. Lama-kelamaan kelepasan itu bukan lagi usaha asketis, melainkan akibat dari keterpautan kita pada Yesus. Sebab seorang murid yang sungguh-sungguh berpaut pada Yesus tidak akan terikat pada macam-macam hal. Semakin hati kita berpaut pada Yesus, semakin bebaslah kita. Kalau hati kita dikuasai Tuhan, semua keinginan-keinginan yang tidak teratur menjadi pudar. Murid Yesus tidak mungkin berhasil, di dalam hidupnya maupun di dalam karyanya, jika dia tidak selalu tinggal dan bersatu dengan sumber segala kehidupan yaitu Yesus Kristus sendiri. Dia tidak mungkin berhasil, kalau dia lepas dari Yesus. Yesus harus menjadi pokok kehidupan dan karya seorang murid . Bila dia sungguh bersatu dengan Yesus, dia akan menghasilkan buah yang sejati. Pada umumnya buah terdapat pada ranting-rantingnya. Demikian juga pokok anggur, ada batang (pokok) dan ranting-rantingnya. Di situlah kita jumpai buah-buahnya. Bila ada pokok, maka ranting akan berbuah. Tetapi bila ranting lepas dari pokok, maka tidak akan menghasilkan buah, bahkan ranting bisa kering dan mati.

 

B. KITA ADALAH RANTING-RANTING PADA KRISTUS.

Di sini ditunjukkan hal yang mendasar akan ketergantungan kita yang mutlak kepada Kristus sebagai pokok kehidupan dan jalan kes’lamatan kekal. Yesus mau menunjukkan bahwa sumber kehidupan akan memancar yang memberi pengharapan dalam iman dan kasih, bila kita sebagai murid bersandar dan percaya kepada Yesus Kristus. Semakin orang menyadari dengan sungguh-sungguh, bahwa dia tergantung seluruhnya kepada Kristus, semakin dia akan tinggal pada Kristus dan semakin daya hidup Kristus, akan mengalir yang akan memberikan semangat dan kekuatan dalam dirinya. Melalui dia, kasih Kristus akan mengalir juga kepada orang lain disekitarnya. Menjadikan dia saluran berkat dan rahmat Tuhan bagi sesama yang dia layani. Nabi Hosea mengungkapkan dengan begitu indah dalam Hosea 14:7,”Ranting-rantingya akan merambak, semaraknya akan seperti pohan zaitun dan berbau harum seperti yang di Libanon”. Inilah yang pokok dan hakiki bagi kehidupan kita untuk selalu berpaut dan bersekutu kepada Yesus, agar kita memperoleh kelimpahan rahmat yang besar untuk selalu yakin dan percaya, bahwa Yesus Tuhan dan Allah kita, dan ikut ambil bagian dalam kehidupan ilahi-Nya. Dialah Juru S’lamat kita, hanya kepada Dialah kita memperoleh kepenuhan hidup yang sempurna, karena Dia dapat melakukan segalanya bagi hidup kita.

 

C. “…KAMU TIDAK BERBUAH, JIKALAU KAMU TIDAK TINGGAL DI DALAM AKU”.

Yesus adalah pokok anggur, dan kita adalah ranting-rantingnya. Kalau ranting itu lepas dari pokok itu, maka dia akan menjadi layu, kering, mati dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kalau suatu saat ranting itu menjadi sombong, merasa bahwa buahnya banyak, dan akhirnya melepaskan diri dari pokok, maka dia akan menjadi kering dan seketika itu juga dia akan mati, bisa-bisa dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Demikian juga manusia, bila pada awalnya, dia berbuah karena dia tinggal dan bersatu pada Kristus, tetapi kemudian dia lupa bahwa dia berbuah banyak karena Kristus bukan dari dirinya sendiri. Akhirnya melihat dirinya berbuah, merasa diri sudah hebat, banyak karunia, mau melepaskan diri dari pokoknya yaitu Kristus, maka lama-kelamaan dia menjadi mandul dan menjadi kerdil, akhirnya tidak menghasilkan buah apa-apa. Dalam kehidupan kita terkadang melupakan persatuan dengan Kristus. Misalnya dewasa ini, manusia modern tidak mau lagi mengacu kepada Allah dalam membangun dunia. Mereka mau lepas, mau independen terhadap Allah. mereka tidak setia dan percaya kepada Allah. Mereka menciptakan allah-allah sendiri dalam bentuk kekuasaan, harta benda, keindahan, kenikmatan, popularitas, dan sebagainya. Mereka tidak bisa berbuah malahan buahnya busuk seperti legalisasi abortus, euthanasia, perkawinan homoseksual, new age, ateisme praktis dll. Dalam keluarga banyak yang berantakan akibat egoisme yang menguasai kehidupan manusia, buahnya mengakibatkan begitu banyak luka-luka batin, trauma-trauma, penyimpangan-penyimpangan karena tidak dapat mengalami kasih dan karenanya juga tak dapat memberikan kasih dan semangat berkurban. Satu keluarga berantakan akan menghasilkan beberapa keluarga berantakan baru. Dalam pelayanan di dalam Gereja, banyak orang ingin tampil hebat, mencari kehormatan dan puji-pujian, merasa memiliki banyak karunia, melayani kemana-mana, sehingga mereka tidak bisa berbuah malahan berbuah percekcokan, iri hati, pertengkaran, saling menjatuhkan, yang akhirnya muncul perbuatan-perbuatan daging. Mereka melupakan hal yang pokok yaitu tinggal dan bersatu dengan Yesus. Kita yang dipanggil menjadi murid Yesus , Jika menghadapi tantangan atau salib-salib hidup kita, tidak akan mampu menghadapinya dengan kekuatan sendiri. Kemampuan manusia itu terbatas, tetapi bila kita hidup berpaut dan tinggal di dalam Yesus, memiliki relasi yang mesra dengan Yesus melalui keheningan doa, penghayatan sakramen-sakramen, membaca kitab suci dan tindakan-tindakan kebajikan, maka kita akan menyerahkan semuanya itu kepada Yesus. Dalam iman, kita percaya bahwa Yesus yang akan melakukan segalanya dalam hidup kita. Dengan bersatu kepada Yesus, kita akan berkembang dalam kerendahan hati, dan kasih kepada sesama.

 

D. TUMBUH DAN BERKEMBANG OLEH KRISTUS, MELALUI SABDANYA.

Kamu memang sudah bersih, karena firman yang telah kukatakan kepadamu”. Kalau kita percaya kepada Yesus dan melaksanakan firman-Nya, maka firman itu akan mempunyai daya kekuatan untuk mengubah hidup kita. Dalam injil Yohanes 6:25-59, ketika Yesus berkhotbah tentang Roti Hidup, dan khotbah-Nya tidak bisa dimengerti oleh orang banyak yang mengikuti Dia, mereka satu per satu mulai meninggalkan Dia, dan Yesus menantang kedua belas rasul-Nya: Apakah kamu tidak mau pergi juga? Lalu Petrus menjawab atas nama kedua belas rasul,”Tuhan kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan yang hidup dan kekal dan kami telah percaya dan tahu bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah” (Yoh 6:67). Di sini kita melihat perbedaan yang mendasar antara murid-murid Yesus dengan orang banyak. Orang banyak sangat antusias secara spontan, memanfaatkan-Nya untuk mewujudkan impian dan cita-cita mereka, ketika mereka melihat Yesus berkeliling dan banyak mengadakan mukjizat-mukjizat serta mendengar Yesus berkhotbah. Padahal, dengan mengadakan mukjizat-mukjizat itu Yesus ingin agar mereka percaya kepada-Nya sebagai seorang yang diutus Allah. Sehingga ketika Yesus berkhotbah mengenai hal yang sulit dimengerti dan tidak masuk akal tentang Roti Hidup, mereka meninggalkan Yesus. Mengapa? Karena mereka tidak memiliki hubungan yang pribadi dengan Yesus dan mereka itu bukan murid-murid Yesus yang sejati. Mereka mengikuti Yesus hanya mau ikut-ikutan saja, hanya mau menerima mukjizat Yesus saja dan baru mendapat tantangan sudah mundur.

Sekarang, mengapa murid-murid tidak meninggalkan Yesus? Apakah Petrus mengerti apa yang dikatakan Yesus? Apakah rasul-rasul yang lain juga, tahu apa yang diucapkan oleh Yesus? Sebenarnya mereka pun tidak mengerti, tetapi mereka terpaut pada pribadi Yesus. Mereka sudah mempunyai hubungan yang sungguh-sungguh pribadi dengan Yesus dan mereka adalah murid-murid Yesus yang sejati, sehingga bagi mereka sebetulnya yang paling penting dan pokok ialah tetap setia kepada Yesus dan tetap mengikuti Yesus, karena pribadi serta teladan Yesus memberi arti bagi hidup mereka. Dalam iman, mereka melihat bahwa Yesus adalah sungguh Tuhan dan penyelamat dunia. Keselamatan yang benar dan sejati hanya ada dalam Yesus. Kesetiaan kepada Yesus inilah rahasia keberhasilan mereka. Kesetiaan sangatlah penting, karena mereka tetap berpihak pada Yesus dan tinggal bersama Yesus, juga pada saat-saat sulit sekalipun, mereka tetap berpaut kepada Yesus, bersandar kepada Yesus dan percaya kepada Yesus.

 

E. “…BARANGSIAPA TINGGAL DI DALAM AKU …DIA BERBUAH BANYAK…”

Kata-kata Yesus ini harus menjadi pedoman hidup bagi kita, sebagai murid Yesus. Bila kita melihat para rasul, misalnya Petrus, dia adalah seorang nelayan yang miskin, tidak berpendidikan berasal dari Galilea yang diantar kepada Yesus oleh saudaranya Andreas. Yesus memberikan nama Aram kepa yang berarti batu karang, yang kemudian diterjemahkan dari bahasa Yunani Cephas, menjadi Petrus (bdk. Yoh 1:42). Dia adalah kepala ke-12 rasul, bersama Yakobus dan Yohanes, merupakan orang dekat Yesus. Dia menyebarkan Injil kepada orang bukan Yahudi dan dia dihormati sebagai pendiri Takhta Suci di Roma sekaligus sebagai Paus pertama. Dia mempunyai iman dan hati  kepada Yesus. Dia menunjukkan kedermawanan yang tinggi, antusiasme, kemauan baik, dan cinta yang ikhlas kepada Yesus. Walaupun dia menyangkal Yesus sebanyak 3 kali (bdk. Mat 26:69-75), dia bisa berubah, maju, tumbuh dan berkembang. Tantangan dan krisis yang telah dialami oleh Petrus ternyata telah membuat dia menjadi lebih matang dan sungguh-sungguh mencintai Yesus, karena hatinya sungguh-sungguh berpaut kepada Yesus. Dalam suratnya 2Petrus 1:3-4 ia menulis,”Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia”. Inilah rahasia keberhasilan sebagai murid Yesus ialah keterpautan dan tinggal bersama dengan  Yesus. Bila ini tidak diutamakan, yang lain-lain akan sia-sia belaka. Sia-sialah segala karya, pelayanan dan kegiatan rohani yang dilakukan dalam kehidupan kita, bila dasar pokok ini ditiadakan.

 

F. “JIKALAU KAMU TINGGAL DI DALAM AKU,…MINTALAH APA SAJA YANG KAMU KEHENDAKI DAN KAMU AKAN MENERIMANYA”.

Tinggal di dalam Yesus juga akan memberikan rahmat besar lain yakni bahwa doa-doa kita akan selalu didengarkan oleh Tuhan. Memang kita akan mengalami banyak tantangan, tetapi kita akan mengalami bahwa janji Yesus itu sungguh benar dan doa-doa kita selalu didengarkan Tuhan. Orang yang berusaha tinggal di dalam Yesus di segala waktu dan tempat akan mengalami bahwa Tuhan itu memang dekat. Inilah letak keberhasilan para kudus, bahwa mereka bersatu dengan Tuhan. Hal ini dapat kita lihat dalam diri Yohanes Maria Vianney yang lahir dalam keluarga yang sederhana dan saleh, pada tanggal 8 Mei 1786. Saat baru berusia 18 bulan, Yohanes telah belajar mengatupkan kedua tangannya yang mungil dalam doa. Ia juga dengan bahasanya sebagai seorang bayi sudah mulai melafalkan nama Yesus dan Bunda Maria. Pertumbuhan iman dan kesalehan hidup dalam diri Yohanes Maria Vianney amat luar biasa. Dalam usia yang relatif masih muda, telah tumbuh gambaran iman yang sejati dalam dirinya. Dia sudah mampu menanamkan rasa ngeri terhadap dosa. Yohanes Maria Vianney yang sudah remaja menjadi rajin pergi berdoa di depan Tuhan Yesus, yang hadir tersamar dalam rupa Sakramen Mahakudus yang ditakhtakan di atas altar.

Sebagai seorang anak yang gemar mengembalakan domba dan bekerja di ladang, Yohanes Maria Vianney amat dekat dengan suasana yang hening, sendiri, dan banyak waktu luang. Dalam situasi yang demikian, Yohanes Maria Vianney senantiasa memanfaatkannya untuk berdoa. Dia membangun sendiri kekuatannya untuk senantiasa bersahabat dengan Allah. Di seminari, Yohanes Maria Vianney memiliki kemampuan yang kurang dibandingkan dengan anak-anak yang lain dan pernah dipulangkan akibat kebodohannya. Dia mencoba mengatasi kelemahan intelektualnya dengan menjalani praktik pengendalian diri atau matiraga yang radikal, untuk mengekang dia agar tidak mudah putus asa dan gampang marah. Walaupun lemah dalam bidang akademis, disini kerohanian Yohanes Maria Vianney justru bertumbuh dengan baik. Kekudusan yang ditampakkan oleh Yohanes Maria Vianney, menjadi alasan yang kuat bagi para pembimbingnya untuk menahbiskan dia menjadi imam. Setelah berkarya selama 3 tahun di Ecully di wilayah Prancis, Yohanes Maria Vianney ditempatkan di sebuah paroki baru bernama Ars, di wilayah Prancis selatan. Ars adalah sebuah paroki kecil, jauh dan terpencil, dimana Allah telah dilupakan. Kondisi Gereja yang tidak terawat dengan bagunannya yang hampir hancur. Situasi ini diperparah dengan prilaku umat di paroki ini yang tidak senonoh, gemar berpesta dan mabuk-mabukan. Di sini dia merasakan bahwa dia tidak mampu. Dia sangat berharap kepada Allah. Karena persatuannya dengan Tuhan, dia mengubah paroki yang mati itu menjadi paroki yang begitu berkembang dan hidup, sehingga dari seluruh Perancis, orang berbondong-bondong datang kepadanya. Mengapa Yohanes Maria Vianney dapat melakukan semuanya itu? Alasannya tidak lain adalah karena mereka melihat bahwa pastor dari Ars ini seorang yang kudus dan murni hatinya karena telah bersatu dengan Tuhan. Tuhan sendiri yang memberi kekuatan kepadanya. Penghayatan hidupnya yang berfondasikan pada Allah dan terarah kepada-Nya. Senantiasa mati terhadap keinginan diri dan terbuka bagi gerak Roh dalam diri yang menghantar kepada persatuan dengan Allah. Dalam dirinya, orang melihat Yesus yang hidup. Persatuan dengan Yesus terpancar dalam hidupnya yang nyata melalui kata-kata, perbuatan atau karyanya. Memberi kesaksian melalui hidupnya yang penuh kerendahan hati, keramahan dan kesucian. Oleh karena itu, pada suatu kesempatan dia berkata demikian,”Aku tidak memiliki apa-apa, Allah adalah segalanya bagiku. Aku tidak dapat melakukan dari diriku sendiri. Hanya Allah yang dapat melakukan segalanya”. Yohanes Maria Vianney menunjukkan bahwa apa pun yang kita lakukan harus didasarkan pada persatuan yang mesra dengan Tuhan dalam doa. Semua itu merupakan buah yang nyata bila kita selalu tinggal dan bersatu bersama Kristus. Ini yang harus menjadi kerinduan kita sebagai murid Kristus, bersatu dengan Yesus.

 

G. “…SEBAB DI LUAR AKU KAMU TIDAK DAPAT BERBUAT APA-APA”.

Dengan tinggal dan bersatu bersama Kristus, maka Kristus sungguh-sungguh hidup dalam diri kita. Yesus semakin meraja dalam diri kita, dan Dialah yang akan melakukan segalanya. Tantangan dan rintangan dalam hidup yang kita alami, akan membuat kita menjadi lebih matang dan sungguh-sungguh mencintai Yesus, bila hati kita sungguh-sungguh berpaut kepada Yesus. Kalau kita mau berkembang dalam kerendahan hati, hidup rohani, dalam doa, pelayanan dan segala tindakan kita, kesatuan dengan Kristuslah rahasianya. Semakin orang bersatu dengan Kristus, semakin dia rendah hati, dengan diam-diam dia berbuah. Karena di dalam Kristus kita telah memiliki segala-galanya dan telah mengalami prarasa surgawi di dunia. St. Teresia Avila berkata,”Jangan biarkan apa pun mengganggumu, apa pun membuatmu takut, segalanya berlalu, Tuhan tetap. Sabarlah, dan engkau akan mencapai keinginan hatimu. Dengan Tuhan sebagai milikmu, engkau tidak akan kekurangan, Tuhan mencukupi”. Inilah yang Tuhan janjikan kepada kita, bila kita setia berpaut dan tinggal dalam Kristus Yesus. Kesetiaan sangatlah penting, karena kita tetap berpihak pada Yesus dan tinggal bersama Yesus, juga pada saat-saat sulit sekalipun, kita tetap berpaut kepada Yesus, bersandar kepada Yesus dan percaya kepada Yesus. Yesus adalah daya kekuatan yang menghidupkan dan menguduskan di dalam diri kita. Inilah rahasia keberhasilan sebagai murid Yesus ialah keterpautan dan tinggal bersama dengan Yesus. Karena itu, janganlah membiarkan diri kita terlepas dengan diri-Nya, “Sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa”.

 


www.carmelia.net © 2008
Supported by Mediahostnet web hosting